
(Bima)
Aku memasak dengan sangat serius. Hanya Chloe mendatangiku, mengelus-elus tubuhnya yang basah ke kakiku.
“Chloe! Keluar!” teriak Prof Ben. Dia berteriak dari ruang tengah.
“Chloe! Awas terinjak!” Sekarang aku yang berteriak.
Kalau dipikir, rumah yang kutempati ini sudah lama sekali tidak ramai. Dua tahun belakangan ini semenjak Riko dan Tasya tidak di rumah ini lagi. Setahuku alasannya simpel. Mereka memilih tidak mengontraki rumah ini karena dua tahun yang lalu mereka berpacaran. Gaya pacaran mereka terlalu kaku. Mungkin mereka sudah mengenal semenjak SMP. Jadi bertemu tiap hari adalah hal yang membosankan.
“Kamu ini! Ayo berjemur di belakang.” Prof Ben mendatangi Chloe di dapur dan mengangkatnya.
Aku semangat sekali pagi ini memasak. Apa karena ada sesuatu dengan suasana hatiku?
Tidak lama setelahnya aku selesai memasak. Aku tidak perlu butuh waktu yang lama untuk memasak soto ayam. Aku sangat cekatan sekali di dapur walaupun sudah lama aku tidak memegang peralatan dapur. Aku mendatangi Prof Ben yang sedang di tangga memilih beberapa barang-barangnya. Aku menyodorkan sesendok kuah soto padanya. Dia tidak menolak sama sekali ketika aku memasukkan sendok ke mulutnya.
“Bagaimana? Apa yang kurang?” tanyaku.
“Nggak tahu. Kan kamu yang masak.” ujarnya. Sungguh menyesal aku menyuruhnya mencicipi.
“Biasanya orang yang memasak itu udah kenyang duluan, Prof. Jadi agak malas mencicipi kalau bukan orang lain.”
Prof Ben bertopang dagu. Dia berpikir.
“Prof? Ada apa?”
Aku rasa dia tidak memikirkan perkataanku yang aneh itu.
Ya ampun. Seperti itu saja dia terlalu estetik. Seperti patung. Menggoda iman sekali. Tunggu. Kenapa khayalanku aneh sekali. Akhirnya aku mengabaikannya yang sedang bertopang dagu dan kembali ke dapur. Aku mulai menyendok kuah soto di panci dan mencicipinya sendiri.
Hmmm… sepertinya sudah pas dan agak kurang garam.
“Sudah pas. Hanya kurang garam.” Suara Prof Ben tepat di belakangku. Aku sontak berbalik badan dan bibirku langsung mencium dadanya. Tinggiku tidak tinggi seperti Prof Ben. Jadi, kepalaku hanya sedadanya. Ya ampun.
AAWWW
Aku berteriak singkat. Lenganku terkena panci panas. Untungnya pancinya tidak goyah, jadi kuah sotonya masih aman. Prof Ben menundukkan kepalanya, menarik lenganku, saat itu aku juga menengadahkan kepalaku dan … bolehkah aku pingsan? Wajahku dekat sekali dengannya.
“Kenapa nggak hati-hati sih??”
Aku mendorong Prof Ben. Dia terpaksa mundur beberapa langkah.
“Prof! Kenapa dekat sekali!?”
“Loh aku memberitahumu rasa kuah sotonya kok.” belanya.
“Tapi itu bikin kaget aku!”
Prof Ben menarik lenganku ke wastafel cuci piring dan menyiramnya. Lenganku hanya memerah saja. Tapi ketika aku kena panas dari panci, hal itu membuatku terkejut apalagi Prof Ben terlalu dekat.
“Sudah, sudah. Aku nggak apa-apa.”
__ADS_1
Aku melepaskan tangaku darinya dan berjalan mengambil sekotak garam dan mencampurnya sedikit ke kuah soto.
Di meja makan pun, aku sangat bersyukur Prof Ben makan seperti biasa. Aku hanya makan masakanku tanpa nasi. Setelah itu, aku harus membantunya membersihkan kamar di lantai atas yang ternyata berisi buku-bukunya dan meja kerjanya. Berbeda sekali dengan meja di kamarnya. Aku tidak banyak bertanya. Aku hanya bertugas membersihkan debu-debu dan membantunya sedikit memasang wallpaper yang sudah disiapkannya. Chloe tidur di depan pintu. Tahu karena ruangannya berdebu. Aku sempat bersin-bersin berkali-kali.
Aku lelah sekali. Hingga akhirnya Prof Ben duduk di dekat pintu. Walaupun belum rapih benar. Dia juga terlihat lelah.
“Kita lanjutkan besok.” ujarnya.
Besok?
Aku mengibas-kibaskan udara di depan wajahku. Aku melihat debu beterbangan di depanku. Walaupun jendelanya sudah kami buka lebar-lebar.
(Ben)
Yayai keluar dari kamar mandi. Aku melihatnya waktu membuka pintu kamar. Dia begitu berbeda ketika habis mandi. Rambutnya yang basah terbungkus oleh handuk kecil. Lucu sekali. Aku menyukainya. Hari ini Yayai aneh sekali. Dia terlihat sedikit canggung padaku. Sudahlah.
Suara Chloe terdengar kencang sekali waktu aku melamunkan Yayai.
“Chloe! Kamu mau masuk? Tidur sama aku? Coba tanya Prof Ben apa boleh?” tanya Yayai pada Chloe.
Chloe sekarang berada di depan pintu kamar Bima. Dia sangat menyukai Yayai. Apa Chloe tahu kalau Yayai itu…
“Prof!” teriak Yayai.
“Iya. Chloe sudah bersih.”
“Oke!” Yayai menutup pintunya. Chloe masuk bersamanya. Waktu aku di ruang tengah sedang memantau pekerjaanku, aku masih mendengar suara Yayai yang keras berbicara dengan Chloe. Terkadang berteriak pada Chloe karena Chloe mungkin merusak sesuatu. Setelahnya aku tidak mendengar keributan lagi di kamar Yayai. Sampai aku pun tertidur di sofa ruang tengah. Bangun-bangun rumah dalam keadaan gelap. Ternyata sudah malam. Aku menyimak di sekitar rumah, Yayai pun tidak terlihat keluar dari kamarnya. Aku menyalakan semua lampu rumah. Aku sempat mandi dan ketika selesai mandi, aku masih tidak mendapati Yayai keluar kamar.
Chloe tertidur di sebelahnya, sedangkan Yayai masih tertidur pulas. Kamarnya terang sekali. Aku bisa melihat wajah Yayai yang mulus. Dia benar-benar tertidur sangat pulas. Walaupun Chloe bergerak bangun melihatku datang. Aku sempat menempelkan jari telunjukku di mulut pada Chloe agar tidak mengeong. Chloe melompati tubuh Yayai dan menghampiriku. Aku menggendong Chloe dan membawanya keluar.
“Kamu pulas sekali ya tidur bersama majikan pertamamu ya?” tanyaku pada Chloe.
Chloe hanya membenamkan kepalanya di lenganku.
“Ayo makan.”
Aku menuangkan makanan kucing dari kulkas. Chloe berjalan anggun menghampiri piringnya dan melahapnya dengan santai. Aku memperhatikan Chloe makan sambil melamun. Pikiranku banyak sekali. Hingga aku mendengar pintu terbuka. Ya, Yayai sudah bangun. Dia berjalan gontai menuju dapur, mengambil gelas, dan menuang air mineral. Langsung diteguknya dengan sekali teguk. Kemudian dia duduk di meja makan sambil bertopang dagu. Menatap meja makan dengan tatapan kosong.
Nampaknya juga Yayai tidak menyadari bahwa aku sedang duduk di lantai samping kulkas di dapur.
“Kamu kenapa?” sapaku.
Yayai berdiri. Melihatku yang duduk di lantai.
“Prof!” kagetnya. Kemudian duduk kembali.
Dia menghela napas.
“Prof kalau misalkan aku…” Yayai berdiri. Berjalan ke arahku. Ikutan duduk bersamaku sambil mengelus Chloe yang sedang makan.
__ADS_1
“Kenapa?”
Yayai memberi jeda pada dirinya untuk mulai bicara. Tangan yang dibuat mengelus Chloe, dia tempelkan ke dadanya.
“Prof sepertinya aku jatuh cinta sama Prof.” ujarnya pelan. “Dan ini pertama kalinya aku jatuh cinta.”
Ha? Aku mencerna kata-katanya.
Sebetulnya jantungku mulai berdegup kencang.
“Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu?” tanyaku tenang.
“Nggak tahu.” Yayai menggeleng.
“Aku tidak suka perasaan yang tiba-tiba dari lawan jenis. Itu bukan cinta.” terangku. Yayai terlihat serius memperhatikanku bicara. Dia memainkan bibirnya. Sepertinya dia malu karena salah bicara.
“Benar Prof. Ini cinta. Jantungku…” Yayai mengambil tanganku dan menempelkan ke dadanya. Seketika aku menampisnya. Dia begitu terkejut. Yayai merasa aku sudah menolaknya.
“Aku tidak suka cinta monyet.”
“Apa Prof, pernah merasakan cinta monyet?” tanyanya serius.
“Tidak. Cintaku berlangsung lama. Bukan cinta monyet atau hanya perasaan sekedar suka.”
Memang benar. Buktinya aku menjomblo sampai umurku di angka 34 tahun. Aku terlalu lupa untuk mencari perasaan cinta yang orang-orang kebanyakan alami.
“Prof maaf. Aku mau buktikan bahwa memang aku benar-benar mencintai, Prof.” ujar Yayai yakin.
Dia begitu lugu. Apa yang dia lakukan selama ini. Apakah dia belum pernah jatuh cinta?
“Prof aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.” katanya lagi.
“Merasakan apa?”
“Jatuh cinta.”
Pertanyaanku terjawab. Pantas saja.
Aku ingin tertawa melihat wajahnya yang sangat khawatir. Dia masih saja memainkan bibirnya karena galau dengan perasaannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencondongkan tubuhku padanya. Yayai pun mundur ke belakang. Aku mendengar Chloe mengeong dan pergi. Aku sudah menindih tubuh Yayai. Wajahnya memerah sekaligus takut. Sontak aku menyambar bibirnya, menciumnya, **********. Awalnya pelan kemudian bernafsu. Tapi tidak ada reaksi pada bibir Yayai. Dia diam. Dia hanya memejamkan mata dan mendorongku tiba-tiba.
“Prof!!!” Dia marah.
“Kamu bilang kamu mencintaiku?”
“Bukan begini caranya!”
Yayai berdiri dan kesal. Dia meninggalkanku sendirian di dapur.
Aku senang sekali. Berarti Yayai menyukaiku. Yang hanya ingin kupastikan adalah perasaannya padaku. Aku tidak meragukan perasaanku, karena sudah teruji selama empat belas tahun ini.
***
__ADS_1