LUHAN THE GREATER

LUHAN THE GREATER
Eps 25-Penyusup [1]


__ADS_3

"Hmm? untuk apa aku menggunakan benda itu?!"Luhan menunjuk lensa kontak yang sedang berada di tangan Gio, mereka berdua baru saja menyelesaikan makan malamnya dan sekarang Gio sedang mencoba untuk mengubah penampilan Luhan yang begitu mencolok.


Mendengar pertanyaan Luhan, Gio menghela nafas panjang kemudian berkata."Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi padamu, hanya saja kedua matamu itu harus ditutupi terlebih dahulu agar orang-orang tidak berpikir yang aneh-aneh nanti. Dan juga, kita juga harus memotong rambutmu dan mengganti nama."


"Mengganti nama!? untuk apa??"Luhan terkejut bukan main ketika mendengar kalimat mengganti nama, ia memukul meja yang berada di hadapannya secara tiba-tiba dan membuat Gio kaget.


"Ya tuhan, kau membuatku terkejut."Gio memungut tempat lensa kontak yang telah ia jatuhkan tadi, ia lalu memandangi Luhan dari bawah sampai ke atas kemudian secara tiba-tiba malah mengertakan giginya. "Ma-maafkan aku, hanya saja kau benar-benar terlihat sangat berbeda sekarang. Matamu, dan luka-lukamu yang bisa menghilang secara ajaib itu sangatlah menakutkan. Ba-bagaimana jika suatu hari nanti kau ditangkap dan diteliti oleh orang lain karena hal itu, apa yang harus kulakukan nantinya??"Lanjut Gio pelan.


"Hmm!? hal seperti itu tidak mungkin terjadi Gio, imajinasimu benar-benar luar biasa."Lain di mulut lain di hati, Luhan tersenyum hangat kepada Gio agar pria itu bisa melupakan hal-hal yang telah ia bayangkan tadi. Sebenarnya Luhan juga memiliki pemikiran yang sama seperti itu, hanya saja ia mencoba untuk melupakannya agar tidak tercipta beban baru yang memberatkan.


"Tapi......"


PRANGG!!!


"Hmm!?"Luhan mendengar suara sebuah benda yang jatuh dari arah luar kamarnya, ia memperhatikan pintu kamarnya agak lama kemudian kembali menatap Gio sambil memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Bukankah kau berkata kau sudah menyuruh semua pelayan untuk pulang?? apa-apaan yang tadi itu??"


"Hmm, apanya!?"Gio menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, ia bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Luhan dan tidak terbiasa melihat wajah barunya. Sepertinya Gio tidak mendengar suara yang tadi didengar oleh Luhan.


**BRAAKK!!


PRANGGG, BRUKK**!!


"Ehh, ada suara lagi!!"Luhan kembali menatap pintu kamarnya, kali ini ia berbicara dengan Gio tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Apa!? mendengar apa? Luhan, mengapa kau tiba-tiba berperilaku aneh??"Gio menepuk pundak Luhan pelan dan Luhan segera memegang tangan Gio, ia melirik ke arah Gio dengan wajah yang terkesan agak dingin kemudian berkata.


"Ada penyusup dirumahmu, Gio! dan kurasa, jumlahnya lebih dari satu orang."


"Hah!?"Mata Gio terbelalak dan ia segera menyeret Luhan keluar dari kamar, Luhan melawan dan menghentikan langkahnya begitu mereka berdua sudah berdiri diambang pintu kamarnya.

__ADS_1


"Gio, berhenti sebentar!! sebentar, sebentar.


Kita tidak boleh keluar dari sini tanpa persiapan, firasatku mengatakan bahwa orang-orang itu sangatlah berbahaya."Luhan memainkan dagunya dan melipat kedua tangannya, matanya mengitari sekeliling kamar untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Gio sendiri hanya mengangguk pertanda bahwa ia setuju dengan perkataan Luhan, ia mencoba untuk menguping dengan menempelkan telinganya ke dinding yang berada di depannya.


PRANGG, PRANGG!!!


BRAAAKKK!!


BRUKK!!


"Owh, apa yang telah para pencuri itu lakukan pada barang-barangku!! ya tuhan, semoga keramik kesayanganku baik-baik saja."Gio menangis sembari memohon-mohon didalam hatinya agar keramik kesukaannya yang memiliki motif bunga mawar berwarna biru tidak diambil dan tidak lecet, Gio telah berkali-kali mendengar suara benda yang pecah dan terjatuh. Hal itu membuatnya merasa syok.


"Ahh, ketemu......"Luhan melirik ke arah tiang penyangga infus yang telah ia gunakan, benda itu lumayan panjang dan lumayan berat. Sempurna.


–––––––––––––

__ADS_1


Next>>


__ADS_2