Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
9 - Jadi, harus mengurusinya?


__ADS_3

(Bima)


Sebelum dan sesudah aku pulang dari Bangkok, aku selalu menyalakan lampu rumah. Lampu di halaman depan, lampu halaman belakang, dan lampu-lampu di seisi rumah. Serasa aku tinggal sendirian di rumah ini. Penghuni rumah yang lainnya mungkin sedang tidak ada atau memang selalu pulang larut malam. Sebulan yang lalu memang aku sering begadang di kantor untuk menyelesaikan proyek novelku, jadi aku tidak pernah tahu siapa yang berada di rumah. Aku hanya tahu beberapa barang yang mungkin aku duga berisi buku-buku dan beberapa pakaian yang bukan berwarna terang berada di halaman belakang, terjemur dengan rapih.


Malam ini, setelah makan malamku sendirian di luar karena aku sudah malas untuk memasak gara-gara seharian aku bekerja. Hari pertamaku berat. Setelah tugas membuat presentasiku yang pertama direvisi banyak sekali, kemudian mengikuti kelas bersama Prof Ben, kemudian dia memberiku satu jurnal lagi yang lumayan tebal dan aku disuruh membuat presentasinya kembali. Katanya akan digunakan besok pagi. Jurnalnya untung bukan berbahasa inggris, tapi berbahasa Indonesia jadi aku dengan mudah membuat rangkumannya di notebook dan membuat presentasinya. Ketika aku sedang membuat presentasi, Prof Ben sempat meninggalkan ruangan cukup lama. Lalu tidak kembali lagi hingga dia mengabariku via telepon.


“Kalau jam lima saya belum kembali ke ruangan, pulang saja. Jangan lupa dikunci pintu ruangan saya. Saya harap besok kamu datang pagi-pagi membuka ruangan dan dengan membawa presentasinya juga.” jelasnya.


“Baik, Prof.”


Saat itu aku memang belum menyelesaikan presentasinya. Aku banyak melamun dan mendengarkan beberapa lagu. Membuka beberapa draft novelku, membacanya draft demi draft. Tidak ada yang menarik. Kemudian jam menunjukkan pukul lima sore dan Prof Ben pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan balik kembali. Aku bergegas berbenah barang-barangku dan mejanya yang agak berantakan dengan bekas kertas-kertas yang dicetak olehnya. Dan meninggalkan ruangan. Menguncinya. Mengeceknya kembali.


Saat aku menyalakan lampu rumah, aku hanya melihat tumpukan barang bertambah lagi semenjak bulan lalu. Kali ini kardus-kardus menumpuk di tangga. Rumah ini memang terdiri dari tiga kamar saja, dengan ruang tamu yang agak luas, dapur, kamar mandi ada di lantai atas, tidak sebesar di lantai bawah. Lantai atas tidak seluas di bawah. Bisa dikatakan atapnya hanya setengah. Tidak begitu cocok jika dibuat menjadi kamar tidur. Pengap. Sesak dan gelap. Apa kamar di atas juga ada penghuni yang lain? Tapi kenapa penghuni yang satunya lagi juga tidak terlihat? Sama dengan penghuni di kamar sebelah kamarku.


Sudahlah. Aku bergegas mandi. Membuka laptop kembali, menyelesaikan kembali membuat presentasi hingga pukul 11 malam. Aku memang tidak bisa begadang jika tidak mengurusi yang bukan pekerjaanku. Jadi, saat aku selesai membkuat presentasi, aku mengirimkan file-nya pada Prof Ben. Di saat aku tertidur, pintu ruang tamu terbuka. Aku mendengarnya dengan samar. Tapi aku masih mengabaikannya. Aku sudah tidak bisa membuka mataku. Pintu rumah ini sudah dilengkapi dengan pintu otomatis, bukan pintu manual, jadi keselamatanku pun terjamin jika suatu saat aku tertidur seperti malam ini, dan seseorang yang memang tinggal di rumah ini saja yang dapat membuka pintu depan.


(Ben)


Malam ini aku memutuskan untuk mendatangi rumah Mee yang sudah dikontrakkan bertahun-tahun. Sudah semenjak bulan lalu juga aku memutuskan untuk memindahkan barang-barangku ke rumah ini untuk kedua kalinya. Setelah 13 tahun lebih aku meninggalkan rumah ini untuk pergi ke Bangkok. Melanjutkan kuliah S2 hingga aku mendapatkan gelar Professor. Aku banyak mengajar di beberapa universitas baik di Indonesia dan di Bangkok sendiri. Tapi sudah dua tahun belakangan ini, semenjak aku menjadi Direktur di salah satu stasiun TV di Bangkok, aku mengurangi jadwal mengajarku. Aku hanya mengajar di satu universitas di Indonesia dan tidak menerima mengajar di universitas mana pun di Bangkok. Karena aku sadar, ketika aku di Bangkok kesibukanku sangat bertubi-tubi ketimbang aku datang ke Indonesia.


Suasana rumah sangat berantakan karena banyak sekali dus-dus yang terumpuk di ruang tamu, ruang tengah, dan di dekat tangga menuju lantai atas yang biasa aku sebut loteng. Aku sempat memindahkan dus di dekat tangga ke loteng dan menaruh di dalam ruangan di situ. Ruangannya terlihat bersih walaupun agak berdebu. Mungkin karena sempat dibersihkan kemudian ditinggalkan kembali. Sekembalinya ke lantai bawah, aku sempat mengecek dan memperhatikan dus-dus yang berantakan di depanku dan membukanya. Sekiranya ada dus yang bisa aku masukkan ke dalam kamar dan ku bongkar isinya. Setelahnya aku tertidur dan tidak sempat mandi.


Pagi hari, aku mendengar suara teko berbunyi nyaring dan dengan singkat bunyi itu langsung hilang. Mungkin ada seseorang di dapur. Aku melihat jam dinding dan menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Aku merapihkan tempat tidurku dan bergegas berjalan membuka pintu kamar lalu mengambil handuk di halaman belakang yang terjemur dan menuju kamar mandi. Aku tahu, masih ada orang yang mengontrak rumah ini. Mee yang memberi tahuku. Dia sudah mengontrak sekitar 3 tahun dan memilih di kamar tidur utama yang luas dan membayar sedikit mahal dari 2 kamar lainnya. Tapi aku memaksa Mee untuk menolak orang-orang yang ingin mengontrak 2 kamar sisanya. Karena aku memang ingin tinggal di rumah itu.


Aku memberitahu Mee untuk tidak masalah dengan orang ini. Saat itu aku tahu…


Aku berjalan sambil menutup mataku. Aku sebetulnya sudah merasa siap jika orang ini tahu keberadaanku suatu hari nanti.


“Halo. Pagi.” sapanya. Suaranya terlihat ceria. Aku mengenakan celana pendek dan mengalungkan handukku.


Aku menoleh ke arahnya.


“Pagi.” jawabku.


Dia tersenyum. Belum memberikan reaksi apa-apa. Aku sempat bingung. Seharusnya dia bereaksi padaku.


“Kita belum pernah bertemu. Apa semalam kamu yang pulang dan membuka pintu?” tanyanya. Dia memegang gelas. Cara memegang gelasnya agak hati-hati. Mungkin isinya teh panas.


“Kemarin kita bertemu.” ujarku.


Dia mengerutkan dahinya.


“Oh ya? Kapan?” tanyanya terlihat bingung.


Ada yang aneh. Aku mendekatinya. Aku melihat kacamata bertengger di atas kepalanya. Kemarin dia tidak memakai kacamata. Aku mengambil kacamata dari kepalanya dan memakaikannya.


Akhirnya, reaksi ini yang aku tunggu.


Dia kaget hingga gelas yang dipegangnya tersenggol oleh reaksinya dan seluruh isinya tumpah dan menyebabkan dia melepaskan gelasnya dan pecah. Isinya juga panas. Dia sedikit meringis melihat tangannya yang kena tumpahan tehnya. Wangi tehnya menyentuh hidungku. Teh wangi melati.


Aku memegang tangannya dan melihat kulitnya yang berubah merah. Aku mengelapnya dengan handukku.


“Aku baru tahu matamu rabun.” ujarku. Gaya bahasaku tidak formal.


Dia masih menunduk. Tangan satunya sibuk mengambil pecahan gelasnya.


“Prof… maaf… saya nggak tahu itu Prof.”


Aku melenggang pergi ke dapur dan mengambil kain lap kering untuk membersihkan tumpahan tehnya. Sedangkan dia, Yayai mengambil sapu dan pengki untuk membuang serpihan kaca dari pecahan gelasnya.


“Prof, bagaimana bisa?”


“Ini rumahku.”


Yayai tercekat. Aku memperhatikan kacamatanya yang agak tebal.


“Jadi yang punya rumah ini?”

__ADS_1


“Mamaku.”


“Selama ini aku bertemu dengan Mamanya Prof?”


“Bukan. Itu orang suruhannya. Orang kepercayaannya. Dia juragan kos-kosan.” jelasku. Aku kembali ke dapur. Meletakkan kain lap yang basah karena air teh.


“Sudah Prof biar saya saja.”


Yayai masih berbicara formal padaku.


“Apa kamu udah mandi?”


Yayai sempat kaget ketika aku menanyakan hal itu.


“Eh? Sudah Prof.” Ekspresinya canggung.


“Kita ke kampus bareng.”


“Prof mau sarapan?” tanyanya gugup.


“Nggak. Aku minum kopi.” jawabku singkat. Kemudian aku masuk ke kamar mandi. Sebelum aku menyalakan shower, aku mendengar suara teriakan Yayai walaupun dari kamar. Aku tersenyum puas.


(Bima)


“Elo mau pindah?” desah Tasya. Dia terlihat syok ketika tahu Prof Ben berada di rumah yang aku tempati. “Nggg… tapi elo kan udah nyaman di rumah itu.”


“Betul. Betul.” Aku menyetujuinya.


Aku membayangkan hidupku. Di pagi hari aku harus bertemu dengannya hingga sore, lalu malam hari aku juga bertemu dengannya. Per tadi pagi, aku tahu dia berada di rumahku, bukan maksudnya rumahnya dan aku adalah seseorang yang menyewa kamar utama di rumahnya, berbagi kamar mandi dengannya. Aku menyesalkan kenapa rumah tersebut memiliki satu kamar mandi? Iya sih kamar mandinya agak besar. Cuma…


“Gue bisa carikan apartemen?” tanya Tasya serius. Prihatin dengan keadaanku.


“Berarti yang kosongan aja yah? Berapa lama gue memindahkan barang-barang gue di kamar ke apartemen?”


Pintu ruang bergeser. Aku cepat-cepat mematikan ponselku dan menaruhnya di atas meja. Prof Ben masuk membawa sebuah map. Dia memberikan map tersebut padaku.


Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Tasya ya? Aku tidak bertemu tasya hari ini di kampus. Aku hanya menelponnya, sebelumnya aku hanya mengiriminya pesan chat, hanya memang lebih seru kalau aku menelponnya langsung menceritakan hal ini. Apalagi ditambah, sudah beberapa hari ini aku tidak membuka draft novelku jadi mungkin aku akan begadang malam ini untuk menulis draft novelku lagi. Hanya aku khawatir, Prof Ben akan menyibukkan diriku. Apakah aku harus membuat kesalahan agar aku dipecat? Atau bagaimana ya? Soalnya kata orang-orang Prof Ben selalu komplain setiap pekerjaan asistennya dan langsung memecat asisten yang tidak becus bekerja.


“Sudah?” tanyanya pelan.


“Hmm… ini perjanjian Prof dengan universitas lain? Prof ditawari pekerjaan di universitas lain?”


“Aduh.. intinya.” tukasnya.


“Intinya… ini perjanjian Prof dengan universitas lain untuk mengajar…. tunggu…” Aku membalik-balikkan lembar demi lembar perjanjian tersebut. Menyebut mata kuliah apa saja yang Prof Ben ajarkan.


“Batalkan.”


“Ha? Bagaimana caranya batalin? Ini kan sudah Prof tanda tangan.”


Aku melihat tanda tangan Prof Ben di lembar terakhir. Aku berdiri. Membaca nama panjangnya dan melihat tanda tangannya dengan seksama.


“Tunggu, ini bukan tanda tangan Prof.” Aku menekankan. Berjalan ke arah mejanya. Menunjukkan bahwa tanda tangannya bukan seperti biasanya walaupun mirip.


Prof Ben memegang dahinya. Memijatnya lagi. Sepertinya dia akan kena masalah. Dia merogoh tas jinjingnya dan mengambil tempat kacamatanya dan memakainya. Kacamatanya memang khas Profesor. Napasku sempat terhenti melihatnya memakai kacamata. Dia terlihat serius.


“Saya pikir juga begitu.” katanya. Oh baik, dia mengubah bahasanya kembali formal. “Saya sempat berdebat dengan dekan masalah ini.”


“Apa Prof lupa dengan tanda tangan sendiri?” Aku agak sangsi. Sepertinya memang dia lupa.


“Iya, saya lupa.” Dia mengaku. “Saya tidak merasa menandatangani ini. Tapi saya tidak menyangkal, itu tanda tangan saya.” jelasnya.


Aku terdiam. Memikirkan cara yang tepat.


“Apa Prof mau mengajar di universitas ini?”


“Tidak. Semester ini saya terakhir mengajar.”

__ADS_1


Aku mengangguk. Mahasiswa di prodi ini akan kehilangan Chai Prasert Nopadon Ratanarak. Bersyukurlah bagi mahasiswa yang sempat diajar olehnya. Aku akui dia memiliki kepintaran yang sudah tidak diragukan lagi. Aku melipat bibirku, menahan tawaku sendiri.


“Kalau universitas ini menuntut bagaimana ya?”


“Ada cara lain selain jalur hukum?” tanyanya serius. Dia tahu apa yang aku pikirkan.


“Seharusnya Prof bisa menguatkan alibi Prof, menunjukkan bahwa tanda tangan ini bukan tanda tangan Prof. Beda banget loh garis dan penekanannya.”


Aku bangga pada diriku sendiri. Aku adalah oang yang sangat teliti.


“Tanda tangan Prof ini sulit.” lanjutku.


Prof Ben terdiam. Sepertinya dia sudah memutuskan sesuatu.


“Saya akan menghadap dekan lagi. Bahwa tanda tangan ini bukan milik saya. Mungkin saya akan tawarkan seminar pada universitas ini? Dia sepertinya ingin menarik saya ke sana…”


Wah, orang asing ini sangat dibutuhkan oleh warga Indonesia.


“Ide yang bagus.”


Setelahnya, Prof Ben keluar lagi dengan perjanjian itu. Tidak berapa lama, Tasya muncul di ruangan membawa sebungkus mie ayam untukku.


“Gue tahu elo belum makan…”


Mataku berbinar-binar melihat bungkusan yang dibawa olehnya dari kantin.


(Ben)


Aku menatap layar ponsel ketika aku hendak pulang. Aku menyewa sebuah gedung kecil lima lantai untuk merintis bisnisku di Jakarta. Karyawan yang aku pekerjakan hanya beberapa. Aku sekilas membaca pesan singkat yang barusan muncul. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit kembali. Aku tidak suka orang yang melakukan pekerjaan dengan cara yang tidak jujur atau curang. Jadi, aku harus menanggung akibat dari penandatanganan perjanjian yang tidak aku tanda tangani yang sebenarnya terlihat aku tandatangani. Besok pagi-pagi sekali aku menjadi narasumber utama di sebuah seminar nasional. Aku mencari nomor Yayai dan menghubunginya untuk membuatkanku slide presentasi. Hanya ponselnya tidak aktif. Aku melihat jam tanganku. Sudah jam 11 malam. Mungkin dia sudah tidur. Akhirnya aku memutuskan saja untuk pulang.


Sampai di rumah pun, suasana rumah masih gelap. Lampu-lampu belum dinyalakan sama sekali. Hanya lampu halaman depan saja yang menyala otomatis. Kemana Yayai? Apa dia belum pulang? Ketika sampai rumah, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Aku sempat ke dapur untuk melihat stok kopi sachet-ku. Tinggal satu. Dengan cepat aku menyeduhnya dan meminumnya sedikit dan membawa gelas berisi kopi tersebut ke kamar. Hanya… waktu itu pandanganku kabur. Perutku terasa melilit. Keringat dingin pun keluar. Tepat bersamaan dengan itu aku menjatuhkan gelas berisi kopi ke lantai dan saat itu aku mendengar pintu rumah terbuka.


(Bima)


Aku melihat ponselku dan ada beberapa e-mail yang masuk. Aku membacanya satu-satu, termasuk e-mail dari Prof Ben beberapa jam yang lalu. Aku sempat sebal membaca e-mail dari Prof Ben. Intinya dia pun menyuruhku bekerja malam-malam untuk menyiapkan presentasinya. Padahal aku ingin tidur. Waktu aku berjalan pelan menuju kamarku, aku seperti melihat Prof Ben tertidur di lantai.


Oh Tuhan! Sepertinya dia pingsan!


“Prof? Prof?” Aku menepuk pipinya pelan. Tepat di kepalanya ada air kopi dan pecahan gelas. Sayang sekali Prof tidak menjawab. Kepanikanku muncul. Aku menempelkan tanganku ke hidung Prof, masih bernapas.


“Sakit…sakit sekali.” Tiba-tiba suara Prof Ben keluar. Aku tahu keringat dinginnya mengucur deras dan wajahnya pucat pasi. Dia memegang perutnya kencang sekali.


“Prof? Ini saya, Bima. Prof mau ke rumah sakit?” panikku. Aku menyingkirkan kepalanya dari tumpahan air kopi. Memangku kepalanya.


Tidak ada jawaban. Hanya rintihan.


Sepertinya aku harus bertindak. Aku meletakkan kepala Prof di lantai kembali, lalu beranjak membuka kamarnya, mencari sesuatu. Aku melihat tasnya dan kunci mobil di atas tasnya yang terletak begitu saja di kasur. Aku sangat takjub dengan kamarnya. Walaupun warna dindingnya bernuansa abu-abu, ada jendela kecil di atas kepala tempat tidur. Kamar Prof Ben memanjang. Di sisi kirinya terdapat tempat tidur kecil. Di sisi kanan terdapat meja panjang dan dua layar komputer dan kursi game yang besar. Masih di samping kanannya, terdapat meja kecil di atasnya terdapat akuarium yang diisi berbagai macam ikan yang berwarna warna. Aku mendengar suara air yang mengalir. Lalu di sisi lainnya terdapat dua lemari besar kiri dan kanan ketika aku masuk ke kamarnya.



Kamarnya sebetulnya sudah tertata rapi tapi masih saja ada beberapa kardus-kardus yang isinya belum dikeluarkan. Aku mencari sesuatu di kamarnya. Aku melihat kunci mobilnya berada di dekat meja akuarium. Aku mengambilnya dan berlari ke halaman untuk membuka mobil. Aku hanya melihat mobilnya berjenis mobil Eropa. Bau mobilnya saja masih menempel dari showroom. Sudahlah yang penting, setirnya masih di kanan, celetukku dalam hati.


Ketika aku kembali masuk ke rumah, aku melihat Prof Ben masih tergeletak, meringis, dan memegang perutnya.


“Prof, ayo kita ke rumah sakit.” Aku mengangkat tubuhnya yang berat.


“Bantu aku… aku mau tidur saja.” ujarnya tersengal.


“Prof… kalau nggak ke rumah sakit, nanti akan parah.”


“Ini… maag.”


Aku sebetulnya ingin menyeretnya ke mobil hanya karena tubuhnya berat saja akhirnya aku membantunya berjalan ke kamarnya. Aku menghela napas waktu aku meletakkan tubuhnya ke kasur.


“Prof apa punya obat sendiri?” tanyaku. Wajahku dekat sekali dengan wajahnya yang pucat. Keringatnya masih mengalir deras. Aku mengelap keringatnya dengan tanganku lalu mengelap tanganku yang basah ke bajuku.


“Ada. Di bawah laci akuarium.” ujarnya. Dia membuka matanya. Melihatku mencari obat dan keluar kamar mengambil air minum untuknya. Setelah minum obat, aku hanya tahu dia tertidur. Walaupun aku bolak balik ke kamarnya, dan agak berisik di dapur membuat sesuatu untuknya. Karena aku yakin, Prof Ben pasti tidak makan sama sekali seharian ini. Karena… aku jarang sekali melihat Prof Ben makan. Jadi, aku harus mengurusi orang asing ini.

__ADS_1


***


__ADS_2