Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
19 - Menangis


__ADS_3

(Ben)


 


Sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Levi masih menonton TV di ruang tengah satunya lagi. Dia terkesima dengan acara TV di Indonesia. Mungkin karena dia sudah jarang sekali pulang ke Indonesia ketimbang aku yang setiap tahun dalam tiga tahun terakhir ini masih pulang.


Aku berjalan mondar-mandir, keluar kamar dan masuk kamar sambil memegang ponsel. Yayai. Dia tidak menjawab teleponku sama sekali. Yayai pergi tiba-tiba tanpa sepengetahuanku. Aku mengiriminya pesan singkat dan hanya dibaca. Aku meneleponnya beberapa kali juga tidak diangkat. Kemana dia? Sedang apa dia? Aku jadi kesal sendiri. Ini pun sudah jam 11 malam lewat. Dengan keterpaksaan, aku menelepon seseorang.


“Halo.”


“Malam, Om. Maaf ganggu malam-malam.” ujarku.


“Nggak apa-apa. Kenapa Ben?” Suaranya mirip sekali dengan Pho.


“Apa Om bisa cek di kantor Om, masih ada staf yang belum pulang?”


“Kayaknya ada. Selalu ada. Penulis-penulis itu. Sama editornya. Memangnya kenapa?”


“Nggg… apa ada penulis yang namanya Bima?”


“Bima? Oh iya, penulis yang lagi naik daun?”


Aku mengerutkan dahiku.


“Om sempat lihat dia rapat sama timnya sih. Sekarang dia punya tim sendiri.”


“Jadi?” Aku menuntut.


“Jadi kamu cari dia?”


“Iya, Om.”


“Coba ya, Om telepon kantor. Tanya sama satpam gedung.”


Sambungan pun terputus. Aku menunggu kabar lagi dari orang yang aku telepon tadi. Tidak sampai 10 menit, dia meneleponku dan memberitahukan bahwa kantor sudah kosong dari jam 8 malam.


Aku membanting ponselku ke sofa.


“Elo ini kenapa sih?!” Levi menoleh karena mendengar suara yang agak keras. “Tungguin ajalah, pasti dia pulang kok.”


“Chat nggak dibalas. Cuma dibaca. Telepon gak diangkat.”


“Elo itu kayak pacaran aja sama dia. Kenapa elo yang ribet sih? Kan suka-suka dia.” celetuk Levi.


Aku menatap Levi dengan tatapan tajam. Aku tidak suka dikomplain.


“Sekian tahun gue temani elo, selain sama si Bella itu. Malah sama anak ini elo lebih kelimpungan.”


Tiba-tiba aku mendengar pintu ruang tamu terbuka. Yayai muncul dengan wajah sumringah. Senang. Senyum-senyum sendiri. Dia melihat Levi yang sedang nonton TV.


“Kok belum tidur?” tanyanya.


“Masih liat-liat acara TV Indonesia. Kangen.” jawab Levi.


“Udah makan?”


“Udah.”


“Kalau belum makan, aku bikinkan mie instan? Atau nasi goreng tek-tek yang gerobak?”


Levi berpikir sebentar dan menatapku.


“Udah kenyang. Makasih Bim.” Levi menunjukkan jempolnya pada Yayai. Tanda bahwa dia tidak masalah kalau tidak makan malam. Kalau dia bilang bahwa dia lapar saat itu juga, dia akan aku tendang keluar.


Yayai melengos melewatiku yang sedang berdiri dan hendak membuka pintu kamar.


“Yayai, habis dari mana kamu??!!” tanyaku. Suaraku agak meninggi.


“Bukan urusannya Prof.” jawab Yayai ketus.


DEG! Benar-benar memancing emosiku.


TV tiba-tiba dimatikan oleh Levi. Dia beranjak dari duduknya dan masuk kamarku. Saat itu juga, Yayai keluar dari kamar, mengambil handuk dari jemuran dan masuk ke kamar mandi. Sementara aku masuk ke kamar. Uring-uringan sendiri di atas tempat tidur.


“Aduuuuuh!!! Tidur aja kenapa sih! Nggak capek ya marah-marah terus??!” sebal Levi. Dia tidur dengan kasur lipat di bawah tempat tidurku. “Harusnya gue tidur di hotel aja kalau begini! Gue ini calon Dirut!”


Aku mengabaikan keluh kesah Levi dan mendengar Yayai membuka pintu kamar mandi dan masuk ke kamarnya. Pertanda dia sudah selesai mandi. Aku langsung keluar kamar. Dengan cepat aku menerobos masuk ke kamar Yayai. Kamar tidurnya terbagi dua dibatasi dengan partisi gypsum dan memiliki penerangan lampu yang agak temaram. Berbeda dengan ruang sebelahnya yang menurutku terlalu terang.


“Eh? Prof!!!” teriaknya. Yayai sedang memakai piyamanya. Piyama yang menampilkan seluruh bahunya dan pahanya. Dia langsung mengambil outer panjang dan menutup tubuhnya.


“Aku mau buat perhitungan.” kataku. Aku duduk di ujung tempat tidurnya.


“Kenapa masuk ke kamarku? Besok pagi kan bisa!” marahnya.


“Pertama, kamu mengabaikan chat-ku.” Aku mengabaikan perkataan Yayai.


“Pertama, tidak ada yang penting di dalam chat-nya Prof.”


“Aku menanyakan keberadaanmu. Apa itu nggak penting?”

__ADS_1


“Apa itu juga nggak penting kalau tiba-tiba pergi dan aku menanyakan Prof ada di mana hanya di baca dan tidak dibalas?”


Anak ini… ingin balas dendam sepertinya. Aku memang tidak membalas chat-nya dua hari lalu, karena aku sibuk sekali dan aku rindu sekali dengannya. Ini membuatku kecanduan. Rindu? Kenapa otakku?


“Kedua, kamu tidak angkat teleponku.”


“Kedua, hapeku silent.”


“Kalau aku kenapa-napa apa kamu akan tahu dengan segera?”


Yayai menghela napas.


“Terserahlah.” Yayai melipat tangannya. Wajahnya memerah.


Dia membuang wajahnya. Terlihat malas melihatku. Dalam keadaan seperti ini, aku seperti ingin meraihnya. Anak ini sudah membuat hatiku campur aduk.


Aku akhirnya berdiri, berjalan ke arahnya. Dia memang dari tadi melipat tangannya ke dada, menutup areanya. Yayai mundur, seperti mendapat ancaman dariku. Aku menarik cepat tangannya hingga tubuhnya bertabrakan denganku. Yayai terkejut. Wajahnya menampilkan ketidaknyamanannya padaku, karena aku mengunci pinggangnya.


“Jadi, karena sikapku seperti ini, kamu tidak memaklumi?” tanyaku pada Yayai. Suaraku lembut. Aku bisa merasakan detak jantung Yayai di dadaku. Aku menatapnya dekat sekali. Hanya beberapa senti. “Aku harus tiba-tiba ke Bangkok untuk mengurus sesuatu terkait perusahaanku di sini.” jelasku.


Aku melihat wajah Yayai lagi. Sepertinya wajahnya sudah tidak menunjukkan kesebalannya padaku. Dengan cepat aku mencium bibirnya yang mungil. Lagi-lagi dia terkejut. Bibirnya diam membeku. Tangannya berusaha memisahkan tubuhnya dengan tubuhku, hanya cengkeramanku terlalu kuat.


“Kenapa?” tanyaku heran. Dia benar-benar tidak bereaksi. Apakah ucapannya padaku mengenai dia mencintaiku itu bohong? Kemudian, dia mengeluarkan air mata. Awalnya air mata jatuh di pipinya, mungkin karena sudah tida terbendung lagi, tangisnya pecah. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengelap air mata yang jatuh.


Aku melongo.


“Kenapa Prof menciumku? Aku masih kesal dengan Prof!!” bentaknya. Masih sambil menangis.


Ha? Anak ini terlalu polos.


“Aku sudah nggak kesal denganmu. Awalnya marah. Hanya aku nggak bisa marah. Melihatmu….”


“Prof suka sama aku?” potongnya. Terisak.


Pertanyaan macam apa ini?


Aku menghela napas sambil melepaskan tubuh Yayai. Menariknya hingga ke ujung tempat tidur dan memangkunya. Kemudian aku merangkulnya kembali. Aku bisa melihat kedua dadanya menyembul dengan jelas. Yayai masih sesenggukan. Luapan emosinya sudah agak reda.


“Aku kasih tahu, kalau aku mencium mu berarti aku menyukaimu.”


Yayai tiba-tiba berhenti mengeluarkan suara isakan tangsinya. Dia terdiam. Mencerna perkataanku. Mungkin. Akhirnya aku menyingkapkan rambutnya ke balik telinganya. Mengeringkan pipinya yang basah.


“Aku nggak ngasih kabar kamu kemarin, nggak balas chat-mu, nggak telepon balik karena aku ingin fokus, Yayai. Maafin aku ya.”


Yayai masih terdiam.


Aku membuang outer piyama ke lantai dan membaringkan tubuhnya ke kasur. Dengan cepat aku menindihnya. Bibirku sibuk mencium bahunya, lehernya, hingga di atas dadanya hingga terdengar erangannya. Dengan sigap, tanganku meraba pinggangnya di balik piyamanya yang tipis hingga ke dadanya yang ternyata telanjang.


“Tunggu.” cegat Yayai. Tanganku berhenti.


“Kenapa?” tanyaku dengan nafas membuuru. Nafsuku benar-benar sudah tidak bisa ditolak.


“Maaf. Aku memang mencintai Prof cuma aku tidak bisa melakukan ini.”


Ha? Aku mengerutkan dahiku. Jadi apa yang dia bisa lakukan?


“Kamu belum pernah disentuh oleh pria?” tanyaku penasaran. Memancingnya. Karena dari tadi tidak ada reaksi darinya.


Yayai menggeleng.


Wah! Aku mengeluarkan tanganku dari balik piyama. Ada kesenangan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku menyentuhnya untuk pertama kali.


“Aku yang menyentuhmu pertama kali?” tanyaku lagi.


Yayai mengangguk malu.


“Dan aku pertama kali yang menciummu?”


Yayai mengangguk lagi.


Aku tersenyum. Mencium pipinya.


“Dan aku tidak bisa melakukan hal ini dengan pria yang aku cintai tanpa pernikahan.”


Aku tertawa terbahak-bahak. Aku jadi ingat ucapan ini beberapa belas tahun yang lalu. Ucapan yang sama dulu dan aku memang berniat menikahi wanita itu dulu. Karena kami sama-sama masih muda, aku mengurungkan niatku untuk menikahinya dan ingin memacarinya saja, hingga umurnya cukup untuk menikah. Tapi pupus karena sesuatu hal.


“Kalau begitu, boleh kita ciuman saja?” pintaku. Aku melihat bibirnya. Teringat kembali dengan ucapanku yang sama belasan tahun lalu.


Karena Yayai tidak bereaksi, maka aku mendaratkan bibirku lagi padanya. Seperti biasa, bibirnya hanya diam kelu.


“Buka mulutmu, Yayai. Aku akan mengajarinya.”


Anak ini benar-benar membuatku gemas.


“Ikuti caraku.” lanjutku. Kemudian aku mulai perlahan-lahan ******* bibirnya. Yayai pun dengan pelan membuka mulutnya dan lidahnya menjulur masuk. Aku sempat lama menciumnya hingga Yayai benar-benar sudah fasih.


“Jadi, sudah tahu caranya ciuman?”


Aku melepaskan ciumannya. Wajahnya memerah. Malu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian aku membetulkan posisinya hingga betul-betul ke dalam tempat tidurnya.

__ADS_1


“Tadi kamu kemana? Nyaris tengah malam kamu pulang?” Aku berusaha mencoa mencairkan suasana.


“Aku makan-makan. Aku ajak Brian juga.” jawabnya. Dia melihatku sambil tiduran. Aku pun menatapnya dan memiringkan tubuhku ke arahnya.


“Brian siapa?”


“Tetangga sebelah. Cowok yang tadi siang yang benerin wastafel.”


Aku mulai tidak suka.


“Berdua aja?”


“Nggak. Ada Riko sama Tasya.”


“Double date?”


“Bukan! Aku nggak pacaran sama dia.”


“Ya bagus.”


Aku rasa aku harus pelan-pelan mendekati Yayai. Dia bukan tipikal wanita yang mudah ditaklukkan. Aku pun masih ragu dia mencintaiku atau tidak. Maksudnya karena perasaannya mungkin bisa berubah-ubah. Tidak bisa membedakan mana cinta atau mana yang suka. Karena perbedaan cinta dan suka itu benar-benar jauh.


“Sebetulnya pekerjaanmu apa sih?” Aku memancingnya. Walaupun aku sudah tahu pekerjaannya.


“Editor novel.” bohongnya. Kenapa dia harus berbohong? “Riko dan aku sama editor novel.”


“Jadi dia satu kantor ya sama kamu?”


Yayai mengangguk.


“Kalau aku sedang sibuk menyiapkan stasiun TV baru.”


“Berarti Prof sudah keluar dari kerjaan yang di Bangkok?”


“Iya, aku resign karena ingin mendirikan stasiun TV di sini.”


Ditambah aku ingin dekat dengan seseorang. Keberuntunganku mendadak mengikutiku beberapa bulan ini. Aku mengobrol lumayan lama dengan Yayai. Dia begitu penasaran dengan kehidupanku. Tapi aku berusaha menutupinya agar tidak ketahuan siapa aku sebenarnya.


 


 


(Bima)


 


Aku meregangkan seluruh tubuhku. Nampaknya semalam aku mimpi indah sekali. Aku menorehkan senyum di wajahku tiba-tiba dan teringat sesuatu. Aku membuka mataku, melihat tidak ada siapa-siapa di sampingku. Aku duduk dan meraih ponselku di meja kerja. Memencet nama seseorang di layar ponselku.


“Ya halo?” sapanya.


“Prof?”


“Iya kenapa?”


Aku sempat lama memikirkan kata atau pertanyaan yang pas.


“Yayai ada apa? Kamu cari aku? Kan aku udah bilang semalam, aku mau antar Levi ke rumah orang tuanya.”


Tunggu.


Semalam Prof bilang, dia yang menyeret Levi hingga meninggalkan Indonesia sampai Ayahnya menjalankan perusahaan sendirian hingga diambang kebangkrutan. Jadi, karena tanggung jawabnya, Prof akan mengantarkan Levi pulang dan berbicara dengan Ayahnya.


Berarti kejadian semalam itu bukan mimpi.


“Yayai?”


“Eh iya. Aku lupa.”


“Apa kamu banyak lupanya? Yaudah kalau gitu, aku lagi nyetir. Jangan tunggu aku ya. Aku akan makan sama levi sampai malam.”


“Baik Prof. Kalau begitu hati-hati.”


“Makasih ya.”


Setelahnya aku melempar ponsel ke tempat tidur. Loncat kegirangan dan mulai membuka laptopku untuk mengetik sesuatu seharian.


 


 


***


 


Jangan lupa VOTE nya yah :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2