Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
23 - Syarat dari Konsekuensi


__ADS_3

(Ben)


 


Kami berempat makan dan duduk di meja makan kecil di dapur. Tidak ada meja makan lain selain yang di dapur. Meja makan yang biasa aku dan Yayai pakai. Yayai terlihat sibuk sekali memperhatikan Eyang dan Mee makan. Ketika, Eyang ingin mengambil lauk tambahan di tengah meja, Yayai dengan sigap memberikan piringnya ke hadapan Eyang. Hal sama pun dilakukannya untuk Mee.


“Kamu seharusnya segera menikah dengan Bima.” celetuk Eyang, ketika Yayai menuang air putih ke gelasnya. Padahal airnya masih ada setengah. Yayai menghentikan menuang air. Kemudian duduk di tempatnya. Dia tersenyum getir.


Mee melirikku dan kemudian tersenyum ke Yayai.


“Ya, aku pasti akan menikah dengan Yayai kok.” kataku datar. Mee melirikku lagi. Yayai melihatku. Menoleh 90 derajat ke arahku. Dia tersenyum terpaksa.


“Wah, jadi kapan?” tanya Mee. Aku tahu Mee berakting.


“Segera. Dalam waktu dekat.” kataku lagi. Aku meletakkan sendok garpu dan meneguk air. Aku menyodorokan gelasku yang kosong pada Yayai agar dia mengisinya.


“Kamu siap, Bim kalau dalam waktu dekat?” Mee bertanya pada Yayai.


“Ngg… mudah-mudahan. Kalau ada jalan ya sesegera mungkin.” jawab Yayai kaku. Dia memberikan gelas yang sudah berisi air padaku.


Setelah itu, baik Eyang dan Mee tidak membahas pernikahan. Karena Mee dan Eyang tahu, Yayai terlihat sangat tertekan sekali.


“Ben! Kamu terlalu keras sama Bima!” kata Mee di dalam mobil.


“Ben! Kalau psikologisnya Bima terganggu. Kamu harus tanggung jawab.” tambah Eyang. Mereka duduk berdua di belakang. Terlihat kompak setelah mungkin dua puluh tahun lalu tidak begitu menganggap bahwa mereka adalah keluarga. Walaupun Mee dan Pho sudah berpisah.


“Tenang saja. Semua sudah kuatur.” Aku menenangkan mereka. “Hati-hati di jalan.” Lalu aku menutup pintu mobil.


Aku memperhatikan mobilnya menghilang dari dalam kompleks dan aku masuk ke dalam rumah. Yayai masih sibuk membereskan rumah. Dia terlihat diam. Aku mengambil makanan Chloe di lemari dapur dan memberikannya padanya. Aku sempat duduk di sofa menghadap ke kebun belakang. Pikiranku berkecamuk. Apakah ini adalah yang terbaik untukku dan Yayai? Aku memejamkan mataku. Akhir-akhir ini pekerjaanku sudah membuatku stress. Ditambah aku memikirkan seseorang. Hampir sama ratanya aku membagi pikiranku.


“Prof, maaf. Ada yang mau aku bicarakan.” Suara Yayai lemah. Takut-takut.


Aku membuka mataku.


“Duduk.” perintahku.


Aku tahu Yayai takut mendengar suaraku. Aku sebetulnya tidak tahan berakting seperti ini di depannya.


Yayai memutar sofa dan duduk di sebelahku agak menjauh. Aku melihat dia mengepalkan tangannya.


“Kenapa?” tanyaku. Aku masih menyandarkan tubuhku dan kepalaku yang berat ke sofa.


“Apa Prof sudah mendengar berita itu?”


“Levi yang kasih tahu.”


“Maafkan aku, Prof.”


“Kamu membuat kekacauan.”


Yayai tertunduk.


“Apa tujuanmu sebetulnya? Kamu mau memanfaatkanku?”


Yayai menatapku cepat.


“Bukan…bukan Prof. Aku cuma mau jujur saja ke pembacaku. Kalau tokohnya memang Prof. Daripada saya diserang macam-macam.”


“Apa kamu pernah izin sama saya?”


Yayai diam.


“Menulis kisahmu menggunakan aku di dalamnya?”


Diam lagi.


“Mungkin aku sudah dibohongi. Sepertinya kamu juga mencintaku adalah kebohongan?”


“Prof… bukan. Kalau itu benar.”


“Kamu memanfaatkanku. Kalau benar aku mencintaimu, kamu akan menuliskan kisah kita di novelmu. Untuk keuntunganmu sendiri.”


Yayai terdiam. Wajahnya memerah. Aku tidak tahu perasaannya. Apa yang dipikirkannya saat ini.


“Kamu juga bilang sama aku kalau kamu editor.” Aku tersenyum sinis. “Ternyata penulis novel. Kenapa aku bisa percaya sama kamu?”


Yayai masih terdiam dan tertunduk.


“Prof, maaf. Bukan maksudku membuat keadaan seperti ini. Maaf kalau aku tidak pikirkan konsekuensinya.”


“Kamu berharap aku mendapatkan konsekuensi yang sudah kamu timbulkan?” Aku melihat Yayai tajam. Mata Yayai langsung beralih ke tempat lain.


“Bukan begitu, Prof.” ujar Yayai menyanggah.


“Sebetulnya aku cuma semakin dikenal saja. Lagipula perusahaan Levi jadi ramai di telepon banyak penulis yang akan join ke perusahaannya.”


Yayai menatapku. Bingung dengan maksudku.


“Bagaimana, Prof?” Yayai bertanya untuk meyakinkan.


Aku mengabaikan pernyataanku barusan. Tidak bermaksud mengulang.


“Ada konsekuensinya.” ucapku.


“Aku nggak paham, Prof.” Yayai ragu. Dia menyibakkan rambut ke belakang telinganya. Caranya membuatku tergoda. Sepertinya dia salah persepsi atau salah dengar. Lebih baik aku tidak mengklarifikasi pernyataanku tadi.

__ADS_1


Aku duduk dengan tegak. Memutar tubuhku hingga menghadap lurus ke arah Yayai.


“Dengar baik-baik.”


“Ya Prof?”


“Kita harus menikah secepatnya.” ucapku agak keras.


“HAA?” Yayai kaget. Melongo.


“Kamu dengar atau enggak?”


“Deng… dengar Prof. Kenapa aku harus menikah dengan Prof?”


“Satu, kamu sudah melibatkanku dengan kehebohanmu hari ini. Itu merugikanku. Kedua, bukannya kita pacaran?”


Yayai berdiri tiba-tiba.


“Tunggu Prof. Aku bisa menerima alasan yang pertama tapi aku nggak terima alasan kedua.”


“Maksudmu?”


“Kita nggak pernah pacaran.” kata Yayai tidak mengakui.


Aku juga ikut berdiri tiba-tiba.


“Wah, kamu ini lugu atau pura-pura lugu?” celetukku. “Aku membaca semua bab di novelmu dan tidak ada bagian yang fiksi atau dibuat-buat di sana. Semuanya real.”


Yayai tercekat. Bibirnya tertahan untuk berbicara. Sepertinya tenggorokannya ada sesuatu yang menahan suaranya keluar.


“Kamu menjelaskan bahwa di dalam ceritamu itu adalah sebagain fiksi.” Aku mulai ngotot. “Fiksi dari mana? Semuanya real. Aku bahkan bisa menghitung berapa kali kita berciuman.” jelasku tidak mau kalah.


“Prof baca novelku?”


“Siapa lagi yang menulis novel itu? Orang lain? Kamu menyuruh orang lain? Atau kamu editor merangkap penulis lepas?” Aku menyinggung pekerjaannya sebagai penulis novel bukan editor dari pengakuannya. “Terlalu banyak kebohongan yang kamu buat, Yayai.”


“Apakah ada opsi kalau tidak menikah?”


“Tidak ada.” tegasku. “Aku ingin kamu meneruskan kepura-puraan kita sebagai pasangan di depan Mee dan Eyangku. Kalau tidak mungkin aku akan menuntutmu ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan, pencemaran nama baik, dan lain-lain.”


Yayai terlihat syok. Dia menghela napas.


“Prof maaf. Bukan maksudnya seperti ini. Bisakah Prof mengubah hukumannya untukku?”


“Hukuman? Aku nggak memberikan hukuman untukmu. Ini konsekuensi yang kamu buat sendiri.”


Aku mengeluarkan ponsel. Membaca sesuatu dengan keras.


“Dari uang yang sudah masuk ke rekeningmu, baru terbayar tiga juta. Jadi dari novelmu yang viral itu mungkin aku bisa anggap lunas sisanya karena kamu menggunakan pribadiku sebagai tokoh utama. Aku jadi yaaaah… lumayan terkenal.”


“Sama-sama.”


“Prof, bisakah kita bicara lagi masalah ini? Aku mungkin butuh berpikir.”


“Nggak ada yang perlu dipikirkan. Aku rasa bukannya kamu mencintaiku? Jadi urusan seperti menikah adalah hal yang gampang dilakukan?” Aku memiringkan kepalaku. “Kamu juga bisa meneruskan novelmu. Siapa tahu aku jatuh cinta padamu.”


Aku terlalu sinis mungkin padanya. Dia terlalu lembut bahkan dia tidak bisa marah karena kesalahannya. Dia menatapku agak lama. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.


“Aku perlu berpikir lebih lanjut lagi, Prof. Bolehkah? Hari ini aku terlalu lelah.”


“Oke.”


“Makasih Prof.”


Yayai membelakangiku dan berjalan menuju kamarnya. Mengunci dirinya. Aku sempat duduk beberapa lama mengirimi pesan singkat ke Levi. Tidak ada tanda-tanda Yayai ke kamar mandi atau ke dapur. Jadi, aku memutuskan untuk tidur saja di kamar.


Mission accomplished.


Tunggu. Belum.


Keesokan paginya, ketika aku bangun, aku pikir Yayai masih tertidur. Ternyata ketika aku mengecek ke kamarnya yang tidak terkunci, kosong. Aku masuk ke kamarnya. Melihat suasana kamarnya. Ada yang aneh. Ada beberapa barang yang tidak ada. Entah apa itu. Kamarnya dibilang berantakan juga tidak. Terlalu kosong juga iya.


Aku memutuskan untuk mencari nomor telepon Riko melalui Levi. Setelah aku mendapatkannya dan menelepon Riko untuk datang ke rumah.


“Prof, kapan terakhir lihat Bima?” tanya Riko dia membuka lemari Yayai.


“Kenapa? Jam sepuluhan lewat mungkin.”


“Kupikir Bima kayaknya minggat.” tebak Riko.


“Minggat?”


Buat apa?


“Kupikir dia harus menyelesaikan masalahnya sama aku. Beraninya dia kabur.” lanjutku.


“Aku tahu dia kabur ke mana, Prof. Dia mudah ditemukan.”


Aku membelalakkan mataku pada Riko.


“Aku akan susul dia. Enak aja dia lari dari masalahnya.”


“Bima nggak pernah punya masalah sebelumnya selama ini semenjak aku berteman sama dia.” jelas Riko.


Pantas saja.

__ADS_1


“Trus dia kabur kemana?”


“Tembi.”


“Tembi? Dimana itu?”


“Yogyakarta.”


 


 


(Bima)


 


Aku melihat padatnya orang-orang yang berada di stasiun ini. Sempat berdiri lama. Bingung karena aku memutuskan untuk pulang. Semalam aku sempat tidak tidur memikirkan perkataan Prof Ben. Aku baru bisa tidur ketika di kereta. Aku ingin menyerah saja. Semoga Riko tidak mencariku hari ini. Tapi, ketika aku menyalakan ponselku pas sampai di stasiun Yogyakarta, banyak sekali pesan singkat dari Prof Ben dan telepon masuk darinya.


Cepat-cepat aku memblokir aplikasi pesan singkat khusus Prof Ben dan juga memblokir teleponnya. Aku benar-benar tidak ingin diganggu olehnya. Hatiku hancur. Aku menyukainya tapi kenapa dia begitu jahat padaku? Ini juga berkaitan dengan novelku. Seandainya aku tidak menulis cerita perjalanan cintaku sama dia. Hidupku masih tenang. Aku sempat naik becak ke terminal untuk mencari mobil angkutan ke desaku. Di jalan menuju desaku yang hanya tidak lebih dari satu jam, aku sempat tidak memikirkan Prof Ben. Mungkin satu bulan di sini adalah ide yang bagus. Semoga aku masih bisa menulis untuk melanjutkan novelku atau menulis cerita lain.


Setelahnya aku turun di tengah jalan, untuk masuk ke rumahku aku harus masuk ke jalan yang bisa dilewati dua mobil kecil. Kiri kanannya sawah. Jadi aku menggunakan becak lagi. Koperku berat karena pakaianku diperkirakan untuk sebulan. Tidak jauh dari aku turun sekitar lima belas menit, sampailah aku di depan rumah yang berpagar batu bata yang tingginya sebahuku. Pagarnya tidak begitu terawat. Entahlah mungkin memang dibiarkan seperti itu. Aku sudah dua tahun mungkin tidak pulang. Waktu aku masuk dan menginjakkan halaman yang lumayan luas, aku melihat beberapa mobil terparkir di situ. Sepertinya Papa memiliki banyak tamu yang menginap.


Usaha penginapan di Desa Tembi, Bantul, Yogyakarta sudah Papa lakukan dalam 10 tahun terakhir ini. Semenjak beliau pensiun dini. Semenjak aku memutuskan untuk tinggal sendiri di ibukota. Aku menggeret koperku menuju lobi depan yang berupa pendopo.


“Mbak Sari?” Aku menyapa seorang wanita yang sudah lama ku kenal. Dia terlihat sibuk melihat layar komputernya.


Wanita ini terperangah. Kemudian dia berteriak bahagia. Dia langsung berdiri dan memutar mejanya lalu memelukku.


“BIMAAA!! Apa kabar?? Aku kangen eee…”


“Aku jugaaa, Mbak Sari.”


“Liburan?” tanyanya.


Aku menggeleng.


“Trus?”


“Cari inspirasi aja sekalian mau bantu-bantu di sini.”


Aku meyakinkan.


“Duuh, kenapa nggak bilang-bilang sih kalau mau datang? Kan bisa si Umar jemput di stasiun.”


“Nggak apa-apa, Mbak. Aku cuma mau ngetes aku masih ingat apa enggak pulang ke sini.” Aku tertawa.


“Becanda aja terus ih.”


Mbak Sari memelukku lagi.


“Papa sibuk?”


“Ada Bapak. Lagi ada tamu dari Jakarta.”


“Tamu yang nginap?”


“Bukan. Nggak tahu deh. Tamunya tiba-tiba aja datang.”


“Yaudah aku ke kamar dulu.”


“Eh tunggu, tak panggil Umar dulu. Itu kuncine nang ndi tho? Soalnya tiba-tiba Bapak juga suruh si Umi beresin kamarmu, Bim. Tapi kuncinya udah dipegang Umar. Cuma Umar iki kemana?”


Aku mengangguk-angguk. Sepertinya Papa punya feeling kalau anaknya mau pulang.


“Kalau gitu biar aku nunggu di dapur aja.”


“Sik.”


Mbak Sari sibuk menelepon dan berbicara cepat yang aku pikir dia menelepon Umar. Ternyata memang Umar ada di dapur. Kebetulan sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menggeret koperku sendiri ke dapur. Melewati lorong-lorong dan halaman penginapan. Asri sekali. Penginapan ini agak luas dan seperti labirin kalau tidak hapal. Karena dibuat seperti itu agar tamu bingung dan tidak masuk seenaknya ke rumahku. Karena penginapan ini di bagian tengah dan belakangnya ada rumah kecil. Yang isinya hanya dua kamar, satu ruang keluarga kecil, dan dua kamar mandi di setiap masing-masing kamarnya. Kamarku dan kamar Papa.


Ketika aku berjalan santai melihat ke sana ke mari, aku benar-benar berhalusinasi. Aku mendengar suara yang sangat amat ku kenal. Ada suara yang kukenal selain suara Papa. Aku menoleh ke sumber suara yang berada di lobi ruang makan penginapan.


“Bim! Kamu ini pulang nggak bilang-bilang!”


Papa berdiri dan menghampiriku. Dia memelukku dengan keras. Memegang pipiku setelahnya dengan kedua tangannya. Gemas.


Dia muncul di belakang Papaku.


Prof Ben.


“Kamu kok kurus?”


Papaku masih memegang kedua pipiku. Lalu memeriksa lenganku.


Aku terlalu syok untuk menerima kenyataan dua hari ini.


Tuhan, jika diizinkan tolong hapuskan ingatanku.


Agar aku menyukainya dengan kejadian-kejadian normal.


Prof Ben tersenyum puas.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2