
Walaupun sma Scorry Soccerway adalah sekolah impian dengan rating tertinggi yang memiliki banyak aturan-aturan ketat dan standar penerimaan murid baru yang sangat rumit, orang-orang yang berada di sana ternyata tidak sebaik yang kita duga.
Siswa/siswi sma Scorry Soccerway sangatlah angkuh dan sombong, mereka selalu mengejek dan mengolok-olok orang yang tidak berhasil diterima disana karena tidak mampu untuk membayar uang spp setiap bulannya.
Aturan-aturan sma Scorry Soccerway selalu dilanggar, tata krama sudah tidak berlaku sama sekali, bahkan para guru saja terkadang menerima suap dari anak-anak didiknya. Benar-benar sebuah kekacauan yang besar, pemilik sma Scorry Soccerway adalah grup CV, grup CV adalah salah satu perusahaan terbesar dan terkaya serta termakmur dikota tempat Luhan berada. Mereka tidak mengkhawatirkan keadaan sma Scorry Soccerway yang sangat memprihatikan itu karena menganggap sekolah itu tidak penting sama sekali, bagi mereka sma Scorry Soccerway terlihat lebih seperti sebuah kain lap kotor.
Mereka tidak ingin mengotori tangan mereka yang sangat bersih dengan memegangi dan menggunakan lap kotor untuk membersihkan sesuatu, lagipula kain lap yang sangat bersih dan lebih layak untuk digunakan telah berjejer rapi dihadapan mereka.
Beberapa jam setelah Luhan tertidur di lantai dapur dengan pulas ponselnya yang berada di dalam kamar tiba-tiba berbunyi dengan sangat nyaring, nada dering ponsel itu telah berhasil membangunkan Luhan setelah beberapa kali terdiam dan berbunyi sendiri.
"Astaga, orang gila macam apa yang berani menelpon seseorang sepagi ini!?"Luhan melangkah menuju ke kamarnya dan segera menjawab panggilan yang telah menunggunya daritadi, ia duduk di sebuah meja belajar dan mengucek-ucek matanya beberapa kali.
__ADS_1
"Halo, siapa disana??"Luhan menguap sebelum akhirnya menjawab panggilan dan mengajukan sebuah pertanyaan.
"Luhan, ini aku Gio.......Selamat pagi!!!"Gio tiba-tiba berteriak dan sukses membuat Luhan merasa terkejut setengah mati, ia melemparkan ponselnya ke lantai dan terjatuh dari kursi yang tengah didudukinya.
"Halo, halo?? Luhan, apa kau masih berada di sana??"Gio kembali berbicara kali ini dengan suara yang sedikit dipelankan, Luhan kembali mengambil ponsel yang dilemparkannya tadi dan berteriak kepada Gio.
"Gioless Lance, apakah kau ingin
"Aduhh, Luhan?! hehe,maafkan aku ya??
aku hanya ingin memberikan kesan selamat pagi untu-"
__ADS_1
"Cukup, katakan apa maumu sekarang?? seingatku sesosok Gioless Lance tidak mungkin bisa bangun sepagi ini hanya untuk mengucapkan selamat pagi, benar bukan??" Luhan memotong perkataan Gio yang belum sempat terselesaikan, ia melangkah menuju ke ranjangnya dan berbaring sambil menunggu jawaban dari Gio.
"Ha-hahaha, ternyata kau benar-benar sangat mengerti diriku. Aku sedikit terkesan, sahabatku....."Gio tertawa canggung dan belum memberikan jawaban dari pertanyaan Luhan tadi, sepertinya hal yang ingin Gio bahas kali ini sangatlah penting.
"Gio, cepat dan katakanlah apa maumu.
Aku masih harus memasak dan mandi sekarang."Luhan melangkah keluar dari kamar dan mengambil sebuah handuk yang tergantung di dekat lemari pakaiannya, ia lalu memeriksa isi kulkasnya untuk mencari bahan-bahan makanan yang akan ia masak sebentar lagi. Setelah terdiam untuk beberapa menit Gio akhirnya berbicara juga, ia bertanya dengan ragu-ragu sehingga membuat Luhan merasa agak kesal dan berpikir yang tidak-tidak.
"E-ehh, Luhan......A-aku sebenarnya, bolehkah??"
––––––––––––––
__ADS_1
Next>>