
Syal yang ia sematkan untuk menutup
punggungnya yang terbuka, sudah berpindah tangan, membuat Anggun cepat menggerai rambut panjangnya supaya Ariel tidak bisa melihat punggung putihnya. Tapi bola mata Ariel sudah terlanjur melihatnya.
"Kembalikan,"
Anggun berusaha meraih Syal yang sengaja dijauhkan Ariel, membuat Anggun semakin sulit menjangkaunya.
"Kenapa? Apa kau malu?"
Tanya Ariel dengan wajah datarnya, dia tidak perduli dengan wajah Anggun yang kesal.
"Aku bilang cepat kembalikan,!
Anggun sedikit berjinjit, melompat kecil untuk menjangkau syal yang ada di tangan Ariel, tapi sia sia karena postur tubuh mereka yang memang jauh berbeda.
"Ambil saja, kau bisa menyimpannya,!"
Anggun mulia kesal karena merasa
usahanya tidak berhasil.
"Aku harus jawab apa nanti kalau Alisa curiga dengan syal ini? Apa aku harus jawab jujur kalau syal ini milikmu?"
Ariel mulai menggoda Anggun, dengan wajah jahilnya.
"Kau jangan gila Ariel,"
"Kenapa? apa kau takut, kau cemburu?"
Anggun menepuk bahu Ariel.
"Hahaha Aku takut? cemburu? dari awal
aku tidak cemburu sedikitpun,hanya saja
aku menjaga perasaan Alisa."
"Aku tau Anggun, aku bisa melihat dengan jelas dari raut wajahmu ini, sudah jelas kalau kau cemburu Anggun."
"Untuk apa aku cemburu? kau tau 'kan
aku juga sudah punya calon suami,!"
Mendengar itu, wajah Arie kembali datar seperti semula dia menurunkan tangannya yang menggenggam kain panjang Anggun, Ariel maju beberapa langkah tapi Anggun terus saja melangkah mundur.
"Aku pergi !"
grep
Ariel memegang pergelangan tangan Anggun. kemudian Ia mengalungkan tangannya di belakang pundak Anggun, dengan jarak yang semakin dekat, Ariel memakaikan syal dan menutupi bagian punggung Anggun yang terbuka.
"Apa kau tidak punya gaun yang lain?"
tanya Ariel saat tangannya merapikan syal
di bagian pundak Anggun.
"Aku....Aku suka gaunku ini," jawab Anggun yang masih mengenali raut wajah Ariel yang mengintimidasinya.
"Kalau sampai aku melihatmu memakai gaun yang seperti ini lagi, aku akan membawamu secara paksa,!" ancamnya.
__ADS_1
Seketika jiwa posesif Ariel mulai muncul dan meronta ronta. Anggun hanya bisa diam ia merasa mendapatkan kembali perhatian yang sudah lama hilang, perhatian kecil yang dulu
sempat dirindukannya.
"Kau mengerti?" tanya Ariel lagi, ia mundur beberapa langkah sedikit menjauhi Anggun, dan memperhatikan penampilan Anggun secara utuh.
Anggun mengangguk pelan tanpa menjawab apapun dia keluar dari ruang yang redup ini.
Ternyata ada sepasang mata yang melihat saat Anggun keluar dari kamar pribadi Ariel.
Hotel ini milik Erlangga, dan Ariel membawa Anggun masuk ke dalam kamar pribadinya.
.
.
"Dari mana saja?"
Fery terlihat cemas sedari tadi mencarinya.
"Toilet Mas,!" jawab Anggun bohong.
"Yasudah kita pulang,!"
Dengan wajah datarnya, Fery menggandeng tangan Anggun keluar meninggalkan pesta yang belum usai.
.
.
.
Kondisi Farida sudah berangsur membaik.
Sudah tidak ada masalah Farida juga sudah meminta Anggun untuk menjadi menantu, hanya saja yang masih mengganjal pikiran, perusahaan Fery yang diambang kehancuran.
Fery dan Anggun juga sudah menjalankan rutinitas mereka seperti biasa. Fery terus berusaha mengumpulkan dana dengan mencari pinjaman dari pengusaha lain.
Siang hari di Perusahaan Fery
Anggun diam diam datang ke perusahaan Fery, ia datang membawakan makanan kesukaannya, walaupun sampai sekarang Anggun belum mencintai Fery, tapi sebagai seorang adik selama lima tahun Anggun sudah terbiasa memberikan perhatian kecil untuk kakak angkatnya itu.
Anggun menginjakan kakinya di lobby kantor, dengan semangat ia menuju meja reseptionis
"Bisa saya bertemu dengan Pak Fery?" tanya Anggun kepada karyawan cantik di kantor ini.
"Loh Manda ya?" jawabnya yang memang mengenali Anggun sebagai adik Fery.
"Sudah lama tidak datang ke Kantor Mbak?" tanyanya lagi.
"Saya sibuk di Butik, gimana perkembangan disini? apa sudah lebih baik?" tanya Anggun penasaran.
"Gimana ya Mbak, ini masalah perusahaan, gak etis kalau saya bicarakan pada orang luar," jawabnya sedikit ragu, bagaimana pun juga Anggun salah satu penerus perusahaan ini.
"Cuma saya kok yang tau,!" jawab Anggun, ia meletakan kotak makanan itu di atas meja. Membuat wanita ini menarik nafasnya dalam.
"Sepertinya sebentar lagi Perusahaan ini benar benar akan berakhir Mbak, pengadilan memberikan waktu dua bulan untuk kita mengumpulkan dana dan membayar hutang, tapi sampai sekarang kita belum juga mendapatkan pinjaman itu,"
Jawaban yang baru saja di dengar Anggun membuat raut wajahnya berubah sendu. Memikirkan Fery yang berjuang sendiri untuk menyelamatkan perusahaan.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanpa sadar suaranya terdengar jelas di telinga seorang resepsionis yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kenapa Mbak Manda tidak mencoba untuk ikut menangani perusahaan ini?"
"Saya tidak pernah menangani perusahaan, lebih baik saya berurusan dengan kain perca yang menumpuk dari pada berhubungan dengan berkas berkas disini," jawab Anggun sedikit bercanda.
"Coba saja Mbak, siapa tau ada keajaiban, Pak Fery juga sudah berusaha menemui pengusaha lain, tapi hasilnya percuma, hanya satu pengusaha yang tersisa sih Mbak,"
"Siapa? kak Fery bilang dia sudah mengajukan pinjaman ke semua pengusaha."
"Yang saya tahu tersisa satu, saya juga tidak tau kenapa pak Fery tidak mau menemuinya."
"Siapa? dari perusahaan mana?"
"Itu loh Mbak, perusahaan besar Erlangga,"
"Erlangga? Maksud kamu Ariel Erlangga?"
"Iya Mbak, siapa sih yang tidak kenal Pak Ariel, Mbak juga kenal kan? Coba deh Mbak, temui Pak Ariel itu, siapa tau kali ini kita berhasil menyelamatkan perusahaan ini Mbak."
Tenggorokan Anggun kering, bahkan dia tidak mampu menelan ludahnya sendiri, Anggun kenal betul siapa Ariel. Mengingat kerja sama Iklan mereka yang belum berjalan saja sudah membuatnya stres, terlalu banyak peraturan, apa lagi Ariel tidak mau menerima kesalahan sekecil apapun. Apa mungkin bekerja sama dalam menangani perusahaan juga? Apa mau Ariel meminjamkannya uang dalam jumlah besar?
"Mbak...!"
" Oh iya...."
"Banyak karyawan yang bergantung disini Mbak, saya harap Mbak mau bantu ya?"
"Iya....Nanti saya coba, kalau gitu terima kasih, saya temui kak Fery sebentar ya," pamit Anggun, dengan gontai ia menuju lift.
Anggun sampai di depan ruangan Fery,
tidak ada siapapun disana, meja serketaris juga terlihat kosong, Anggun melihat ada sedikit cela di pintu ruangan Fery, perlahan dia mendekatinya tanpa niat tapi sudah
terlanjur, Anggun mencuri dengar, suara Fery dan beberapa orang disana.
"Waktu yang diberikan pengadilan sudah hampir habis, sebentar lagi akan ketuk palu yang artinya perusahaan ini akan musnah dan berpindah tangan, bahkan itu juga belum bisa melunasi pinjaman yang sudah saya berikan untuk anda!"
Suara seorang pria terdengar jelas di telinga Anggun, ada kekecewaan di setiap kalimat yang menyudutkan Fery. Fery hanya bisa terdiam sesekali mengangguk kepala.
"Saya tidak mau tahu, sebelum ada keputusan dari pengadilan, saya mau anda melunasi semua hutang kepada saya,"
"Saya paham, beri kami sedikit waktu,"
"Pak Fery saya sudah terlalu baik, saya juga sudah memberikan waktu panjang tapi lihat sampai sekarang perusahaan ini belum juga bisa menyicilnya."
"Beri saya waktu sedikit lagi pak,"
"Baiklah, 2 Minggu, kalau kamu belum juga bisa melunasinya, maka kita akan bertemu lagi di pengadilan."
Anggun melihat pria yang memarahi Fery berdiri ia berjalan ke arah pintu, dengan cepat Anggun sembunyi berharap tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Fery mengantarkan tamunya sampai depan lift, setelah itu ia kembali masuk kedalam ruangannya.
"Aku harus apa? Kenapa kak Fery tidak mau menemui Ariel? Kasihan kak Fery, haruskah aku sendiri yang menemui Ariel? Apa Ariel mau memberikan pinjaman dalam jumlah besar secara cuma cuma?"
Raut wajah Anggun masih saja sendu sedih memandang pintu ruangan Fery yang sudah tertutup rapat.
****
Lebih dari 1000 kata, maaf tidak maksimal juga, maklum menulis sambil meracik bumbu di dapur🤭🤭
Terima kasih semua dukungannya ya.
__ADS_1
kritik dan saran di persilahkan 👍👍👍