Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
18 - Pertanyaan 'Kapan Menikah?'


__ADS_3

(Bima)


Kedatangan Mama Prof Ben sungguh menyiksaku. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk bersandiwara. Sedangkan, Prof Ben tidak membantuku sama sekali. Dia terlihat santai dan terkesan cuek padaku. Maksudku, kalau memang Prof Ben mengaku aku pacarnya kenapa dia terkesan menjauh dariku?


Aku menghela napas sambil memasukkan beberapa ekor ikan segar ke kotak penyimpanan dan memasukkannya ke kulkas. Chloe mengeong terus-terusan, mungkin karena mencium bau ikan yang aku pegang. Setelah urusanku selesai di dapur, aku masuk ke kamar sebentar, diikuti oleh Tasya.


“Bim, elo masih bersandiwara kalau elo pacarnya Prof Ben?” Tasya menyelidikiku.


Aku mengangguk. Melihat lemari pakaian. Memikirkan baju apa yang akan aku pakai sebagai penggantinya baju yang agak bau dari supermarket ini.


“Riko tahu kok.”


“Kenapa gue nggak tahu?”


“Elo pasti heboh.”


“Bim, sampai kapan? Apa elo mau sampai novel lo tamat?”


“Elo baca novel gue?” Aku melihat Tasya. Senang sekali, kalau Tasya membaca novel. Soalnya Tasya paling malas membaca buku. Beda sekali dengan Riko.


“Apa yang enggak gue lakukan buat lo, Bim. Bahkan membaca pun gue lakukan.” celetuknya.


Aku terkekeh.


“Terlepas dari itu, gue kan emang suka sama Prof Ben. Jadi nggak apa-apalah.”


“Improvisasi lo berlebihan. Soalnya Prof Ben orangnya tertutup, elo pacarnya, dan elo satu rumah.”


Aku telah selesai mengganti bajuku. Kemudian aku keluar kamar dengan cuek. Mama Prof Ben masih bercengkrama dengan Prof Ben. Sedangkan Riko terlihat bosan bermain dengan Chloe. Sepertinya, Riko memberi kode pada Tasya untuk segera pulang.


“Kalau begitu, untuk apa Mama kontrakkan kamar utama?”


Aku bingung sambil menatap Prof Ben.


“Maksudnya?” Prof Ben menoleh ke arah Mamanya.


“Kalian kan bisa segera menikah. Daripada pisah-pisah kamarnya seperti itu.”


Akhirnya, hal ini yang dimaksud oleh Tasya.


Wajahku kaku. Walaupun aku menjalin hubungan palsu dengan Prof Ben, tidak disuruh menikah juga sih. Belum siap mendengar hal tersebut. Entah kenapa.


Prof Ben menatap Mamanya dengan santai.


“Ya, nanti akan aku lamar.”


“Kapan?”


“Hmmm, Tante kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.” Aku akhirnya angkat bicara. “Jadi kalau menikah mungkin masih jauh.”


“Kalau begitu ya tunangan saja. Nggak baik tinggal satu atap begini.”


Tasya berdiri dengan tiba-tiba. Dia ke dapur, mengambil gelas, dan meneguk airnya.


“Iya, nanti.” jawab Prof Ben lagi. Masih dengan nadanya yang santai. “Jadi kapan Mee pulang? Jam dua ini aku mau ke kantor.”


Aku melihat jam dinding di ruang tengah. Jam dua siang sekitar tiga puluh menit lagi.


“Tuh kan! Bahkan Mee saja belum pernah ke kantormu. Kamu sudah, Bima?” Mama Prof Ben melihatku.


“Sudah.” jawabku berbohong sambil menatap Prof Ben, yang tidak menatapku sama sekali. Ya Tuhan, tolong sudahi ini.


“Nanti aku sama Yayai akan datang ke rumah. Aku kabari Eyang juga.” ujar Prof Ben.


Waktu Mama Prof Ben pulang. Napasku yang tercekat akhirnya kembali lancar. Kakiku lemas.


“Prof, apa-apaan tadi?” tuntutku. Tasya dan Riko duduk di dapur. Diam.


“Kenapa sama tadi?”


“Loh, kenapa Prof nggak mau bantuin aku. Aku banyak sekali berbohong.”


“Memang harus berbohong kan?!”


“Prof!”


Aku benar-benar kesal. Prof Ben berjalan ke halaman belakang mengambil handuknya dan hendak masuk ke kamar mandi.


“Kalau Prof ajak aku bertemu keluargnya Prof Ben aku nggak akan datang.”


“Loh kenapa? Bukannya kamu bilang kamu mencintaiku?”


Tasya dan Riko masih menyaksikan adegan kami.


“Aku nggak bisa bohong! Kalau begitu lebih baik aku berhenti mencintai Prof Ben kalau hidupku terlalu berat.”


Aku benar-benar kesal kali ini. Aku menyingkirkan rasa sukaku padanya. Kemudian masuk ke kamar membanting pintu.


“Bim, gue sama Tasya pulang dulu ya.”


Aku tidak menjawab Riko.


“Pikirkan kembali, kalau elo sampai berhenti mencintai Prof Ben, gimana nasib novel lo?”


Aku melihat Riko dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Bodo amat!!” teriakku.


(Ben)


“Dia yang kamu maksud, Ben?” Mee menelponku ketika aku di jalan. Menyetir menuju kantor.


“Ya.” jawabku singkat.


“Jadi selama ini dia ada di rumah itu. Mee nggak tahu. Kalau tahu mungkin kamu akan pulang sudah dari tiga tahun yang lalu.”


“Nggak ada masalah, Mee. Nggak apa-apa.”


“Apa kamu sebegitu menderitanya?”


“Dia yang menderita.”


“Loh kenapa?”


“Dia nggak ingat apa-apa.”


Mee terdiam. Mungkin tidak tahu mau bicara apa lagi.


“Kamu tahu penyebabnya?”


“Sedang dicari tahu. Kemungkinan sih trauma.”


Aku mendengar Mee menghela napas diujung teleponnya.


“Apa dia suka sama kamu?”


Aku diam. Berpikir.


“Mâi nɛɛ-jai, Mee.”**


“Loh kenapa?” Aduh Mee terlalu banyak rasa penasarannya.


“Mee sudah dulu ya, aku lagi nyetir ini.”


(Bima)


Aku melihat laman website novel online-ku berkali-kali. Jumlah follower-nya setiap hari meningkat. Aku patut bersyukur untuk ini. Kadang aku menatap huruf-huruf yang ada di halaman putih di Microsoft word dengan tatapan nanar. Bingung ingin mengetik sesuatu. Mood-ku tidak bagus gara-gara Prof Ben. Hingga aku ketiduran. Lumayan lama. Waktu aku bangun, di luar sudah gelap, dan kamarku pun gelap. Dengan sigap aku bangun dan menyalakan lampu. Jangan sampai ketakutanku akan gelap segera menyerang. Aku keluar kamar dan seisi rumah pun gelap. Aku berjalan cepat kesana kemari untuk menyalakan lampu dan melihat Chloe masih tertidur di kasurnya, dekat kulkas. Prof Ben ternyata masih belum pulang.


Aku mengirimkan pesan singkat ke Prof Ben menanyakan apakah dia akan makan malam di rumah atau di luar. Lama sekali aku menunggunya, bahkan pesan singkatnya sama sekali tidak sampai. Hingga tengah malam pun tiba. Aku melihat layar ponselku dan pesan singkatku masih sama sekali tidak terkirim. Aku mencoba untuk melakukan panggilan dan ponselnya pun sama sekali tidak aktif. Apa aku harus khawatir?


Tiba-tiba ponselku berdering.


“Elo dimana?” Riko langsung menyambar berbicara sebelum aku menyapanya.


“Di rumah.” jawabku singkat.


“Gue mau ngasih tahu kabar gembira dan kabar buruk.”


“Kabar gembira dulu.” potong Riko. “Elo diundang oleh salah satu komunitas untuk mengadakan fans meeting.”


Aku diam. Tidak tahu mau bereaksi senang atau biasa saja.


“Dan ini fans meeting dari komunitas novel lo.” lanjut Riko antusias.


“Novel gue ada komunitasnya?”


“Banyak pembaca bilang gaya bahasa lo rapih dan halus.”


Yaiyalah, aku kan udah menjadi penulis 5 tahun terakhir ini walaupun hanya menjadi ghost writer.


“Kapan fans meeting-nya?”


“Minggu depan.”


“Trus kabar buruknya apa?” tuntutku. Bersiap dengan kabar buruk.


“Ngg… Search engine tentang Prof Kai ketahuan.”


Prof Kai adalah nama samaran Prof Ben yang kubuat menjadi tokoh utama kedua di novelku.


“Gue nggak ngerti.”


“Apalagi gue. Tapi emang ini fans garis kerasnya Prof Ben kebetulan ada yang baca cerita lo dan ngerasa cerita lo ini sama dengan ceritanya Prof Ben dan asisten Profesornya, Bima.”


“Padahal gue pakai nama pena.”


“Dan elo udah samarkan seluruh kejadiannya kan?”


“Iya udah. Tapi memang agak mirip bagi yang tahu.”


Aku menghela napas.


“Trus gimana?”


“Ya, elo harus bisa improvisasi nanti kalau emang beneran ada salah satu pembaca yang datang dan memang fans-nya Prof Ben.”


Aku memegang dahiku.


Keesokan harinya, aku mengecek ponselku lagi. Kali ini pesan singkatku terkirim dan bahkan dibaca olehnya. Karena kekesalanku, aku mengirimi rentetan pesan singkat yang mengungkapkan kekesalanku.


09.21 AM

__ADS_1


Prof, knp nggak ngabarin kalau nggak pulang?


Nginap dmn?


Hingga pada akhirnya dia juga tidak membalas pesan singkatku walaupun dia membacanya. Aku meneleponnya, tapi sambungannya sengaja terblokir. Aku mengerutkan dahiku. Aku melempar ponselku ke meja. Siang ini aku berada di kantor untuk berusaha mengetik bab selanjutnya karena semalaman aku tidak berhasil membangun mood-ku.


(Ben)


Hari ketiga,


Aku menekan beberapa angka untuk membuka pintu. Levi berada di belakangku. Akhirnya dia pulang juga kembali ke Indonesia bersamaku. Suasana rumah ada yang berbeda. Aku melihat sepasang sepatu pria di depan pintu ruang tamu. Entah mengapa, pintu utama tertutup rapat.


“Chloe.” panggilku.


Aku menangkap hewan itu tidur di atas sofa. Chloe mengangkat kepalanya melihatku dan kembali tidur. Seolah-olah kedatanganku tidak begitu penting baginya.


“Elo liat tuh, Chloe udah gak tertarik lagi sama elo.” celetuk Levi. Kaos putihnya yang tebal dan longgar terlihat lebih menarik Chloe. Dia berjalan cantik dan mengelus kaki Levi.


“Kamu keterlaluan, Chloe.” ujarku pada Chloe.


Tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari kamar mandi.


“Tunggu, aku aja. Pelan-pelan kalau enggak nanti muncrat kemana-mana.”


Suara Yayai terdengar jelas dari dalam kamar mandi.


“Yaudah, kalau begitu biar aku saja. Ini aman kok.”


Kali ini suara berat yang sudah pasti adalah seorang pria. Levi memandangku dengan kaget. Mulutnya ingin bergerak dan bertanya, ada apa? Tapi diurungkannya. Dia tahu wajahku memerah dan rahangku mengeras.


Dengan sigap aku membuka pintu kamar mandi, mendorong dan kutendang keras.


BRAK!!!


Seorang pria terjatuh karena mengenai pintu yang kutendang. Sedangkan, Yayai berada di bawah wastafel memegang pipa wastafel yang terbelah dua.


“Prof!!!” Yayai berteriak. Wajahnya kesal. Dia membantu pria yang terjatuh. Sepertinya sikunya agak berdarah karena mengenai pintu. Dan pintu yang kutendang, engselnya agak rusak. “Kenapa buka pintu nggak pelan-pelan sih?!”


“Ngapain di dalam?” tanyaku datar. Terkesan menuntut.


“Nggak apa-apa, Mas?” tanya Yayai pada si pria. Melihat sikunya dan mengabaikan pertanyaanku.


“Nggak. Nggak apa-apa.”


“Ada apa? Kenapa wastafelnya?” tanyaku lagi. Melihat pipa wastafel yang terlepas.


“Tunggu di sini ya, Mas. Mau aku ambilkan obat.”


Yayai berdiri dan berjalan melewatiku.


“Eh, hai! Kapan datang?” Yayai menghentikan langkahnya ketika melihat Levi.


“Baru saja. Apa kabar?” tanya Levi pada Yayai.


“Kurang bagus. Wastafelnya rusak, pipanya lepas trus ditambah pintu kamar mandi lepas.” jawab Yayai menjelaskan.


“Ohh…” Levi hanya mengangguk. Kemudian membiarkan Yayai melenggang pergi ke ruang tengah sebelahnya, membuka lemari kecil yang di atasnya sebuah guci antik. Dia membuka lemarinya dan disitu terdapat kotak obat. Aku membiarkan Yayai mengobati pria itu. Mengamatinya. Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku. Selesai mengobati pria itu dan menurutku bukan seorang tukang. Tampangnya bersih putih dan baju yang dipakainya terlihat pakaian rumahan.


“Mungkin aku bisa pergi belikan pipa dan lemnya.” beritahunya pada Yayai.


“Oh silahkan. Tapi nanti kamu ke sini lagi kan?”


“Yaiyalah. Aku yang pasang nanti. Kamu tenang saja.” katanya dengan senyumannya yang menawan. Aku memperhatikan mereka dari ruang tengah.


“Dia tukang?” Aku bertanya lagi pada Yayai.


Mungkin karena pria itu sadar, setiap pertanyaanku tidak dijawab oleh Yayai, akhirnya dia yang menjawab.


“Bukan, Pak. Saya yang tinggal di sebelah.”


Bapak????!!!! Dia memanggilku bapak???


Aku melihat Levi. Aku yakin Levi akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Betul juga, Levi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan tawanya.


“Emangnya nggak bisa panggil tukang aja?” tanyaku lagi pada Yayai. Dia tidak melihat ke arahku.


“Saya yang biasa perbaiki pipa di wastafel ini. Udah yang ketiga kalinya ya, Bim?” Pria itu melihat Yayai dengan santai. Seolah-olah dia dekat sekali dengan Bima.


Sepeninggal pria itu untuk membeli pipa,


“Mas, menginap dimana?” tanya Yayai pada Levi. Dia terlihat sibuk di dapur membuatkan es teh untuk Levi. Satu pitcher dan hanya disediakan satu gelas. Sial. Dia benar-benar tidak melihatku.


“Disuruh Ben untuk nginap di sini.”


“Oh ya? Di kamarnya Prof Ben yang kecil itu?”


Levi mengangguk.


“Nggak apa-apa. Kami terbiasa tidur berdua.”


“Kalau begitu, gimana kalau ditukar? Aku yang tidur di kamar Prof Ben, Masnya berdua tidur di kamarku?”


“Nggak perlu.” Aku menginterupsi.


Semenjak kedatanganku, Yayai selalu mengobrol dengan Levi. Yayai mengabaikan kehadiranku. Hingga wastafel selesai diperbaiki oleh pria tetangga sebelah. Aku tidak suka melihat Yayai tersenyum senang pada seorang pria. Tidak tahu mengapa. Saat itu aku sibuk sekali memperbaiki pintu kamar mandi yang engselnya lepas. Di sela-sela itu, aku baru sadar bahwa tidak ada Yayai di rumah. Kekesalanku bertambah.

__ADS_1


***


** Tidak yakin, Ma


__ADS_2