Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
24 - Rencana Tidak Mencintai


__ADS_3

(Ben)


 


Sehabis makan malam semalam, aku tidak melihat Yayai. Karena Yayai tinggal di rumahnya sedangkan aku di penginapannya. Bahkan hanya untuk masuk ke rumahnya saja aku sungkan. Walaupun Papanya menyuruhku untuk duduk dan bersantai di rumahnya. Aku memilih untuk tinggal di kamarku dan mengurusi banyak pekerjaan. Beberapa fakta setelah pengakuan Yayai sewaktu fans meeting dua hari yang lalu, perusahaan Levi semakin bersinar. Padahal perusahaannya sudah mau bangkrut dan menyerah untuk mencetak buku-buku dari semua penulisnya dan beralih ke penulis online. Yayai-lah penulis online pertamanya.


Tidak mencetak novelnya dan menerbitkan setiap minggu atau beberapa kali dalam seminggu dengan bentuk online melalui platform cerita adalah hal yang menguntungkan. Kali ini, perusahaan Levi memutuskan untuk bekerja sama dengan platform online tersebut dan meraup keuntungan di dalamnya. Selain itu, aku bisa mencomot beberapa cerita di dalamnya dan akan aku buatkan versi filmnya.


“Elo mau nikahi Bima, apa sudah lo pikirkan baik-baik?” tanya Levi pagi itu. Dia meneleponku terlalu pagi untuk menceritakan semua kisahnya tanpaku di Jakarta. Aku rasa Levi baik-baik saja mengatur perusahaannya sendiri sekarang.


“Udah gue pikirkan.”


“Kalau dia tahu semua rencana lo, elo akan tamat. End of story.”


“Gue kan ngelakuin ini karena ada tujuannya.”


“Tujuan sih tujuan, tapi nggak drama begini sampai menutupi kebenaran.” celetuk Levi. Sepertinya dia menyesal sudah ikut bergabung dengan kegilaanku.


Aku menghela napas. Mengabaikan.


“Gue nggak nyangka kalau Yayai akan jujur dengan semua pembacanya. Itu kan keuntungan bagi gue.” ujarku.


“Elo nggak tahu ya? Elo itu sebenarnya yang sudah buat gaduh. Nama lo dan nama Bima sudah kemana-mana di sosial media. Jangan sampai Bella datang minta pertanggung-jawaban ke elo.”


“Gue udah nggak ingat siapa dia.”


“Gue juga kalau ingat ya mengerikan sekali.”


Aku mengakhiri obrolanku dengan Levi pagi itu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintuku dan dengan sigap aku membukanya. Yayai sudah rapih. Dia mengikat rambutnya setengah ekor kuda.


“Pagi Prof. Sarapan sudah siap.” sapanya. Wajahnya datar. Wajahku lebih datar. Aku menutup pintu. Dia menungguku di luar. “Kamu kenapa? Marah? Karena aku menyusulmu ke sini?” tanyaku sambil berjalan. Dia berjalan di depanku.


“Aku bilang sebelumnya, aku butuh berpikir. Tapi ini kesannya, Prof menuntutku.”


Aku berjalan menyalipnya.


“Aku tidak bisa menunggu.” paksaku.


Kami sampai di ruang makan. Suasananya sangat tradisional sekali. Banyak pengunjung dari luar negeri yang makan dengan khidmat di sini.


Yayai berhenti di tengah-tengah ruangan. Wajahnya serius.


“Aku belum siap menikah dengan siapa pun.” ujarnya pelan dan tegas.


Cukup terkejut sih. Beda sekali dengan perkataannya beberapa belas tahun yang lalu.


“Kamu ini mencintaiku atau enggak sih?” Aku memiringkan kepalaku. Menagih ucapannya. Yayai tidak menjawabku. Dia berjalan ke tempat prasmanan dari sarapan yang sudah disediakan. “Aku pun semakin ragu dengan cintamu.” celetukku di sampingnya.


 


 


(Bima)

__ADS_1


 


Aku benar-benar tidak menemani atau bertemu dengan Prof Ben semenjak sarapan tadi. Aku juga berpesan sama Uci - pekerja yang ada di penginapan dan terkadang beres-beres rumah – untuk mengatakan pada siapa pun bahwa aku sedang tidur kembali setelah sarapan itu. Untungnya Prof Ben saat itu sibuk menerima telepon dan berbicara serius dengan lawan bicaranya. Jadi, aku ada kesempatan untuk tidak melanjutkan pembicaraan atau menungguinya selesai bertelepon.


Siangnya ketika aku keluar kamar, aku berjalan menelusuri lorong dan sampai di ruangan laundry. Selain ruangan yang berisi beberapa mesin cuci, di sampingnya juga terdapat halaman yang agak panjang untuk menjemur selimut, seprai, dan pakaian. Aku mendapati Umar dan Uci sibuk menjemur selimut.


“Mau dibantu?” tanyaku mengagetkan mereka.


“Boleh, Mbak.” jawab Umar.


Aku melongok ke dalam tabung mesin cuci dan mengambil seprai putih kemudian menggantungnya. Seharusnya aku sadar setelahnya, kenapa seprai yang ku angkat ke tali jemuran terasa ringan. Ternyata ada Prof Ben di situ.


“Aku mengikutimu. Melihatmu berjalan ke sini.”


Umar dan Uci melihat kami dan saling berpandangan. Tersenyum geli.


Aku mundur. Melepaskan tanganku pada seprai yang hendak kujemur.


Kenapa orang ini? Psikopat atau bagaimana?


Dia melihatku di mana? Dia duduk dimana?


“Katanya kamu tidur?” Prof Ben melirik ke arah Uci dan Uci pun mengangguk segan.


“Iya aku mengantuk.”


“Nggak sama sekali berpikir?”


“Berpikir apa?” Aku berjalan ke arah tabung mesin cuci lagi dan mengambil seprei yang lain. Prof Ben tetap membantuku memegang panjangnya seprei.


“Prof!!!” teriakku. Aku melirik ke arah Uci dan Umar.


Aku memberikan seprai pada Prof Ben dan meninggalkannya disitu.


Aku berjalan cepat melewati lorong dan kembali ke rumah. Prof Ben ternyata mengikuti hingga depan kamarku. Kenapa dia selalu suka sekali mendatangi kamarku. Sialnya ketika aku menahan pintuku agar dia tidak masuk, tenaganya lebih besar daripada tenagaku. Aku agak terjengkang ketika dia mendorong dengan kekuatan penuh pintu kamarku. Prof Ben dengan cepat mengunci pintunya. Dia agak terperangah dengan isi kamarku. Hanya ada barang-barang masa kecilku.


“Yayai, Mee dan Eyang akan datang ke sini. Sore ini kemungkinan sampai.”


“Untuk apa? Semua kamar penuh.”


“Nggak apa-apa. Mereka akan menginap di penginapan lain.”


“Ya. Lebih baik seperti itu. Aku sedang tidak mood untuk melakukan drama.”


“Yayai, berhentilah menghindar. Aku tidak akan menyakitimu sama sekali dengan keuntungan kalau kita menikah.”


STOP!


“Mereka akan melamarmu. Aku harap kamu memberitahu Papamu. Karena seharian ini aku nggak lihat sama sekali.”


Rasanya aku ingin berteriak.


“Aku belum mau menikah. Kenapa Prof selalu memaksaku?!”

__ADS_1


“Aku akan berubah pikiran kalau kamu mau menikah denganku. Aku mungkin bisa jatuh cinta padamu.”


Gila! Pikiran macam apa itu. Gimana kalau aku terlalu banyak berkorban dan dia tidak jatuh cinta padaku? Seperti mengambil pisau dan menghujamkannya ke jantung. Mati saja!


“Kamu bisa meneruskan novelmu. Ceritamu. Menggunakanku. Aku akan membantumu dalam menulis.” lanjutnya.


Aku mengerutkan dahi. Maksudnya?


“Lalu kamu bisa membantuku dengan tuntutan menikah dari Mee dan Eyang.”


“Kenapa mesti aku?” tanyaku sambil menunjuk diriku.


“Kamu yang membuat api itu duluan.”


“What?!! Prof awalnya yang bilang kalau aku pacarnya Prof di depan Eyang pertama kali. Sebelum aku tahu kalau aku jatuh cinta sama Prof!” Aku terlalu kesal berdebat dengannya. Wajahnya terlalu datar tapi memaksa.


“Kamu tidak menyangkal.” jawabnya tanpa rasa bersalah.


Aku kaget hingga tidak bisa berkata apa-apa.


“Aku ingin kamu lebih berusaha lebih keras untuk mendapatkan hatiku.”


“Apa hubungannya dengan pernikahan?”


“Hanya dengan pernikahan aku bisa setiap hari bertemu denganmu.”


“Alasan macam apa itu? Kalau memang nggak suka aku, kenapa Prof selalu menggangguku?” Aku menatapnya tajam. Sinis.


“Loh? Kamu yang menggangguku.”


“Ha? Kapan?”


Prof Ben menghela napas panjang dan ponselnya pun berdering. Dia mengangkatnya dengan sopan. Sepertinya dari Eyangnya.


“Aku sama Yayai ini. Nanti aku jemput. Mee ikut?”


Prof Ben berbicara dan melihatku. Aku risih.


“Iya. Yayai nggak ikut. Nanti langsung ke sini saja. Makan malam di sini.”


Mata Prof Ben seolah berkata padaku, bahwa akan ada makan malam di sini. Berarti ada banyak sekali pekerjaanku. Menghubungi Papa, menjelaskan ke Papa, dan menyiapkan makan malam.


Prof Ben kemudian mendekatiku dengan cepat dan mengecup pipiku singkat lalu keluar dari kamar.


Di saat dia keluar kamar, kakiku benar-benar lemas. Haruskah aku berhenti mencintainya agar aku tidak menikah dengannya?


 


 


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2