Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
34 - Pindah Sementara


__ADS_3

(Ben)


 


Sepanjang perjalanan mengantar Tasya malam itu, aku lebih banyak diam. Terkadang Tasya mengajakku bicara, mungkin karena tidak enak padaku karena aku terlalu banyak diam.


“Prof, kalau ngajar lagi semester depan, terus banyak yang ngejar Prof di kampus gimana?”


“Ya nggak gimana-gimana.” jawabku. Memangnya aku mau jawab seperti apa.


“Tapi mahasiswa-mahasiswa ini agresif. Tahu kan maksudnya?”


Aku terdiam.


Yayai melirikku.


Ketika di perjalanan pulang pun, aku dan Yayai tidak bicara sama sekali. Aku mencuri dengar pembicaraan Yayai dengan Tasya tadi. Rasanya aku ingin menanyakan padanya, apakah dia memang benar mencintaiku atau tidak? Hanya aku tidak bisa menerima kenyataan kalau Yayai tidak benar-benar mencintaiku. Sudah cukup aku merasakan kekecewaan yang begitu besar dulu.


Flashback,


Aku membuka mataku pelan-pelan. Yang aku rasakan ketika aku sadar adalah kakiku yang terasa ngilu dan tidak bertulang. Iya, aku melipat kakiku agar perempuan yang bersamaku di dalam sumur kecil dapat tidur pulas dan meregangkan kakinya sedikit, karena tubuhnya lebih kecil dariku.


Pikirku, setelah acara kelulusan, Pho meninggalkan Mee dan aku, jatuh ke sumur selama 5 hari, dan itu termasuk tidak makan, tidak minum. Dipikiranku yang lain, aku merasa itu adalah berkah. Jantungku berdegup kencang saat itu ketika aku mengingatnya. Ini pertama kalinya bagiku. Aku sudah menetapkan pasangan hidupku. Kesannya terlalu berlebihan.


Aku bangun dari tempat tidur dan aku mendengar pintu terbuka. Mee masuk kebetulan bersama dokter. Mee bahagia sekali hingga menangis melihatku sadar.


“Mee, apa Mee tahu perempuan yang sama aku? Yang ada di sumur?” tanyaku.


Dokter sudah pergi dari tadi. Mee yang sedari tadi mengupas kulit apel untukku, karena aku tidak suka kulit apel yang keras, terdiam.


“Oh Bima namanya?”


Aku mengerutkan dahi.


“Namanya Yayai.”


“Ha? Ngaco kamu, Ben.” Mee fokus lagi ke apelnya. “Habiskan apelnya, nanti Mee temani ke tempatnya.”


“Apa dia baik-baik saja?”


Mee mengangguk sambil tersenyum dan memberikan sepotong apel lagi padaku.


“Iya dia baik-baik saja. Malahan kamu yang nggak baik-baik saja.”


“Kenapa?”


“Kamu dehidrasi parah. Sedangkan dia nggak dehidrasi.”


Aku kaget sampai salah tingkah. Aku memundurkan tubuhku ke bangsal dan berdeham.


Sekarang,


“Yayai, kamu nggak mau beres-beres barangmu?” tanyaku setelah sekian lama dalam perjalanan pulang akhirnya aku bicara.


Yayai memencet kunci rumah.


“Besok saja.” jawabnya.


“Aku bantuin malam ini.”


“Malam ini?” Yayai memutar bola matanya.


“Iya malam ini. Ditutup saja mejamu dengan koran dan semua barang, mejamu, lemarimu, sofamu, harus dikeluarkan dari kamarmu.”


“Kalau kamu? Kenapa nggak keluarkan barang-barang di kamarmu?”


“Aku tiap hari akan ke sini yang memantau.”


Yayai mengangguk.


Kami sepakat untuk tinggal di rumah ini setelah menikah. Soalnya Yayai tidak mau tinggal di apartemen. Aku belum menanyakan kenapa dia tidak mau tinggal di apartemen.


“Kenapa kamu nggak mau tinggal di apartemen setelah menikah?” tanyaku akhirnya.


“Hmmm… aku lebih suka tinggal di rumah.” jawabnya sambil melipat baju dan memberikannya padaku. Aku memasukkannya ke dalam dus. Menyusunnya.


“Bukannya tinggal di apartemen lebih simpel?”


“Aku membayangkan punya keluarga kalau di rumah. Aku dulu punya rumah di sekitar sini. Nggak jauh dari komplek ini.” Yayai masih fokus mengambil baju dari lemarinya. Isi lemarinya terlalu rapi menurutku. “Mama sama kakakku meninggal dalam kecelakaan mobil. Aku semenjak SMP juga tinggal sendiri, jauh dari Papa.”


“Sorry to hear that.” Aku benar-benar merasa tidak enak.


“Semenjak nggak ada Mama dan kakak, Papa pulang kampung. Resign dan mulai bisnis penginapan di kampung.” jelasnya. “Jadi, aku biarkan aja baju-baju yang sekiranya nggak aku pakai di dalam lemari?”


Aku mengangguk.


“Sebetulnya aku mau tinggal sama Papa. Cuma Papa selalu sedih melihatku, jadi aku pikir aku lebih baik pisah dengan Papa.” Dia melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


DEG. Jantungku serasa berhenti. Anak ini terlalu melankolis ternyata, tapi sengaja kuat.


“Makanya aku selalu fokus dengan tujuanku. Aku mengabaikan hal-hal yang membuatku tidak fokus.”


“Makanya kamu selalu lupa.”


“Mungkin…” Yayai berpikir. “Sudah segini saja.”


Mungkin ada satu dus kecil dan satu buah koper besar yang dibawanya ke apartemen.


Flashback,


Aku dibantu berjalan oleh Mee. Kakiku masih lemas. Kamarku dengan kamar Yayai tidak begitu jauh. Mee membuka pintu dengan pelan dan tersenyum pada laki-laki mungkin berumur di awal 40-an. Ketika pria itu melihatku, dia langsung terkejut dan berbicara pada Yayai yang duduk menatap jendela. Dipangkuannya ada sebuah majalah. Tidak tahu majalah apa yang dibacanya.


“Siapa? Yang ada di sumur?” Yayai melihatku bingung. “Aku nggak kenal, Pa.” ujarnya pada pria itu, dia adalah Papanya.


“Bima, kamu nggak boleh gitu…”


“Yayai? Ini aku Ben.” ujarku. Waktu aku berjalan mendekat, Yayai agak memundurkan tubuhnya ke belakang. Akhirnya aku berhenti melihat sikapnya seperti itu. Jarakku hanya satu meter dengannya.


“Aku nggak kenal kamu.”


Saat itu, duniaku terasa runtuh. Aku bisa menerima Pho meninggalkanku karena aku harus menguatkan Mee agar tidak sedih. Ini? Dia tidak mengingatku? Siapa yang menguatkanku?


 


 


(Bima)


 


Aku sampai di sebuah apartemen bersama Papa dan Ben. Apartemennya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Semuanya sudah lengkap, seperti hotel. Aku merasa tidak enak.


“Mas Ben ini terlalu bagus.” bisikku. Tidak enak. Ini fasilitas yang diberikan Ben padaku.


“Ya gimana? Kamu mau ngungsi dimana? Sementara rumah kan direnovasi.” bisiknya juga.


“Bim, kamu nggak apa-apa tidur sendiri di sini?” tanya Papa.


Aku mengangguk.


“Nggak apa-apa kan? Udah biasa sendiri di sini. Kalau mau beli makanan atau ada keperluan jauh juga harus turun ke bawah.” kata Papa.


Iya benar. Makanya aku memang tidak suka tinggal di apartemen.


“Sebetulnya kalau Chloe ada di sini, mungkin bisa temani aku.”


Ben tidak tidur dimana-mana. Dia bisa tidur di ruangan mana saja di rumah. Karena dia harus memantau renovasinya. Sebetulnya pekerjaannya berat, karena dia juga harus bekerja dan pulang dalam keadaan lelah. Sementara rumah berantakan karena renovasi.


Aduh, kenapa harus memikirkannya dia?


“Iya nanti aku bawa Chloe ke sini.”


Aku tersenyum senang.


Jadi, Papa akhirnya pulang ke Yogyakarta. Kali ini naik pesawat. Ben juga mengantarnya ke bandara. Setelahnya hingga malam, aku sendirian di apartemen. Mau ke kantor tapi untuk apa? Aku pun memutuskan untuk membuka laptop bersamaan dengan TV. Aku membaca komentar beragam dari announced-ku untuk hiatus di First Love dan mendapatkan komentar positif di novelku yang baru, Amazing Love. Bahkan aku mendapati akun Tasya di dalam komentar itu. Aku sempat fokus meneruskan cerita Amazing Love dan aku tertidur.


Waktu aku bangun, pahaku terasa hangat. Ternyata Chloe tidur di pangkuanku.


“Chloe…” Aku mengelusnya dan memindahnya ke sofa. Aku berdiri dan mencari seseorang di dalam apartemen. Tidak ada. Ben benar-benar tidak ada. Aku melihat jam dinding, malam ini sudah menunjukkan pukul jam satu malam. Aku mencoba menghubungi Ben tapi ponselnya mati. Tidak ada bekas dia mengirimi pesan singkat untukku.


Mungkin memang sibuk sekali. Aku berusaha untuk biasa saja, agar aku tidak terbawa perasaan. Keesokan paginya, perutku terasa lapar sekali dan… tubuhku berat. Seperti ada yang menindih. Aku memutar tubuhku…


Ben!


Aku melepaskan tangannya yang merangkul pinggangku tapi dia tidak melepaskannya.


“Aku capek. Tidur sebentar saja di sini.” katanya serak.


“Ngapain kamu disini?”


“Aku nggak bisa tidur di rumah. Berdebu sekali.”


Ini ketakutanku. Dia pasti akan menyelinap masuk ke apartemen. Tidak mungkin dia bisa tidur di rumah yang sedang direnovasi.


“Kamu akan tidur di sini sampai hari pernikahan tiba.”


“Iya sepertinya.”


“Kalau Mee tahu bagaimana?”


“Jangan kasih tahu dong.” Dia semakin kencang memelukku.


“Aku lapar.” ujarku sambil memaksa lepas darinya.


“Oh iya aku juga lapar. Buatlah sarapan.” katanya. Dia melepasku.

__ADS_1


“Apa kamu makan tadi malam, Mas?” Aku jadi curiga.


“Aku makan… nasi goreng jam delapan malam.” katanya.


Aku turun dari kasur dan menuju dapur. Dapurnya kecil sekali. Ruang gerakku tidak seleluasa biasanya. Akhirnya aku membuat sarapan seadanya. Aku hendak membangunkan Ben ke kamar, yang aku lihat adalah pemandangan Ben sedang memegang laptopnya dengan fokus.


“Ayo sarapan.” ajakku.


Dia awalnya masih fokus dengan laptopnya.


“Mas Ben, ayo sarapan.” ajakku lagi.


Dia tersadar dan melihatku.


“Cepet banget?”


Di saat seperti ini, aku tidak ingin membuatnya kesal.


Dia meletakkan laptopnya di atas kasur dan menyibakkan selimut lalu berdiri. Aku berjalan di depannya, pada saat yang bersamaan dia menarik tanganku.


Aduh, ada apa lagi. Sepertinya aku kalau bersamanya selalu saja merasa tidak aman.


“Yayai sayang, aku mau kamu dengarkan perintahku.”


“Hmm?” Aku mengerutkan dahi.


“Aku harus mengurus pekerjaan yang menumpuk sampai hari pernikahan. Banyak sekali yang harus aku urus.”


Aku menyimaknya. Diam.


“Siang ini aku mau fitting jas.”


Aku masih diam. Dia merangkul pinggangku. Napasnya memburu menerpa wajahku sesekali.


“Aku harap, kamu tidak melakukan hal-hal di luar batas. Urus pernikahan sama Mee dengan serius.”


“Memangnya aku melakukan apa?” Aku tidak terima.


“Melupakanku. Aku akan jarang sekali bertemu denganmu.”


“Kamu mau kemana?”


“Masih di sini.”


“Lalu?” Aku masih tidak mengerti.


“Aku mungkin akan tidur di kantor, mengecek renovasi rumah…”


“Oke.” Aku melepaskan tangannya dan berjalan.


“Tidak ada kata sedikit pun? Tidak kecewa? Khawatir?” tanyanya penasaran.


“Nggak ada.” jawabku datar.


“Kamu senang ya aku tidak ada di tempat tidurmu setiap malam?”


“Senang sekali.” Aku tersenyum lebar.


“Oke aku akan terpaksa pulang dan tidur denganmu. Sekedar memelukmu.”


Aku menghela napas. Semenjak ada Ben dalam kehidupanku, rasanya pikiranku semakin bertambah.


“Kalau kamu bisa pulang, kenapa nggak pulang?”


Ben tersenyum nakal.


“Nah kan…Kamu pasti akan aneh kan kalau aku nggak pulang?”


“No way.” ujarku datar.


Ben meminum segelas air putih.


“Oke aku akan pulang. Tapi aku nggak menjamin aku bisa mengobrol banyak denganmu, karena… tv-ku akan launching akhir bulan besok. Beberapa hari setelah kita menikah.”


“Boleh aku mengirimkan makanan untukmu?” Aku meliriknya. Berbaik hati padanya.


“Oh ide bagus. Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa mendatangiku sambil bawa bekal?”


“Ih, malas banget. Kan aku bilang, aku mengirimkan makanan, bukan aku yang antar bawa makanan.”


“Yayai… buatlah aku senang sedikit.” Ben cemberut.


 


 


***

__ADS_1


 


Vote nyaa jangan lupaaa


__ADS_2