
"Kenapa...?" tanya Fery kepada Suci saat gadis itu ketahuan sedang meliriknya, tidak ada yang tahu pernah terjadi insiden kecil diantata keduanya.
Suci menggelengkan kepala namun tidak membuka suara, ia sedang berusaha melupakan perasaannya kepada laki-laki yang hatinya seperti belut ini, Fery sangat lincah membuatnya jatuh cinta, namun tidak mudah untuk Suci menggenggam hatinya.
"Mbak cari'kan kandidat untuk Suci ya...!" pinta Suci lagi, ia menggenggam erat tangan Anggun.
Anggun tersenyum kaku melihat wajah Fery, sebagai adik angkat selama lima tahun, tentu ia tahu benar ekspresi wajah Fery, Anggun yakin Fery terlihat kesal, tapi apa yang membuatnya kesal? senyum usil mengembang di wajahnya.
"Kamu mau cari yang seperti apa?" bola panas sudah digelindingkan, Anggun berharap kali ini tepat sasaran.
"Yang pasti dia baik, dan yang lebih penting gak memandang usia," jawabnya melirik Fery.
"Memangnya kenapa sama usia?ada yang salah ya...?" tanya Anggun.
"Aku punya temen, umurnya belum genap 24 tahun, dia suka sama cowok yang umurnya sudah hampir 33 tahun, terus si cowok ini nolak dia mentah-mentah menurutnya 24 tahun itu masih anak kecil," kesal Suci .
Fery tersenyum getir karena dia tahu kedua wanita ini sedang menyindirnya, ia melipat tangan di depan dada, dan tidak mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari kakak beradik yang duduk di depannya. Sedangkan Ariel baru saja selesai membalas email dari hpnya.
"Sayang aku laper," ucap Anggun manja saat Ariel melihatnya.
"Mau makan apa hm?" Ariel meletakan hp di atas meja dan berlutut di depan Anggun, dan mengecup perut Anggun yang masih rata"anak Papa mau makan apa hm?" tanya Ariel sembari mengelus perut Anggun.
Anggun tersenyum dan mengusap lembut punggung Ariel"aku mau makan bebek gorenga Pa..." Anggun menirukan suara anak kecil.
Ariel tersenyum"baiklah,ayo kita cari." Ariel berdiri dan meraih tangan Anggun sampai mereka keluar dari ruang keluarga meninggalkan Suci dan Fery.
"Mau cari kandidat untuk apa?" tanya Fery saat Ariel dan Anggun sudah pergi.
"Kandidat buat jadi calon imam masa depan," jawab Suci, yang sedari tadi terus melirik benda yang ada di atas meja.
"Sudah nyerah?" tanya Fery lagi.
Suci menatap Fery sampai pandangan keduanya bertemu"untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak pasti," Suci menggigit bibir bawahnya berusaha menutupi perasaannya.
Fery mengangguk"Baguslah...jangan membuang waktumu." Fery beranjak dan menjauhi Suci.
__ADS_1
"Baiklah...Aku gak perlu membuang waktu." ucap Suci meyakinkan diri.
********
"Habiskan dong yank, tadi kamu minta bebek goreng." Ariel dan Anggun sudah berada di dapur, setelah setengah jam menunggu bebek goreng pesanan Anggun sudah tersaji di atas meja, Ariel sangat menjaga makanan yang dikonsumsi Anggun, ia tidak membiarkan istrinya makan makanan dari luar rumah.
"Gak, sudah cukup..."Anggun menutup mulutnya, ia menolak suapan Ariel.
"Masih sedikit yang masuk ke dalam perut yank...aku gak mau anak kita kelaparan di dalam sini," Ariel menunjuk perut Anggun.
Anggun menggelengkan kepala dan tetap menutup mulutnya, tiba-tiba ia merasakan mual.
"Buka mulutnya!" perintah Ariel lagi.
Hoekkkkk Hoeeeekkkkk
Anggun memuntahkan isi perutnya, bahkan mengenai tangan Ariel"Mas maaf ya..."lirih Anggun.
"Gak masalah kok," jawab Ariel yang membersihkan tangannya menggunakan tisu, setelah itu ia membersihkan mulut Aggun.
Anggun hanya menggelengkan kepala. Malam hari pun tiba acara makan malam keluarga sudah berlangsung tentu juga dihadiri sahabat Ariel dan Anggun.
"Mama berencana untuk mengadakan resepsi pernikahan kalian," ucap Mama Widia.
"Setuju! kita akan mengadakan pesta besar untuk mengumumkan pernikahan kalian ini," Mama Farida menimpali.
"Itu gak perlu Ma, kita adakan acara kecil-kecilan saja," ucap Anggun.
"Justru pernikahan ini harus diumumkan sayang, biar gak menimbulkan fitnah." Mama Widia masih tidak mau mengalah"kalian serahkan aja semua sama kami, biar kita yang mengurus semuanya ya jeng?" tanyanya pada Farida.
"iya jelas dong Jeng, kita buat meriah acaranya,"
Ariel dan Anggun cuma bisa diam dan tetap mendengarkan rencana yang sudah dipersiapkan untuk menggelar resepsi pernikahan mereka.
********
__ADS_1
Hari berganti hari setelah Ariel dan Anggun mengadakan syukuran dengan berbagi kepada anak-anak di panti asuhan beberapa saat yang lalu, kini waktu yang ditunggu pun tiba, semua kolega dan rekan bisnis Ariel dan Anggun terlihat menghadiri resepsi pernikahan mereka. Acara ini di gelar di hotel mewah yang bisa menampung ribuan tamu undangan.
Ariel terlihat gagah dengan penampilannya, begitu juga dengan Anggun, ia memakai gaun pernikahan yang sempat diminta Alisa. Anggun tidak menyangka ia benar-benar memakai gaun rancangan sendiri tepat di resepsi pernikahan mereka, sebuah gaun pilihan Ariel.
Semua memuji kecantikan Anggun dan memuji pasangan serasi yang sudah siap melemparkan bunga untuk para jomblo sejati yang siap berebut di bawah podium. Terutama Alisa ia berdiri di barisan terdepan sudah tidak ada lagi kecemburuan di dalam dirinya.
"Satu...dua.....
Suara MC sudah kembali lagi menarik perhatian para jomblo sejati, Ariel melihat Yusri, Endi, dan Fery berdiri di belakang para wanita yang ada di barisan terdepan, kemudian Ariel berbisik di telinga MC.
"Para Arjuna yang ada di sana diharapkan atur barisan, acara ini tidak akan di mulai kalau para lelaki sejati tetap berdiri disana ya," suara MC membuat para wanita menoleh ke belakang.
Fery, Yusry, dan Endi terlihat kesal melihat Ariel tersenyum mengejek mereka.
"Baiklah...demi hari bahagianya." Endi sudah lebih dulu berjalan diikuti Fery dan Yusri.
"Satu...Dua...Satu...Dua...
Riuh para jomblo di bawah podium Fery dan Yusri berdiri berdampingan, sementara Endi berdiri di depan Alisa.
"Mbak...cepetan ke arah sini!" teriak suci tanpa sadar kalau ia berdiri di samping Fery. Fery menoleh dan terpesona melihat aura kecantikan suci, gadis yang dianggapnya anak kecil ini terlihat beda dan lebih dewasa dengan sedikit polesan makeup di wajahnya.
"Ayo Mbak...!" Suci melambaikan tangan berusaha menarik perhatian Anggun, senyumnya memudar saat menyadari Fery sedang melihatnya.
Suci membuang muka dan berjalan melewati Fery, saat ini dia berdiri di samping Yusri, dan ini untuk yang pertama kalinya Fery merasa Suci mengacuhkannya.
"Satu...dua...tiga....
Bunga itu sudah di lempar menuju tuan yang baru, semua sangat antusias sampai bunga itu jatuh di tangan laki-laki tampan yang di antara para Arjuna, membuat para wanita yang ada di sana berharap di pilih sebagai calon istrinya.
"Ini untukmu," ucapnya lembut memberikan buket bunga itu untuk Suci.
"Un-untuk aku...?" tanya Suci hampir tidak percaya, saat Yusri memberikan bunga untuknya.
Sementara Fery masih belum mengalihkan perhatiannya dari Suci, apa lagi saat Suci menerima bunga dari Yusri.
__ADS_1