
(Ben)
“Pulang?”
“Iya pulang. Katanya mau bikin makan malam buatmu.”
Setelah dari restoran dan bertemu laki-laki yang bernama Marcel, aku merasa cemburu. Jadi aku memutuskan untuk menaruh Yayai di tempat Mee. Mee sedang di butik yang tidak jauh dari kantorku. Dia sedang melihat-lihat baju pernikahan. Padahal, aku sudah membatalkan janji dengan Mee. Sebetulnya, aku mengantar Yayai ke butik bertemu Mee, agar dia ingat bahwa dia akan menikah denganku. Aku harap dia tidak akan bisa bertemu dengan pria mana pun, berpelukan dengan bebas seperti itu, tanpa aku mengenalnya siapa si Marcel itu. Aku terlalu posesif untuk hal ini. Aku tidak bisa milikku dipegang oleh orang lain. Bahkan sahabatnya sekali pun, Riko.
“Sudah pilih bajunya?” tanyaku pada Mee.
“Sudah. Pilihan Bima bagus sekali. Seleranya tinggi juga.” Mee sangat antusias. Terdengar senang.
Aku sedang di depan ruang produksi. Hingga lupa waktu untuk menghubungi Yayai. Ternyata dia memang tidak bisa dilepas. Pikiran-pikiran aneh ku datang. Bagaimana kalau dia hanya beralasan dengan Mee, kalau dia bukan pulang ke rumah melainkan bertemu dengan si Marcel?
“Pak, yang menit ke delapan belas mau diapakan?” Seorang editor berkaca mata tebal muncul dari balik pintu.
Aku menoleh ke arahnya dan menghilangkan kegusaranku. Sebetulnya, aku selalu melihat layar ponselku, berharap Yayai menghubungiku. Nyatanya tidak. Di dalam studio, aku diam-diam menghubungi Yayai dan…
“Halo?”
“Kamu dimana?” bisikku.
Kemudian mati. Tunggu. Aku melihat ponselku kembali. Memastikan apakah sinyalku yang membuat sambungan teleponku terputus atau bagaimana? Ah tidak mungkin. Sinyalku penuh kok. Aku mengingat suara Yayai tadi, sepertinya sedang di luar. Tidak di rumah. Pukul 10 malam?
“Saya ada urusan. Kalau ada apa-apa bisa hubungi saya.” Akhirnya aku berbicara dengan si editor. Aku menepuk pundaknya.
“Baik, Pak.”
“Saya stand by.” kataku sambil menunjukkan ponselku.
“Oke, Pak.” Si editor menunjukkan jempolnya padaku.
Lalu aku keluar studio dan masuk ke ruanganku sebentar dan pulang. Mengendarai mobil dengan tergesa-gesa. Di dalam perjalanan, aku masih mencoba menghubungi Yayai. Tapi ponselnya benar-benar tidak aktif. Ini kebiasaannya.
Aku sampai rumah, hanya situasi rumah agak ganjil. Pintu rumah terbuka lebar dan ada dua pasang sepatu pria.
“Oh, Mari sama Jack lucu banget.” teriak Yayai.
Dua orang laki-laki di depan Yayai sedang duduk di halaman belakang, memperhatikan dua ekor kucing Persia yang masih agak kecil dan bermain dengan Chloe. Aku mengerutkan dahiku, Chloe sedang berinteraksi dengan dua kucing lain. Salah satu pria adalah pria si tetangga yang dulu membetulkan pipa wastafel yang rusak, sedangkan pria yang satunya lagi adalah pria tampan dan agak lebih muda dari Yayai.
“Prof? Coba sini, Chloe mau berinteraksi sama anak-anak kucing ini.” Yayai langsung melihatku. Dia tersenyum senang. Dia mengulurkan tangannya padaku. Mungkin bermaksud untuk duduk bersamaku memperhatikan Chloe yang lincah sekali bermain. Aku meraih tangan Yayai. Memegangnya dan duduk di sebelahnya.
“Malam, Prof.” sapa si pria tetangga dan pria yang lebih muda tampak tersenyum padaku.
“Malam.” jawabku. Ini sudah malam. Jelas sekali. Seharusnya kalian pulang saja. Celetukku dalam hati.
“Prof, berapa umur Chloe?”
“Mungkin empat belas? Lima belas tahun?!” ujarku agak lupa.
“Wah, Om keren banget. Sehat-sehat selalu ya, Chloe.” kata si pria paling muda. Dia membelai Chloe dengan kasih sayang.
Om? Sialan banget! Memangnya aku setua itu dipanggil om?
“Prof, sudah makan?” tanya Yayai. Kedua pria itu sudah pergi ketika aku selesai mandi. Yayai langsung menanyakan pertanyaan tersebut padaku ketika aku keluar dari kamar mandi.
“Belum.”
“Kalau begitu mau makan apa? Aku bikinkan.”
“Katanya kamu masak?” Aku heran melihat meja makan yang kosong.
“Oh, nggak sempat. Aku ngejar supermarket sebelum tutup.”
“Kenapa kamu nggak telepon aku kalau kamu sudah selesai di butik?”
Yayai menatapku. Aku memulai debatku. Sepertinya dia agak malas meladeniku.
“Prof kan sudah beberapa hari gak kerja. Aku pikir ya Prof memang sibuk. Jadi aku bisa pulang sendiri.” senyumnya. Dia menuang air mineral ke gelasnya.
“Dengan kakimu yang seperti itu?!”
Aku mencari kakinya yang tertutup meja makan.
“Aku sudah baikan. Sepertinya memang harus dibawa jalan-jalan.” ucapnya. Masih tersenyum.
“Lalu?”
Yayai sempat terhenti memikirkan sesuatu. Alasan yang bagus mungkin agar aku tidak berdebat padanya malam ini.
“Aku kena macet. Aku pikir aku harus ke supermarket. Ternyata sampai rumah udah agak malam dan tetangga datang.”
“Datang hampir larut malam?”
Yayai hendal berjalan menghindariku.
“Sudah terbiasa ya kalau laki-laki datang ke sini? Apa karena ini rumah kosan?” Aku mencecar Yayai. Dia hanya terus berjalan menuju kamarnya. “Terus dengan gampangnya kamu memeluk laki-laki? Semua laki-laki?”
“Ha? Maksudnya apa sih?” Yayai berhenti. Dia membalikkan badannya.
“Tadi siang kamu dengan gampangnya peluk-pelukan sama temanmu yang ketemu di restoran. Kamu pegang tangannya, lengannya, terus…”
“Aku dekat sekali sama dia dulu.” balas Yayai memotong.
“Mantan?”
“Iya.”
“Ohhh… betulkan. Kalau bukan mantan berarti kamu nggak akan peluk-pelukan seperti itu.”
“Aku rasa itu wajar, karena kami teman sekarang.”
__ADS_1
“Nggak wajarlah! Dia kan mantanmu!”
Wajahku panas. Yayai ini kenapa begitu polos sekali? Bahkan jika aku jadi mantannya, aku akan mengambil kesempatan. Naluri lelaki.
“Prof kamu kenapa sih?! Seharian bikin aku jengkel.”
Aku memegang dahiku. Terlalu kesal. Jadinya, aku melempar handuk ke sofa dan masuk ke kamar dengan membanting pintu.
“Ih kayak anak kecil banget!” Aku mendengar suara Yayai kecil tapi aku masih bisa mendengarnya. Kemudian dia masuk kamar.
Aku ini kenapa sih? Terlalu cemburu dan berlebihan sekali. Semenjak ada Yayai, aku memang benar seperti anak kecil. Perasaanku mudah sekali naik turun. Bukannya semakin bijaksana. Dan sialnya lagi, perutku lapar. Terpaksa, aku ke dapur dan melihat isi kulkas. Tidak ada yang bisa dimakan. Bahkan makanan instan seperti snack pun tidak ada. Aku meraih kotak jus dan menegaknya hingga setengah. Sudahlah, yang penting perutku agak kenyang air dan maag-ku tidak kambuh. Lalu memutuskan untuk tidur dalam keadaan perasaan yang campur aduk.
(Bima)
Kalau saja dia tidak membuat keributan, akan aku buatkan makanan untuk makan malamnya. Hanya dia membuatku kesal! Sepertinya Prof Ben mencari sesuatu di dapur untuk dimakan, tetapi tidak ada makanan sama sekali. Di supermarket tadi aku terlalu buru-buru, bahkan aku tidak sempat ke lorong makanan instan dan snack, yang aku pikirkan hanya bahan makan saja untuk beberapa hari ke depan.
Aku memutuskan untuk memasak sup tahu untuknya. Seharusnya waktu aku sedikit membuat keributan di dapur, dia akan keluar kamar. Nyatanya dia tidak sama sekali keluar. Selesai memasak, aku pun memutuskan untuk melihat keadaannya. Mengetuk pintu berkali-kali dan memanggil namanya.
“Prof… Prof Ben… Aku masakkan sesuatu. Ayo makan.” ujarku yang sudah beberapa kalinya. Aku mengetuk pintu kamarnya dan tidak ada jawaban. Aku mencoba untuk membuka pintunya saja, dan…
Pintu kamar terbuka.
Mata Prof Ben merah, sepertinya dia sudah tertidur. Rambutnya berantakan.
“Ya?”
“Aku masak sup tahu. Ayo kita makan.”
“Aku sudah kenyang.” Dia masih saja berdiri di balik pintu. Tidak mau keluar.
“Kenyang? Kan belum makan apa-apa. Ayo, nanti maag-nya kumat.” Aku mengingatkan.
“Apa pedulimu?”
Saat itu juga aku menahan kedua tanganku untuk tidak menarik rambutnya yang berantakan atau minimal aku menarik bajunya dan menampar wajahnya.
“Aku sangat peduli sekali. Karena Prof Ben tinggal satu rumah denganku. Kalau Prof Ben sakit, otomatis aku yang merawat Prof. Aku yang sibuk. Aku yang lelah. Aku yang khawatir. Ya silahkan saja kalau nggak makan.” Aku menarik napasku sambil menggelengkan kepala padanya. Luar biasa! Sabarkan aku Tuhan.
Aku berbalik dan berjalan menuju kamarku sendiri. Melelahkan sekali. Aku nggak kebayang kalau aku benar-benar harus menikah dengannya. Setiap hariku adalah bencana. Dari awal pertemuanku saja dengannya sudah tidak bagus. Mungkin itu pertanda. Tapi kenapa perasaanku kemarin jadi berubah dengannya? Seandainya waktu itu aku memutuskan untuk pindah dari sini…
Seseorang menarik selimutku dan mengangkat tubuhku ke sisi sebelah tempat tidur yang berbatasan dengan dinding. Saat itu banyak sekali pikiranku, jadi aku belum terlalu lelap tertidur. Aku membuka mataku pelan. Seseorang memelukku.
“PROFFF!!!!!!!”
Ah, sial. Aku lupa mengunci pintu. Dia menahanku. Mengunci kakiku dengan kakinya. Tangannya memeluk pinggangku.
“Makasih Yayai, kamu masih khawatir sama aku.”
“Kamu makan supnya?” Aku bertanya.
Dia mengangguk sambil memejamkan matanya. Apa pernyataan yang cocok untuknya? Aku sampai kehilangan ide di otakku.
“Terus kenapa Prof di sini!” Aku setengah berteriak.
“Kamu membuatku jengkel.”
“Hei, seharusnya itu aku.”
“Bicaralah yang sopan denganku.”
“Saat ini tidak ada kesopanan diantara kita. Bahkan kamu sendiri pun masuk ke kamar perempuan tanpa izin!”
“Aku mau memelukmu saja.”
Aku berontak. Dasar gila!
“Bolehkah jika aku sedang lelah atau kesal, aku ingin memelukmu seperti ini saja?”
“Aku akan mengganggumu terus-terusan!”
“Aku senang mendengar suaramu.” ujarnya tersenyum.
“Meresahkan sekali.”
“Kamu yang meresahkanku.” bisiknya. Suaranya kecil sekali.
“Apa?” tanyaku karena aku tidak bisa mendengar perkataannya. Dia berbisik.
“Tidak ada. Jadi ketika kita menikah, bolehkan dinding pembatas ini aku dibongkar? Aku akan beli tempat tidur yang agak besar untuk kita?”
Apa-apaan!
“Menikah denganmu bukan berarti kita bisa tidur bersama dalam satu kamar.”
“Harus dong. Nanti kalau Mee datang dan melihat kita tidur di kamar yang berbeda bagaimana?”
Rasanya aku ingin berteriak.
Tapi aku lelah sekali. Di lain sisi, aku merasa nyaman dan aman berada di dalam pelukannya. Aku bisa mendengar napasnya di balik leherku.
Entahlah aku tidur berapa jam, yang pasti aku tidur begitu nyenyak dengan seseorang disampingku. Hingga ponselku berbunyi nyaring. Di telingaku, deringan ponselnya terdengar samar jadi aku pun tidak bergeming. Sampai Prof Ben membangunkanku dan memberikan ponsel padaku.
“Hmmm.” jawabku.
“Bim, apa maksudnya elo release hiatus novel First Love?” Riko memborbardirku tanpa tedeng aling-aling. Berarti dia sudah membaca draft novelku. Yang baru tentunya.
“Gue nggak bisa nerusin. Bukan karena nggak dapat ide. Tapi karena ini seperti nggak adil aja buat gue.”
__ADS_1
“Nggak adil gimana? Elo tinggal terusin, elo tinggal masukin fiksi-fiksinya.”
“Tetep nggak bisa, Riko. Trus gimana sama ide cerita gue yang baru? Oke kan?”
Prof Ben menarikku dekat dengannya.
“Apa nggak bisa bicaranya di kantor saja?” ujarnya pelan. Pastinya Riko mendengar dengan jelas perkataannya.
“Oh jelas sekali. Baik gue tunggu di kantor.”
Gawat. Kali ini Riko yang marah. Ada apa dengan hari-hariku ya Tuhan?
“Tidurlah lagi. Kita sarapan sama-sama nanti. Aku akan mengantarmu.” kata Prof Ben. Dia mengecup pipiku. Tidak puas dengan itu, dia mengambil ponsel yang masih kupegang, karena aku masih bengong mengenai percakapanku tadi dengan Riko. Prof Ben membalikkan kepalaku menghadap ke arahnya. Menciumku tepat di bibir dengan pelan dan hati-hati. Matanya masih terpejam. “Yayai, jangan panggil aku Prof lagi. Kamu sudah janji untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu.”
Prof Ben kembali menciumku lembut. Aku menyambutnya. Ciuman pagi ini membuat darahku berdesir.
“Aku menyukai kamu memanggil dengan sebutan Mas. Mulailah dari sekarang.”
Aku sudah berjanji di dalam rekaman itu. Pastinya dalam keadaan tidak sadar. Tunggu setengah sadar sih. Aku agak samar mengingatnya. Prof Ben memegang tanganku dan menggiring ke arah… dia berhenti. Otomatis tanganku juga ikut berhenti.
“Kamu tahu, malam itu waktu kamu merayuku, aku memuaskanmu?”
Aku mundur sedikit. Aku belum paham.
“Apa aku pertama kali yang memegang milikmu?”
Aku mengedipkan mataku berkali-kali tanda tidak percaya.
“Desahan itu, kamu tidak ingat?”
Aku ingin menghilang saat itu juga.
“Kan kamu yang memaksaku. Aku tidak bisa menolak.”
Bolehkah aku membunuh diriku saja? Aku melihat ke seluruh ruangan kamarku. Tidak ada benda tajam yang bisa kuraih. Haruskan aku menusuk diriku sendiri atau Prof Ben?
“Aku harap kamu mengerti, kenapa aku begitu marah ketika kamu terlalu dekat dengan laki-laki dan akrab dengan mereka.”
“Prof …”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Prof Ben menyambar bibirku dan menggigitnya pelan.
“Aku akan mengigit bibirmu kalau kamu masih memanggilku dengan embel-embel Prof.”
Aku menganga.
“Kamu psikopat?”
Prof Ben tertawa terbahak-bahak.
Sampai keluar air matanya.
Di dalam kesempatan lengah itu, aku mulai bangun dan hendak turun dari tempat tidur. Dengan cepat Prof Ben menangkapku dari belakang dan melemparku hingga telentang.
“Sepertinya aku memang psikopat. Jadi kamu harus hati-hati.” Dia menekan tubuhku.
Aku takut sekali.
“Prof, kamu…”
Sekejap bibirku disambar kembali olehnya. Kali ini bibirku benar agak sakit. Berdenyut.
“Aku mulai serius dengan sebutanku darimu.”
“Apakah ini adil, kalau kamu juga memanggilku bukan dengan namaku?”
Prof Ben masih saja mengigit bibirku.
“MASSSS BEEENN!!!!!!!!!” teriakku. Berontak. “Kenapa!!!”
“Aku tidak suka kalau kamu berbicara tidak sopan padaku. Aku lebih tua delapan tahun.”
Prof Ben melepaskanku, dia sekarang berbaring di sebelahku. Aku pun bangun.
“Aku belum selesai bicara.” Dia menahanku dengan tangannya yang satunya. “Yayai itu panggilanku untukmu. Aku menyukainya. Karena kita akan menikah, bolehkah aku panggil kamu dengan sebutan sayang?”
“Aku tidak akan menoleh.”
Prof Ben tersenyum.
“Nggak apa-apa. Aku akan tetap terus memanggilmu.”
Lagi, dia memegang wajahku dan menghadapkannya ke arahnya. Dia menciumku kembali dengan lembut.
“Coba kamu panggil aku lagi.” Prof Ben berhenti. “Aku senang sekali.”
“Mas Ben…” Aku menerkam bibirnya dengan cepat. Penuh nafsu. Lalu aku menindihnya. Aku mendengar desahannya saat dia menciumku. Ciumanku jatuh ke lehernya. Beralih ke perutnya dan aku hendak menurunkan celananya. Aku bisa melihat dengan jelas miliknya yang mengeras. Kemudian aku turun dari tempat tidur dan lari dari kamar.
“SHIT! SAYAAAANG!!! COME HERE!!!”
Teriak Prof Ben di kamar.
Aku hanya masuk ke kamar mandi dan mencuci mukaku.
Kemudian, sibuk membuat sarapan.
***
__ADS_1