
"Luhan!! Luhan, a-ada apa denganmu!?"Kini giliran Gio yang memeluk Luhan dengan erat, ia lalu melirik ke arah punggungnya yang sudah berdarah-darah. Seketika tubuh Gio bergetar hebat melihat sebuah lubang yang lumayan besar mengangga di punggung Luhan.
"I-ini, peluru yang digunakan oleh orang tadi itu ternyata."Gio mendorong tubuh Luhan kesamping dan membaringkannya di tengah jalan, betapa terkejutnya Gio karena ketika ia menoleh untuk melihat pria yang telah menembak Luhan, pria itu telah terlebih dahulu menodongkan pistolnya kearah Gio dan melangkah mendekat.
"B-bagaimana ini sekarang!?"Gio menggenggam erat bahu Luhan dan tidak berani untuk membuka matanya karena takut, jarak diantara si penembak dari Luhan dan Gio kini semakin menipis, sebuah bisikan lirih lalu tiba-tiba terdengar di telinga Gio.
"La...ri, Gio!!"
"Apa?! Luhan!!"Gio membuka matanya dan melihat Luhan yang sedang bersusah payah hanya untuk berbicara dengannya, Gio menangis terisak-isak dan dahinya ia letakkan ke dahi Luhan.
"Haahaa.....haaahh, maafkan aku karena terlalu tidak berguna Luhan. Maafkan aku!!" Gio berteriak di sela-sela isak tangisnya, hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah kepada Luhan karena ia bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri apalagi menjaga orang yang sangat berarti baginya.
"Hmph, dasar orang bodoh. Bertemu denganmu adalah hal yang paling membahagiakan di dunia, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya Gioless Lance."Luhan memejamkan matanya dan seketika langsung berhenti bergerak, melihat Luhan yang kini telah berhenti bernafas Gio tak kuasa untuk tidak menjerit.
__ADS_1
"Aaaahhhhhhh!! Luhan, maafkan aku. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku!!!"
Author Note:Luhan sebenarnya memang lagi sekarat, tapi dia belum mati dan hanya berpura-pura untuk memancing si penembak*
Kini si penembak telah berdiri tepat di hadapan Gio, wajahnya tidak terlihat sama sekali karena ditutupi oleh sebuah topeng berwarna merah dan biru. Ia telah menarik kenop pistol yang sedang ia pegang dan hanya tinggal menarik pelatuknya untuk membunuh Gio, Gio menatap si penembak itu dengan tatapan kosong kemudian berkata.
"Tembaklah....."
"Mana boleh dasar keparat!!"Luhan menarik tangan si penembak yang sedang menggenggam pistol dan mengarahkannya ke arah lain.
Tembakan kemudian meleset dan Luhan segera mendorong preman itu kesamping sambil mengerang, si penembak tentu saja merasa sangat terkejut dan tidak melawan sama sekali saking kagetnya.
"Luhan, awas dibelakang!!"Gio berteriak memperingati Luhan karena mereka berdua telah berada di sisi curam jembatan, satu langkah mundur kebelakang lagi maka si penembak dan Luhan akan terjatuh ke sungai yang tepat berada di bawah mereka.
__ADS_1
"Mari kita mati bersama."Luhan menjatuhkan dirinya bersama dengan si penembak sambil tersenyum bahagia, setidaknya ia telah menyelamatkan sahabatnya sekali lagi.
"Tidak!!"
Ketika hendak jatuh dan tenggelam ke dalam air, angin berhasil meniup dan membuka topeng yang sedang dikenakan si pencuri. Mata mereka berdua bertatapan, lalu Luhan mengucapkan sesuatu sebelum kepalanya menghantam permukaan air yang datar.
"Terkutuklah kau, Erick."
BYURRRR!!!
Sesaat setelah Luhan terjatuh dan tenggelam di dalam air beberapa kenangan ketika dirinya bersama dengan orang-orang terkasih tiba-tiba muncul dan terngiang-ngiang di kepalanya, gelembung terakhir akhirnya keluar dari mulut Luhan dan menyatakan bahwa ia sudah tidak lagi bernafas, Luhan sudah resmi meninggal dunia.
–––––––––––––
__ADS_1
Next>>