Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
7 - Kepergok 2


__ADS_3

(Bima)


Aku mendatangi kantorku yang hanya berlantai 2 di kawasan Kuningan. Suasanya sudah ramai, karena aku datang jam 11 siang. Aku menaruh beberapa cemilan yang aku beli di Thailand di meja tengah yang kosong yang dikhususkan untuk menumpuk beberapa barang atau paketan yang datang teruntuk staf di sini, atau beberapa barang yang bisa ditaruh di meja tersebut yang dimana staf di kantor ini bisa mengambilnya sendiri tanpa bertanya kepada satu sama lain.


“Wah, yang baru ikutan training di Bangkok.” celetuk Darla salah satu stafnya Riko. Dia menghampiriku dan menyambar coklat yang ada di meja.


“Training apa?” tanya salah satu penulis novel terkenal. Dia baru saja datang. Mas Adera, aku pernah kerja sama dengannya. Menulis novel untuknya.


“Jurnalistik.” jawabku singkat.


“Kok jauh sekali di Bangkok?” tanya Mas Adera lagi. Dia orang yang selalu penasaran dengan orang lain untuk bertanya-tanya sesuatu. Katanya itu bagian dari risetnya untuk keperluan materi novelnya.


Aku menceritakan padanya bagaimana aku mendapatkan program magang secara gratis. Tapi aku tidak menceritakan bagian aku mengundurkan diri padanya. Riko yang berada tidak jauh dari kami mengobrol terlihat melirik dan tersenyum. Dia pastinya sudah tahu dari Tasya.


“Udah ada yang lo tulis?” tanya Riko. Dia menghampiri di mejaku. Aku menunjukkan semua folder draft padanya tanpa berkata apa-apa. “Apa yang lo tulis ini?” Riko mengerutkan dahinya. “Lo mau angkat cerita yang seperti apa?”


Aku memasang tampang memelas padanya.


“Elo mau gue kayak gimana biar imajinasi lo muncul?” Riko bertolak pinggang.


“Gue nggak bisa. Gue nggak pernah jatuh cinta?” Aku melengos. Menaruh kepalaku di atas meja.


“Setidaknya elo bisa lihat-liat referensi dari novel-novel yang elo tulis atau nonton film romantis kan?”


“Sudah gue lakukan. Semalam gue nonton film romantis. Gue nggak ngerti bagusnya dimana?” Aku mengangkat bahuku.


Riko tahu. Aku belum pernah jatuh cinta. Aku bertemu Riko dan Tasya waktu aku pindah sekolah. SMP kelas 3. Hingga kini pun dia tahu aku belum pernah pacaran. Hidupku mungkin terlalu serius. Ada beberapa pria yang mendekatiku dan entah kenapa aku tidak pernah menyukai mereka.


“Apa mungkin gue kelainan seksual? Penyuka sesama jenis?” Aku bertanya serius padanya. Riko menepuk dahiku kemudian meninggalkanku sendirian di meja.


Aku menghela napas panjang lagi. Mungkin aku harus menemui Tasya. Mengobrol dengannya. Aku melihat jam tanganku, satu jam lagi hampir jam makan siang. Aku segera bergegas pergi dan menikmati perjalanan siangku. Sesampainya di kampus, aku menemui Tasya sedang mengantri di kantin bersama teman-teman sekelasnya.


“Gue pikir elo masih di Bangkok.” celetuk Rania salah satu teman Tasya yang berambut pendek. Terlalu banyak piercing di telinganya. Aku hanya tersenyum padanya. Menyeruput es teh. Di sebelah kami ada grup cewek-cewek yang wajahnya terlihat penuh kekesalan dan kebencian.


“Mereka ini grup anti Prof Ben.” ujar Rania.


Salah satu teman Tasya yang agak gendut mengangguk. Dia fokus pada makanannya tetapi telinganya mendengar. Namanya Karin.


“Gue rasa banyak yang suka sama Prof Ben?” Tasya mengerutkan dahinya.


“Iya banyak banget yang suka sama ketampanan Prof Ben yang cool-cool gitu.” ujar Karin sambil mengunyah. Sedangkan aku memasang wajah yang malas ketika Karin menyebut Prof Ben adalah orang yang tampan. Kalian nggak tahu aja, dia itu menyebalkan. Aku rasa Karin menyukai Prof Ben. Rania juga. Dia terlihat tersenyum bahagia ketika nama Prof Ben disebut.


“Mereka ini barisan mantan asisten dosennya Prof Ben yang cuma bertahan tiga hari, dua hari, kadang paling lama satu minggu.” jelas Rania.


“Oh iya gue denger itu. Semester kemarin kita kan sempat diajar sama Prof Ben dan dia itu udah beberapa kali gonta ganti asisten dosen. Dia butuh asisten dosen sih. Dia sibuk sekali soalnya kalau datang ke Indonesia. Ditambah dia itu nggak pernah hapal sama nama-nama mahasiswa.” Tasya juga ikut menjelaskan.


Aku aja nggak betah sama dia dan hanya bertahan beberapa hari. Ya jelaslah, orang lain juga sama halnya nggak betah. Dan dia juga seenaknya memanggil namaku dengan sebutan aneh.


“Tapi semester ini aman. Dia nggak ngajar kalau semester genap begini.” kata Rania menambahkan.


Setelah makan siang, aku memutuskan untuk ikut kelas Tasya. Kelas regular pascasarjana yang diambil oleh Tasya sama dengan kelas reguler sarjana kami dulu. Soalnya Tasya sempat berhenti bekerja dan fokus pada kuliah S2-nya. Hari ini tidak tahu kenapa, kelas terlihat ramai sekali dan ruangan kelas pun dipindah ke aula khusus seminar.


“Oh katanya ada penggabung sama mahasiswa S1 dan S2 reguler.” jelas Tasya.


“Ohhh…” Aku mengangguk. Aku sibuk membuka laptopku dan memasang earphone di telinga. Semoga saja suasana kelas menjadi mood booster-ku untuk membangun imajinasiku.


Waktu aku fokus pada laptopku, Tasya mencubit tanganku kencang.


“AWWW” Aku berteriak. “Apa-apaan sih?” Aku melepas earphone-ku. Menatap kesal ke arah Tasya.


“Bim, Prof Ben…” Tasya menunjuk ke arah Prof Ben singkat.


Aku melihat ke depan. Aku terdiam. Kenapa orang ini ada di kelas? Bukannya semester ini dia tidak mengajar?


“Jadi? Yang barusan berteriak saya pilih menjadi asisten dosen saya.” Prof Ben melipat kedua tangannya di dada. Seluruh kelas hening. Menatap ke arahku.


“Maaf…” Seketika saja, Tasya menutup mulutku.


“Ada apa? Keberatan?” Prof Ben yang sudah berbalik membuka bahan ajarnya di laptop melihat ke arahku dan Tasya.


“Oh enggak, Prof. Teman saya sangat appreciate sekali. Terima kasih, Prof.”


Tasya masih menutup mulutku. Membungkamku. Menahanku untuk berbicara. Aku akan perhitungan kali ini dengan Tasya.

__ADS_1


“Ke ruangan saya nanti setelah perkuliahan selesai.”


“Baik, Prof.” jawab Tasya.


Aku memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah dengan Tasya di ruang kelas. Selama materi yang diberikan oleh Prof Ben dan diskusi dengannya di kelas, aku merasa telingaku panas sekali. Aku memutuskan untuk kembali ke laptopku dan memasang earphone. Aku hampir mengetik sekitar dua halaman cerita di laptopku dan menggoyangkan kepalaku sedikit karena mengikuti irama lagu.


Seseorang berdiri di depanku dan mencabut salah satu earphone-ku. Ikut mendengarkan. Lagu George Michael keluar dari earphone-ku.


“Ternyata seleramu old skul sekali.” kata Prof Ben yang menunduk ke arahku. Wajah kami terlalu dekat. Aku terkejut dan hampir saja ingin lompat. “Saya melihatmu terlalu asyik dengan lagu ini daripada mendengarkan penjelasan saya.”


“Maaf, Prof.”


“Apa yang kamu ketik? Lirik lagu?” Dia melihat laptopku dan seketika saja aku menutup laptopku.


“Pekerjaan saya.”


Kelas benar-benar hening. Mungkin ada 100 lebih mahasiswa yang hadir dalam kuliahnya. Saat itu juga dia melihat jam tangannya.


“Kelas berakhir. Sampai jumpa minggu depan.” ujarnya. Lalu dia berjalan turun menuruni tangga. Karena aula kelas khusus seminar ini berbentuk bundar dan setiap barisan mejanya berada di tangga masing-masing.


“Hei, hei elo! Cepat bereskan barang-barangnya Prof Ben di meja. Lalu antarkan ke ruangannya.” Seorang mahasiswa perempuan berteriak padaku ketika Prof Ben keluar tanpa membawa satu barang pun miliknya.


“Ha? Gue???”


“Yaiyalah kan elo asistennya.”


“Tapi gue kan belum menyanggupi!” Gue berteriak.


“Elo juga gue kan udah ngasih tau elo pas Prof Ben masuk kelas.”


“Ya mana gue denger, kan gue pake earphone.”


Tasya menggelengkan kepalanya.


“Cepet beresin barang-barangnya. Barang-barang lo biar gue yang beresin.” perintah Tasya. Dia mendorongku agar cepat berdiri.


Aku menyusun dua buah buku, satu buah laptop, ponsel miliknya… hah… bahkan ponsel pun ditinggalkannya???? Apa dia gila??? Aku berjalan dengan cepat menuju ruangan, tunggu aku bahkan tidak tahu dimana ruangannya. Aku sempat terhenti di lorong dan akhirnya aku bertanya pada salah satu mahasiswa yang kebetulan lewat di depanku.


“Sori dimana ruangannya Prof Ben?” tanyaku.


Aku melihat sebuah pintu geser yang ditempel aksara Thai saat aku sampai di lantai tiga. Aku tidak tahu artinya, yang aku yakin ini pasti adalah ruangan Prof Ben. Waktu aku menggeser pintunya, terdapat ruang tamu yang tidak begitu luas dan beberapa ornamen-ornamen khas Thailand terpampang nyata di depanku. Setelahnya ada pintu lagi di tengahnya, masih pintu geser. Aku membukanya dan… mungkin ada 3 meja di ruangan ini, 2 meja kosong dan satu meja adalah meja Prof Ben.


“Permisi, Prof.” sapaku.


Prof Ben menatap komputernya dengan serius. Waktu aku melakukan salam, dia langsung melihatku. Wajahnya menyeramkan sekali. Dia terlihat dendam sekali padaku.


“Ini Prof, ditaruh dimana?” Aku menunjukkan semua barang-barangnya yang masih aku pegang. Aku meletakkan ponselnya dahulu ke dekatnya.


“Di situ.” ujarnya menunjuk ke meja di depan komputernya. Aku meletakkan barangnya.


“Prof, maaf. Sepertinya Prof salah paham. Saya bukan berada di kelas mana pun. Saya alumni dan memang lulusan kampus ini tapi menjadikan saya asisten dosen itu tidak berimbang dengan…”


“Kenapa kamu masuk di kelas saya?”


“Saya nggak tahu kalau itu kelasnya Prof.”


Kalau saya tahu itu kelasnya dia, juga aku tidak akan sudi masuk.


“Apa seorang yang asing bisa masuk ke kelas mahasiswa lain dengan seenaknya seperti itu?”


Aku tidak berkutik. Haruskah aku menjelaskan alasanku kenapa aku mendatangi Tasya dan masuk ke kelasnya Tasya?


“Jadi?” Prof Ben menunggu jawabanku. “Kalau tidak menjawab, silahkan kamu isi biodatamu disini. Formulir ini nanti saya akan berikan ke dekan lalu…”


“Tunggu Prof. Lebih baik nggak usah dikasih ke Dekan.” usulku.


“Kenapa?” Prof Ben mengerutkan dahinya. Dia mengeluarkan formulir dari lacinya dan memberikannya padaku.


“Saya isi saja, Prof formulirnya. Tapi nggak usah dikasih ke Dekan. Berapa lama saya jadi asisten Prof?” tanyaku.


“Dua minggu.” ujarnya. Prof Ben juga mengeluarkan sebuah map coklat dan memberikannya padaku. Ketika aku menerimanya dan membukanya aku sangat terkejut, ternyata map itu berisi rincian perjalanan satu orang waktu ke Thailand kemarin. “Totalnya sekitar hampir enam juta.”


“Saya memang berencana mau mengembalikan biayanya, Prof. Tapi saya… nggak nyangka akan sebesar ini.” Kakiku lemas. Ini banyak sekali.

__ADS_1


“Biaya pesawat kedatangan, biaya transportasi, meal, dorm, dan biaya saya menjad mentormu.”


Aku akhirnya duduk di kursi di depan Prof. Kakiku sudah tidak bisa menopang tubuhku.


“Saya akan bayar, Prof. Boleh saya minta nomor…”


“Isi saja formulir itu. Gajimu menjadi asisten dosen selama dua minggu lima ratus ribu. Artinya sudah terbayarkan dan masih ada sisa lima juta lima ratus.”


Aku mengangguk.


“Jangan senang dulu. Saya orangnya perfeksionis. Jika saya tidak puas dengan kerjamu, saya akan bisa mendiskualifikasikanmu.”


Duh, silahkan deh. Aku akan membayar sisanya dengan uang tabunganku.


“Lalu, saya butuh asisten pribadi. Di luar kampus. Gajinya per minggu sekitar satu juta.”


Aku tidak peduli dengan uangmu.


“Boleh saya memikirkannya, Prof? Mengenai asisten pribadi itu?”


“Sekarang.” jawabnya singkat. “Bagaimana kalau saya tidak puas dengan kinerjamu? Dan kamu harus membayar kerugian yang sudah saya keluarkan untuk menerima kandidat tidak bertanggung jawab sepertimu di program saya. Jika tidak… mungkin saya akan lapor polisi.”


Aku menelan air liurku. Sialan Profesor ini. Kenapa dia jadi Profesor sih??!!


Aku menatap formulir dan map coklat di pangkuanku. Kalau aku membayarnya, uang tabunganku akan habis. Aku tidak mendapatkan gaji setiap bulannya karena aku selalu dibayar per proyek. Makanya aku bisa keluar masuk seenaknya di kantor. Aku penulis bukan karyawan. Aku belum membayar sewa rumah, membayar semua kebutuhanku, mengirim uang tambahan ke Papi. Yah, walaupun Papi tidak mau menerimanya dan selalu menyimpan uang hasil jerih payahku.


“Baik, Prof.” Aku akhirnya menerimanya. Aku mengambil pulpen yang ada di tempat pulpen di depannya dan mulai menulis formulir yang dia berikan. Mataku sedikit berkaca-kaca ketika aku menulis formulir. Tidak tahu kenapa, hidupku serasa di neraka mulai sekarang. Selesai menulis seluruh biodataku, Prof Ben memberikan ponselnya padaku. Dia menyuruhku menyimpan nomor teleponku padanya. Aku mengetik namaku “Bima” disitu.


“Bagaimana dengan tugas saya?”


“Besok datang pagi-pagi ke sini. Saya akan jelaskan tugasmu apa saja.” ujarnya ketus. Tanpa ekspresi kemudian dia membuang muka.


“Baik Prof. Sampai ketemu besok.” kataku sopan. Aku memutar tubuhku, meninggalkannya sendirin di ruangannya. Waktu aku membuka pintu gesernya, air mataku sudah jatuh. Aku cepat-cepat menyekanya.


(Ben)


Aku tersenyum dalam hati. Kejamkah aku memperlakukan Yayai seperti ini? Aku melihatnya mengeluarkan air mata waktu menutup pintu. Dia menyeka air matanya yang jatuh ke pipi. Yang penting, aku sudah mendapatkannya. Aku menguncinya agar dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.


Lamunanku buyar ketika membaca biodata Yayai. Ponselku berdering.


“BEN! Kenapa kamu ada di Indonesia?!!”


Aku menjauhkan ponselku dari telingaku. Suaranya menggelegar sekali.


“Mee, jangan teriak seperti itu.”


“Kamu kabur ke Thailand saja Mee sudah cukup khawatir dan hanya datang ke Indonesia untuk mengajar di bulan-bulan tertentu. Sekarang kamu datang di bulan yang tidak biasanya kamu datang ke Indonesia! Tanpa memberitahu Mee!!!” teriaknya.


“Dadakan, Mee.”


“Apa ada masalah?”


“Nggak ada. Hanya mau mengembangkan bisnis saja.”


“Ohhh, jadi kamu menetap di sini?”


“Sepertinya…” jawabku ragu. Kalau rencanaku berhasil.


“Ada apa? Kamu harus cerita ke Mee.” Nada bahagia terdengar dari Mee.


“Apa yang harus aku ceritakan?”


Aku melanjutkan pembicaraanku dengan Mee hingga aku turun ke lantai bawah. Aku tidak sengaja bertemu dengan Yayai bersama temannya. Aku hanya melewatinya. Tidak acuh. Temannya brusahanya menyapa padaku sedangkan Yayai tidak. Aku melihat matanya yang memerah.


“Mee, sudah dulu. Aku mau pulang.”


“Naik apa?”


“Angkutan umum.”


“Apa uangmu habis untuk membiayai orang-orang?”


“Mee, sudahlah. Nanti kita bertemu.”

__ADS_1


***


__ADS_2