
Satu bulan sudah berlalu Ariel dan Anggun sudah kembali ke tanah air, Anggun merasa kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang, ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, berbaring di tempat tidur membalut seluruh tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan sedikit rambut yang terlihat menjuntai.
Ariel masih berada di ruang kerjanya bersama Endi dan Yusri, sebenarnya ia enggan meninggalkan Anggun sendirian, tapi Endi dan Yusri mengancam tidak akan pernah pergi dari rumahnya kalau Ariel tidak menemani mereka.
"Minumlah...sejak kapan kau berubah ?" Yusri menyodorkan segelas minuman khas, ia terus mengejek Ariel yang tidak pernah lagi menenggak minuman itu.
"Cepat habiskan, dan pergilah dari rumahku !" kesal Ariel.
"Apa kau lupa, dulu kita sering menghabiskan waktu dengan cara ini, kau ingat 5 tahun lalu kau menangis karena patah hati ?"
beg....
Ariel memukul bahu Yusri, sampai Yusri meringis kesakitan.
"Jangan diingat lagi, itu semua karenamu!" Ariel semakin kesal, menahan malu mengingat kelemahannya dulu.
"Hahahah kau menangis Riel, kau menangisi Anggun, kau patah hati, dan kau selalu memarahi aku dulu hahaha " Endi mengenang masa lalu.
"Dan sekarang ternyata Cinta Lama Bersemi Kembali, ternyata Mantan masih yang tercinta" Yusri menimpali.
"Tapi aku tidak menyesali kejadian itu, perpisahan kami tidak melunturkan cinta yang pernah ada, aku benar-benar menyadari kalau aku tidak akan sanggup lagi berpisah dari istriku,"
"Ah aku juga sedang jatuh cinta, Alisa...aku akan menikahinya." Senyum manis mengembang di wajah Endi.
Ariel dan Yusri bergidik mendengarnya.
"Lalu bagaimana denganmu? sampai sekarang kau belum pernah menunjukan wanitamu," tanya Ariel kepada Yusri.
Yusri menggoyangkan gelas yang berisi minuman, ia menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman yang mengejak, ia mengejek dirinya sendiri, lalu menatap Ariel.
"Ada...dan aku menyukainya," Yusri meletakan gelas di atas meja dan keluar dari ruangan ini.
"Kenapa dia? " tanya Endi.
"Entahlah...dia selalu saja menghindar kalau membahas tentang cintanya," Ariel menjawab sambil memandang punggung Yusri yang sudah menjauh.
"Aku yakin dia sedang jatuh cinta,"
"Ah sudahlah, jangan bahas ini cepat keluar dari rumahku, kalian sangat mengganggu waktuku!"
Endi merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ah kau pergilah, biarkan aku tidur sebentar,"
"Terserahlah..." Ariel keluar dari ruang kerjanya.
*****
Di dalam kamar.
Ariel tersenyum mendapati Anggun yang masih meringkuk seperti kepompong, lalu ia duduk di tepi ranjang dan menyingkap selimut Anggun.
"Sayang bangun...kenapa kamu seperti kepompong begini sih?" Ariel menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah Anggun.
"Mas aku laper...? "rengek Anggun.
__ADS_1
"Mas...? " tanya Ariel tidak percaya, sejak kapan istrinya mengubah panggilan untuknya?
"Ah yaudah kalau gak mau dipanggil Mas," ucap Anggun yang sudah kembali menarik selimutnya.
"Ya jangan ngambek dong sayang...Aku eh maksudnya Mas suka kamu panggil Mas, kamu laper? mau makan apa ?" tanya Ariel dengan lembut.
Anggun membuka selimut, hanya menampakan bagian wajahnya.
"Aku pengen makan pecel ulek, tapi bumbu kacangnya yang banyak, terus aku mau yang pedes tapi jangan pakai daun pepaya rasanya pahit aku gak suka, dan aku mau pakai kerupuk, tahu sama timun yang banyak ya,"
"Pecel ulek? sejak kapan kamu suka makan itu?
"Itu makanan favorit aku, cepetan cari aku laper, " ucap Anggn manja.
"Iya ok...!" Ariel menghubungi Bibi yang bekerja di rumahnya, untuk membuatkan makanan yang di pesan Anggun.
Beberapa menit kemudian, pesanan Anggun sudah di depan mata, ia duduk menyandarkan punggungnya di ranjang, wajahnya yang lesu menjadi sumringah melihat satu piring pecel ulek yang di pegang Ariel.
"Pesanan tuan putri sudah datang, buka mulutnya hamba siap melayani tuan putri," ucap Ariel mengagkat sendok yang berisi makanan.
Anggun tersenyum dan mulai menerima suapan dari Ariel, rasanya tidak mengecewakan membuat Anggun ketagihan.
"Rasanya enak gak?" tanya Ariel terus memperhatikan Anggun yang terus mengunyah makanan.
Anggun mengangguk, ia tidak sanggup bicara karena rasa pedas mendominasi di mulutnya. Melihat Anggun seperti itu membuat Ariel ikut mencicipi makanannya.
"Sayang ini terlalu pedas, jangan di makan lagi," Ariel meletakan piring dan memberikan minum untuk Anggun.
"Tapi aku suka, aku mau lagi,"
"Tapi aku masih mau..."
"Gak boleh ! !"
"Boleh,"
"Gak !"
"Boleh,"
"Gak ! !"
"Boleh,"
"Enggak ! !"
Anggun terdiam karena mersa mual, ia lari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Hoek ! Hoek !
Anggun benar-benar merasa tidak enak di perutnya, bahkan ia memuntahkan makanan yang baru saja ditransfer ke dalam mulutnya. Ariel yang mendengar itu menjadi panik dan ikut ke kamar mandi, ia berdiri di belakang Anggun yang sedang membersihkan mulutnya di westafel.
Hoek ! ! Hoeeekkk!!
Anggun kembali merasa mual, bahkan
__ADS_1
tubuhnya juga menjadi semakin lemas, Ariel mengusap dengan lembut punggung Anggun.
"Sudah aku bilang, jangan makan makanan yang pedas ! kenapa gak nurut..."
"Perutku sakit..." lirih Anggun.
Tanpa banyak bicara Ariel menggendong Anggun dan kembali merebahkannya di atas ranjang, setelah memastikan Anggun berbaring dengan nyaman, ia menghubungi Endi.
"Cepat ke kamarku!! " perintahnya.
Sementara Anggun sudah memejamkan mata, tidak mau melihat wajah Ariel yang sudah memerah. Beberapa menit kemudian pintu kamar di ketuk dan terbuka dari luar.
"Kenapa kau memanggilku ke sini ?" Endi heran melihat raut wajah Ariel, ia tahu persis kalau Ariel sedang panik.
"Masuklah ! !"
Endi mendekat dan berdiri di samping Ariel.
"Istriku sakit perut karena makan makanan yang pedas itu, cobalah periksa Anggunku !"
Ariel menyenggol lengan Endi, sementara Endi masih diam tanpa bergerak sama sekali.
Ini yakin aku di ijinkan menyentuh istrinya
"Tapi kau jangan macam-macam ya ! periksa saja tanpa menyentuhnya,"
Benarkan, mustahil
"Bagaimana caranya memeriksa kondisi istrimu tanpa menyentuhnya? kau tenang saja aku cuma memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya,"
"Tapi aku tetap tidak suka !"
"Yasudah aku keluar,"
"Eh tunggu, cepatlah pastikan istriku baik-baik saja !"
Endi menghembuskan nafasnya dengan berat, bola mata Ariel mengekori gerakannya, Endi memegang pergelangan tangan Anggun, sedangkan Anggun yang memang masih merasa lemah hanya diam dan memandang Ariel. Ariel mengedipkan mata seolah-olah mengatakan tidak apa-apa, biarkan Dokter muda ini memeriksamu.
Endi masih dengan kegiatannya, ia terus saja memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Anggun dan sesekali melirik Ariel yang sudah mulai tidak sabar mendengar hasilnya.
"Sudah lepaskan tangan istriku...bagaimana hasilnya? cepat hubungi tim terbaikmu di rumah sakit, kita bawa Anggun ke rumah sakit, bodoh sekali aku hampir percaya denganmu !"
"Kau benar kita harus membawa Anggun ke rumah sakit, untuk memastikan kondisinya dan..." Endi menggantung kalimatnya ia bergantian menatap pasangan suami istri ini.
"Dan apa...?" tanya Ariel tidak sabar.
"Dan mungkin saja saat ini Anggun sedang hamil, aku tidak mau menduga-duga. Jadi kita harus pastikan di rumah sakit."
"Ha-hamil?" ucap Ariel terbata, ia terkejut mendengar kata hamil apa mungkin saat ini di dalam rahim istrinya ada janin?
*******
Aku datang lagi.....
Terima kasih masih setia di Mantan Tercinta
__ADS_1
Di tunggu Bonchap berikutnya ya