Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
17 - Kedatangan Tamu


__ADS_3

(Ben)


 


Aku bangun terlalu siang. Hanya tidur beberapa jam dan membuka pintu kamar masih dalam keadaan mengantuk. Aku mencium wangi masakan yang menggugah seleraku. Aku melihat jam dinding, sudah pukul 9 pagi. Aku berjalan menuju dapur.


“Chloe, ayo coba ambil ini.”


Aku melihat Yayai duduk di lantai di dapur dan bermain dengan Chloe. Pemandangan yang membuat mood-ku baik sekali. Pusingku jadi hilang karena aku hanya tidur beberapa jam saja. Ditambah, pekerjaanku menumpuk dan banyak sekali kendala.


Anak ini selalu menggodaku dengan sifat-sifatnya. Dia bilang dia mencintaiku tapi… dia cuek sekali terhadapku. Terlalu tidak biasa dengan tipikal wanita kebanyakan.


“Pagi Prof. Aku sudah masak untuk sarapan.” ucapnya. Senyumannya cerah.


Aku membuka tudung saji dan melihat ada nasi goreng udang yang wangi sekali di situ. Yayai menggeser kursi makan dan duduk di depanku. Dia menatapku yang sedang makan beberapa saat.


“Hari ini ada agenda apa, Prof?” Akhirnya dia bertanya.


“Nggak ada.”


“Lalu?”


“Ya nggak ada.” ujarku. Menekankan. “Silahkan kamu melakukan hal sesuka hatimu.”


“Apa Prof mau pergi ke luar kota?”


Aku berhenti mengunyah. Aku memang ada rencana bepergian. Bangkok. Untuk mengurusi banyak hal. Mungkin Yayai mendengarku berbicara di telepon semalam.


“Tidak dalam waktu dekat dengan ini.”


Yayai mengangguk.


“Aku juga tidak sedang ingin ke kantor. Aku kerja di dalam kamar saja.” beritahunya. Untuk apa dia memberitahuku hal seperti itu? Aku tahu sih, dia berusaha mendekatiku.


Yayai tersenyum.


“Aku mau belanja nanti siang. Mungkin…”


“Nanti aku transferkan uang belanja.” potongku.


Yayai menghela napas.


“Bukan Prof. Apa ada yang ingin Prof makan? Aku akan memasak untuk nanti malam.”


“Oh, kamu yakin?”


Yayai mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti.


“Terakhir aku menunggumu untuk makan malam…”


“Nggak, nggak… akan aku perhatikan setiap janjiku ke Prof.”


Muka Yayai memerah. Akhirnya dia berdiri memberiku segelas air mineral. Dia benar-benar menungguku makan dan memperhatikan caraku makan.


Setelahnya kami masuk kamar dan sibuk masing-masing. Aku sempat mendengar suara pria dan dua wanita masuk ke kamar Yayai. Suara mereka berada di halaman belakang, dapur, dan akhirnya aku membuka pintu kamarku. Aku merasa penasaran siapa yang datang.


“Prof Ben!” Seorang wanita berambut panjang, memakai pakaian santai dan celana pendek menghampiriku. Menyambar tanganku dan mencium punggung tanganku. “Apa kabar?” tanyanya.


“Baik.” jawabku. Sepertinya wanita ini adalah …


“Prof, ini Tasya mahasiswa pasca sarjana yang Prof ajar. Katanya sudah dua kali Prof Ben ajar.” Yayai muncul di belakang wanita yang bernama Tasya.


“Prof nggak mungkin ingat nama saya.” Tasya tertawa lebar. Sepertinya hal itu sudah dimaklumi. Aku memang tidak akan pernah ingat wajah dan nama mahasiswa. Bukan karena aku memiliki penyakit, tetapi aku mengingat nama dan wajah yang menurutku penting.

__ADS_1


Aku melihat ke sana ke mari, perasaanku masih ada satu orang lagi, seorang pria. Kemudian pintu kamar terbuka. Aku melihat seorang pria putih memakai kacamata, tampilannya seperti artis Korea dan muda.


“Bim, ke sini.” Kepalanya muncul dari balik pintu. Dia melihat Yayai datar. Wajahnya serius.


Yayai langsung masuk kamar. Aku terlalu syok melihat adegan itu. Entahlah. Napasku memburu.


“Apa Yayai selalu berdua dengan pria di dalam satu kamar?” tanyaku pada Tasya. Aku yakin Tasya adalah sahabatnya.


“Yayai?” Tasya mengerutkan dahinya.


“Bima maksud saya.”


“Oh iya, Prof panggil Bima dengan sebutan Yayai. Bima sempat cerita.”


Aku menatap Tasya serius. Dia langsung menutup mulutnya karena tertawa.


“Itu pacar saya, Prof. Namanya Riko. Riko itu udah beberapa tahun ini jadi editornya Bima.”


“Gunakan bahasa yang sederhana.”


“Bima itu novelis. Riko pacar saya yang tukang edit tulisan Bima. Sebelum tulisan Bima terbit, Riko selalu membaca tulisan Bima. Sehingga layak untuk dibaca orang.”


Aku sudah tahu Yayai adalah seorang novelis. Levi yang memberi tahu infonya. Aku mengorek semua data Yayai semenjak dia kabur dariku di Bangkok.


“Saya dan Riko sempat ngekos di sini, Prof. Saya di kamarnya Prof, Riko di atas. Kami teman semenjak SMP, jadi Prof jangan salah paham.” Tasya menjelaskan.


Salah paham? Aku memang salah paham. Aku tidak suka melihat Yayai dengan pria lain di dalam kamar berduaan. Aku menelan air liurku. Terkejut dengan pemikiranku.


“Salah paham? Saya hanya bertanya. Dia tinggal di sini kalau berani dia satu kamar atau mengundang pria lain masuk ke kamarnya, saya nggak masalah. Kalau ada yang lihat warga sekitar bagaimana?” Aku memberikan alasan.


“Prof maaf, Riko sering ke sini kok. Cuma karena katanya Bima, di rumah ini sudah ada Prof Ben jadinya Riko dan saya jarang datang ke sini.”


“Memangnya kenapa? Saya tidak ada masalah.” Aku memiringkan kepalaku. Kapan aku melarang Yayai untuk bergaul bahkan mengundang temannya datang ke rumah ini?


Kemudian pintu kamar terbuka, pria yang bernama Riko keluar diikuti Yayai.


“Elo nggak bisa membuat itu jadi fiksi ya? Kehidupan elo terlalu datar nggak ada tantangannya. Jangan sampai di bab awal-awal banyak follower tapi di tengah-tengah nggak menarik.” ujar Riko keras. Dia melihatku. “Ini Prof Ben?” Dia menunjuk ke arahku.


Riko tersenyum padaku, lalu memelukku.


“Prof, saya senang sekali akhirnya Bima menyukai laki-laki.” celetuknya.


Aku melihat Yayai. Wajahnya merah sekali. Antara malu dan marah pada Riko.


 


 


(POV)


 


Sebetulnya siang ini terik sekali. Kadang mendung kadang panas. Walaupun mendung tapi hujan pun tidak turun-turun. Seorang wanita berpenampilan sederhana tapi jika orang melihatnya bahwa dia berada di kalangan atas. Bagaimana tidak? Dia memakai kalung emas dan anting-anting yang agak mencolok. Gelangnya juga walaupun dia hanya memakai satu gelang. Oh, bahkan jam tangannya.


“Tunggu ya.” perintahnya pelan pada sopirnya. Dia membuka pintu mobil dan turun. Dia melihat rumahnya yang dulu dia tempati beberapa belas tahun yang lalu dan diputuskan untuk dikontrakkan saja dengan harga yang murah.


Wanita itu membuka pagar dengan pelan, melepas kacamata hitamnya dan melihat mobil yang terparkir di halaman. Sepertinya ini adalah mobil anaknya. Sebuah mobil Mercedez Benz Gla Class. Mobil yang menurutnya adalah mobil agak murah. Biarlah, mungkin anaknya ingin menghemat karena uangnya habis digelontorkan untuk perusahaan barunya.


Pintu rumah untungnya tidak terkunci, karena dia melihat gagang pintu menyatu dengan kunci otomatis yang menggunakan password. Dia masuk dengan pelan. Terkesan diam-diam dan ketika sampai di ruang tengah, dia dikejutkan oleh dua orang pria dan wanita yang sedang bercanda sambil berpelukan mesra keluar dari kamar utama. Wanita ini terpaku. Apakah ini wanita yang dimaksud oleh Ben? Wanita yang bernama Yayai? Berambut panjang, centil, memakai pakaian yang hampir seluruh pahanya terlihat, dan berpelukan dengan pria lain?


Kedua manusia ini terdiam ketika melihat wanita itu di ruang tengah.


“Maaf cari siapa ya?” tanya wanita berambut panjang.

__ADS_1


“Saya cari Ben.” jawab wanita berkalung emas.


“Prof Ben? Oh ada di kamarnya.” Wanita berambut panjang menunjuk ke arah kamar kedua. Di sebelah kamar utama.


Akhirnya si wanita berambut panjang mengetuk kamar Ben beberapa kali dan keluarlah seorang pria dengan tampang kusut. Dia terkejut ketika melihat wanita berkalung emas.


“Mee?”


“Ben, semenjak kamu tinggal di sini kamu nggak pernah kunjungi Mee.” celetuk wanita berkalung emas. Namanya Daria. Wajahnya cantik. Tipikal seorang ibu yang sangat sabar tapi dibalik itu cerewet.


Daria berjalan santai dan duduk di sofa di ruang tengah.


“Kamu ngga bersih-bersih rumah ya?” celetuknya lagi. Dia melirik wanita berambut panjang. Meliriknya ketus.


“Kami sibuk. Kadang-kadang saja bersihin rumah.” balas Ben.


Wanita berambut panjang dan pria di sampingnya yang berkacamata terdiam.


“Ngg… Tante mau minum apa?” tawarnya. Sedangkan pria berkacamata tersenyum padanya. Agak salah tingkah.


“Air putih saja.” jawab Daria.


Seekor kucing berjalan melenggang dekat kaki Daria.


“Chloe! Dia masih hidup! Dia kan sudah tua!” kaget Daria melihat kucing peliharaan anaknya, Ben.


“Mee, jangan bicara seperti itu.”


“Kamu rela pindah dari Bangkok ke sini lagi, apa kamu sudah berubah pikiran selama belasan tahun ini?”


“Mee, jangan bicara di sini.”


“Yaa, kapan lagi aku bicara dong? Kamu aja nggak pernah kangen sama…”


Saat itu, ketika wanita berambut panjang menaruh gelas berisi air, seorang wanita berambut sebahu agak panjang, tidak begitu tinggi, tidak begitu pendek, mungkin sekitar 162 cm tingginya, membawa barang belanjaan.


Wanita dengan barang bawaan seperti habis dari supermarket terlihat bingung ketika banyak sekali orang berkumpul di ruang tengah. Dia menatap Daria dan tersenyum.


“Mee, ini Yayai.” Ben mengenalkan Bima. “Yayai, ini Mamaku, yang punya rumah ini.”


Yayai meletakkan belanjaannya di dapur dan mencuci tangannya dengan tergesa-gesa. Setelahnya dia mencium tangan Daria. Sopan sekali.


“Halo Tante. Aku Bima bukan Yayai.” ujarnya. Bima melirik Ben kesal.


“Tunggu. Bima?” Daria mengerutkan keningnya.


“Kalau gitu, aku Tasya dan ini Riko, Tante. Kami bertiga yang tinggal di sini tiga tahun lalu. Terus kami berdua pindah ke rumah masing-masing. Cuma Bima yang sekarang masih tinggal di sini.”


Daria terdiam. Melihat Bima dan anaknya, Ben berulang-ulang kali. Berpikir keras. Jadi, wanita ini yang dipacari oleh anaknya? Secepat itu ketika Ben baru saja pindah ke Indonesia? Dia mengaku pada Eyangnya? Kemudian satu rumah? Seharusnya, Daria juga sadar bahwa Bima ini adalah wanita yang dicari-cari anaknya selama belasan tahun.


“Oh iya. Tante ingat. Ini pertemuan kita pertama kali ya?” Akhirnya Daria bersikap ramah pada Tasya. Mungkin karena dipikirnya, Tasya adalah pacar anaknya dan sedang bersama pria lain.


Mood Daria akhirnya baik kembali.


 


 


****


 


 

__ADS_1


__ADS_2