
Namaku Suci Khaidar. Aku hanyalah seorang gadis biasa dari kampung yang datang ke Kota karena ajakan sepupuku yaitu Anggun. Kalau bicara tentang Mbak Anggun tidak akan pernah ada habisnya. Anggun seperti seorang Angel untukku. Mbak Anggun juga yang sudah membantu semua biaya pendidikanku. Saat itu aku sama sekali tidak pernah punya niat untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, tapi tanpa diduga Mbak Anggun mendaftarkan aku di salah satu Kampus ternama yang ada di kota.
Mbak Anggun mendaftarkan aku sebagai Mahasiswi jurusan akutansi perkantoran, yang sebenarnya aku tidak pernah punya mimpi untuk menginjakan kaki di loby gedung tinggi itu, tapi setelah aku mempelajari ilmunya ternyata sangat bermanfaat untukku, aku menolak ajakan temanku untuk kerja di kantor orangtuanya yang saat itu membutuhkan sekertaris, karena aku lebih memilih untuk menjadi sekertaris Mbak Anggun di Butiknya.
Aku tidak secantik Mbak Anggun, tubuhku juga terbilang mungil, rambutku panjangnya hanya sebahu, aku juga tidak terlalu tinggi, tapi aku mencintai laki-laki yang berpawakan tinggi itu, bahkan tinggiku hanya sebatas lengannya saja, cintaku sudah sangat dalam untuknya, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sedalam ini, karena aku belum pernah memiliki hubungan khusus dengan laki-laki mana'pun.
Aku jatuh cinta sendirian, cintaku tidak pernah terbalaskan, dan aku sudah memendamnya selama bertahun-tahun. Andaikan saja hati ini mau diajak kompromi tentu saja aku akan melupakannya, karena dia yang aku cinta tidak pernah melihatku sebagai wanita dewasa, karena dia selalu saja menganggap aku sebagai adiknya.
Pertemuan pertama di Bandara, aku sudah suka. Aku pikir hanya sebatas suka, tapi saat aku melihat dia yang sangat perhatian kepada Mbak Anggun membuatku sakit, dari situ aku tahu kalau aku mencintai Fery Irawan. Laki-laki dewasa yang tidak banyak bicara. Tapi aku bersyukur setidaknya wanita yang disukai kak Fery bukan wanita lain, saat itu aku sudah terbiasa melihat kedekatan mereka, bahkan aku juga yang membantu memilih gaun tunangan yang akan dipakai Mbak Anggun.
Kata orang kalau jodoh tidak akan tertukar, kata orang kalau jodoh tidak akan kemana, kata orang tulak rusuk yang hilang satu akan kembali kepada pemiliknya, dan aku percaya itu saat Cinta Lama Mbak Anggun Kembali Bersemi. Siapa yang bisa menerka jodoh? saat aku tau kalau diam-diam Mbak Anggun sudah menikah dengan Mas Ariel, aku sangat bahagia, aku tertawa jahat, sangat jahat, karena aku tertawa disaat laki-laki yang aku cintai sedang patah hati. Tapi sekali lagi aku jatuh cinta dengan sikap dewasanya yang berlapang dada merelakan Mbak Anggun menjadi milik Mas Ariel.
Cinta kenapa kau serumit ini? kenapa kau banyak membuat orang patah hati? kenapa terkadang kau datang kepada orang yang salah? cinta seperti apa bentukmu? seperti apa wujudmu? bisakah kita bicara? bisakah kita berdamai? bisakah kau membantuku untuk meluluhkan hatinya yang beku itu? cinta! aku mencintainya.
Cinta! kenapa aku jatuh cinta sendirian? kapan dia bisa melihatku? kapan dia bisa mencintai aku? kapan dia memperlakukan aku seperti dia memperlakukan Mbak Anggun? Cinta jangan siksa aku, hilangkan saja rasa cinta yang ada untuknya.
Cinta! haruskah aku melupakan laki-laki dewasa yang usianya terpaut jauh dariku? lihat aku kak Fery, sebelum aku memutuskan untuk benar-benar melupakan dan menjauhimu. Suci Khaidar.
*****
Fery keluar dan menutup pintu sebelum orang lain menyadari kehadiran anak muda yang sudah memanggilnya Paman. Setua itukah dia?
"Siapa?" selidik Fery.
"Nama saya Dika Paman, saya kesini untuk mengantarkan hp Suci yang tertinggal di mobil saya," pemuda tampan ini tersenyum ramah dan menunjukan Handpone suci yang ada ditangannya.
"Berikan!" tidak ada keramahan yang ditunjukan Fery. Aura mencekam terasa menyelimuti Dika, membuat senyumnya juga memudar.
Dika susah payah menelan salivanya sendiri, saat merasa berhadapan dengan seorang Bodyguard "Boleh saya sendiri yang kasih ini ke Suci, Paman?"
"Kau tau ini tempat apa? tidak sembarangan orang bisa masuk ke ruangan ini," ucap Fery.
Ah iya, Dika ingat kalau Suci menemui keponakan yang baru lahir, sudah pasti harus dijauhkan dari sesuatu yang tidak steril. Pantas saja Paman ini terlihat seperti mengawasinya. Dika memaklumi sikap Fery, dan memberikan Hp milik Suci.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit, sampaikan salam saya untuk semua keluarga Suci, ya Paman," ucap Dika.
"Hm..."
****
"Ada siapa? kenapa gak diajak masuk?" tanya Mama Fery saat melihat Fery mendekatinya.
"Cuma satpam," Fery memberikan Hp kepada Suci "Ini milikmu? kenapa kamu begitu ceroboh?" entah kenapa Fery merasa kesal.
"Kenapa bisa ada sama kak Fery? oh mungkin tertinggal di mobil Dika ya," Suci mengangguk dan menerima Hp-nya.
"Siapa Dika? calon menantu Ibu ya?"
"Bu-bukan Bu...cuma temen. Ibu kenapa sih yang dibahas menatu aja."
"Kalau bukan calon menantu Ibu, kamu gak boleh deket sama sembarangan laki-laki, mungkin aja dia punya niat jahat sama kamu," suaranya naim satu oktaf.
"Tapi Bu---
"Ibu tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Suci disini. Lagi pula saya memang sudah menganggap dia sebagi adik saya sendiri," Fery melihat wajah Suci cemberut, lalu ia membelai halus rambut Suci"adik kecil sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab kakak ya," ucapnya tersenyum jail.
Suci menepis tangan Fery"yakin cuma jadi adik kecil kak Fery? gak mau dinaikan statusnya?" jiwa labil suci kembali muncul, membuat Fery mundur kembali ketempatnya.
Sementara sedari tadi suami istri ini masih terus memperhatikan interaksi diantara keduanya. Ariel berdiri di samping Anggun, ia menimang baby Aarick dan menina bobokan bayinya.
"kamu lihat sendiri'kan? mereka itu cocok Mas, kita jodohkan saja ya," ucap Anggun pelan.
"Aku gak mau pusing mikirin itu yank, aku cuma mau fokus sama kamu dan juga Aarick," Ariel berbisik ditelinga Anggun.
"Mas..." rengek Anggun.
Ariel menghela napas"Ya sudah nanti kita cari cara untuk mendekatkan mereka," ucapnya.
__ADS_1
"Kamu memang yang terbaik." Anggun memuji suaminya.
*****
...Anggun dan Baby Aarick sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit. Saat ini keluarga besar masih berkumpul di rumah mereka, untuk mengadakan syukuran atas kelahiran Aarick....
"Kenapa Kak Fery gak bilang kalau tadi Dika yang kasih Hp-nya?" Suci kesal saat membaca pesan yang baru saja dikirimkan Dika.
"Dia ngadu apa aja? apa dia juga bilang kalau aku mengusirnya?" Fery bicara tanpa melihat Suci, ia terus membersihkan mobilnya di halaman belakang rumah Ariel.
"Kak Fery memang nyebelin ya, Dika itu orangnya baik kak, jadi bisa gak sih Kakak bersikap manis sama dia!" suaranya naik satu oktaf.
Spontan Fery menjatuhkan selang air yang masih mengalir lalu menatap manik mata Suci"terus kamu mau apa?" tanya Fery tanpa merasa bersalah.
Suci menggulung lengan bajunya sampai ke siku dan berkacak pinggang" aku mau apa? kakak tanya aku mau apa?" teriaknya, kemudian Suci mengambil selang air yang sempat di jatuhkan Fery, dan mengarahkannya ke Fery.
"Aku mau ini, rasakan ini, rasakan! biar jiwa kakuk kakak hilang, rasakan! " Suci terus menyiram seluruh tubuh Fery hingga basah.
"Suci stop! jangan gila kamu!" teriak Fery. Ia berusaha merebut selang air dari tangan Suci.
"Aku gila karena Kak Fery, jadi rasakan ini hahahah rasakan dasar Fery kaku hahaha," Suci terus mengguyur Fery.
"Kamu bilang apa? Fery katamu? dimana sopan santunmu huh?" Fery semakin kesal.
"Gak ada sopan santun untuk hari ini!" teriaknya.
Kesabaran Fery habis, ia merengkuh Suci dengan tangan kekarnya, dan merebut selang air itu.
"Kalau begitu, rasakan ini supaya jiwa bandalmu itu luntur, rasakan ini!" kali ini Fery yang mengguyur seluruh tubuh Suci.
"Fery stop!" teriak Suci.
"Kau bilang apa?" teriak Fery kesal.
__ADS_1
"Kak Fery stop!"
Fery tersenyum simpul tapi tetap mengguyur Suci sampai keduanya menjadi basah.