Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Kamar Hotel


__ADS_3

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, membuat langit berubah warna menjadi hitam, namun cahayanya masih menyinari bagian belahan bumi yang lain, kegelapan malam menyambut kedatangan Fery dan Suci di kota ini, guratan rasa lelah terlihat jelas di wajah mereka, saat ini Fery dan suci sedang menghabiskan makan malam di restoran yang ada di lantai dasar hotel, sementara asisten pribadi Fery baru saja ikut bergabung setelah membawa koper mereka ke dalam kamar masing-masing.


"Beres Bos, semua sudah selesai, tertata rapi, aman dan sudah saya pastikan amat sangat terkendali," asisten Fery sedikit membungkukan badan saat meletakkan dua kunci kamar di atas meja.


Fery melirik sinis kearahnya, saat ini ia merasa benar-benar sangat kesal, asisten barunya ini sudah mengganggu acara makan malam romantisnya dengan Suci, padahal baru saja ia kembali merasakan muda lagi saat berbagi makanan dengan Suci menggunakan satu sendok yang sama, rasa lelahnya menjadi hilang seketika, tapi sekarang asistennya ini datang dan membuatnya menjadi dilanda kekesalan.


"Lain kali kamu harus menghubungi saya dahulu, sebelum melaporkan sesuatu secara langsung, kalau seperti ini kamu mengganggu waktu saya," Fery kesal ia membersihkan mulutnya dengan tisu dan menghempaskan tisu itu begitu saja di atas meja, sementara Suci merasa tidak enak hati karena ketauan suap-suapan dengan pangeran impiannya.


"Ya, maaf bos, " ia merasa tidak enak hati apa lagi saat ini perutnya juga sudah lapar, dan sekarang dimarahi, dan labih menyakitkan, jiwanya yang sudah lama menjomblo ini semakin meronta, saat dua matanya ini sedari tadi menyaksikan kemanisan, keromantisan yang dipamerkan Fery dan Suci, mulai saat mereka berada di dalam pesawat dimana, Suci tertidur dengan kepala yang menyandar di dada bidang Fery, sementara Fery sibuk mengelus pipi dan mengambil foto Suci dengan ponselnya, miris sekali jadi jomblo, pikirnya.


"Kalau gitu saya janji dilain waktu,saya akan menghubungi Bos, sebelum memberikan informasi," ucapnya terpaksa mengumbar senyuman.


Fery meraih dua kunci kamar itu, ia berdiri dan memegang tangan Suci,"kamu urus semua ini !" perintah Fery dengan dingin, yang ditanggapi dengan anggukan kepala dari asistennya,"ayo sayang, kita istirahat," mendengar itu Suci sigap berdiri dan berjalan dengan tetap membiarkan Fery menggandeng tangannya.


"Mereka yang makan nangka, aku yang kena getahnya," Ia mengelus dada dengan menatap nanar makanan yang ada di atas meja, berharap tetap sabar menghadapi sikap Fery yang menyebalkan, meskipun begitu ia sangat menyayangi Fery karena bosnya itu tidak pernah pelit dan tidak pernah perhitungan soal duit, jauh berbeda dengan mantan bosnya yang dahulu.


"Baiklah, kapan lagi aku bisa menghabiskan duit si Bos," ia tesenyum dan duduk dengan bangga dan mulai membuka buku menu makanan yang lezat,"saatnya aku makan."


****


"Nyaman sekali di sini," Fery merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ada di kamar tempatnya menginap, kamar ini hanya memiliki satu tempat tidur, terletak dua kursi dan meja kecil, terdapat layar tv tipis dibuat seakan menempel di dinding.


Ruangan ini di dominasi warna cream dan nampak beberapa jendela yang terbuat dari kaca yang menunjukan view yang indah, terdapat juga pintu kecil yang menghubungkan ke balkon kamar yang memang sengaja di buat senyaman mungkin untuk menambah kesan natural bak alam terbuka, siapapun juga bisa duduk dan menghirup udara segar di sini.


Saat ini Fery sudah memejamkan kedua matanya, namun ia masih bisa mendengar suara pintu kamar mandi yang baru di buka, hidungnya menghirup aroma shampo yang semakin menenangkannya, namun Fery semakin memejamkan matanya, hanya berpura-pura tidur saja.


Sedangkan Suci saat ini baru saja keluar dari kamar mandi, seperti biasa dengan memakai baju tidur lengan panjang berkarakter kartun Doraemon kesayangannya. Suci menunduk sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, tanpa memperhatikan keadaan sekitar, Suci duduk di depan meja rias.


"Kak, " Suci terkejut saat melihat Fery dari pantulan cermin,"tadi sebelum aku mandi, kak Fery sudah keluar dari kamar ini, tapi kenapa sekarang ada di sini?" Suci bergumam lalu ia berjalan mendekati kasurnya.


"Kak ... kenapa masih di sini?" Suci menggoyangkan kaki Fery, namun Fery masih tidak bergeming,"Oh, kakak mau kamar yang ini? yasudah Suci ke kamar kakak ya!" Suci berbalik arah bermaksud keluar dari kamar itu, tapi mendadak langkahnya mundur secara perlahan saat merasakan ada tangan kokoh yang merengkuh pinggangnya dari belakang.


"Mau kemana?" Fery membawa Suci kepangkuannya, membuat Suci gugup dan salah tingkah, ia memukul pelan tangan Fery yang memeluknya.

__ADS_1


"Kak, lepas! kenapa masih di sini sih? nanti ada yang lihat, terus mereka bisa salah paham kak, apa lagi kita ada di kamar hotel." Suci bicara dengan wajah yang lurus ke depan.


"Siapa yang mau masuk ke kamar kita?cuma ada kita di sini," aroma shampo dari rambut Suci memabukkan Fery, ia terus menghirpunya membuat rasa kantuknya hilang seketika.


"Kak, jangan gini, lepasin tangannya!" Suci berusaha menarik diri, namun Fery semakin mengeratkan dekapannya, membuat Suci menoleh ke samping.


"Lain kali, pastikan kamu kunci pintunya!kamu masuk ke kamar mandi, sementara pintu kamar belum kamu kunci, gimana kalau ada orang asing yang masuk ke kamar kamu hm?" Fery menempelkan dagunya di pundak Suci.


"Iya, Suci janji gak akan teledor lagi, udah kak keluar sana, ini sudah malam aku mau tidur," rengeknya masih dalam pangkuan Fery.


"Ya sudah, untuk besok istrahat saja ya, lusa kita sudah bisa meninjau lokasi," Fery bicara pelan dengan memegang dagu Suci, jarak keduanya semakin dekat.


"Iya, saya siap melaksanakan tugas Pak! sekarang Pak Fery kembali ke kamar sendiri ya," pinta Suci.


"Memang kamu mau apa, kalau aku mau tidur di kamar hotel kita ini?" Fery berbisik lembut ditelinga Suci.


"Kak, ja-jangan macam-macam ya!" Suci gemas dan mencubit lengan Fery.


Fery tersenyum,"jangan takut, aku gak mungkin melakukan hal yang buruk sama kamu, aku gak mau menyakitimu dan aku tidak mau membuatmu malu, aku janji akan selalu melindungimu, kamu paham'kan maksudnya?" Fery bicara dengan suara yang serius.


"Atau mau di coba?" tanya Fery bercanda saat sudah melonggarkan dekapannya.


Suci menarik tangan Fery sampai Fery berdiri,"sudah sana keluar, kamar Kakak ada di depan kan? jangan males dong!" Suci terus menarik Fery menuju pintu.


"Ya sudah, selamat malam ya," Fery mengecup sekilas kening Suci sebelum melepaskan tangannya, kemudian ia mendekati pintu kamarnya yang berada tepat di depan kamar Suci,"masuklah!" perintahnya kepada Suci. Suci hanya tersenyum dan benar-benar menutup pintunya, kemudian Fery juga melakukan yang sama.


***


Bunyi alarm di pagi hari membangunkan Fery dari tidurnya, tangannya meraba nakas untuk mengambil dan mematikan nada alarm yang memang masih sangat pagi untuk mereka beraktifitas. Fery menyingkap selimutnya dan berjalan secara perlahan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak butuh waktu lama Fery keluar dari kamar dengan memakai pakaian olah raga, seperti biasa Fery selalu olah raga pagi meskipun itu hanya untuk pemanasan otot saja. Fery masih memegang handle pintu sembari melihat pintu kamar Suci yang masih tertutup, ingin rasanya Fery membangunkan dan mengajak gadis itu olah raga, tapi Fery tidak mau mengganggu tidur kekasihnya itu, akhirnya Fery berlalu masuk ke dalam lift dan menekan angka 8 menuju rooftop tiga tingkat dari kamarnya.


Fery menuju ruang Fitnes yang memang sengaja disediakan oleh pihak hotel di bagian puncak gedung ini, supaya bisa menikmati indahnya pemandangan kota dan juga cahaya matahari yang akan keluar secara perlahan. Fery sudah mulai melakukan pemanasan untuk melatih ototnya.

__ADS_1


"Pak, Fery?" seorang wanita berpakaian sport stylish datang menghampirinya, ternyata Mila yang tak lain rekan bisnisnya juga sudah sampai di tempat ini, dengan percaya diri Mila mendekati Fery.


Merasa namanya di sebut, Fery menoleh untuk mencari sumber suara, dari jauh ia melihat Mila berjalan ke arahnya.


Mila semakin sumringah, ia mengalungkan handuk kecil di lehernya, dan berlenggok dengan memakai br* sport tanpa lengan dan sedikit mengexpose bagian perutnya, yang dipadupadankan dengan legging yang membentuk kemolekan tubuhnya secara sempurna.


"Pak Fery sudah sampai di sini juga?" tanya Milla saat sudah berdiri tegak di hadapan Fery, membuat Fery sedikit membuang pandangannya ke lain arah karena merasa tidak nyaman tempat ini masih sangat sepi.


"Hmm iya, Anda sudah di sini juga?" tanya Fery sembari menggaruk pelan plipis matanya.


"Bukannya kita ada di luar pekerjaan? panggil Mila saja, dan ya saya sengaja datang ke hotel ini lebih awal, agar waktunya tidak terlalu mepet," Mila menjawab sembari mengeringkan lehernya dengan handuk yang masih mengganting di lehernya.


Fery hanya tersenyum simpul.


Setelah ini kita akan sering menghabiskan waktu berdua Fery, dan aku pastikan kau tidak akan bisa menolak pesonaku lagi


Milla membatin dan menyusun rencana licik.


****


Dicoba untuk tetap lanjut sampai CINTA SUCI FERY END ya😌


Cinta Suci tetap Suci untuk Fery?


atau


Cinta Suci akan berakhir untuk Fery?


atau mungkin


Fery yang akan berjuang untuk mempertahankan Cinta Suci agar tetap utuh untuknya?


Haishhhh semoga masih semangat sampai akhir😌

__ADS_1


Terima kasih masih setia di MT dan CSF☺


__ADS_2