
"Luhan......"
"Luhan."
"Luhann!!!!!!"
"Apaaa!!!?"Luhan bangun kemudian terduduk dengan mata terbelalak karena terkejut dengan teriakan yang baru saja ia dengar, kini Luhan sedang berada di villa milik Gio. Ia ditemukan oleh para polisi dan tim pencari khusus yang dipanggil oleh Petra. Setelah berjam-jam mencari dipinggiran sungai mereka akhirnya menemukan sesosok pria muda sedang berbaring tidak sadarkan diri sendirian, para polisi dan tim pencari lalu memutuskan untuk membawa Luhan kepada Gio.
Luhan melirik ke arah sampingnya dan mendapati Gio disana sedang mematung sambil menundukkan kepalanya."Gio, ada apa? apa kau baik-baik saja?? tidak ada yang salah kan?"Tanya Luhan kebingungan, ia lalu membuka selimut yang sedang ia kenakan dan menepuk pundak Gio sambil memegangi kepalanya.
"Hei, sebenarnya ada apa denganmu dasar bodoh? aku sedang bertanya disini, kau selalu termenung bukannya hal itu tidak baik untuk kesehatan??"Usaha Luhan untuk menyadarkan Gio ternyata membuahkan hasil, Gio mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajahnya yang telah dipenuhi dengan air mata.
"Huwaaaaaaaa, dasar Luhan bodoh!! otak udang! tutup botol!! biji kenari! otakmu sekecil kacang hijau dasar bodoh!! mengapa kau melompat dari atas jembatan tadi!? apa yang harus kulakukan, huwaaaa."Gio melompat dan memeluk Luhan sampai mereka berdua terbaring di atas kasur bersama, Gio enggan untuk melepaskan pelukannya dari Luhan dan membuat pria itu mengalami sesak nafas.
__ADS_1
"Uhukk, uhukk.......Gio, tolong lepaskan aku." Gio akhirnya melepaskan pelukannya dari Luhan, Gio duduk seperti anak kecil sambil menghapus air matanya yang hampir keluar lagi.
"Hikss, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?? bisa-bisanya kau berubah menjadi seperti ini!?"Gio menarik ujung rambut Luhan yang sedang tergerai bebas diatas kasur, Luhan yang merasakan rasa sakit akibat rambutnya ditarik-tarik oleh Gio segera memukul tangannya agar ia bisa berhenti melakukan hal bodoh itu.
"Tunggu sebentar, m-mengapa rambutku bisa menjadi sepanjang ini?!!"Luhan memegangi belakang kepalanya dan segera menoleh ke belakang, ia melihat rambutnya sendiri yang menurutnya sangatlah panjang lalu segera menariknya kedepan.
"Ini, kenapa bisa begini?!"Luhan bergumam pelan dan segera melirik ke arah Gio, Gio membalas lirikan Luhan dengan menunjuk sebuah cermin yang terletak di atas meja menggunakan mulutnya.
"Rambutmu itu barulah permulaan, kau harus melihat wajahmu sendiri."Gio menatap Luhan dengan serius sambil menepuk pundaknya, hal itu membuat Luhan mulai berpikiran buruk jadi ia segera mengambil cerminannya dan melihat pantulan dirinya sendiri.
PRANGG!!
Cermin terjatuh dan membuat Gio terkejut namun ia tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Luhan, Luhan memegangi wajahnya kemudian melihat pergelangan tangannya sendiri.
__ADS_1
"S-sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?!
apakah tubuh ini adalah milikku?"Gio memiringkan kepalanya setelah mendengar perkataan Luhan, ia lalu memukul kepala Luhan dan membuatnya meringis kesakitan.
"Aduh! apa yang sedang kau lakukan bodoh?"
"Yang bodoh itu adalah dirimu, bagaimana bisa kau tidak mengenali dirimu sendiri? katakan padaku, sebenarnya apa yang telah terjadi sesaat setelah kau tenggelam di sungai? mengapa kau bisa menjadi seperti ini?? dan juga, mengapa luka tembakan yang ada pada tubuhmu bisa menghilang?"Gio memeriksa punggung Luhan dengan paksa dan sesekali bertanya apakah Luhan merasa sakit atau tidak ketika dirinya menekan beberapa bagian tertentu.
"Tidak, tidak, disitu juga tidak, disitu tidak."Luhan menjawab pertanyaan Gio dengan lancar dan memintanya untuk berhenti melakukan pemeriksaan yang tak berguna itu, Gio menurut. Kemudian ia memegang dahi Luhan untuk memeriksa apakah dia sedang sakit atau tidak.
"Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja."Luhan mendorong wajah Gio yang berjarak agak dekat dengan wajahnya, adegan yang tadi itu benar-benar tidak enak untuk dilihat. Gio berhenti memeriksa lalu kembali ke tempat duduknya.
–––––––––––––
__ADS_1
Next>>