
Semua tamu undangan yang brada di dalam Ballroom ini masih tidak percaya, mereka saling berbisik sembari melirik Alisa yang mereka kenal sebagai tunangan Ariel. Alisa masih terbengong di tempatnya. Ia menoleh memperhatikan kumpulan orang yang juga menatapnya. Sementara Endi masih diam tanpa ekspresi.
"Ariel apa yang ka.....
Ariel mengangkat satu tangannya, pertanda tidak boleh ada yang ikut bersuara, dan ituembuat Alisa terdiam.
"Semua yang aku katakan adalah kebenaran, tanpa ada yang aku dustakan ! wanita yang berdiri di depan sana memanglah istriku ! "
Ariel dan Anggun masih saling memandang, sementara Fery masih saja memperhatikan gerak gerik keduanya tidak ada bantahan dari Anggun, dan itu membuat Fery yakin dengan ucapan Ariel.
Nyonya Farida yang tentunya terkejut itu pun hanya bisa diam, dan Ia masih menggenggam erat tangan Anggun yang sudah terasa dingin.
Nyonya Widia maju satu langkah "Ariel apa yang kamu bicarakan ini ?" suaranya nyaris tidak terdengar, tapi Ariel menoleh dengan kedua mata yang sudah memerah, menahan semua perasaan bersalah yang menghantui.
"Wanita ini yang sudah Mama hina, wanita ini yang sudah Mama usir , wanita ini juga yang sudah Mama Fitnah, dan wanita ini juga yang sudah aku benci ,aku yang membenci karena kebodohanku ! aku yang pergi meninggalkan dia, disaat dia membutuhkan aku ! "
Nyonya Widia tertunduk malu, dihadapan semua orang yang sedang menatapnya, kemudian Ariel kembali menoleh untuk melihat Anggun yang terlihat terkejut dengan semua ucapan Ariel.
"Dia menutupi semua kesalahan Mama, dia tidak pernah sedikit pun menyinggung semua penghinaan Mama, dan dia lebih memilih aku membencinya, dari pada aku membenci Mama! dan aku ! bodohnya aku percaya begitu saja, menganggap seolah olah dia mengkhianati aku !" Ariel menjeda ucapannya ia berjalan dan berhenti di samping Mama yang sudah menangis, dan Ariel masih memperhatikan Mama yang masih tertunduk.
"Kejahatan kita yang mana yang sudah di balasnya Ma ! penghinaan kita yang mana yang sudah dia kembalikan ? Dia masih bisa tersenyum meskipun hatinya menyimpan luka, tidak ada yang tau kalau semua perbuatan kita, sudah menimbulkan trauma yang mendalam untuknya ! "
Ariel menatap Anggun, sampai keduanya kembali beradu pandang. "Apa yang dia berikan? luka mana yang dia kembalikan? dia bahkan masih sanggup menyelamatkan hidup Mama, dia bahkan masih terfikir untuk mendonorkan darahnya untuk Mama ! kejahatan mana yang sudah dia kembalikan?"
"Ariel...." Lirih Anggun, membuat Ariel tersenyum, dan kembali ketempatnya semula, dan ia berdiri di hadapan Nyonya Farida.
"Nyonya Farida ! saya tau kalau Anda sangat menyayanginya, Anda benar dia wanita yang tulus dengan semua cinta yang dimilikinya, dan aku percaya dia juga tidak pernah berniat untuk mengkhianati kasih sayang tulus dari Nyonya ! "
"Aku lah yang salah Nyonya ! Aku yang sudah memaksakan pernikahan ini, aku yang terlalu egois, aku memikirkan kebahagiaanku sendiri, aku yakin aku akan bahagia kalau dia menjadi istriku, tapi...." Ariel kembali menjeda bicaranya, ia menghapus air mata yang sempat menetes dari matanya.
"Tapi aku baru sadar !kalau ternyata tindakanku selama ini salah, aku terlalu memaksanya, tanpa aku memikirkan perasaannya , aku tau Anggun tidak bahagia hidup denganku ! "
Ariel berjalan naik keatas podium, dan berhenti tepat di depan Anggun, mengabaikan Fery yang sedang menatapnya dengan muak.
Ariel membelai lembut kepala Anggun, dan ia juga berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun hatinya masih terasa perih, karena sedari tadi Anggun selalu mengabaikannya.
"Mulai hari ini, aku tidak akan pernah lagi memaksamu, mulai hari ini aku akan menerima apa pun keputusanmu dan mulai hari ini, aku tidak akan menemuimu, aku tidak akan datang untuk menjemputmu, karena aku tidak akan sanggup dengan penolakanmu! "
"Anggun ! Aku tidak memaksamu agar kau percaya dengan semua perasaanku , aku tidak bermaksud untuk membohongimu, aku melakukan itu karena aku tidak mau kau dimiliki orang lain !"
"Anggun sampai kapan pun, aku akan tetap menunggumu ! " perlahan Ariel melangkah melewati Fery yang berdiri di samping Nyonya Farida.
Tap.....tap...tap...
Bunyi suara sepatu Ariel terdengar jelas di dalam ruangan yang di penuhi orang yang sedari tadi mendengar semua ucapannya.
Anggun hanya diam, melihat punggung Ariel yang sudah semakin menjauh dan pergi menghilang di balik pintu utama dan di susul Nyonya Widia dan Alisa. Sementara acara kembali di lanjutkan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kini acara sudah usai, para tamu undangan sudah kembali pulang, begitu juga dengan pihak penyelenggara. Malam semakin dingin suasana semakin mencekam.
Fery masih terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan Anggun yang duduk manis disampingnya, sedangkan Nyonya Farida mengalah dan membiarkan keduanya untuk bicara.
"Kak....! " Anggun bicara sembari melirik Fery yang sedari tadi tidak menghiraukan dia.
"Kak, jangan seperti ini, bicaralah kak...!"
Fery diam dan terus melajukan mobilnya.
"Anggun minta maaf kak ! Anggun gak bermaksud untuk menutupi semua ini dari kakak dan Mama ! bicaralah kak ! " pinta Anggun.
Fery masih mengacuhkannya, sampai suara tangisan Anggun terdengar, Fery mengurangi kecepatan mobilnya dan menoleh sekilas dan kembali lagi fokus mengukur jalan.
"Kamu masih mencintai dia ? " tanya Fery yang lebih mengencangkan pegangannya di stir kemudinya.
"Kak....! " lirih Anggun.
"Kamu masih mencintai dia ? " tanya Fery lagi, Anggun masih diam, dan terus menata hatinya.
" Apa kamu bahagia dengan dia?"
"Kak......
"Jawab Anggun ! "
Anggun masih saja diam, sampai Fery menepikan mobilnya di pinggir jalan. Fery menarik nafas dalam, dengan pandangan yang lurus kedepan.
"Aku menganggap diam-mu ini adalah jawabannya, benar kamu masih mencintainya, dan benar kamu bahagia hidup dengannya ! "
Fery menoleh sampai tatapan mata keduanya terkunci satu sama lain. Dan Anggun meraih tangan Fery.
"Kak...Anggun minta maaf kak, tolong maafkan Anggun kak...!" pintanya.
"Kak hiks hiks hiks ! " dasar air mata, selalu saja tumpah. Feri menarik tangannya dan kembali melajukan mobilnya menyusuri gelapnya malam.
Sepanjang perjalanan tidak ada lagi yang memulai bicara, Anggun hanya menundukan kepala, dan meremas kuat jari jemarinya. Dan masih dengan suara isakan tangisannya.
Samapai mobil itu berhenti tepat di depan rumah dengan pagar besi yang menjulang tinggi, dengan penjagaan yang ketat. Anggun terheran ia meminta jawaban dari Fery.
"Kak....! " lirih Anggun.
"Pergilah ! temui dia ! " ucap Fery berusaha menunjukan senyumannya.
"Kakak hiks hiks hiks
"Berjanjilah kalau kamu akan bahagia dengan dia !"
"Kak....
Fery menggenggam erat tangan Anggun.
"Jangan khawatir ! sampai kapanpun juga kamu adalah adikku ! berjanjilah kamu akan bahagia dengannya ! "
Anggun menganggukan kepala, Fery mengecup singkat kening Anggun " Aku adalah kakak untukmu, jangan lupakan itu, pergilah temui dia !"
Anggun tersenyum dan menghapus air matanya, dan keluar dari mobil Fery. Anggun masih berdiri menyaksikan mobil Fery yang semakin hilang dari pandangannya.
"Nona sudah datang ? " satpam datang dan membubarkan lamunan Anggun.
__ADS_1
"Apa Ariel ada di rumah ?"
"Oh ada Non ! tapi ya itu kelihatannya sedih banget Non ! " membuka lebar pintu gerbang.
"Saya masuk dulu ya Pak ! " pamit Anggun..
.
.
.
.
Dengan gemetar Anggun memencet bel, satu kali dua kali hingga tiga kali, terbukalah pintu dari dalam, menampakan Ariel dengan rambut yang acak acakan, Ariel terbengong tidak percaya melihat Anggun datang menemuinya.
"Sa sayang kam kamu...
Beg....... Anggun memeluk erat Ariel yang masih berdiri di depan pintu, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Ariel.
"Ariel maafkan aku ! maafkan aku hiks hiks!"
Seperti mimpi Ariel masih terdiam, sampai ia mencoba menyentuh kepala Anggun.
"Maafkan aku Riel hiks hiks...."
Ariel memegang kedua sisi kepala Anggun, dan menatap dalam pada manik mata Anggun.
"Jangan minta maaf! aku yang salah ! tolong maafkan aku Anggun ! " pintanya memelas.
Anggun menganggukan kepala, membuat Ariel tersenyum, dan Ariel menghujani wajah Anggun dengan ciuman , keningnya, pelipis mata, mata bulatnya, hidungnya, pipinya, Ariel terus menciumnya, seakan ia sangat merindukan istrinya.
Anggun membenamkan wajahnya di dada bidang Ariel lagi, sampai keduanya saling memeluk erat, Ariel mencium semua aroma harum dari diri Anggun, dengan terus mengecup kepala dan cengkuk leher Anggun.
Sampai Cup....keduanya saling meresapi li**h satu sama lain, dengan gerakan cepat Ariel merengkuh dan menggendong Aanggun, membuat Anggun mengalungkan kedua tangan di leher Ariel.
Ariel menapaki satu persatu anak tangga, dengan tetap menggendong dan membungakam Anggun dengan ciumannya. Membuka pintu kamar dengan satu kakinya, kini Ariel sudah merebahkan dengan mesra tubuh Anggun di atas ranjang besarnya. Dan memulai lagi aksinya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
*Bersambung.............
Jangan lupa itu bintang atau rate di pincit ya sayang, sudah mulai redup๐
Terima kasih......
๐ค* Thor kok nanggung sih lanjut.......
Author : Di lewatkan saja ya , anggap saja sudah sah๐
๐ค๐คMemangnya sih Anggun sudah gak trauma lagi?
Author ๐ฌ Enggak kok, ituh di atas mereka sudah melanjutkan malam pertama yang sempat tertunda.
__ADS_1
๐ฒ Kok di skip Thor....Lanjutlah...
Author : Sudahlah anggap saja sudah lunas ya๐๐๐๐๐