Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
13 - Jantung yang Berdegup Kencang


__ADS_3

(Arthit Kob Sok Ratanarak)


Aku melihat dua orang ini datang. Wanita bernama Bima ini ceria sekali. Aku menyukainya. Sedangkan, Ben mengikutinya dengan wajah yang datar seperti biasa. Bukannya dia sudah menemukan wanitanya? Umur kalau sudah 30 tahun lebih dan terlalu gila kerja apalagi gelar sampai Profesor begini memang nampaknya kurang gairah hidup.


Bima mengambil tanganku dan menciumnya, bentuk penghormatannya dengan penuh penghayatan. Beda sekali dengan Ben. Menyalami tanganku saja.


“Udah lama ya, Eyang nunggunya?” Bima duduk di depanku. Ben mengikutinya.


“Kalau ngajak makan malam kenapa dadakan?” Ben komplain. Dia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Ingin kujewer anak ini. Seketika saja, tangan Bima berada di bawah. Kurasa Bima memberikan isyarat pada Ben agar tidak berbicara seperti itu lagi padaku.


Aku memanggil mereka untuk makan malam karena memang aku ingin mengetahui lebih dalam cucuku, Ben. Semenjak dia memutuskan beberapa belas tahun lalu untuk tinggal di Bangkok dan memutuskan 3 tahun terakhir ini untuk mengajar di universitas di Indonesia, itu yang membuat aku tidak mengetahui kehidupan cucuku sendiri. Bahkan ketika Ben memutuskan untuk mengajar di sini dan hanya memilih di bulan tertentu saja, aku jarang bertemu dengannya. Cuma Daria yang menemuinya di Bangkok. Itu pun kalau tidak terpaksa.


“Kamu masih mengajar?” Aku melihat Ben yang mengunyah makanannya dengan malas. Satu lagi aku jarang melihatnya makan. Aku kira Daria sempat memberitahuku kalau Ben sudah satu tahun ini menderita penyakit maag.


“Masih. Minggu depan aku mengajar terakhir. Selanjutnya aku fokus membuat buku saja dan tidak full mengajar.”


Aku tahu Ben memutuskan untuk membuka bisnisnya dua bulan ini. Aku yang membantunya mencarikan sebuah gedung yang disewanya sekarang.


“Kamu harus pintar-pintar membagi waktu. Seharusnya juga harus ada pendamping yang mengingatkanmu.” Aku melirik Bima. Bima terlihat salah tingkah dan tersenyum.


Aku tidak tahu orientasi Ben ini. Dia mengaku kalau dia pacaran dengan Bima. Aku tahu wanita ini, walaupun tidak terlalu dalam. Hanya aku tahu, wanita ini alasan Ben kabur ke Bangkok. Aku tidak tahu jalan pikiran Ben.


(Ben)


“Prof, jadi Eyang itu orang Thailand? Kok bisa?”


Kami dalam perjalanan pulang. Rasa penasaran Yayai ini besar sekali. Dia selalu banyak bertanya seperti anak kecil. Aku tidak tahu maksudnya, apa dia mencari tahu tentangku atau memang ini sifatnya.


“Ya bisa. Memangnya kenapa? Mamaku orang Indo, Papaku orang Thailand.”


“Oh, jadi Eyang itu orang tuanya Papanya Prof ya?”


“Apa kamu terlalu banyak bertanya seperti ini?” celetukku.


Yayai diam. Melihat ke arah jalanan.


“Eyang itu waktu dia muda datang ke Jakarta dan buka bisnis di sini.”


Yayai antusias kembali.


“Eyang menikah dengan orang mana?”


“Thailand juga.”


Yayai mengangguk.


“Menarik ya.” Dia terlihat senang. Selanjutnya Yayai tidak bertanya lagi. Hening. Waktu aku menginjak rem karena lampu merah di perempatan, aku sempat menoleh ke arah Yayai. Dia tidur pulas sekali.


Mungkin pertanyaannya untuk mengusir rasa kantuknya. Aku tahu dia terlihat menguap terus-terusan sedari pagi. Aku memperhatikannya waktu aku menjadi narasumber tadi pagi. Dia duduk di kursi peserta, dipojokan. Terlalu lelah mengurusiku sakit dan membuat presentasi untukku.


Aku mematikan mesin mobil dan Yayai pun bangun.


“Prof, maaf aku ketiduran. Udah sampe rumah ya?” Dia kaget. Aku sangat santai mendengarnya menggunakan bahasa yang tidak formal semenjak di restoran tadi.


“Menurutmu?”


“Siapa yang bukain pagar?”


“Menurutmu?”


“Maaf, maaf Prof. Seharusnya Prof bangunkan aku.”


Yayai membuka seat belt-nya dan turun dari mobil. Dia sempat membuka pintu belakang dan mengambil tasku. Dia membawanya ke dalam rumah dan meletakkannya di kamarku.


“Prof, besok penghuni baru di lantai atas, jam berapa mau datang?”


“Belum tahu.”


Yayai mengangguk.


“Yaudah kalau gitu.” Dia masuk ke kamarnya.

__ADS_1


“Berapa tadi biaya taxi?” Aku bertanya padanya. Kami sama-sama di depan pintu kamar masing-masing. Yayai hendak membuka pintu kamarnya.


“Taxi? Kenapa memangnya?” Yayai membatalkan untuk membuka pintu dan berbalik badan.


“Semua yang berhubungan denganku dan urusanku, aku yang bertanggung jawab. Aku ganti uangnya.”


“Nggak usah Prof.” Yayai menggoyangkan telapak tangannya.


“Akan aku tambahkan ke gajimu minggu ini. Hutangmu sudah terbayarkan tujuh ratus ribu rupiah.” ujarku. Membuka ponsel dan mengetik sesuatu perihal hutang Yayai. “Kamu perlu mendapatkan reward. Ini pertama kalinya aku cocok dengan orang yang bekerja denganku di kampus.” lanjutnya.


Yayai tersenyum getir. Tidak tahu apa maksudnya.


“Oke, Prof. Terima kasih.”


Yayai membalikkan badannya hendak membuka pintu.


“Tunggu. Besok apa kamu mau makan di luar?”


“Mungkin. Aku mau tidur saja.” ujarnya. Dia melihatku.


“Mulai besok, kamu bisa jadi asisten pribadiku. Aku ingin makan sesuatu.”


Aku melihat Yayai mengeraskan rahangnya. Dia berjalan ke arahku. Aku pun berjalan ke arahnya. Kami bertemu di tengah-tengah.


“Bisakah aku libur dulu, Prof?”


“Tidak bisa.” ketusku.


“Kenapa?”


“Aku orang yang sibuk. Kamu harus selalu sedia.”


Yayai menatapku.


“Kamu masih bisa bekerja dengan pekerjaanmu sendiri.”


“Besok mau makan apa, Prof?”


Dia tersenyum. Terpaksa.


Yayai mengelus lehernya lalu dadanya, kemudian memukul dadanya. Lucu sekali.


“Baik. Apa pantangannya?”


“Tidak ada.”


Yayai mengangguk.


“Apa Prof nggak tanya aku, aku bisa masak apa enggak?”


“Aku tidak peduli.” Aku mengangkat bahuku.


Aku tahu Yayai bisa memasak. Aku mengetahuinya dulu. Aku tidak tahu apa kemampuan memasaknya semakin bertambah apa semakin menurun.


Keesokan paginya,


Waktu aku bangun keesokan paginya karena ada telepon dari seseorang yang datang, sepertinya Yayai sudah bangun duluan. Karena tirai jendela ruang tamu sudah terbuka lebar. Aku berlari menuju pagar dan melihat mobil pick up dan seorang pria agak muda membawa sebuah kandang. Aku tersenyum lebar. Senang sekali.


“Chloe!!” Aku menyapanya. Suara mengeong pun terdengar. Sesuatu di dalam kandang itu langsung berputar-putar senang. “Jam berapa Mas sampainya?”


“Tadi subuh, Pak.” Pria itu memberikanku sebuah kertas dan pulpen sebagai tanda bukti bahwa aku yang menerima paketan tersebut. Paketan Chloe, kucing kesayanganku yang kubawa dari Bangkok.


“Terima kasih, Mas.” Aku memberikan kertasnya dan dia memberikanku kandang yang berisi Chloe.


Aku berjalan menuju halaman belakang. Menaruh kandang dan membukanya. Chloe menyerbuku.


“Khit thueng khun krap, Chloe!”**  Aku meremas-remas bulu Chloe. Kucing ini menjilat-jilat wajahku.


Sesaat aku melihat Yayai berdiri melihatku bermain dengan Chloe. Antara dia melihat Chloe atau aku. Aku mengabaikannya. Hanya dia menatapku lama sekali dan itu menggangguku.


(Bima)

__ADS_1


Waktu aku pulang dari pasar, pintu pagar tidak tergembok seperti biasanya. Nampaknya ada yang membuka pagarnya. Aku langsung melesat masuk ke dalam rumah. Betul, pintu pun tidak tertutup rapat. Terbuka lebar. Dengan masih membawa tas belanjaan aku berlari ke arah suara. Halaman belakang. Terdengar ribut-ribut. Aku mendapati Prof Ben duduk di rumput bersama seekor kucing. Pandangan itu membuatku terkesima dalam hitungan ribuan detik. Aku terdiam. Memperhatikan Prof Ben tertawa bermain dengan seekor kucing.


Bagaikan  mendapat tiupan dari surge, wajahku terasa segar sekali. Jantungku mulai berdegup kencang. Kenapa? Rasanya mau copot dan bahkan aku bisa mendengar degupan jantungku sendiri. Aku masih memperhatikan Prof Ben.


“Kamu kenapa? Nggak pernah liat kucing?”



Aku tersadar.


Prof Ben kembali ke wajah datarnya walaupun masih menyisakan senyum sedikit. Wajahnya tampan sekali. Kemudian kucing yang dipegang Prof Ben lompat dari dirinya dan menyerbuku. Mengelus-elus kakiku dengan badannya.


“Dia menyukaimu.” celetuknya.


Prof Ben berdiri. Dia menyambar belanjaanku yang masih kupegang. Mulutku tidak bisa bergerak.


“Kamu mau masak apa?”


Prof Ben berjalan menuju dapur. Meletakkan belanjaanku. Aku masih terpaku di dekat pintu geser halaman belakang. Aku menghampiri Prof Ben ke dapur dan mencuci tanganku di wastafel.


“Masak apa?”


“Ha? Masak? Oh masak. Aku mau masak soto ayam.” jawabku terbata-bata tanpa melihat wajahnya. Jantungku masih berdegup kencang. Kenapa denganku?


Sedangkan kucing ini masih saja mendekatiku.


“Dia ingin digendong.” ujar Prof Ben. Dia mendekatiku. Suaranya dekat sekali dengan wajahku. Sontak aku menjauh darinya. Dia sempat bingung melihat reaksinya. Pagi ini aku sangat pemalu melihatnya. “Kamu kenapa? Wajahmu merah sekali. Sakit?”


Wajahku merah? Gawat. Aku mengelus pipiku sendiri.


“Nggak sakit, Prof. Panas saja di luar.”


“Panas pagi itu bagus.”


Aku terpaksa tersenyum.


Aku akhirnya menggendong Chloe. Kucing yang setengah kucing kampung menurutku kalau di Indonesia dan seketika pelan-pelan detak jantungku yang berdegup kencang perlahan-lahan normal kembali. Aku menghembuskan nafasku ke wajah kucing tersebut hingga kucing itu memejamkan matanya. Dia begitu tenang.


Prof Ben tersenyum.


“Namanya Chloe.” ujarnya.


“Chloe?” Aku mengerutkan dahiku. Sepertinya aku sangat familiar dengan nama Chloe.


“Seseorang memberikan namanya untuk Chloe. Umurnya mungkin sudah empat belas tahun.”


Aku membelalakkan mataku. Sudah tua sekali. Tapi kucing ini masih cantik dan lincah.


“Tetap sehat dan berumurlah panjang.” ujarku pelan ke telinga Chloe. Penuh pengharapan. Aku menyukai Chloe.


“Kucing ini kucing dari Indo. Aku membawanya ke Bangkok dan sekarang aku bawa pulang.” lanjut Prof Ben lagi.


Aku memperhatikan wajah Prof Ben yang berseri-seri. Hari ini berbeda sekali. Mungkin karena kucing kesayangannya datang.


“Jadi penghuni barunya jam berapa datang? Aku bisa menyesuaikan masakannya.”


“Nggak ada. Penghuni barunya ya Chloe ini.” Prof Ben menunjuk ke arah Chloe.


Aku mengedipkan mataku. Loh? Jadi maksudnya?


“Tapi siapa yang ada di kamar atas?”


“Nggak ada.” Prof Ben menggeleng. “Memangnya ada apa di kamar atas?”


Aku terdiam.


“Habis masak dan makan siang, bantu aku membersihkan kamar di atas.”


Prof Ben merebut Chloe dari gendonganku dan melenggang pergi dari dapur. Waktu tanganku bersentuhan dengan kulit Prof Ben, jantungku berdegup kencang lagi. Padahal dari kemarin aku seperti biasa memegang tangannya. Bahkan memangkunya waktu dia terkapar di lantai kemarin.


Wajahku memanas lagi. Mungkin memerah lagi.

__ADS_1


***


*** Aku kangen kamu, Chloe


__ADS_2