Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Presentasi


__ADS_3

"Mbak gak kreatif ih! pertanyaanya sama dengan Mbak Airin," Susi mecibikan bibirnya.


"Apa sih? orangnya aja beda. Mbak juga gak janjian mau tanya soal ini sama kamu," jawab Anggun.


"Iya, tapi tadi Suci udah jawab ke Mbak Airin, dan sekarang Suci gak bisa jelasin lagi...."


"Kenapa ...?"


"Takut jawabannya gak sama aja, padahalkan pertanyaannya sama," Suci menjawab dengan tetap menempelkan hidungnya di wajah Aarick.


"Kamu nyebelin banget sih? sini balikin Aarick ke Mbak, kamu kerja sana!" Anggun mengulurkan tangan untuk mengambil putranya dari Suci.


"Suci mau ngapain sih Mbak di kantor Kak Ariel ...?"


"Maksudnya kamu itu mau di ja---


Tok...tok..tok...(Pintu kamar di ketuk)


"Non Suci, udah ditungguin sama pak Ariel," ucap seorang pelayan, mereka sudah mengubah panggilan untuk majikannya menjadi bapak dan Ibu Aarick.


"Oh, iya ini Suci mau turun Mbak !" jawab Suci sebelum pelayan rumah pergi.


"Ya sudah sana ! ingat ya kamu kalau kerja sama Mas Ariel yang bener, jangan suka ngebantah!" entah itu perintah atau peringatan, Suci hanya menyengir kuda.


Setelah menyerahkan Aarick kepada Anggun, Suci turun ke lantai dasar untuk menemui Ariel, namun Suci tidak menemukan Ariel di mana pun, membuat Suci celingukan di dapur.


"Tante liat Mas Ariel gak?" tanya Suci kepada Widia.


"Sudah pergi ke kantor, kamu diantar supir saja, itu Darma sudah nunggu di depan!" seru Widia.


Suci melenggang ke luar rumah, benar saja sudah ada supir yang menunggunya, ini untuk yang pertama kali Suci datang ke kantor Ariel. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam karena sempat terjebak kemacetan, sampailah Suci di depan gedung tinggi milik Erlangga.


Suci sudah mulai masuk ke dalam perusahaan, setelah bicara dengan reseptionis Suci bergegas masuk ke dalam lift menuju lantai atas dimana ruangan Ariel berada.


Tok...tok..tok....


Suci mengetuk pintu, perlahan ia membukanya setelah samar-samar mendengar suara Ariel yang memersilahkannya masuk.


"Maaf sudah membuat Bapak menunggu lama," Suci bicara formal saat sudah berhadapan dengan Ariel.

__ADS_1


"Biasa saja, panggil kakak saja, " kemudian Ariel bangkit dari duduknya menuju kursi yang ada di ruangan itu, " kemarilah Suci!" Ariel mengambil beberapa berkas yang ada di atas meja.


Suci sudah mulai duduk di depan Ariel dengan terus memperhatikan Ariel yang masih memilah lembaran kertas penting itu.


"Aku ingin menguji ilmu yang kamu miliki, kebetulan Yusri ada keperluan lain di luar kota, jadi selama itu kamu yang akan menggantikan pekerjaannya di sini !" seru Ariel seraya meberikan berkas untuk Suci," ambil dan pelajari ini!" perintahnya.


Suci menerima dan mulai membaca dan terus membuka setiap lembarannya, tentu saja Suci tidak mengalami kendala, karena jiwa sekretaris sudah melekat didirinya.


"Buatkan contoh surat perjanjian kontrak dengan perusahaan lain, mulai dari sekarang!" perintah Ariel.


Suci sudah melakukan perintah Ariel, walaupun hanya contoh tapi Ariel sangat puas dengan hasilnya, " bagus, kebetulan hari ini kita ada pertemuan penting dengan perusahaan lain, kita akan mulai bekerja sama dengan perusahaan itu, jadi aku mengirimmu untuk mempresentasikan apa yang baru kamu pelajari ini disana!" aura kepemimpinan Ariel sudah keluar.


"Saya ... yang akan presentasi disana?" Suci tidak percaya.


"Kenapa? apa kamu menolak?"


"Masalahnya, saya tidak punya pengalaman sebelumnya, jadi saya takut ak---


"Tapi kamu punya potensi, jadi gunakan kemampuanmu itu, dan berikan Map ini kepada mereka, aku sudah menanda tanganinya, tapi mereka meninggalkannya di sini," Ariel memberikan sebuah map berwarna biru.


Suci menerimanya, "ehmm bagaimana kalau saya melakukan kesalahan Pak...?" mendadak Suci menjadi takut berhadapan dengan Ariel.


"Iya Pak, kalau begitu saya permisi," ucap Suci yang semakin canggung.


"Sudah ada supir yang menunggumu di bawah! lakukan tugasmu dan jangan mencampur masalah pribadi dengan pekerjaan, apa kamu mengerti?"


Susah payah Suci menelan salivanya, sembari mencoba untuk mencerna ucapan Ariel. Suci cuma bisa mengangguk pasrah, kemudian ia keluar dari ruangan Ariel.


PERUSAHAN LAIN


Fery sudah kembali berjibaku dengan tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya, entah sudah berapa tanda tangan yang dibubuhkannya di atas lembaran kertas itu. Sedari tadi Fery juga berusaha mencari map biru berisi surat kerja sama proyek pembangunan villa dengan perusahaan Ariel.


"Maaf Pak, apa map ini yang sedari tadi bapak cari?" seorang karyawan menunjukan map biru.


Fery beranjak mengambil map itu, perasaannya menjadi lega setelah melihat isinya.


"Di mana kau menemukan ini?"


"Perwakilan dari perusahaan pak Erlangga yang memberikannya Pak, dan saat ini dia sudah menunggu Bapak di ruang presentasi,"

__ADS_1


"Itu pasti Yusri, baiklah kita ke ruang presentasi sekarang, apa semua sudah hadir?"


"Sudah Pak,"


"Hmmmm"


Fery keluar dari ruang kerja dan menuju lift untuk turun satu lantai dari tempatnya sekarang, tidak butuh waktu lama pintu lift terbuka dan Fery melangkah tegap di sepanjang koridor, dengan memakai sepatu dengan warna hitam mengkilat itu Fery menuju ruang presentasi.


Tap...Tap...Tap...


Suci yang sudah duduk dengan beberapa orang lainnya itu, merasa cemas dan gelisah, mengingat ini pengalaman pertamanya untuk presentasi di perusahaan besar, apa lagi ia dipilih secara mendadak. Suci menoleh ke pintu saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, dari jauh Suci melihat seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu.


"Kak Fery ...? " jantung Suci berdetak sangat kencang, sebelum ini Suci sudah berniat untuk belajar menjauhi dan melupakan Fery, tapi kenyataannya sekarang mereka semakin terhubung satu sama lain. Suci memalingkan muka saat tiba-tiba Fery melihatnya.


Fery sudah berdiri di tempat yang sudah disediakan khusus untuknya, ia terpaku ditempat saat menyadari kehadiran Suci di ruangan ini, hatinya mencolos saat Suci memalingkan muka.


"Silahkan duduk Pak!" ucap seorang asistennya.


"Hmm," Fery mencoba menguasai diri meskipun saat ini banyak pertanyaan dibenaknya.


Beberapa saat kemudian, rapat ini sudah dimulai, Suci terlihat antusias mendengarkan agenda ini, sementara Fery sesekali tertangkap sedang meliriknya, namun Suci mencoba untuk berpura-pura tidak mengetahuinya. Hingga sampailah giliran Suci untuk mempresentasikan apa yang dibawanya. Suci menarik nafas dalam dan dengan percaya diri Suci berdiri dan bersikap seperti biasa seakan tidak ada Fery di sana.


Suci sudah mulai menjelaskan proyeknya sesuai perintah Ariel, semua orang yang ada di dalam ruangan ini memuji Suci yang terlihat seperti seorang yang sudah berpengalaman.


Sedangkan Fery tersenyum simpul dan menopang dagu, tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Suci yang terlihat lebih dewasa tidak seperti biasanya.


****


Terima kasih sudah meninggalkan jejak


like


komen


rate5


vote


Kritik dan saran diterima.

__ADS_1


Belum bisa disebut satu per satu ya🤗


__ADS_2