
(Bima)
Seminar nasional yang diisi oleh Prof Ben berjalan dengan lancar. Walaupun pihak dari universitas yang membuat perjanjian palsu dengannya terlihat angkuh pada Prof Ben. Hanya saja Prof Ben terlihat cuek dan tersenyum seadanya. Dia memainkan perannya dengan baik sebagai narasumber. Dia terlihat baik-baik saja. Untungnya. Aku takut dia jatuh di panggung atau terjadi sesuatu padanya.
Aku duduk di kursi panitia saat menunggunya bercengkrama dengan banyak pejabat kampus.
13.54 Riko Editor Bawel
Gw ga dengar kabar lagi.
Apa lo masih idup?
Masih stuck?
Aku membaca chat dari Riko dengan kesal.
13.55
T.T Elo pikir gw mau kerja weekend begini?
Kalau gw gak ngutang sama dia.
13.55 Riko Editor Bawel
Tinggalin dia. Cerita lo meledak di pasaran, elo akan tajir melintir.
Aku hendak membalas chat dari Riko. Hanya aku ragu.
“Ayo kita makan siang.”
Aku terperanjat. Hampir menjatuhkan ponselku ke lantai dan dengan sigap Prof Ben menangkap ponselku lalu kepala kami berbenturan. Reaksiku terlalu berlebihan. Aku meringis. Kami berdua sama-sama memegang kepala masing-masing.
“Maaf. Maaf Prof.” Aku memegang kepala bagian depanku.
Prof Ben membetulkan rambutnya dengan tangannya dan masih memberikan ponselku padaku.
“Ayo.” ajaknya lagi.
Aku berdiri sambil membawa tasnya. Mengikuti langkahnya yang besar.
“Prof, nggak makan siang di sini?” tanyaku. Setahuku setelah acara selesai, kan semua peserta dapat makanan apalagi narasumber. Pasti ada makan siangnya.
“No. What do you want to eat?” Dia bertanya sambil jalan menuju parkiran. Teriknya matahari membuat kepalaku agak sedikit pusing. Mungkin karena beberapa tahun ini aku tidak pernah sama sekali bekerja di bawah sinar matahari atau bahkan berolahraga di bawah sinar matahari. Aku selalu menghindari. Ketika Prof Ben membuka kunci mobil, aku langsung berlari meraih pintu mobilnya dan masuk tergesa-gesa.
“Prof, kita makan nasi padang ya di jalan sabang.” ujarku saat Prof Ben masuk mobil. Aku memeluk tas Prof Ben.
“Nasi Padang?”
“Oh tunggu tunggu. Jangan deh. Makananya pedas kalau gitu kita makan nasi bento aja.”
Aku baru ingat kalau Prof Ben baru saja pulih dari maag-nya. Aku mengeluarkan ponselku dan membuka aplikasi map online dan mengetik sesuatu.
“Yang terdekat dari sini sekitar empat puluh lima menit.” tukasku memberitahu. Prof Ben fokus ke jalanan.
“Dimana tempatnya?” tanyanya.
“Senayan, Prof.”
“Aku tahu jalan ke sana. Matikan penunjuk jalanmu.”
Agak kesal sih. Dia begitu sombong. Aku mematikan map online-ku dan ikut menatap lurus ke depan. Aku sempat menaruh tasnya di kursi belakang. Di sepanjang perjalanan Prof Ben tidak berbicara sepatah kata pun. Membuatku ngantuk. Gara-gara aku menjaganya dan membuat presentasi. Bermain ponsel pun aku mual di jalan. Apalagi jalanan agak macet.
“Ng… Prof, habis kita makan siang, apa boleh saya pergi? Atau masih ada pekerjaan lain?” Aku memecah keheningan dengan pertanyaanku.
__ADS_1
“Tidak ada. Besok kita kedatangan penghuni baru.”
“Oh ya??? Siapa Prof?” Aku sangat antusias. Hingga aku memiringkan tubuhku ke arahnya. Tinggal berdua dengannya sangat membosankan apalagi aku bekerja dengannya. Barangkali dengan adanya penghuni baru, walaupun aku bekerja dengannya aku masih bisa menjaga jarak tidak bertemu dengannya di luar pekerjaannya yang lain.
“Kamu akan lihat besok.”
“Kalau pemiliknya tinggal di rumah itu dengan orang lain, apa Prof tidak merasa terganggu?”
“Nggak. Aku lebih suka tinggal di rumah daripada di apartemen.”
“Di Bangkok tinggal di rumah juga?”
Prof Ben melihatku dengan malas ketika jalanan agak padat. Tapi dia tidak menjawab pertanyaanku. Mungkin karena terlalu personal menurutnya. Bukan penasaran dengan kehidupan pribadinya. Hanya… jiwa observasiku sangat menggebu-gebu sebagai penulis novel.
Aku mengembalikan posisi tubuhku menghadap ke depan.
(Ben)
Aku terlalu pemilih dalam hal makanan. Bukan karena aku suka dengan masakan tertentu. Aku orang yang terlalu mudah kecewa dengan masakan yang disajikan di setiap restoran. Kadang, kalau aku ingat untuk makan, aku selalu membeli makanan yang itu-itu saja di satu restoran. Tanpa ada rasa bosan. Hal itu yang membuatku lupa makan dan selalu minum kopi untuk dopping-ku.
Sebetulnya makanan yang kumakan tidak terlalu enak. Aku tidak suka rasanya. Aku suka nasi bento ini, hanya makanan ini jadi nikmat ketika aku melihat Yayai makan di depanku dengan lahap. Aku menghabiskan makananku. Ini terlalu sesak. Aku benar-benar kenyang.
“Kamu mau kemana? Biar aku antar.”
“Nggak perlu, Prof.”
“Ke arah mana?”
“Aku antar.”
“Yaudah. Jangan salahkan saya kalau Prof terlalu jauh mengantar kalau habis dari sini sebetulnya ada urusan.”
“Bicaralah biasa saja denganku. Nggak usah terlalu formal.”
Aku memperhatikan leher Yayai yang menelan makanannya.
“Oke Prof.” Dia menunjukkan jempolnya padaku.
Selesai makan siang, aku sempat meminum obatku dan menyetir mengantar Yayai. Ternyata ke kantornya. Sebuah gedung lantai 3, perusahaan penerbit. Apa masih ada perusahaan penerbit di saat semua buku berbentuk digital?
“Baik Prof. Terima kasih.” Yayai melepaskan seat belt-nya. “Jam berapa besok penghuni barunya datang?”
“Siang. Apa kamu rencana pulang malam?”
“Nampaknya seperti itu sih…” jawabnya ragu.
“Aku jemput kalau begitu.”
Yayai terkejut.
“Eh nggak usah, Prof. Saya bisa eh aku bisa pulang sendiri.”
Kemudian Yayai membuka pintu dan keluar.
“Aku menunggumu menghubungiku untuk menjemputmu di sini.” ujarku agak keras. Lalu aku menarik pintu mobil. Tidak memberikan kesempatan pada Yayai untuk berdebat lagi dan melajukan mobilku.
Aku mendatangi kantorku. Sempat tertidur di sofa yang sempit sekitar satu jam dan mengurus beberapa urusan di kantorku. Tidak terasa malam pun tiba. Aku menatap ponselku dan belum ada kabar apa-apa dari Yayai.
“Pak Ben, penerimaan presenter saya jadwalkan minggu depan ya?” tanya seorang Direktur Program, Darel. Tampangnya kusut. Bebannya berat sekali. Kantor ini masih sepi dari staf yang sesuai dengan divisi masing-masing. Bahkan setiap direktur pun sering bekerja seperti staf.
__ADS_1
“Silahkan. Kabari saya dulu setelahnya.”
“Oke, Pak.”
Dan terjadilah. Ponselku berdering.
“Prof, gawat.” kata Yayai tanpa kata pembuka.
“Kenapa mau dijemput?”
“Nggak usah Prof. Eyangnya Prof menelpon tadi.”
“Lalu?”
“Dia menyuruh kita makan malam.”
Aku melihat jam tanganku. Pukul delapan malam sekarang.
“Kapan?”
“Sekarang….” suara Yayai berubah menjadi memelas dan sedikit ketakutan.
“Kalau kamu nggak bisa nggak apa-apa.” jawabku datar. Tidak berminat dengan makan malam yang dirancang Eyang.
“Prof, aku sudah bilang, aku bisa ke sana.”
Aku menghela napas. Gawat.
“Prof sekarang dimana? Aku akan naik taksi ke sana, atau aku akan langsung ke restorannya.”
“Aku akan menunggumu di parkiran.”
“Nah iya. Kita masuk sama-sama.” Yayai antusias. “Sampai ketemu ya, Prof.”
“Oke hati-hati.” Belum sempat Yayai mendengarnya, dia sudah menutup sambungan teleponnya.
Ternyata, Yayai sudah sampai duluan di restoran tersebut dan menunggu di parkiran. Aku hanya memperhatikan penampilannya. Dia menambahkan lipstick di bibirnya.
“Bilang saja Prof jemput aku kerja. Maksudnya kita sama-sama kerja.”
Kami masuk ke dalam restoran dan seorang waitress penjaga pintu menyapa kami.
“Reserved atas nama Mr. Ratanarak.” beritahuku.
Yayai melihatku kaget.
“Oh silahkan.” Si waitress menunjukkan jalan pada kami di depan.
“Prof, orang Thailand? Kenapa dipanggil Eyang?” tanyanya takjub. Aku tidak menjawabnya.
Waktu si waitress membuka pintu kaca. Aku merasakan Yayai memegang tanganku. Dia mengaitkan jemarinya ke tanganku. Sehingga seolah-olah aku yang memegang tangannya.
“Terima kasih.” ucap Yayai pada waitress.
Dia berjalan dan menarik tanganku. Menyapa Eyang dan tersenyum lebar sekali. Aktingnya bagus sekali.
***
__ADS_1