
(Ben)
Yayai memapahku pelan menuju kamar dan meletakkan tubuhku yang tidak berdaya ke kasur. Garis wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Dia terlihat lelah. Baru kali ini aku bisa melihat bola matanya dengan jelas dan warnanya agak berbeda. Aku memang terkesan cuek dengan semua orang yang aku temui. Tidak pernah memperhatikan sedetail ini. Ternyata warna bola mata Yayai memang dari kemarin berbeda dengan bola matanya yang asli ketika memakai kacamata. Aku baru sadar, itu adalah warna dari lensa kontaknya.
“Prof apa punya obat sendiri?” tanyanya menuntut. Dia masih panik. Wajahnya masih dekat sekali dengan wajahku. Karena aku tidak tahan melihat wajahnya terus menerus, aku terpaksa menutup mataku. Perutku masih sakit melilit. Air liurku mengalir deras dan mulutku terasa pahit sekali. Keringatku bahkan tidak berhenti. Yayai mengelap keringat di dahiku dengan tangan telanjangnya. Aku sempat terkejut dalam diam. Aku lalu membuka mataku. Melihatnya mengelap tangannya bekas keringatku ke bajunya.
“Ada. Di bawah laci akuarium.” ujarku. Mataku tertuju ke arah akuarium. Tanpa banyak bertanya dia menuju meja akuarium dan membuka laci kecil dibawahnya. Dia membaca beberapa botol obat di situ dan ketika yakin obat itu adalah obat maag, dia keluar ke dapur dan membawa segelas air minum untukku.
“Prof yakin ini obatnya manjur?” tanyanya lagi tidak yakin. Dia sepertinya masih ingin membawaku ke rumah sakit.
“Yakin. Aku hanya mau tidur saja sambil merasakan sakitnya.”
Aku menelan air liurku. Sialan. Mulutku pahit sekali.
Yayai mengelap keringat di leher dan wajahku dengan tisu yang tadi diambilnya di dapur.
“Baik Prof.”
Dia tidak berkata-kata lagi. Kemudian aku tertidur. Di dalam tidurku, aku masih mendengar pintu terbuka pelan beberapa kali dan suara keyboard yang berisik. Ketika aku menoleh ke sampingku, ternyata Yayai ada di meja membuka laptopnya dan bekerja membuat presentasi. Kurasa.
“Jam berapa sekarang?” Suaraku serak. Yayai menoleh ke arahku dan beranjak dari kursi lalu duduk di sebelahku.
“Jam setengah tiga, Prof. Apa saya mengganggu?” tanyanya sopan. Wajahnya menyiratkan tidak enak padaku. Tampilannya berbeda jauh. Dia memakai setelah piyama kartun Donald Duck dan kacamatanya bertengger di hidungnya.
“Apa kamu…?”
“Lagi buat presentasi untuk Prof.”
“Kurasa kamu nggak perlu berlebihan.” ujarku yang sekarang tidak enak padanya.
“Oooh, saya buatkan makanan untuk Prof tadi. Tapi bukan bubur kok. Macaroni schotel. Apa Prof mau?” Dia terlihat antusias.
“No, thanks. Aku sedang tidak mood makan.”
“Prof… ayolah. Prof Ben harus sembuh.” Wajahnya datar, tapi tersirat dengan permohonan. Aku tidak bisa menolaknya. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di tempat tidur. Yayai tersenyum lalu berlari keluar kamar, semenit kemudian dia datang dengan piring kecilnya.
“Aku bisa makan sendiri.” ujarku.
“Okay.” Yayai kembali duduk dan bekerja kembali.
Hanya berlangsung beberapa menit dan tiga suapan aku menyerah. Aku meletakkan piringnya di meja kecil samping tempat tidur.
“Bisakah kamu ambil kaos di lemari?”
“Bisa.” Yayai bergegas. Dia berdiri di antara dua lemari kiri dan kanannya. “Lemari yang mana, Prof?” Dia menunjuk kedua lemari di kiri dan kanannya dengan kedua telunjuknya. Aku menahan senyumku. Dia cukup menghibur.
__ADS_1
“Sebelah kananmu. Ambil kaos apa saja. Kalau bisa warna gelap. Apa matamu normal melihat warna?” candaku. Sepertinya bercandaanku tidak membuatnya tertawa. Wajahnya berubah sebal. Aku bisa melihatnya. Tapi dia berusaha menutupinya di depanku. Kemudian dia keluar kamar ketika aku membuka kemejaku. Ketika aku selesai mengganti bajuku, dia tidak kunjung datang. Jadi aku memutuskan untuk tidur kembali.
Aku bangun secara otomatis di pagi hari. Membuka mataku. Tubuhku cukup bugar. Walaupun kepalaku sedikit pusing dan mulutku yang berangsur membaik dari rasa pahit. Kelemahanku adalah malas makan, kadang memang aku lupa makan. Aku menoleh ke arah meja komputerku, Yayai tertidur dengan tangan sebagai tumpuannya di meja.
“Yayai, bangun.” Aku membangunkannya. Memegang bahunya pelan. Sepertinya dia tertidur pulas. Laptopnya masih menyala, tampaknya dia baru saja tertidur. Jadi aku membiarkannya tertidur seperti itu dan mengambil laptopnya. Aku mengecek halaman demi halaman pekerjaan yang dia kerjakan.
(Bima)
Sepertinya mimpiku berlebihan. Aku bergandengan tangan dengan Prof Ben. Rasanya isi perutku ingin aku keluarkan saat itu juga. Adegan itu terlalu membuatku merinding. Kemudian aku terbangun dan tersedak. Batuk-batuk.
“Kamu kenapa?” Suara Prof Ben mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya. Oh tidak. Aku baru saja mimpi tentangnya, lalu bangun tidur pun aku melihatnya. Kabar burukkah? Dia melihatku curiga. Mengambil gelasnya yang masih berisi air. Aku menolaknya sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Nggak. Nggak apa-apa.”
Aku melihatnya duduk dan memegang laptopku. Sepertinya dia memperbaiki presentasiku.
“Aku perbaiki sedikit presentasimu.”
“Okay Prof.”
“Terima kasih.” Lalu aku menguap. Pastinya aku menutup mulutku di depannya. “Ada bagian yang belum saya selesaikan.”
“Sisanya biar aku saja yang kerjakan.” Dia serius menatap laptopku. “Mandilah, kita akan pergi jam delapan nanti.”
“Apa aku harus ikut?”
“Apa kamu ada kegiatan lain?”
Pastinya ada. Aku harus menyelesaikan novelku.
“Nggak ada, Prof.” bohongku.
Aku berdiri lalu pergi dari kamarnya. Aku terlalu lama berada di kamarnya. Waktu aku masuk ke kamarku, aku membanting tubuhku di kasur yang semalaman tidak ku tiduri. Aku ingin tidur lebih lama lagi dan kemudian bangun memulai cerita di novelku.
Alurnya, waktu aku selesai mandi aku menggulung rambutku dengan handuk kecil sambil membuat sarapan untukku sendiri dan teh hangat. Sepertinya ketika aku sibuk di dapur, Prof Ben masuk ke kamar mandi dan aku masuk kamar untuk mengganti bajuku dan mengeringkan rambutku. Selesai semuanya rapih, aku kembali ke dapur. Aku melihat Prof Ben membaca sesuatu di tab-nya.
“Aku menunggumu sarapan.” ujarnya pelan. Tanpa melihatku.
Aku takjub. Aku tidak pernah melihatnya sarapan. Bahkan dia menuang teh di gelasnya. Bukan kopi. Dia sudah menyiapkan macaroni schotel yang aku buat semalam untuknya. Aku duduk di depannya, mengambil roti yang tadi kubakar dengan isi selai nanas. Dia mulai makan ketika aku juga mulai mengigit rotiku. Dia tidak banyak bicara, dia hanya fokus pada bacaannya di tab.
“Apa pekerjaanmu?” tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
“Hmmm… di publisher.” Aku tidak tahu apa sebutan untukku.
“Apa gajimu cukup?”
Kenapa dia tanya-tanya gajiku?
“Cukup aja sih, Prof. Kan aku single, jadi tidak terlalu banyak kebutuhan.”
“Kamu nggak pernah beli barang untuk dirimu sendiri?”
“Ha? Bukan. Aku nggak terlalu banyak beli barang. Aku lebih suka menghabiskan uangku untuk makan.” Aku tertawa. Entah kenapa aku tertawa. Mungkin karena aku mengingat makanan-makanan di kepalaku.
Prof Ben akhirnya menatapku.
“Apa makanan kesukaanmu?”
“Banyak.” jawabku polos.
“Aku akan menyesuaikan makananmu.”
“Maksudnya?”
Aku mengerutkan dahiku. Aku memelankan kunyahanku. Perasaanku tidak enak.
“Kita akan makan bersama mulai hari ini.”
Tunggu.
Prof Ben melihat jam tangannya.
“Ayo, kita berangkat. Sudah selesai sarapan?”
Tanpa sadar macaroni yang dia makan sudah habis tak bersisa. Dia meneguk tehnya dengan sekali teguk.
Tunggu. Apa maksudnya?
Dia menghilang ke halaman depan. Memanaskan mobil. Sementara aku membenturkan kepalaku ke dinding ruang tamu.
***
__ADS_1