
(Bima)
Seharusnya aku kabur saja, ketika tahu Prof Ben dan Levi berdiri di depan.
“Bim. Ke ruangan ya.” tunjuk Mr. Andri sewaktu semua sudah bubar. Aku hendak menhampiri Tasya dan Riko. Belum sepatah kata aku menyapa Tasya kenapa dia ada di sini, feeling-ku sudah jelek.
“Iya, Mr.”
Aku melewati Riko dan Tasya yang masih terpaku tidak percaya. Bingung ingin berkata apa atas apa yang mereka dengar. Bagi orang lain ini adalah kabar baik. Tapi bagiku ini adalah kabar buruk. Bagi Riko dan Tasya juga. Karena apa? Ya, karena aku menulis kisah cintaku dengan Prof Ben di novel online dan besok akan diadakan fans meeting. Sekali lagi, hanya Riko dan Tasya yang tahu hal ini. Padahal aku sudah berbohong pada Prof Ben beberapa hari yang lalu bahwa aku adalah seorang editor novel. Lah kok sekarang aku diperkenalkan sebagai seorang novelis oleh Mr. Andri?
Kedua telapak tanganku terasa dingin. Seperti darahku tidak mengalir ke bagian tubuhku. Tenggorokanku terasa kering. Aku menghela napas berkali-kali di depan pintu. Padahal pintu ruangan adalah pintu kaca. Pastinya orang pun melihat apa tindakanku.
“Ya, Mr.?” Aku membuka pintu dan langsung bertanya pada Mr. Andri. Dia duduk di sofa. Levi melihat ponselnya dan seperti mengambil beberapa foto di setiap sudut bekas ruangan bapaknya.
“Hei, Bim. Sini.” Mr. Andri mempersilahkan padaku untuk duduk di sofa. Prof Ben berdiri bersandar di meja. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Keren sekali. Oh tidak. Wajahnya terlihat berbeda. “Ini Bima. Aduh nama penanya siapa Bim?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Mr. Andri.
“Pah, aku udah kenal sama Bima.” celetuk Levi. Nada suaranya berbeda. Tidak begitu serius. Nada yang tidak sama sekali formal. Suara yang biasa aku dengar.
Mr. Andri bingung.
“Oh, iyaaaa! Kalau nggak salah Papa kemarin itu di telepon sama Ben kan? Buat nyari Bima?” Mr. Andri menggaruk kepalanya. “Aduh, Papa sudah lupa. Udah tua.”
“Bim, elo ada kesulitan di sini?” tanya Levi benar-benar santai di depan Mr. Andri.
“Ngg… nggak ada.” Aku melirik Mr. Andri. Nampaknya dia juga terlihat santai. Hanya satu orang yang tidak santai. Wajahnya.
“Bima ini satu-satunya penulis tetap. Maksudnya dari staf tetap perusahaan ini yang jadi novelis. Udah dua bulan ini kalau nggak salah ya, Bim?” jelas Mr. Andri.
Aku mengiyakan.
“Penulis lainnya itu penulis terkenal yang menempel saja di sini.” lanjut Mr. Andri lagi.
“Apa novelis juga bis a merangkap sebagai editor?” Suara Prof Ben datar dan berat.
“Penulis ya penulis. Editor ya editor. Bisa sih penulis menjadi editor, tapi dia ngedit penulis lain. Bukan ngedit tulisannya sendiri.” Mr. Andri menjelaskan.
Aku rasa aku mau loncat saja dari lantai tiga ini.
(Ben)
Aku bisa merasakan ketegangan yang ada di diri Yayai. Sampai kapan dia akan berbohong masalah pekerjaannya? Memangnya apa masalahnya dengan penulis novel?
“Mungkin saya bisa keluar dulu, Mr.?” tanyanya pada Om Andri dan Levi. Yayai terlihat agak sungkan pada Levi. Tidak sesantai biasanya.
__ADS_1
“Oke, Bim. Take your time.” ujar Levi. Dia masih melihat ponselnya. Sambil mengerutkan dahinya. “Judulnya apa, Bim? Novel lo?” tanya Levi ketika Yayai sudah mendekati pintu.
“Nggg…” Yayai tampak berpikir. Dia melihatku. Kenapa memangnya?
“Apa? Gue mau baca sekarang.” Levi menuntut. Dia masih menunggu.
“Nggg…” Yayai ragu.
“Loh? Elo lupa judulnya?” Levi mengerutkan dahi.
“First Love kalau nggak salah.” Om Andri menjawab.
“Nggg… i… iyaa itu…” Yayai terbata-bata. Kenapa sih dia?
Dengan cepat Yayai menghilang dari ruangan. Aku bisa melihatnya berjalan dengan cepat.
Tiga jam kemudian,
Aku mengangkat telepon dari Levi ditengah-tengah rapat kecilku dengan tim produksi.
“Ya?” jawabku malas dan pelan.
“Elo harus baca novelnya Bima, Ben.” cerocosnya. Antusias sekali.
“Ha? Kenapa? Gue nggak suka cerita cinta-cintaan.”
“Ya seharusnya mulai sekarang elo harus suka mau gak mau. Kan elo mau seleksi untuk dijadikan film.”
“Ya terus?”
“Apa sih? Ada pembunuhan? Adegan ****?”
“Ben!” teriak Levi. Aku menjauhkan ponselku dari telinga. “Gue kasih link-nya yah! Baca deh.”
TUUUTT…
Levi sialan. Si Direktur Produksi dan anak buahnya menatapku penasaran. Kemudian aku membuka pesan singkat dari Levi dan meng¬-klik link¬-nya.
First Love.
Judul yang terlalu simpel. Tidak menarik. Cibirku dalam hati.
Kemudian aku mulai membaca di bagian pertamanya. Dengan serius.
“Bos, kami eksekusi dulu yah.” ujar Direktur Produksi. Seorang pemuda, tidak begitu muda lagi sih. Dia mungkin seumuranku dengan segudang pengalaman.
“Oke, oke.”
Aku seperti mengusir mereka.
Dengan serius aku mulai membaca cerita Yayai lagi.
__ADS_1
(Bima)
Aku memasuki rumah dengan lemas. Tamat sudah riwayatku. Langkahku gontai sekali. Aku masih menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan singkat pada Prof Ben dan menanyakan apakah dia akan makan malam di luar atau di rumah.
Di luar. Itu jawabannya. Baik. Aku agak sedikit tenang. Chloe mengikutiku masuk ke dalam kamar dan dia menaiki sofa di dalam kamar. Aku meninggalkannya di kamar sendirian dan mandi. Sepertinya aku di kamar mandi cukup lama. Aku menyiram kepalaku dengan air hangat dan memikirkan jawaban yang pas untuk berbagai pertanyaan dari Levi. Aku pikir Levi pasti sudah selesai membaca dan segera sadar kalau yang dibacanya adalah Prof Ben.
Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk. Aku pun membungkus rambutku yang basah dengan handuk kecil dan berlari dengan cepat menuju kamarku.
“Apa kamu sudah makan?” Suara berat itu muncul mengagetkanku.
Untungnya aku belum membuka handukku. Aku hanya membuka dan melihat pakaian. Aku melihat Prof Ben tiduran di sofa dan Chloe tidur di pangkuan tangannya. Tuhan!!!! Kenapa sih dia!!???
“Prof!!!!” teriakku histeris. Aku melompat ke kasur dan menarik selimutku untuk menutupi seluruh tubuhku. “Kenapa masuk ke kamarku???!!!”
“Aku ingin mengobrol.”
“Mengobrol kan bisa menungguku di ruang tengah!!” Aku terlalu histeris. Aku hanya memunculkan wajahku di balik selimut. Dia sudah berdiri di depanku.
“Kamu sudah makan?” tanyanya lagi.
“Beluummm!!!” Aduh kenapa sih dia. Aku merasakan handukku yang membungkus tubuh bugilku melorot. Mampus.
Prof Ben mengangkat kakinya dan naik ke atas kasur.
“Jangan mendekat!!!” cegahku. Suaraku terdengar merana sekali.
Jarakku dengannya mungkin sekitar 80 senti.
“Aku nggak jadi makan di luar. Kamu bisa masakkan sesuatu?”
Aku melongo. Dasar aneh. Aku ingin nangis deh. Aku terlihat merana sekali.
“Bisa? Ini udah malam. Apa kamu mau pesan online aja?”
“Pesan online aja.”
“DEAL! Kamu yang pesan ya. Aku mau makan ayam aja.”
Kemudian Prof Ben turun dari tempat tidurku dan menghilang dari kamarku bersama Chloe.
Aku menghela napas. Dengan cepat memperbaiki handukku yang melorot dan berlari menuju pintu kamar dan menguncinya dengan cepat. Takut-takut Prof Ben masuk kembali. Di saat seperti ini, aku ingin menyudahi novelku saja dan menghilang. Kenapa coba dia bilang dia akan makan malam di luar dan tiba-tiba dia pulang dan masuk ke kamarku dengan pertanyaannya yang menurutku bisa ditanyakan di luar kamar. Kenapa harus masuk ke kamarku???!!!
***
Jangan lupa like, follow, dan vote nyaaaa
__ADS_1