
Saat ini kehamilan Anggun sudah memasuki trimester akhir, yakni sudah mencapai usia sembilan bulan dalam kandungan. Semua perlengkapan bayi pertama Ariel Erlangga itu sudah rampung, hanya tinggal menunggu Baby boy lahir ke dunia.
Ariel menyiapkan ruangan khusus untuk bayi mereka, yang terhubung langsung dengan kamar pribadi mereka, ruangan ini lengkap dengan dapur kecil untuk segala kebutuhan anaknya, Ariel tidak mau anaknya lama menunggu hanya untuk sebotol susu atau peralatan kecil yang lain. Meskipun Anggun sudah menekankan akan memberikan ASI eksklusif sampai usia anaknya dua tahun.
Di dalam ruangan itu juga ada kamar khusus bernuansa abu dan biru lengkap dengan Baby box dengan warna yang senada, berbagai gambar tokoh kartun juga sudah meghiasi kamar lengkap dengan mainannya.
Dokter sudah memprediksikan kalau Anggun akan melahirkan dalam sepuluh hari terakhir, dan dalam beberapa hari ini, Anggun sudah mengalami kontraksi palsu, dimana rasa sakit itu masih jarang muncul, karena itu Anggun menyimpan sendiri tanpa memberitahukan Ariel, karena sudah dipastikan suaminya itu akan semakin heboh.
Saat ini matahari masih malu-malu untuk menampakan wujudnya, nuansa subuh sudah membangunkan Anggun dan Ariel. Setelah melakukan kewajibannya, seperti biasa Ariel menemani Anggun untuk mengitari sekitar kompleks rumahnya.
"Nanti kalau sakit, mending kamu operasi aja yank, Mas gak mau kamu merasakan sakit ini," dengan setia Ariel menuntun Anggun yang memang sudah mulai susah berjalan.
"Apasih? Aku'kan sehat Mas, dan gak ada masalah sama kandunganku ini," Anggun menggenggam erat tangan Ariel saat kembali merasakan kontraksi palsu.
"Ke-kenapa? apa sakit? " Ariel cemas dan memeriksa tubuh istrinya, sebagai seorang Ayah yang siaga, Ariel sudah menghapal ciri-ciri wanita yang akan melahirkan, namun ia tidak melihat ada rembesan air di balik daster yang dipakai Anggun.
"Cu-cuma sakit biasa...nanti juga hilang." Anggun menjawab dengan tenang, padahal kontraksi itu datang lagi.
"Sa-sakit biasa?sejak kapan?apa sudah sering seerti ini ?" tanya Ariel mengintimidasi.
"Mas tenang...wanita hamil akan merasakan seribu satu macam penyakit menjadi satu saat melahirkan nanti. Itu wajar Mas." Anggun kembali meyakinkan Ariel.
Ariel memeluk Anggun meskipun terhalang perut buncit istrinya, ia mengecup puncak kepala Anggun dengan mesra, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kalau bukan karena pikiranmu yang dewasa, mungkin sampai sekarang Mas masih belum bisa memaafkan perbuatan dan penghinaan mama kepada kamu sayank..." lirih Ariel.
"Sudah jangan diingat lagi Mas, aku yakin semua orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, hanya saja mungkin mereka punya cara sendiri untuk menunjukan kasih sayangnya,"
Anggun menarik diri dan menyatukan jemari mereka"Kenangan buruk tidak perlu diungkit, cukup dijadikan pelajaran saja, bayangkan saat Mas ada didalam perut mama selama sembilan bulan, berbagi makanan, berbagi oksigen, saling merasakan perasaan dan lainnya. Sekarang saat Mas sudah dewasa apa Mas tega menyakiti hati mama?" tanya Anggun tersenyum.
"Sayang jangan buat aku sedih, dari mana sih datangnya sifat dewasamu ini? " dengan gemas Ariel mencolek hidung Anggun.
"Biasa aja Mas, kuncinya kita harus ikhlas dan bersyukur, ah aku jadi kangen sama Alm.Ibu," Anggun sudah menitikan air mata, mengingat perjuangan ibunya dulu saat melahirkannya.
"Ssttt jangan sedih, Ibu pasti bangga sama kamu yank," Ariel menghapus air mata Anggun.
"Akkhhh" Anggun meringis karena kembali merasakan kontraksi itu lagi, tapi saat ini rasanya benar-benar sakit.
"Sa-sayang kamu kenapa?"
"huufftt Mas aku huffttt " Anggun mencoba menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Ap-apa kamu mau melahirkan? "
"Mas...huffttttt " tanpa sengaja Anggun mencubit lengan Ariel.
Tanpa aba-aba Ariel menggendong Anggun. Dan membawanya kembali ke rumah.
"Darma...siapkan mobil!" teriak Ariel kepada supir, tidak butuh waktu lama mobil sudah mendekati Ariel, dan dengan hati-hati Ariel mendudukan Anggun di dalam mobil, untung saja segala kebutuhan bayi mereka sudah ada di rumah sakit.
"Cepat jalan!" perintah Ariel dan supir mulai melajukan mobilnya
Anggun kembali meringis ia yakin ada flek di bagian jalan lahir bayinya. Namun enggan mengatakan kepada Ariel, mengingat Ariel akan semakin panik.
"Sayang sabar ya...ini pasti sakit sekali ya." wajah Ariel menjadi semakin pucat saat melihat Anggun menahan sakitnya.
"Kenapa lama sekali huh? " Ariel membentak supir.
"Mas, tenang..." lirih Anggun, ia bahagia merasakan cinta yang begitu besar dari Ariel.
Ariel mencoba untuk tetap tenang, andaikan saja dirinya bisa menggantikan rasa sakit itu, Ariel pasti sudah melakukanya, yang hanya bisa dilakukan Ariel saat ini adalah mengelus perut istrinya.
Lalu lintas semakin ramai, rumah sakit sudah di depan mata, tapi saat ini mereka terjebak di dalam kemacetan lalu lintas, ya maklum saja ini hari yang padat untuk mereka beraktifitas di perkantoran. Tanpa mau membuang waktu, Ariel membuka pintu dan menggendong Anggun ke rumah sakit.
"Mas..."lirih Anggun.
Sampailah mereka di rumah sakit. Anggun sudah berbaring diruang persalinan, sudah ada Dokter dan suster yang menyambutnya.
"Dokter cepat lakukan tindakan, istriku sudah lama merasakan sakit !" gusar Ariel.
"Sabar ya Pak...biar saya periksa." Dokter sudah mulai melakukan tindakan, memeriksa jalan lahir si bayi, benar- benar proses yang cepat sudah pembukaan 6, dan saat ini tubuh Anggun susah terpasang infus.
Anggun sudah mulai mengeluarkan keringat dingin sebesar buji jagung, dan Ariel setia menemani dan mengeringkan peluh istrinya.
"Uuukkhhmmm" Anggun meringis saat kembali merasakan sakit, tanpa sengaja Anggun menarik kuat rambut Ariel, dan Ariel hanya pasrah menerimanya.
"Sabar ya Bu, kepala bayi Ibu sudah mulai terlihat," ucap Dokter terus menyemangati Anggun.
"ukhhmmmmm akkhhhh"
Saat ini frekuensinya semakin cepat, Anggun terus merasakan sakit di perutnya, benar saja rasanya seperti seribu satu penyakit menjadi satu, Anggun terus saja menarik dan juga memukul lengan Ariel.
"Sabar ya sayang, tahan ya..." ucap Ariel yang terua mengecup semua bagian dari wajah Anggun.
__ADS_1
"Mulai mengejan Bu, kepala bayi Ibu sudah semakin terlihat jelas," ucap Dokter.
"Uukkkhhhmmmmm huftttt "
Anggun menarik nafas sejenak.
"Ayo Bu, tarik nafas dalam ya,"
"Ukkhhmmmmmm"
Sekali lagi Anggun mengejan, ia masih terus berjuang demi melihat bayinya menghirup udara di bumi, melihat itu Ariel semakin takjub dan lebih mencintai istrinya.
"Ooeeeee Ooeeeeee oeeeeeeee"
Suara tangisan Ariel junior mulai mengisi ruagan itu, Anggun menitikan air mata bahagia, rasa sakit yang dirasakannya menghilang begitu saja setelah mendengar suara buah hatinya.
"Sayang anak kita sudah lahir," Ariel menatap takjup pada bayi mungil yang masih ada di tangan Dokter.
*****
Terima kasih untuk semua dukungannya ya๐ค
Like
vote
komen
Rate 5
๐๐๐
Maaf kalau bonchap terlalu panjang ya๐
Terima kasih kak...
Luluk Lutfiani ๐
Mamaz Azam๐
Kaisa Fakhira๐
__ADS_1
Terima kasih untuk vote nya.
Terima kasih sudah setia membaca mantan tercinta ya......