Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Kau sudah mengingat namaku?


__ADS_3

Tok....Tok....Tok......


"Manda buka pintunya sayang...sudah hampir jam 8 pagi loh!" teriakan Mama dari luar kamarnya.


Suara ketukan pintu kamar membuat Anggun terbangun dari tidurnya. Rasa lelah dan pikiran yang kacau terlalu lama membawanya kedalam alam mimpi. Dengan mata yang masih terpejam dia merentangkan kedua tangan merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku.


Perlahan ia membuka matanya, silaunya cahaya matahari yang masuk dari sela sela jendela kamarnya membuat ia tersadar , bahwa hari ini bukan dini hari . Iya, Anggun sudah terlambat.


" Ha! Hampir jam 8 ? Kok bisa sih aku bangun kesiangan??"


Dengan gerakan yang terburu buru Anggun masuk kedalam kamar mandi yang ada di sudut kamarnya. Biasanya tidak seperti ini, tidak ada orang yang mengganggu waktunya.


Tapi hari ini Anggun harus pergi ke kantor Erlangga untuk menemui pemimpin yang baru, guna membahas lebih jauh lagi tentang kerjasama yang baru saja mereka sepakati.


Tidak butuh waktu lama, Anggun sudah gabung di ruang makan . Sudah ada Farida dan juga Fery. Anggun sudah dengan style biasa, kalau dulu Anggun memakai Jeans dan kaos.


Maka sekarang Anggun sudah terbiasa memakai Dress yang membalut tubuh rampingnya, memperlihatkan kaki jenjangnya. Sebagai seorang Designer yang cukup dikenal orang banyak, Anggun harus selalu menjaga penampilannya.


" Pagi Ma, pagi Kak...Manda buru buru jadi gak ikut sarapan ya...!" ucap Anggun sembari mengambil sepotong roti dari piring Fery, melihat itu Farida langsung memberikan segelas susu putih untuknya . Dan Anggun menghabiskannya dalam satu kali tegukan.


" Kamu kenapa sih ? Kayak dikejar hantu saja.."


" Bukan hantu kak...tapi waktu , Manda lupa kalau hari ini ada janji sama klien ,Manda pergi dulu ya Ma......!"


Pamit Anggun sambil mencium Mamanya, untuk Fery ,mereka masih tau batasan, bagaimanapun juga, mereka tidak punya hubungan darah.


Sekarang Anggun benar benar salah arah, salah jalan , salah waktu. Takut dianggap tidak profesional dan tidak menghargai waktu. Semua salah di jam sibuk ini , Anggun malah terjebak dalam kemacetan lalu lintas.


" Luar biasa, Anggun kamu luar biasa...!" Itu bukan pujian, tapi sebuah sindiran untuk diri sendiri. Bahkan ia tidak memperdulikan handphone yang terus berdering. Berharap bisa cepat sampai ketempat tujuan.


****


Hampir satu jam perjalanan, sampailah Anggun ke tempat tujuan. Gedung ini sangat menjulang tinggi, dengan berlari kecil Anggun


masuk ke dalam menuju meja Resepsionis. Anggun masih mencoba untuk kembali menetralkan pernafasannya.


" Mbak Sa- saya Manda.." Katanya dengan dada yang naik turun.


" Mbak ini yang sudah buat Bos baru kami marah marah loh Mbak, kok baru datang bukannya seharusnya Mbak datang dari jam 8 tadi ya....?"

__ADS_1


" Maaf Mbak saya salah!"


" Sudah lah, mari saya antar keruangan beliau!"


Anggun pasrah mengikuti langkah kaki perempuan cantik didepannya ini, rok selutut


yang membalut bagian pahanya membentuk


***** yang terlihat sempurna.


"Kiri....Kanan...Kiri...Kanan , pantas saja kaum lelaki betah lama lama di kantor, rekan kerjanya aja seperti ini..." Batin Anggun yang sudah memasuki lift, menuju lantai atas.


Dalam keadaan seperti ini, ia masih bisa mengajak waktu bercanda, ia tidak tau ada Singa berwujud manusia yang sudah menunggunya.


Ting..


Bunyi lift membangunkan Anggun dari lamunanya ,ia sudah kembali ke dunia nyata. Dan melangkah keluar, tepat di depan lift Anggun melihat seorang pria yang dikenalnya sebagai Asisten dari Pak Erlangga.


"Mbak Manda! kenapa baru datang?"


" Maaf, Pak saya terlambat."


"Ya sudah, biar saya antar keruangan pemimpin yang baru ya Mbak, " ajaknya ramah.


Entah kenapa Anggun merasa hawa dingin terasa begitu jelas di ruangan yang begitu luas ini ,ia melihat seorang pria dengan Jas hitam yang membalut sempurna tubuh kekar pemiliknya.


"Nona Manda sudah datang Pak," ucapnya dan pria ini langsung pergi meninggalkan Manda yang masih berdiri di depan meja kerja Bos nya.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu,"


"Kau sudah membuang waktuku yang berharga,"


"Saya salah. Beri saya waktu saya akan me--


Anggun tidak dapat melanjutkan ucapannya, mulutnya sudah tertutup rapat, hawa dingin sangat terasa di sekujur tubuhnya, mendadak ia jadi gugup, jantungnya kembali berdetak kencang. Pria yang membelakanginya tadi, sudah berbalik arah dan menatapnya tajam.


"Ariel?" nama yang sudah menjadi keramat baginya itu terucap dengan sempurna, sialnya


itu terdengar jelas ditelinga pemiliknya.

__ADS_1


Ariel masih tidak bergeming dari posisinya. Wajahnya terlihat datar, Anggun tidak bisa mengenali lagi ekspresi yang ada di wajah Ariel.


Perlahan Ariel bangkit , berjalan mendekati Anggun , yang masih berdiri mematung, ditempatnya. Sampai Ariel berhenti tegap tepat di hadapan Anggun. Mereka saling memandang satu sama lain.


Lima tahun lalu mereka terakhir bertemu dalam posisi seperti ini juga . Dulu Anggun memandangnya dengan perasaan memelas dan memohon, tapi sekarang Anggun menatapnya dengan kekecewaan.


"Kau sudah mengingat namaku...?" tanya Ariel tepat di hadapan Anggun, Ariel merendahkan sedikit punggungnya supaya ia bisa leluasa melihat wajah pucat Anggun.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Jadi...kau belum mengingat aku dengan jelas ya? baik aku akan memperkenalkan diriku dihadapanmu.Namaku Ariel Erlangga.


Akulah pemilik perusahaan ini." Ariel tersenyum sinis dihadapan Anggun.


"Erlangga?? tidak mungkin...?" Anggun baru ingat Ariel juga menyandang nama itu.


Ariel duduk di pinggir meja kerjanya, melipat tangannya , ia terus menatap Anggun. Ariel memperhatikan penampilan Anggun yang jelas berbeda dari 5 tahun yang lalu. Sampai tatapan Ariel berhenti di bagian bibir Anggun.


Bibir yang dulu membuat Ariel candu, Bibir yang dulu pertama kali memberikan ciuman pertama untuk Ariel. Ada desiran aneh dihatinya, Ariel terus menatap tajam bibir itu.


"Aku pergi," kata Anggun menyadarkan Ariel kembali. Dengan cepat Ariel memegang erat lengan Anggun, sampai Anggun berbalik arah dan mendongak melihatnya . Posisi ini membuat mereka semakin dekat.


"Le-lepas " Anggun takut melihat tatapan dingin Ariel. Bukan melepaskan tapi Ariel semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Anggun, ia terus menatap bibir tipis Anggun. Bibir mereka hampir bersentuhan. Anggun mencoba memalingkan wajahnya, tapi Ariel memegang erat dagunya. Dan kembali menatapnya.


Ariel kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Anggun. " Jadi Aku harus menyebut namamu yang mana? Manda? atau--


"Manda...panggil aku Manda. Orang asing sudah biasa memanggilku Manda..!"


Jawaban Anggun mengejutkan Ariel, Dia melepas dengan kasar lengan Anggun.


"Pergilah!" kata Ariel tapi tatapan tajam masih terlihat jelas.


"Iya...aku memang akan pergi Tuan. Dan aku ingin membatalkan kerjasama ini.."


"Itu ide yang bagus Nona Manda, bersiaplah Aku akan melayangkan tuntutan untukmu,"


"Maksudmu? Tuntutan apa..?"


"Apa kau tidak membaca berkas yang kau tandatangani kemarin? Seharusnya teliti dahulu apa isinya, sekarang keluarlah!"

__ADS_1


Dengan perasan kesal Anggun meninggalkan ruangan ini, iaa membanting pintu itu.


blam....


__ADS_2