Mantan Tercinta

Mantan Tercinta
Minggat berjamaah


__ADS_3

Sementara Anggun masih duduk diam di dalam taksi, ia sedikit membuka kaca jendela agar bisa melihat dengan jelas kumpulan awak media yang berjaga di depan Butiknya, tidak ada yang bisa ia lakukan bahkan untuk menghubungi Hani pun tidak bisa, mengingat hp nya masih mati total, akhirnya Anggun meminta bantuan supir untuk memanggil Hani.


Pengaruh Alisa memang luar biasa, terbukti para awak media sudah mengetahui identitas nya, Anggun tidak menyesali keputusannya, ia pergi karena tidak mau memperkeruh keadaan, Anggun tersenyum mengingat Ariel, karena sudah pasti suaminya itu saat ini sedang kalang kabut mencarinya. Anggun sudah membayangkan wajah-wajah mereka yang ketakutan karena amukan Ariel. Apa lagi para Bodyguard yang dengan mudah di kelabuhinya.


"Bersabarlah...cepat selesaikan masalahmu..." lirih Anggun sembari meraba cincin di jari manisnya.


Tok...tok...tok....(Kaca jendela di ketuk )


"Masuklah !" seru Anggun.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Hani, saat sudah duduk di samping Anggun.


"Baik banget malah," jawab Anggun tersenyum.


"Aku sudah lihat beritanya...gak nyangka Alisa setega itu ! aku yakin dia sengaja nyebarin foto-foto dan berita bohong untuk menghancurkan rumah tangga kalian !" kesal Hani.


"Alisa gak salah...dia ngelakuin ini karena merasa di khianati. Justru aku yang salah karena sudah merebut calon suaminya,"


"Kamu tuh selalu aja mikirin perasaannya, sudah jelas Alisa yang salah...terus kamu manggil aku kesini untuk apa? "


" Aku mau pergi, tolong kamu packing pakaianku ya...tapi jangan sampai ketauan wartawan itu !"


"Yakin mau minggat? tega ninggalin suami di sini?"


"Aku harus ngelakuin ini supaya Ariel, bisa lebih fokus menyelesaikan masalahnya sama Alisa,"


"Terserah kamu aja lah !" kesal Hani, seraya keluar dari taksi.


Tidak butuh waktu lama, Hani kembali dengan membawa koper berukuran besar milik Anggun, setelah drama perpisahan dan tangisan, Anggun kembali melanjutkan perjalanannya.


Kini taksi yang membawa Anggun sudah sampai di depan rumah mama angkatnya, ia tidak tega pergi tanpa pamit dengan wanita paruh baya yang sudah menyayanginya dengan tulus. Baru sekarang ada orang yang ijin sebelum minggat. Anggun terkekeh sendiri, sungguh keputusan yang konyol.


"Ada di mana adikmu itu? cepat cari dia ! jangan pulang ke rumah kalau Anggun belum ketemu !" teriak Ny.Farida marah kepada Fery yang duduk di depannya.


"Sabar Jeng...sabar." Mama Ariel terus berusaha meredam amarah besannya ini, sedari tadi dia mengusap halus punggung Farida, tapi Farida masih saja gelisah, iya setelah tersebar foto dan berita itu, Widia langsung datang ke rumah Farida.


"Anggun tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah pergi tanpa pamit, bahkan sampai sekarang dia masih belum bisa di hubungi !" teriakan Ny. Farida menggema sampai ke pintu utama, membuat Anggun mempercepat langkahnya.


"Anggun..." lirih Fery saat melihat Anggun berdiri di belakang Mamanya.

__ADS_1


"Iya Anggun, adikmu ! kamu cari dia sampai ketemu, Mama akan menghapus kamu dari daftar kartu keluarga kalau tidak bisa menemukan Anggun anakku !" ancaman yang menakutkan, membuat Fery merasa kalau dialah anak angkat yang sebenarnya.


"Mama tega ngelakuin itu ?" suara Anggun mengagetkan Farida dan Widia, keduanya berdiri dan langsung menghampiri Anggun.


"Dasar kamu anak nakal...dari mana saja sih Nak." Farida menghujani Anggun dengan ciuman.


Sementara Widia mendekap Anggun, memeluk erat menantunya, " Maafkan Mama...semua ini salah Mama." sesal Widia.


Widia melepaskan pelukannya, dan ia mencium kening Anggun dengan penuh kasih sayang,membuat hati Anggun menghangat.


"Kamu mau pergi kemana?" Fery menunjuk koper yang ada di tangan Anggun, membuat kedua Mama heran.


"Aku mau pergi !"


"Pergi kemana?" kedua Mama bertanya dengan kompak.


" Gak tau, belum ada tempat tujuan...kalau pulang kampung, Ariel pasti nyusul,"


"Jadi kamu beneran mau ninggalin dia?" tanya Fery tidak percaya, ia sudah mulai menerima pernikahan Ariel dan Anggun, tapi tiba-tiba masalah ini datang, dan mengganggu pikirannya, kasihan sekali adiknya ini, pikirnya.


"Sementara aja...sampai masalahnya selesai."


Anggun duduk di sofa, sementara yang lain masih berdiri di tempatnya, saling memandang dengan wajah yang kebingungan, sementara koper besar itu sudah berpindah di tangan Fery.


"Loh, kok jeng Widia malah setuju kalau mereka pisah ?" tanya Farida tidak terima.


"Cuma sementara saja...iya kan sayang?" tanya Widia membelai halus rambut Anggun.


"Jadi Mama setuju kalau aku pergi?"


"Setuju...kamu pergi gak sendirian. Mama temenin, Mama punya tempat tujuan yang bagus, biarkan saja Ariel menyelesaikan masalahnya di sini, biar kamu bisa lihat usahanya Ariel, Mama yakin dia akan tetap memperjuangkan kamu,"


"Gak bisa," Farida menimpali. "Mama juga mau ikut, Mama gak mau di sini kalau gak ada kamu." Farida duduk di samping Anggun.


"Jadi...semua mau minggat berjamaah?" tanya Fery, ia tidak rela di tinggal sendirian.


"Kamu gak boleh protes...atau kamu mau Mama hapus dari kartu keluarga." Fery bergidik mendengar ancaman Mama nya.


.

__ADS_1


.


.


.


*****


Menjelang petang


Ariel masih mengurung diri di dalam kamar, tidak membiarkan siapapun mendekatinya, termasuk Endi dan Yusri yang terus saja datang mengetuk pintu kamarnya. Ariel masih sendirian di temani bayangan Anggun, biasanya dalam keadaan suntuk seperti ini, Ariel selalu mengalihkan perhatiannya dengan menenggak minuman keras, tapi sekarang ia berusaha meninggalkan kebiasaannya itu, karena Anggun tidak menyukai kebiasaannya buruknya.


Sudah berjam-jam ia di dalam kamar, Ariel tidak sedetikpun memejamkan mata, ia memikirkan cara untuk memberi perhitungan dengan Alisa, bisa-bisanya Alisa memberikan bukti palsu tentang kehamilannya, wanita ini memang sangat nekat, ancamannya bukan main-main. Terbukti Anggun terhasut dan pergi meninggalkannya.


Dering hp membuyarkan lamunan Ariel, dengan semangat ia menekan tombol hijaunya, berharap Anggun yang menghubunginya.


"Sayang kamu ada di mana?"


("Kamu merindukan aku?")


"Alisa...?" Ariel mengenali suara ini.


(Aku merindukan kamu sayang...sangat rindu.")


"Cukup Alisa! apa yang sudah kamu lakukan?"


("Aku tidak melakukan apa pun, aku cuma berusaha untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku !")


"Tapi.....


("Cepat datang ke Apartmen ku, kalau tidak aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini!") Alisa menutup telepone.


"Sial ! !" Ariel kembali mengumpat, tapi ia sadar kalau ini tidak sepenuhnya salah Alisa, Alisa hanyalah korban perasaannya.


Semua ini adalah kesalahannya, karena dari awal Ariel tidak jujur mengenai hubungannya dengan Anggun, bahkan dari awal Ariel tidak mencintai Alisa, tapi tetap membiarkan gadis itu berada di sampingnya.


"Baiklah...aku akan menemuimu," tekad Ariel.


Ariel bergegas untuk datang menemui Alisa di Apartmen yang dulu pernah di kunjunginya, ia berharap Alisa bisa di ajak bicara baik-baik dan menarik semua berita yang sudah terlanjur tersebar.

__ADS_1


********


Semakin membosankan, iya saya juga sudah mulai lelah😌


__ADS_2