Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
8 - Drama Hari Pertama


__ADS_3

(Bima)


Alarmku berbunyi nyaring sekali. Aku lupa menyetel alarm satu jam lebih awal. Sepertinya aku sangat sangat terlambat menuju kampus. Aku langsung mengambil handuk yang ku jemur di belakang, kemudian bergegas masuk ke kamar mandi. Ada yang aneh. Kamar mandinya basah. Aku juga melihat ada sikat gigi mahal disitu. Aku tidak berpikir macam-macam. Ah, mungkin memang pemilik sikat gigi ini yang tinggal di kamar sebelah. Rumah ini berada di sebuah komplek pemerintah, tapi karena mungkin pemilikinya pindah ke Bandung dan akhirnya merenovasi rumah ini dengan indah, dan disewakan 3 kamarnya. Aku menempati kamar utama. Pastinya bayarannya agak mahal sedikit. Kedua kamar lainnya kali ini, aku tidak pernah bertemu orangnya. Dulu sebelumnya Riko dan Tasya menyewa dua kamar sisanya. Karena Tasya akhirnya memutuskan untuk tinggal dengan Ibunya, dan Riko kejauhan ke kantor jadi aku tetap berada di sini. Aku menyukai rumah ini. Halaman belakangnya terlihat panas kalau pagi hari karena menghadap timur dan teduh jika siang hari.


Aku bergegas dan berjalan dengan cepat sekitar 700 meter untuk mendapat sebuah angkutan umum untuk menuju kampus. Yang ada dipikiranku adalah aku pasti bakal dimarahi oleh Prof Ben. Sampai di kampus, aku berlari menaiki tangga. Tidak sempat menunggu lift tua hanya menaiki lantai ketiga. Sudah kuduga, Prof Ben sudah duduk di mejanya. Ketika aku menggeser pintu kedua yang terkoneksi ke ruangannya, dia melihatku kemudian melihat ke arah jam tangannya.


“Telat satu jam. Untungnya saya ada kelas jam sepuluh nanti.”


“Pagi, Prof. Maaf. Saya lupa menyetel alarm saya.”


“Alasan?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya padaku. Lebih tepatnya mencibir.


Aku mengabaikan cibirannya. Duduk di depannya dan mengeluarkan notebook.


“Boleh saya tahu tugas saya apa-apa saja?”


Prof Ben membetulkan kursinya. Dia memegang dompet dan mengeluarkan sebuah kartu.


“Saya agak mengantuk. Minta tolong belikan saya kopi. Americano dingin. Tanpa sirup. Ambilkan saja brown sugar tiga pieces saya yang tuang sendiri.”


Aku tercengang. Aku harus keluar lagi dari area kampus? Ya Tuhan...


Hari pertama yang menyebalkan.



“Diingat. Sebagai asisten pribadi. Apa yang saya suka.”


“Baik Prof.” Aku mengambil kartu kreditnya.


“Beli juga untukmu.”


Aku tidak suka kopi, jawabku dalam hati. Aku menunggu bus kampus yang lewat. Mungkin sekitar 15 menit lamanya. Lalu setelah keluar area kampus, aku bergegas memberhentikan angkutan umum yang lewat. Untungnya coffee store tidak jauh dari sini. Cepat-cepat aku kembali dengan rute yang sama dan memberikan Prof Ben kopi yang dimaksud. Dia menuang satu setengah sachet brown sugar ke kopinya dan melihatku.


Dia mulai menjelaskan apa-apa saja tugasku selama menjadi asisten dosen kemudian asisten pribadi. Awalnya tugas asisten dosen agak berat, aku harus berkomunikasi dengan seluruh ketua kelas dari berbagai macam angkatan, baik yang S1 dan S2. Berkomunikasi juga dengan mereka di berbagai mata kuliah. Aku heran kenapa Prof mengajar di semester ini? Bukannya kata orang-orang dia hanya datang di bulan-bulan semester ganjil?


“Nah ini ada materi, saya ingin kamu buat presentasinya.”


Dia memberikan sebuah jurnal yang harus aku baca dan sepertinya secara singkat aku harus membuat slide presentasi.


“Kapan ini, Prof mau dipakai?”


“Nanti jam kedua.”


Oke.


“Prof, apa saya selalu masuk di setiap kelas Prof?”


“Kalau kamu nggak ada kerjaan, bisa masuk di kelas saya.”


Semoga saja aku selalu ada pekerjaan. Lebih baik aku menunggunya di sini.


Aku hanya mengangguk.


“Untuk tugas-tugas asisten pribadi. Simpel. Saya sedang melakukan sesuatu untuk bisnis saya. Jadi saya butuh, sesuatu yang bersih di rumah saya. Maksudnya mengatur apa saja di rumah saya.”


Ini bukan asisten pribadi. Tapi Asisten Rumah Tangga. Pantas saja gajinya satu minggu satu juta!


Akhirnya dia meninggalkanku sendirian di ruangannya. Hampir satu jam aku berkutat pada pekerjaannya. TIba-tiba ada beberapa mahasiswa yang masuk ke ruangannya dan melakukan sebuah diskusi. Mereka memakai kedua komputer di ruangan itu. Sedangkan aku masih duduk di depan meja Prof. Tidak pindah ke sebuah meja kosong yang membelakangi Prof.


“Elo Bima ya? Si Alumni yang kabur itu?” celetuk si mahasiswa pria yang lumayan tampan, berpenampilan rapih.


“Iya.”


“Kami panitia yang mengurus keberangkatan kalian waktu magang.” lanjutnya.


“Dan gue kayaknya yang elo chat perihal pengembalian dana. Gue sudah sampaikan ke Prof. Apa Prof sudah kasih penagihannya?” sambung si mahasiswa wanita yang penampilannya gaul sekali.


“Iya udah.” jawabku.


“Lo ditagih berapa?” tanya si pria.


“Enam juta.” singkatku.


Mereka berdua terbelalak. Iya kan? Nominal enam juta itu tidak sebanding jika kedatangan seseorang ke Thailand sendiri. Bahkan aku pun tidak duduk di kelas bisnis waktu di pesawat. Aku makan di kantin dorm, aku diantar jemput oleh bus. Sedangkan saja, jarak dorm dengan kantor itu lumayan dekat.


Mereka hanya tersenyum getir.


“Jadi hari ini hari pertama lo jadi asisten dosen? Kenapa lo mau?” Mereka tidak menanggapi jumlah nominal tagihanku. Padahal aku ingin sekali membahasnya.


“Iya. Hmm… gue merasa bersalah sama Prof. It’s Ok.” jawabku sekenanya. Alasan yang masuk akal. Bukan karena terpaksaan dan bayaran untuk melunasi tagihanku dengan Prof.


“Apa elo udah tahu konsekuensinya jadi asistennya?”


Aku mengangguk.


“Gue udah denger semua gosip tentangnya.”


“Eh itu bukan gosip kali. Itu cerita nyata.”


“Jadi, semangat ya! Semoga elo bertahan sampai akhir.” Wanita ini menyemangatiku dengan senyumannya yang mempesona. Aku yakin, Prof menyukainya karena keramahannya.


“Ya, walaupun dia suka manggil kita dengan julukan-julukan atau lebih beruntung lagi dia gak ingat nama kita. Daripada kita dipanggil dengan julukan sama dia.” tambah pria tampan dan dandanannya agak kewanita-wanitaan ini.


Aku sekarang yang tersenyum getir. Mereka nampaknya tahu dari arti senyumanku.


“What??? Jangan-jangan elo dipanggil dengan julukan sama Prof?” teriak wanita ini.


Aku bisa mendengar pintu ruangan bergeser.


“Sudah selesai, Yayai?” tanya Prof Ben yang muncul dari balik pintu. Wajahnya datar. Dingin seperti biasa. Kedua mahasiswa ini langsung terpaku dan terdiam.


“Sedikit lagi.” jawabku.

__ADS_1


“Prof maaf. Semua jadwal praktek sudah didaftarkan. Mungkin besok kita bisa jalan jam berapa?” tanya si wanita.


“Yayai, mereka ini yang mengurusi exchange programme dan beberapa praktek. Jadi nanti kamu berkoordinasi dengan mereka.”


(Ben)


Aku duduk di kursiku. Suasana ruangan hening sekali. Beberapa kali ponselku bergetar waktu di kelas, sampai sekarang pun juga.


“Prof, apa teleponnya nggak diangkat saja?”


Sepertinya Yayai agak terganggu. Akhirnya aku mengubah mode senyap pada ponselku. Membanting ponselku dan memasukkan ke dalam laci.


Aku melakukan pekerjaan lainnya dengan tenang setelahnya.


“Prof, saya barusan kirim email.”


Aku membuka email-ku dan membacanya sekilas. Aku agak kurang suka dengan presentasi yang dibuat oleh Yayai.


“Apa kamu membaca jurnalnya?”


“Baca Prof.”


“Ini namanya kamu memindahkan tulisan di jurnal lalu dipresentasikan.”


Yayai berdiri dan menghampiriku. Dia membaca jurnalnya kembali.


“Tarik kursimu ke sini.” Aku memberikan perintah agar dia menarik kursinya berada di dekatku.


Dia sibuk menarik kursinya untuk duduk berada di dekatku.


“Jadi jurnalnya tentang apa?” tanyaku.


“Hmmm…. strategi komunikasi pemasaran antara media massa dengan produk.”


“Nah, ini kan ada beberapa paragraph awal. Setidaknya kamu bisa awali seperti ini…” Aku mengubah slide pertama untuknya. Agar lebih singkat. Menaruh beberapa gambar agar lebih menarik dan membuat efek. Dia seperti terpukau. “Kamu nggak tahu ya caranya bikin presentasi?”


“Bisa Prof. Cuma mungkin saya nggak sekreatif, Prof.”


Slide demi slide  aku ubah. Dia memperhatikan dengan serius dan banyak bertanya. Bukan bertanya bagaimana cara menambahkan efek, malah bertanya mengenai isi jurnal yang akan aku presentasikan siang ini.


“Prof siapa ini Chai Prasert Nopadon Ratanarak?” tanyanya tiba-tiba. “Tulisannya sangat solutif.”


“Saya.” jawabku singkat. Acuh tak acuh. Masih fokus dengan slide presentasi.


“Chai Prasert Nopadon Ratanarak???!!” Dia mengulang namaku. Membacanya dari lembar jurnal. “Nama Prof?” Dia memegang tanganku yang bebas tidak memegang mouse.


“Kenapa memang?” Aku melihat wajahnya. Dia masih terpukau lalu tersenyum dan berakhir tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya. Aku pun melihatnya dia mengeluarkan air mata. Nampaknya dia mudah sekali mengeluarkan air mata. Kemarin menangis dan sekarang tertawa.


“Maaf Prof. Namanya terlalu panjang dan agak lucu.”


“Kami juga agak aneh kalau membaca nama orang Indonesia.” celetukku.


“Tapi kenapa dipanggil Ben, Prof.”


“Nama panggilan.”


“Tapi nama ini jauh dari kata-kata Ben!”


Yayai masih saja tertawa sambil menghapus air mata yang keluar. Refleks, dia setengah berdiri dan mengambil tisu yang berada di sebelah kananku. Otomatis pandangan layar komputerku terhalangi oleh wajahnya. Garis wajahnya indah sekali. Terlalu dekat.


“Nama panggilan saya.”


“Maaf Prof. Terlalu lucu buat saya.” Dia mengelap pipinya yang basah.


Aku masih terdiam gara-gara wajahnya.


“Ayo Prof. Kita lanjut.” Dia menunjuk ke arah layar komputer.


“Loh saya dari tadi bekerja. Kamu hanya melihat.”


“Oh iya, maaf Prof.” Dia memperbaiki posisi duduknya dan menampilkan wajah seriusnya. Percuma. Dia masih tertawa.


“Prof, maaf. Saya izin ke toilet dulu.”


Yayai setengah berdiri. Aku menarik tangannya dia terduduk kembali. Aku melepaskan tangan kananku dari mouse. Malah menopang kepalaku dan menghadap ke arahnya.


“Terlalu lucu?”


“Hmmmppff…” Yayai menahan tawanya. Kedua bibirnya dilipatnya ke dalam. Au melihatnya lama. Akhirnya wajahnya berubah. Dia tidak tertawa lagi. Jadi bibirnya dibiarkan kembali normal hingga merah. Aku menatap bibirnya.


“Kamu yakin akan saya diskualifikasi karena pekerjaanmu tidak benar di hari pertama? Lalu di hari kedua kamu berbuat apa lagi?” Aku masih menopang kepalaku dengan tangan kananku.


“Saya berusaha semaksimal mungkin.”


“Hari ini ikut dengan saya setelah kuliah jam kedua.”


“Kemana?”


“Saatnya bekerja sebagai as…”


Ucapanku terhenti.


SSSRAAAAKKK!!!


“BEN! Where have you been??!”


Aku terkejut begitu juga Yayai. Kami berdua langsung berdiri. Aku masih tidak melepaskan tangan Yayai. Dia berada di belakangku. Mungkin terkejut karena suara orang yang berusan masuk ini sangat menggelegar.


“Eyang?”


“Aku menelponmu ribuan kali. Kenapa nggak kamu angkat????”


Pria tua renta ini berdiri di depan kami. Benar benar marah. Sepertinya dia melihatku yang masih memegang tangan Yayai.

__ADS_1


“Apa kamu terlalu takut untuk Eyang tanyakan tentang pernikahan!? Makanya kamu tidak berani menemui Eyang?” teriaknya.


“Aku sedang ngajar tadi.” jawabku pelan.


“Sedang ngajar apa? Baru tiga puluh menit lalu aku telepon dan kamu sedang berduaan sama wanita ini!”


Yayai menyadari tangannya dipegang olehku. Cepat-cepat dia melepaskannya.


“Cepat ke rumah dan kita bicarakan pernikahan! Eyang sudah banyak sekali kandidat untuk calon istrimu.”


“Aku sudah punya calon sendiri.” ujarku.


“Ha? Siapa?” Yayai melongo.


Aku melihat Yayai yang masih berdiri di belakangku.


“Cepat perkenalkan dirimu.” ujarku pada Yayai. Dia terkejut.


“Kenapa saya?”


“Saya menaikan tagihanmu satu juta.” kataku sambil berbisik. Aku mendorongnya untuk maju ke depan. Langkah Yayai ragu.


“Ng… Pak, maaf Eyang aku Bima.”


“Tunggu kamu calonnya Ben?” tanya Eyang memastikan.


Yayai mengangguk. Senyumannya merekah.


“Ben kamu yakin akan menikahi mahasiswa?”


“Aku bukan mahasiswa.”


Yayai berjalan mengambil tasnya. Dia membuka dompetnya dan menyerahkan kartu identitasnya pada Eyang.


“Umurku dua puluh enam tahun ini.” jelasnya.


“Dua puluh enam… hmmmm…”


Eyang lama sekali menatap kartu identitas Yayai. Seperti mengingatnya pada sesuatu. Dia menatapku penuh pertanyaan. Aku memberikan isyarat pada Eyang agak tidak bertanya lebih lanjut padaku.


“Kamu Chandani Bimala Lalitha…”


“Iya Eyang.” Yayai berjalan ke arah Eyang. Dia mencium tangan Eyang. Bentuk penghormatannya pada orang yang lebih tua.


“Baik. Aku tidak ada perdebatan. Aku menyetujuinya.”


“Terima kasih.” ujarku dan Yayai bersamaan. Kemudian suasana menjadi canggung.


“Kenapa kamu ada di sini? Kamu nggak kerja?” tanya Eyang pada Yayai.


“Aku bekerja…”


“Bekerja untukku. Menjadi asistenku sementara di kampus dan asisten pribadi.” potongku menjelaskan.


“Ohhh… aku pikir nggak ada yang mau dekat dengannya karena sifatnya yang buruk ke semua wanita.” Eyang menggelengkan kepalanya.


Yayai melirikku.


“Jelas Eyang. Dia orangnya nggak perhatian, cuek, tukang bully, suka nyuruh-nyuruh, lalu…”


“Kamu dibayar.” ujarku pada Yayai.


Yayai membungkam mulutnya.


Wah, berani sekali Yayai ini. Dia terlalu mendalami peran. Apa ini kesempatannya untuk membalasku?


Eyang tertawa terbahak-bahak.


“Boleh kita tukeran nomor hape?”


Yayai melihatku kembali. Aku mengangguk padanya. Memberikan kode agar dia memberikan nomornya pada Eyang. Aku ingin melihat sejauh mana drama Eyang pada Yayai. Eyang memberikan ponselnya pada Yayai, kemudian Yayai memasukkan nomor ponsel.


“Jadi kalau aku telepon Ben dan gak diangkat, mungkin aku bisa telepon kamu?”


“Boleh Eyang.”


“Kapan Eyang pulang? Aku masih banyak pekerjaan.”


“Silahkan bekerja. Aku bisa mengobrol dengan Bima.”


“Dia juga ada pekerjaan.”


Eyang akhirnya berdiri.


“Kamu lihat Bima? Kamu harus bisa mengubah sifatnya yang seperti ini. Tidak sopan pada orang tua.”


“Eh iya, Eyang.” Yayai ikut berdiri.


“Eyang akan pulang.”


Suasana ruangan berubah menjadi hening kembali.


Yayai melihatku serasa ingin melempar semua barang yang ada di depannya ke wajahku.


“Prof apa maksudnya?”


“Kamu tenang saja.”


“Tenang bagaimana? Kalau dia menelpon bagaimana?”


“Ya angkat saja.”


“Loh? Kalau saya sedang tidak bersama Prof dan nggak tahu Prof dimana, apa yang harus saya jawab?”

__ADS_1


Aku menatapnya. Makanya aku menguncimu untuk tetap bersamaku, ujarku dalam hati.


***


__ADS_2