Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
28 - Seperti Terjebak


__ADS_3

(Bima)


 


Riko dan Tasya menatapku tajam. Riko bertolak pinggang dan Tasya melipat kedua tangannya ke dada.


“Lanjutkan pembicaraan lo beberapa hari yang lalu.” perintah Riko.


“Kalian pagi-pagi sekali datang ke sini.” ujarku pelan. Aku duduk di kursi meja kerjaku di kamar.


“Jadi bagaimana, Bim?” Tasya bertanya.


“Oke oke… gue memutuskan untuk hiatus saja dari menulis novel.”


Riko dan Tasya berteriak.


“Bukan hiatus dari pekerjaan. Tapi menyetop sementara novel yang ini.”


“Maksudnya? Novel yang ada hubungannya sama si Ben itu?” Riko bertanya membuat jelas pernyataanku.


Aku mengangguk.


“Elo gila. Ini kan sumber pendapatan perusahaan dan elo. Mana mungkin diberhentikan?”


Tasya melihat pacarnya dan setuju.


“Gue bikin cerita lain aja.”


“Semua penggemar lo harus tahu juga kalau elo akan menikah. Mereka pasti tergila-gila dengan sosok Prof Kai yang ternyata si Ben.” jelas Riko.


“Strategi perusahaan.”


“Pastilah. Perusahaan akan menggiring seperti itu.”


Aku sempat bersin berkali-kali di depan Riko dan Tasya. Baguslah, agar mereka cepat pergi.


“Gue akan menyetop cerita gue yang ini dan akan mengarahkan ke sebuah kegagalan. Lalu gue akan memikirkan selanjutnya bagaimana novel First Love ini akan berlanjut sambil gue bikin judul baru.”


“Gue jamin, Karen pasti marah.”


“Gue akan jelaskan ke Karen. Soalnya gue nggak mau nikah sama Prof Ben.”


“HAAAAAAAAA!!!” Riko dan Tasya berteriak kembali.


“Jadi, ada kemungkinan imajinasi gue akan stop mengenail alur ceritanya.”


Riko terduduk. Dia nampak memegang kepalanya.


Tasya memukul dadanya. Bukan terpukul mendengar sahabatnya akan membatalkan pernikahannya tetapi terpukul karena aku bisa sesantai ini.


“Gue udah memutuskan untuk menghilangkan rasa cinta gue ke Prof Ben.”


“Dengan cara?” tuntut Tasya.


“Ya, gue gak mau nikah sama dia dan gue akan pindah dari rumah ini.”


“Ya Tuhan…” Riko semakin memegang kepalanya. Dia memijat dahinya sekarang.


“Gue harus mengamankan posisi gue sebagai novelis dan gue sudah punya fanbase. Jadi jangan sampe gue melakukan tindakan yang gegabah. Soalnya gue takut viral atau apalah. Ini Indonesia.”


Aku mengangkat bahuku.


“Apa Levi harus tahu ini?”


Aku kaget.


“Jangan bilang apa-apa ke dia. Dia cuma tahu gue tidak meneruskan First Love. Itu aja.”


Di luar kamar Bima, Prof Ben yang menggendong Chloe tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka bertiga. Prof Ben geram. Dia diam-diam masuk ke kamarnya dan merencakan sesuatu.


“Gue tetep gak setuju.” Riko menolak.


“Yang mana nggak setuju?” tanyaku.


“Menikahlah dengan dia. Perasaan gue kurang yakin elo akan lolos begitu aja dengan mulus.”


Riko mengerutkan dahinya.


“Loh? Bukan dia yang gue mau kok?”


“Kok lo mencla mencle sih, Bim?” Tasya agak kesal. “Lo bilang lo cinta sama dia.”


“Kayaknya enggak deh.” Perasaanku menolak.


 


 


(Ben)


 


TOK TOK TOK


Pintu kamarku diketuk. Muncul Tasya dan Riko, mereka masuk ke kamarku dengan santai.


“Prof aku bawakan nasi Hainan. Nanti minta Bima panaskan ya.” ujar Tasya.


“Thank’s.”


“Speed recovery.” ujar Riko.


“Kalau gitu kami pulang ya, Prof. Semoga kalian di rumah ini akur-akur saja.”


Sepeninggal Riko dan Tasya, aku sempat menelepon seseorang untuk membelikan sesuatu. Kemudian,


“Prof, mau makan?” tanya Yayai dari balik pintu. Dia sudah bisa berjalan walaupun pergelangan kakinya masih sakit. Dia mengganti koyonya dengan yang baru.


“Nanti aja.”


“Jangan telat lagi, Prof.” Yayai mengingatkan.


Setengah jam kemudian, aku sempat keluar kamar dan memanggil Yayai untuk makan di meja makan. Walaupun Yayai sudah sempat makan sebelumnya. Dia tidak banyak bicara. Dia memainkan ponselnya di sampingku. Biasanya dia mengamatiku makan. Kali ini berbeda.


Waktu aku makan, seseorang memencet bel rumah. Yayai membukanya dan menerima paketan dari kurir yang ku telepon tadi.


“Apa ini, Prof?” tanya Yayai penasaran.


“Obat dari teman.” jelasku.


Ketika aku selesai makan, Yayai pun menghilang kembali. Masuk ke kamar. Aku pun masuk ke kamarku sendiri.  Sebetulnya aku gelisah sekali di dalam kamar. Rasanya aku ingin memarahi Yayai. Saking gelisahnya, aku melihat terus-terusan ke arah jam dinding. Hampir satu jam berlalu. Aku masih mendengar Yayai keluar dari kamar dan masuk ke kamar mandi lalu keluar sambil bersin.


Oke, aku memutuskan untuk keluar kamar dan berbicara dengan Yayai. Ketika aku membuka pintu kamar, Yayai pun sudah ada di depan kamarnya. Wajahnya terlihat merana. Dia mengikat rambutnya tinggi sekali.


“Prof, maaf apa AC-ku rusak?”


“Ha?”


“Kayaknya panas banget di dalam kamar.”


Yayai berjalan dan menerobos masuk ke kamarku. Dia sempat berdiri di dalam kamar.


“Kok di sini juga panas?”


“Aku nggak merasa kepanasan.” Aku mengangkat bahuku.


Yayai keluar dari kamarku.


“Coba Prof, cek kamarku. Kalau nggak kenapa napa berarti ada yang salah sama badanku.”


Aku mengikuti Yayai masuk ke kamarnya. Dia mengambil remote AC dan memberikannya padaku. Aku melihat suhu ruangan yang tertera di dalam remote-nya. Ini suhu terendah! Dan memang ruangannya dingin sekali.


“Ini udah bener. Ruangannya dingin banget.” ujarku. “Aku aja kedinginan.” Memang iya kok.


Yayai tidak memperhatikanku. Dia hanya gelisah sambil memegang tengkuk lehernya.


“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.


“Badanku aneh.”


“Aneh kenapa?” Aku memiringkan kepalaku. “Salah minum obat?”


“Aku nggak minum obat apa-apa.”


Tapi Yayai masih sempat bersin. Flunya masih saja menyerangnya. Aku kasihan padanya. Seketika tingkah laku Yayai aneh. Dia membuka piyamanya, celana pendeknya dan bajunya. Hanya tersisa ****** ***** dan penyangga dadanya. Kemudian dia langsung duduk di ujung tempat tidur. Tubuhnya yang setengah telanjang terlihat mulus sekali.


Aku menarik selimut dan menutupi tubuh Yayai segera. Hingga Yayai menolak memakai selimut dan selimut tersebut ditariknya hingga aku jatuh tersungkur ke tubuhnya. Bibirku tepat mengenai bahunya yang mulus. Aku langsung berdiri seketika. Aku takut Yayai mengomel. Takut dikira aku sengaja mengenai tubuhnya.


Yayai menyingkapkan selimut dari tubuhnya dengan kesal.


Dia berdiri berhadapan denganku.


Tiba-tiba dia memelukku.


Jantungku berdegup kencang. Pelukannya kencang sekali. Awalnya aku tidak membalas pelukannya, hanya… aku tergoda. Sial. Pikiranku kemana-mana.


“Prof, aku kenapa ya? Tapi setelah pelukan sama Prof terasa dingin.”


“Kamu aneh.” celetukku. Aku tidak sengaja berbicara di dekat telinganya, yang ternyata membuatnya dia bergidik.


Yayai memperlihatkan wajahnya padaku. Napasnya memburu. Matanya terpejam.


“Mungkin, Prof mau menciumku?”


Aku membelalakkan mataku.

__ADS_1


“Kamu nggak mabuk?”


“Aku mabuk karena cinta.”


“Cinta sama aku?” Aku memastikan.


Yayai mengangguk cepat dan tersenyum.


Senyumannya menawan. Jantungku rasanya mau copot. Aku menyambar bibirnya. Kali ini… kali ini bibirnya terbuka. Dia malah melahap bibirku cepat. Kedua tangannya yang semula berada di pinggangku, sekarang naik merangkul leherku.


“Kamu bilang, kamu udah nggak cinta lagi sama aku?” Aku melepas ciumannya.


“Prof!!!!” Yayai marah ciumannya dilepas. “Aku nggak pernah jujur apa pun yang aku bilang ke Prof. Termasuk aku nggak cinta lagi sama Prof.”


Yayai menyambar bibirku kembali. Di saat kami berciuman panas, aku menggiring Yayai perlahan ke tempat tidur.


Dalam hati, aku berteriak untuk disadarkan. Hanya tidak bisa. Otakku menyuruh untuk tetap berciuman dengan Yayai.


Yayai menarik rambutku ketika aku menciumi perutnya yang tidak tertutup selembar kain pun. Kedua kakinya mengikat punggungku.


“Yayai kita belum menikah.” ujarku pelan. Berbisik.


“Sebelum menikah dan sesudah menikah apa bedanya? Prof tetap memaksaku untuk menikah.”


Aku tersenyum. Aku kembali memangsa bibirnya. Kalau bibirnya terbuka seperti ini, dia adalah pencium ulung. Aku takjub sekali.


Tanganku sudah bergerilya di bagian intimnya. Desahan Yayai mulai terdengar. Ini membuatku semangat. Akhirnya aku melepaskan penyangga dadanya dan sekarang lidahku sibuk sekali. Sesaat itu juga Yayai menarik kaosku dan aku melepas celanaku. Desahan demi desahan terdengar. Aku menangkap suara yang indah. Hanya aku tidak ingin kelewat batas. Dengan permainanku aku memuaskan Yayai hingga ke titik puncaknya.


 


 


(Bima)


 


Aku tidak tahu kenapa kamar ini begitu dingin. Bahuku sampai kaku saking dinginnya. Akhirnya, aku menarik selimut hingga menutupi bahuku yang telanjang. Seingatku, aku memakai piyama lengan pendek, bukan piyama yang menggunakan satu tali. Hal yang aneh, aku merasakan punggungku hangat dan pinggangku juga. Aku masuk ke dalam selimut untuk menutupi wajahku yang dingin. Tiba-tiba, aku melihat sebuah tangan yang agak besar memelukku.


Aku mundur sedikit dan menoleh ke belakang,


“AAAAAAAAAAAKKKK” Aku berteriak. Menarik selimut menutupi tubuhku yang… telanjang!!!


Waktu aku menarik selimut ternyata aku bisa melihat jelas Prof Ben tidur mengubah posisi dari memelukku dan sekarang telentang, juga telanjang!!


Prof Ben menarik selimut yang kutarik untuk menutupi *********** dengan mata terpejam.


“Prof, kenapa di sini!!!!”


“Yayai jangan berteriak.” Dia menutup telinganya.


“Aku tanya kenapa kamu di sini, Prof!!!! Keluar dari sini!!!”


“Yayai kamu janji sama aku kalau kamu nggak manggil aku lagi dengan sebutan Prof.”


“Aku nggak pernah janji apa-apa!!!!” Aku masih berteriak. Tubuhku bergetar. Ada perasaan aneh, marah, kacau, panik, dan entahlah.


“Semalam kamu janjinya kok.”


Prof Ben menutup kepalanya dengan bantal.


“Aku akan lapor polisi kalau kamu nggak keluar dari sini!!!” Aku sungguh histeris. Duniaku serasa runtuh.


Prof Ben berbalik. Dia masih tiduran. Dia sekarang sepenuhnya sadar.


“Harusnya kamu malu kalau kamu yang lapor polisi.” ujarnya datar.


Aku mencari-cari ponselku di kasur, tapi tidak ada. Prof Ben bangkit dan mengambil ponselku dan memberikannya padaku.


“Ini, coba. Silahkan hubungi polisi.”


Sementara itu aku sibuk mencari nomor polisi…


“Kamu nggak mabuk?”


“Aku mabuk karena cinta.”


“Cinta sama aku?”


Aku mendengar suaraku sendiri dari ponsel Prof Ben. Aku kaget. Benar-benar kaget.


“Rekaman ini yang harusnya aku laporkan polisi. Karena kamu tiba-tiba menciumku dan mengajakku berhubungan badan.”


Aku lemas.


“Dengarkan saja sendiri. Aku sudah kirimkan rekamannya semalam di emailmu.”


Lalu dia kembali tidur. Sedangkan aku, tentu saja mendengarkan rekaman suara itu. Yang tidak lain tidak bukan adalah suaraku sendiri. Tidak dibuat-buat. Seketika aku mengingatnya samar. Kejadian semalam.


Tanganku bergetar. Hingga ponselku terjatuh.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Aku mencintainya, tapi tidak seperti ini caranya. Aku tidak pernah mencintai orang lain. Bahkan, dengan Prof Ben pun aku sulit mengekspresikan cintaku padanya. Hanya, cara seperti ini salah.


“Prof…” Aku memegang punggungnya untuk membangunkannya.


“Hmmm…” jawabnya.


“Apa semalam aku mabuk?”


“Sepertinya kamu salah minum obat.” celetuknya. Dia masih membelakangiku.


Aku terdiam. Mengingat. Sepertinya aku memang kacau. Mungkin aku sedang setres.


Prof Ben berbalik kembali. Dia melihatku. Sekarang dia duduk berhadapan denganku. Dia hanya menutupi *********** dengan selimut.


“Apa kamu berniat untuk tidak menikah denganku?” tanyanya tiba-tiba menuntut.


Aku terperangah. Dia seperti membaca pikiranku.


“Aku udah bilang kan? Kamu harus menikah denganku? Selesaikan novelnya, kamu terkenal, aku aman, membahagiakan Mee dan Eyang. Aku juga fokus dengan targetku.”


Aku terdiam. Tertunduk.


Aku ingat ide dan percakapanku dengan Riko dan Tasya kemarin. Gagal sudah.


“Jangan kabur. Aku masih bisa menemukanmu, Yayai. Aku sudah pintar membaca isi pikiranmu. Tidak seperti dulu. Aku terlalu percaya dengan perkataanmu. Tapi aku malah dilupakan.”


Air mataku nyaris memenuhi kedua mataku. Aku tidak bisa berpikir sama sekali dan kacau. Bahkan aku tidak paham apa maksud perkataannya barusan.


Prof Ben membetulkan selimut yang membungkus tubuhku.


“Aku tidak melakukan apa-apa dengan… hmmm… intinya kamu masih perawan.”


Aku menatapnya. Penuh harapan. Ada secercah harapan. Hanya sedikit.


“Aku hanya memuaskanmu. Kamu juga memuaskanku. Aku ingat janjiku. Tidak akan ku sentuh keperawananmu sebelum kita menikah.”


Seketika aku menangis. Air mataku tumpah. Prof Ben memelukku. Menenangkanku. Salah siapa ini? Aku rasanya ingin bunuh diri. Menghilang.


“Jangan berikan tubuhmu ke orang lain selain aku.” ujarnya lagi.


Maksudnya, setelah menikah pun dia ingin tubuhku? Tangisku semakin menjadi-jadi.


Di lain sisi, pelukannya menenangkan. Dia membaringkanku ke tempat tidur masih dalam pelukannya. Dia menciumi kepalaku bertubi-tubi. Membelai rambutku. Membetulkan selimut yang membungkus tubuhku. Setelahnya aku tertidur karena lelah menangis. Aku masih bisa merasakan Prof Ben mencium bibirku dan mengeluh karena kamar ini suhunya dingin sekali. Dia berdiri untuk menambah suhu dan kembali memelukku.


 


 


 


(Ben)


 


“Ben??” Seseorang memegang telapak kakiku. “Ben?? Bangun!” Suara wanita ini sangat familiar di telingaku. Hanya aku mendengarnya sayup-sayup saja. Suaranya setengah berbisik. Dia menggoyang-goyangkan telapak kakiku dan aku terpaksa membuka mataku.


“Mee??!!” Aku kaget setengah mati. Pasalnya aku dalam keadaan telanjang. Bagian kemaluanku hanya tertutup selimut. “Kenapa ada di sini?”


Wanita itu ternyata Mee. Dia terlihat malu melihat aku atau entah terkejut melihat anaknya tidur dengan wanita dalam keadaan telanjang di kamar wanita itu.


“Loh? Mee lihat anak Mee ke sini. Katanya sakit?” bisik Mee.


“Mee keluar dulu.” Aku mengusir Mee. Sontak Mee melemparkan celana pendek ke arahku.


“Mee udah sering lihat kamu telanjang.”


Sekarang kan beda!


Untungnya Yayai benar-benar tidak bergeming. Dia benar-benar tertidur dan tidak mendengar apa pun.


Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar dan menemui Mee yang ada di dapur.


“Kamu sudah makan?” tanya Mee.


Aku merindukan hal seperti ini. Di saat aku sebetulnya harus bergantung kepada seseorang. Orang tuaku sendiri.


“Belum sama sekali.”


Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aku memang benar-benar lapar. Hari sudah siang. Mee sibuk menuangkan makanan yang dibawanya di panci dan menghangatkannya.


“Tahu darimana aku sakit?”


“Bima. Mee telepon Bima kemarin.”

__ADS_1


Aku mengangguk sambil bertopang dagu.


“Kamu nggak bangunin Bima sekalian?”


“Mee…”


Aku melirik Mee dengan tatapan yang penuh arti. Maksudnya tolong jangan tanya macam-macam.


“Jadi, bagaimana ceritanya?”


Tuh kan!


“Kamu nggak nyakitin Bima kan?”


“Nyakitin gimana?”


Mee terdiam.


“Enggak! Aman!” Aku menjawab agar tidak ada pertanyaan lain yang bermunculan.


“Baguslah.” kata Mee.


Mee melihat jam tangannya.


“Sebetulnya, ada beberapa gedung yang sudah Mee lirik untuk pernikahan kalian. Mee mau tanya pendapat Bima.”


“Tanya saja pendapatku.” Aku mengusulkan.


“Ah kamu, tanya sama kamu sama aja tanya sama Chloe.” Mee melirik Chloe yang duduk di kursi makan.


Seketika saja, pintu kamar terbuka. Yayai keluar dengan tampang yang kusut. Matanya bengkak. Dia hanya menoleh ke dapur dan berhenti ketika langkahnya hendak ke kamar mandi.


“Tante?!” Dia terkejut.


“Hai. Ayo makan. Tante bawain makanan loh dari rumah. Sini. Udah Tante panasin.” Mee melambaikan tangannya menyuruh Yayai untuk duduk di sampingku.


Aku mengusir Chloe dan Yayai pun duduk di sebelahku, hanya dia menarik kursinya dan menjauh dariku. Yayai hanya mengambil segelas air dan meminumnya sekali teguk.


Yayai tampak pendiam.


Mee melirikku. Seolah bertanya, kenapa dengan Yayai?


Aku menarik kaki kursi Yayai dan menarik ikat rambut yang hampir jatuh. Kemudian merapihkan rambutnya. Yayai terkejut dan terasa risih.


“Diam. Aku betulkan.” perintahku.


Mee pura-pura sibuk mengambil makanan di piring untuk Yayai.


“Kamu mau sambel, Bim?”


“Boleh Tante.”


“Segini cukup?”


“Tambah lagi.”


“Eh ini pedes loh.”


“Nggak apa-apa.”


Tiba-tiba Yayai bersin berkali-kali. Dia mengambil tisu yang ada di pinggir meja, seketika kepalanya tertahan olehku yang sedang merapihkan rambutnya dan mengikatnya kembali seperti kuda poni.


Yayai tidak meringis tapi dia memegang kepalanya.


“Jangan kamu tarik begitu, Ben. Sakit itu rambutnya Bima.” kata Mee. Yayai tersenyum getir.


“Done.” kataku.


“Ayo dimakan.”


“Makasih Tante.”


Aku, Mee, dan Yayai makan seperti biasa. Mee sepertinya sudah kehabisan bahan pembicaraan. Pada akhirnya Mee membuka topik pada Yayai mengenai pernikahan kami.


“Tante ada referensi beberapa gedung untuk pernikahan kalian. Tante sih berharap kamu yang milih, Bim.”


Yayai terdiam. Dia makan dengan menunduk. Aku melihat air matanya menetes. Dia sibuk mengambil tisu dan mengelap air matanya.


Mee jadi salah tingkah.


“Iya Tante. Boleh. Hari ini kita lihat atau bagaimana?” Suara Yayai terdengar sendu.


“Yayai lagi sakit juga. Flu.” kataku memberitahu Mee.


“Loh? Kamu yang bilang Ben sakit, ternyata kamu sakit juga?” Mee menatap Yayai.


Yayai hanya tersenyum kecil.


“Cuma flu.” ujarnya.


“Sempat terkilir. Pergelangan kakinya masih bengkak. Jalannya masih pincang.” Aku memberitahu lagi.


“Terkilir dimana?” tanya Mee.


“Di ruang tengah. Nggak tahu kenapa bisa begitu.” jawabku.


Yayai hanya diam. Dia sebetulnya mau menjawab tapi tertahan oleh perkataanku.


“Memang begitu. Kalau mau menikah ada aja cobaan.”


Yayai mengangguk.


“Kalau mau, besok aku antar Yayai ke rumah Mee. Dari situ kalian bisa pergi mungkin?” Aku melihat Yayai. Dia juga melihatku. Matanya benar-benar bengkak. “Besok kamu sibuk?”


“Boleh aku ke kantor dulu?”


“Iya, aku antar juga ke kantor.”


Setelah kesepakatan itu, Yayai sepertinya risih mengobrol dengan kami di meja makan. Yayai izin untuk mandi.


“Kamu yakin mau mandi?” serbuku di halaman belakang.Yayai sedang mengambil handuknya. Mee sedang di ruang tengah menonton acara TV.


“Iya. Kenapa memang?”


“Kakimu.”


“Udah nggak apa-apa.” Yayai memutar-mutar kakinya yang terkilir.


“Jalanmu masih pincang. Kalau kamu terpeleset di kamar mandi bagaimana?”


“Aku tinggal berteriak. Kamu bisa mendobrak pintunya kembali. Oh, kamu bisa juga melihat tubuhku yang bugil. Nggak apa-apa kan?”


Ucapan Yayai sebetulnya memancing emosiku. Dia sudah berani berbicara tidak sopan padaku. Yang aku lakukan hanya menghela napas panjang dan tersenyum.


“Yasudah. Teriaklah kalau terpeleset.”


Yayai melenggang pergi sambil memegang handuknya.


Selang 30 menit kemudian,


KLONTANG! BRAAK!


“Eh apa itu, Ben!!??” kaget Mee.


“AAAAAAAAKKKKKKKK!!” Suara teriakan Yayai menggetarkan seisi rumah. Aku berlari secepat kilat dan mendobrak pintu untuk yang kedua kalinya.


Yayai jatuh terduduk, untungnya berbalut handuk. Air keluar dari pipa wastafel yang lagi-lagi lepas. Mee menyerbu masuk membantu Yayai berdiri hanya kakinya terlipat dan kemungkinan besar akan membengkak kembali. Tiba-tiba, Yayai dan Mee berteriak histeris.


“Ada apa sih!!!” Aku juga ikutan berteriak. Nadaku tinggi. Aku hampir basah karena air mengalir agak deras.


“KECOAK!!!!” teriak Mee dan Yayai.


Wanita-wanita ini membuatku setres.


 


 


***


VOTE DAN FOLLOW nya YAAAA


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2