Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
SEASON 2 Dimulai


__ADS_3

Dering ponsel Ariel membangunkan tidurnya, ia menyingkap selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya, sebelum turun dari tempat tidur, Ariel mengecup kening Anggun dengan penuh cinta, lalu ia membuka pesan diponselnya, Ariel tampak serius membaca pesan yang dikirimkan Yusri kepadanya.


Ariel bergegas ke kamar mandi, ia menyiapkan sendiri keperluannya tanpa membangunkan istrinya, setelah lengkap dengan pakaian kantornya, Ariel membuka mencium Aarick yang juga tidur lelap di tempat tidur yang ada di samping kasurnya.


Ariel keluar dari kamar, ia memanggil semua pelayan rumah agar mereka menjaga anak dan istrinya selama Ariel pergi, para pelayan rumah hanya bisa mematuhi tuannya tanpa berani bertanya kenapa sepagi ini Tuannya pergi.


Suara rengekan Aarick membangunkan Anggun, dilihatnya jam sudah hampir jam 6 pagi, saat ini perutnya terasa kram akibat tamu bulanan yang memang selalu membuatnya perutnya tidak nyaman, Anggun mengendong Arick, ia terlihat menyusuri setiap ruangan saat tidak melihat Ariel di kamar.


Setelah membersihkan diri, Anggun membawa Arick menuju lantai dasar, dibukanya ruang kerja Ariel, namun lampunya masih padam, artinya suaminya tidak ada di ruangan ini.


"Ibu, lagi cari bapak? Tadi pagi-pagi sekali bapak pergi, Bu." ucap pelayan rumah.


"Sepagi ini? Pergi ke mana ya, Bi? Biasa selalu pamit," Anggun menjadi cemas karena tidak biasanya suaminya pergi tanpa ijin dahulu.


"Bapak cuma pesan, kalau kami harus menjaga Ibu sama den Aarick saja," jawabnya.


Anggun tampak mengerti kemudian ia menyerahkan Aarick kepada pengasuhnya, dan menghubungi suaminya, namun ponsel Ariel di luar jangkauan.


****


"Jadi, wanita itu kembali lagi?" tanya Ariel kepada Yusri sahabat sekaligus sekretarisnya, Yusri membuang napas kasar, ia masih memandang seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari bandara.


"Kenapa dia datang lagi?" Yusry kembali bertanya, potongan masa lalu menghantuinya, wanita yang ada di dalam foto itu adalah Marissa gadis yang pernah disukainya di masa SMA, namun saat itu Marissa lebih memilih menjalin kasih dengan Ariel dibandingkan dirinya.


"Dia wanita yang mengerikan, kali ini apa lagi yang akan dilakukannya?" Ariel menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, memejamkan mata dan menyesali kejadian pahit di masa lalunya. Andai dia lebih dulu bertemu dengan Anggun, sudah dipastikan tidak akan ada banyak mantan kekasihnya yang tersakiti.


"Apa Marissa akan mencari kita?" tanya Yusri, kejadian itu terlintas lagi, mungkin saja saat ini Marissa kembali dengan membawa dendam dan menuntut balasan.

__ADS_1


"Dia tidak boleh berada di dekat kita, wanita itu berbahaya, jangan sampai dia juga menyakiti istri dan anakku, apa lagi saat ini Airin juga sudah menetap di sini."


"Apa yang akan dilakukan Marissa? Aku harus cari tahu tentang rencana jahatnya," ucap Yusri.


Ariel menegakkan punggungnya, ditatapnya Yusri dengan lekat, "mungkin dia sudah berubah, dan mungkin dia datang untukmu!"


"Aku takut membayangkan itu."


Yusry membawa beberapa lembar foto Marissa ke ruangannya, ia meletakkan foto iti diatas meja, menatapnya dan mengingat semua kenangan tentang Marissa.


Marissa adalah teman semasa sekolah Ariel. Yusri dan Endi, Marissa gadis yang cantik, cerdas dan ambisius, mereka menjalin persahabatan, lambat laun cinta tumbuh diantara mereka, Yusri dengan gamblang menyatakan cinta kepada Marissa, tapi Marissa lebih memilih menjalin kasih dengan Ariel, dan sejak saat itu hubungan Ariel dan Yusri sedikit renggang.


Acara perayaan kelukusan SMA menjadi suatu hal yang paling berkesan, sebagian dari mereka turut merayakannya di Villa milik keluarga Erlangga, saat itu Marissa masih menjadi kekasih Ariel, ia rela walau hanya menjadi pelarian semata, karena saat itu Ariel masih menjadi playboy sejati.


Malam itu kejadian tidak terduga mengejutkan Ariel, dengan mata kepalanya sendiri, Ariel menyaksikan Marissa tidur dipelukan Yusry yang saat itu bertelanjang dada, Ariel marah dan memukul Yusri sampai Endi datang melerai pertengkaran mereka.


"Sekarang, apa yang kau inginkan, Marissa?" gumam Yusri.


Setelah seminggu berlalu, Ariel menemui Yusri dan membahas masalah ini, mereka sepakat untuk menutup dan menyimpan masalah ini dan terpaksa menuruti semua permintaan Marissa.


Uang, tas, perhiasan dan barang mewah lainnya selalu diberikan untuk Marisa, Yusri ingat betul kejadian malam itu, dirinya tidur sendiri di dalam kamar, kemungkinan Marisa sengaja memfitnahnya, namun tidak ada yang percaya kepadanya, dan setelah sekian lama, Marissa datang membawa ancaman untuknya dan Ariel.


Siang itu Ariel berada di ruangannya, suara ketukan pintu mencuri perhatiannya, Ariel terkejut mendapati Marissa berdiri dihadapannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ariel yang merasa menyesal telah mengirim Yusry menghadiri *meeti*ng ditempat lain, pantas saja Marissa bisa masuk ke ruangannya.


Belum sempat Marisa menjawab, seorang karyawan datang dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya sudah melarangnya masuk, tapi Nona ini memaksa," ucapnya menahan ketakutan.


"Pergilah!"


Setelah karyawab itu pergi, Marissa tersenyum centil dan berjalan menuju meja Ariel.


"Keluar dari ruanganku!"


Perintah Ariel tidak dihiraukan Marisa, justru dia sengaja duduk di depan Ariel.


"Aku datang setelah sekian lama, kenapa malah mengusirku? Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Marissa.


"Drama apa lagi yang kau buat?" Ariel tidak sula, ingin rasanya ia menyeret wanita ini keluar dari ruangannya.


"Aku tidak mau keluar dari sini, sebelum kita menghabiskan waktu berdua," gurau Marissa.


"Jangan memancing amarahku. Keluarlah!" titah Ariel lagi.


"Aku sudah memesan tempat untuk makan siang, temani aku dan setelah itu aku akan pergi, kalau tidak aku akan tetap di sini!"


Marissa benar-benar menjengkelkan, wanita ini sangat tidak tahu malu, masih sama seperti dulu, dengan terpaksa Ariel mengikuti kemauan Marissa.


"Baiklah, sekali saja hanya untuk hari ini," Ariel berdiri dan berjalan mendahului Marissa. Marisa tampak girang mendapati Ariel masih mau mengabulkan keinginannya seperti dulu.


Di sebuah Cafe yang tidak jauh dari kantor. Ariel duduk berhadapan dengan Marissa, cafe ini terletak di tepi jalan raya, mobil Ariel sudah terparkir di halaman.


"Kamu gak makan?" tanya Marissa dengan masih memegang buku menu, Ariel hanya menggeleng tanpa niat menjawab, kemudian Marissa memesan beberapa makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Saat itu juga, Anggun sedang belanja bulanan untuk kebutuhan dapurnya, satu per satu kantong plastik itu dimasukkan ke dalam bagasi mobil, tanpa sengaja Anggun melihat mobil Ariel berada di cafe yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


Anggun menghampiri, ia terpaku melihat punggung kokoh itu sedang menghadap wanita yang terlihat ceria makan berdua dengan suaminya.


__ADS_2