
(Bima)
Keesokan harinya,
Aku duduk bersandar di sofa kamar. Melihat ke bawah dan meratapi kakiku yang masih bengkak. Tidak terlalu bengkak, hanya kalau dilihat dekat sekali memang bengkak. Aku memegang koyo yang baru. Hendak menempel di area yang bengkak. Sepertinya koyonya sekarang sudah tidak berfungsi. Aku terlalu banyak jalan. Aku cukup lama tadi di kamar mandi. karena takut terpeleset. Pipa wastafel yang sering copot itu akhirnya diganti dengan pipa yang baru oleh Mamanya Prof Ben.
“Yayai? Mau berangkat?” Prof Ben membuka pintu kamarku tanpa mengetuk.
“Bisakah, Prof selalu mengetuk pintu dan menunggu dipersilahkan masuk?” celetukku tanpa menoleh ke arahnya. Dia langsung masuk dan melihat keadaan kakiku.
“Aku sudah melihat semua bagian tubuhmu. Untuk apa aku mengetuk.”
Akhirnya aku melihatnya. Menghela napas.
Aku meyakinkan diriku bahwa aku masih benar-benar perawan. Aku mengecek seluruh seprai di tempat tidurku, tidak ada tanda darah atau apa pun itu. Seperti yang aku lihat di film-film. Bahkan, bagian keintimanku tidak ada rasa sakit sedikit pun. Malahan yang sakit adalah kakiku dan kepalaku, karena aku flu berat dan terlalu banyak menangis.
“Ada apa?” tanyanya karena aku masih menatap Prof Ben. Dia sudah menempelkan koyo ke bagian yang bengkak. “Kamu masih tidak menghilangkan rasa cinta padaku kan?”
Yang benar saja deh! Di saat seperti ini dia masih saja becanda tanpa ada ekspresi sama sekali.
Aku diam.
“Aku nggak becanda. Aku serius.”
“Sudah…sudah… jangan dipegang-pegang terus.” Aku mengusir tangan Prof Ben dari kakiku.
“Bagaimana kalau kamu mencintaiku dan aku akan membuatmu menjadi ratu?”
Buat apa aku mencintaimu tapi kamu pun tidak mencintaiku?
Gila!
Aku mengabaikan penawaran dari Prof Ben dan mencoba berdiri. Sakitnya sih hanya di pergelangan kaki saja. Terasa nyeri.
Ketika sampai di kantor, Prof Ben membukakan pintu untukku.
“Kamu mau aku tunggu di sini?” tawarnya.
“Nggak perlu. Aku akan lama.”
“Aku bisa menunggu di ruangan Levi.”
“Tapi apa Prof ada urusan dengan Levi?” Aku bertanya.
Dua orang satpam melihat kami. Aku hendak keluar dari mobil tapi rasanya berat sekali keluar dari mobil. Aku tidak ingin semua orang tahu hubunganku dengan Prof Ben. Apalagi desas desus aku membuat novel berdasarkan cerita kehidupan pribadiku dengan Prof Ben. Setelah fans meeting itu, aku menghilang. Hampir dua minggu aku tidak masuk kantor. Walaupun itu adalah hal yang wajar bagi para penulis. Hanya…. aku kan penulis tetap di kantor itu. Bukan penulis-penulis yang memang menandatangi kontrak dengan kantor.
Apalagi, kalau aku datang dengan Prof Ben. Apa coba kata orang-orang?
Aku berbalik, Prof masih menunggu keluar. Dia bersiap menuntunku. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mengangkatnya dan sibuk menerima telepon. Sepertinya pembicaraannya serius. Jadi, ini kesempatanku untuk kabur dan masuk ke dalam kantor. Aku berjalan dengan susah payah. Biasanya aku menaiki tangga. Sekarang aku terpaksa menunggu lift turun. Bagusnya kantor ini hanya ada 3 lantai.
Semua orang menatap dan menyapaku. Iya karena aku datang terlalu siang jadi semua orang sudah berkumpul. Sepertinya aura di kantor ini sangat sibuk. Aku melihat layar TV yang tergantung di tengah ruangan. Melihat CCTV yang menampilkan keseluruhan kegiatan lantai dua. Dimana semua karyawan perusahaan penerbit ini ada di lantai 2.
“Kayaknya semua sibuk?” Aku bertanya pada Imah saat aku berada di dapur. Membuat teh hangat.
“Kaki lo kenapa, Bim?” Imah malah balik bertanya.
“Terkilir. Udah dua hari trus gue agak flu.” jawabku.
“Ohhh…” Imah mengangguk. “Gue pikir elo ngilang.” Imah terkekeh. “Iya kantor sibuk semenjak elo adakan fans meeting terus pergantian pimpinan. Gue jadi sibuk. Tapi baguslah.”
Aku memegang mug milikku yang kubeli khusus aku pakai di kantor dan mengisi dengan teh hangat yang tidak begitu manis. Aku dan Imah berjalan pelan karena aku berpegangan pada lengan Imah menuju mejaku.
“Ada tim yang dibentuk sama Mr. Levi untuk memilah novel-novel yang akan di mini seri-kan.”
“Apa ada novel yang terpilih dari novel-novel yang gue tulis?”
Mataku berbinar-binar.
“Nggak tahu deh. Setiap editor pokoknya merekomendasikan novel-novel yang menurut mereka layak naik. Setelah itu tim yang dibentuk ini akan mengeliminasi.”
Aku mengangguk tanda mengerti.
Waktu aku akan masuk ke ruangan kerja, aku berpapasan dengan Prof Ben. Dia memegang ponselnya. Dia berhenti di depanku. Menatapku.
Imah tersenyum dan menyapa Prof Ben kemudian Imah bingung karena Prof Ben tidak membalas sapaannya. Hanya melihatku.
“Tehnya untukku?” Akhirnya dia mengeluarkan suaranya. Padahal aku ingin bertanya padanya, kenapa dia ke sini? Hanya pastinya akan dijawab, ini adalah perusahaannya juga. “Terima kasih.” ujarnya. Dia mengambil mug berisi teh hangat dari tanganku lalu melenggang pergi masuk ke ruangan Levi. Semua orang menatap Prof Ben yang lewat dengan penuh pesona.
“Jadi? Perkembangan hubungan lo sama Mr. Ben gimana?” tanya Imah penasaran.
“Sekarang gue benar-benar menyesalinya.”
Aku menyeret Imah untuk berjalan.
(Levi)
__ADS_1
Ben masuk tanpa mengetuk ke ruanganku.
“Tumben.” sindirku.
“Maksudnya? Tumben apa?” Ben duduk di sofa dengan santai dan menyeruput sesuatu dari sebuah mug. Dari aromanya sih wangi teh melati.
Mood-nya sepertinya sedang bagus.
“Ada kabar bagus?” tanyaku.
Ben tersenyum lebar. Lirikan matanya benar-benar menyiratkan sesuatu.
“Terakhir gue dengar adalah cerita elo nyaris…” Aku tidak meneruskan kata-katanya. Menatap Bima dari ruangan kerjaku. Aku bisa melihat Bima dari sini. Soalnya ruangan ini terdiri dari kaca. Walaupun tidak secara keseluruhan. Aku bisa melihat sedikit kepalanya dari balik sekat-sekat meja.
Ben hanya tersenyum dan menghela napas panjang. Senyumannya benar-benar aneh. Aku tahu kalau senyuman seperti itu pasti adalah senyuman yang melibatkan sesuatu. Sebetulnya rasa penasaranku besar sekali. Aku tidak bisa memaksa Ben untuk menceritakan kejadian apa yang membuatnya dia sesenang itu.
“Jadi nikah kan bulan depan?” Akhirnya aku bertanya mengenai topik ini.
“Jadi banget!” Suaranya terdengar bersemangat. Dia menghabiskan tehnya. “Bisa minta tolong sama sekretaris lo untuk antarkan mug ini ke Yayai?”
“Kenapa emangnya?”
“Suruh bikinkan lagi. Ternyata teh enak sekali.”
Aku menggelengkan kepalaku dan melempar penjepit kertas padanya.
(Bima)
“Mbak Bima, maaf. Saya disuruh Mr. Levi untuk antarkan ini.”
Kay mendatangiku tiba-tiba membawa mug yang tadi diambil oleh Prof Ben.
Jadi, setelah dia meminum semua tehnya lalu mug-nya dikembalikan padaku?
“Oh iya, terima kasih.”
“Tapi Mbak… Mr. Ben minta tolong, katanya untuk dibuatkan teh lagi.”
Aku berdiri melihat ke arah ruangan yang transparan itu. Hampir meringis. Tapi aku tahan. Melihat Prof Ben duduk bersandar dengan santai menoleh ke arahku. Dia menunjuk ponselnya padaku.
“Buatkan aku satu gelas lagi ya.”
“Kamu mengerjaiku atau apa?” jawabku pelan.
“Menyuruhmu.”
“Kamu tahu nggak? Aku ini nggak bisa jalan dengan cepat.”
“Kalau begitu aku temani ke dapur?”
Aku melihat Prof Ben berdiri.
“Eh nggak usah! Nggak usah!!!” teriakku. Semua karyawan memandangiku.
Setelah ini, Mbak Kay pasti menggosipiku. Karena dia melihatku dan Prof Ben saling berpandangan dan menelepon dari jauh.
Aku sebetulnya sudah mandek. Tidak tahu mau tulis apa lagi di bab selanjutnya. Pikiranku bercabang. Memikirkan berbagai kemungkinan. Kemudian aku mulai membuka beberapa file draft novelku yang terdahulu. Aku membacanya satu per satu, entah kenapa aku memilih salah satu draft yang menurutku cocok untuk aku kembangkan ceritanya. Semenarik mungkin daripada cerita First Love.
“Yayai.”
Tiba-tiba kursiku diputar, hingga earphone yang aku pasang tertarik dan terlepas dari telinga.
“Prof!” Aku berteriak. Seketika aku menutup mulutku. Aku melihat sekitar, ternyata banyak sekali staf yang sedang bekerja. Aku melihat jam di komputerku, pukul 14.50 WIB. Pantas saja banyak sekali staf, ternyata jam makan siang sudah lewat.
“Aku menunggumu untuk makan siang. Aku meneleponmu dan kamu nggak angkat.”
Aku kelabakan. Mengambil ponselku dengan cepat. Dua puluh missed called darinya dan beberapa chatting darinya. Suara Prof Ben besar sekali.
“Aku kan bilang akan lama, karena aku sedang kerja.” Suaraku kecil. Aku menunjuk ke arah komputer. Dengan segera aku menutup pekerjaanku darinya.
“Tapi apa kamu nggak lapar?”
Semua orang memasang telinganya. Pura-pura bekerja. Aku melihat Riko keluar dari ruangannya dan terpaku melihat adeganku dengan Prof Ben. Riko menatapku dari kejauhan dan membentuk bibirnya seperti mengeluarkan pernyataan, “Kau masuk perangkap buayanya. Hidupmu akan sulit seterusnya.”
“Oke oke…”
Aku menyimpan file yang aku ketik. Mengirim file tersebut ke email-ku lalu membersihkan mejaku. Lalu aku berdiri, menahan sakit di pergelangan kakiku. Sekian detik, Prof Ben menarik tanganku dan menyematkan jemarinya ke jemariku, memegangiku berjalan. Sepeninggalanku dari ruangan, aku bisa mendengar orang berbisik tanpa terkecuali, suaranya kencang sekali.
“Mereka pacaran?”
“Bucin banget deh.”
“Mereka mau nikah.”
__ADS_1
“Waaah, beruntung banget Bima ya?!”
Di dalam mobil perjalanan menuju tempat makan, aku mendapatkan pesan singkat dari Riko,
Riko 15.08 WIB
What’s happened?
Aku mematikan lock layar ponselku, tidak ingin membalasnya. Rasanya tidak etis kalau aku menceritakan pada Riko maupun Tasya. Aku yakin sekali, mereka pasti akan marah pada Prof Ben. Di lain sisi, aku tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya bahwa aku yang menggoda Prof Ben.
“Kenapa?”
“Prof, bisakah Prof nggak menemuiku kalau aku di kantor?”
“Kantor mana?”
“Kantor ku!!” Aku sedikit berteriak. Frustasi.
“Oh. Memangnya kenapa?” Suaranya khas. Datar. Walaupun dia sedang bertanya. Tatapannya masih lurus ke depan.
“Aku nggak mau digosipi.”
“Oh.”
“Hanya oh?”
“Mereka itu iri liat kamu. Sekaligus penasaran. Terima saja.”
Padahal sepeninggal aku tadi di kantor, banyak sekali pesan singkat yang masuk. Aku hanya membacanya. Rata-rata menanyakan kebenaran bahwa aku memang menjalin hubungan dengan Prof Ben. Artinya, cerita yang di novelku mengenai usaha aku mendekati Prof Ben adalah sukses.
Prof Ben menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang sering kita datangi.
“Hari ini Mee ingin bertemu denganmu. Aku bilang, kamu belum bisa jalan…”
“Kenapa kamu memutuskan sesuatu seperti itu tanpa bilang dulu sama aku?” Aku memotongnya.
“Aku yang memutuskan hidupmu mulai sekarang dan seterusnya.”
Sepertinya dia tidak suka aku memotongnya.
“Apakah ada peraturan seperti itu?” Aku menantangnya.
“Aku tidak mau debat denganmu.”
“Aku suka berdebat denganmu.”
Prof Ben mendekatiku. Dia melepaskan seat belt yang masih aku pakai. Seketika, aku membuka pintu dan berjalan sendiri. Terpincang-pincang masuk ke dalam restoran. Aku duduk di tempat biasa dan memesan makan dalam porsi kecil. Bukan makanan berat. Ketika makanan datang, aku hanya menatapnya dengan sebal. Rasanya makanan yang ada di depanku ingin sekali aku lempar ke wajahnya. Bersyukurlah perasaanku padanya berubah menjadi benci.
Tuhan, apa nggak ada pria yang bisa membawaku lari dari jeratannya? Benar kata Riko, aku sudah masuk ke dalam perangkapnya.
“Kamu tahu kenapa aku memanggilmu Yayai?” Prof Ben bertanya padaku. Dia tersenyum.
Aku melirik ke arahnya sekilas. Mataku seolah malas melihatnya.
“Lihat wajahmu.”
Dia mengeluarkan ponselnya. Ponselnya menunjukkan aplikasi kamera yang menghadap ke arahku.
“Maksudnya?” Aku tersinggung.
“Yayai itu nenek dalam bahasa thai.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak lihat wajahmu kalau lagi cemberut gitu?”
Aku mengeluarkan senyuman yang terpaksa padanya. Menyeruput minumanku dan…
“Bim? Bima??” Seorang laki-laki mendatangiku. Wajahnya berbinar-binar. Senang sekali.
“Eh? Marcel!” Aku berdiri mendadak. Memeluknya. Kencang sekali.
“Bima! Apa kabar kamu?”
“Aku baik. Baik setelah melihatmu!” Aku menggenggam tangan Marcel.
“Aku baru saja pulang seminggu yang lalu.”
“Oh ya?”
***
__ADS_1