Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
22 - Bencana Fans Meeting


__ADS_3

(Bima)


Waktu aku datang ke kantor, di depan gedung sudah ada spanduk cover depan novelku, termasuk nama penaku. Rumit tapi menurutku indah. Acaranya sih jam satu siang, hanya aku datang terlalu pagi. Aku membawa tas yang agak besar isinya baju gantiku untuk fans meeting nanti. Aku melihat Levi sudah ada di ruangannya. Menatap serius layar komputer. Aku bertanya-tanya dalam hati, setelah dia membaca novelku apakah dia sadar sepenuhnya bahwa cerita yang aku tulis adalah cerita tentang Prof Ben?


“Bim, elo tahu kan konsep fans meeting lo apa?” Tasya tiba-tiba datang dan menaruh tasnya di mejaku. Tasya masuk ke perusahaan sebagai mahasiswa pasca sarjana yang magang. Aku tidak tahu tujuannya apa kenapa dia harus magang di perusahan ini dan menjadi writer assistant-ku. Dia yang mengurus konsep pertemuanku, yang mengurus pertanyaan-pertanyaan apa saja yang layak dijawab, dan personalku.


“Apa?” Aku memang tidak tahu. Bukan. Aku lupa.


“BIMAAA!!!!” Tasya menarik rambutku.


“Aduuh. Apaan sih!” Aku meringis.


Tasya menjelaskan kembali tema fans meeting-ku. Karena aku penasaran, aku turun ke lantai bawah dimana ada ruangan yang cukup besar untuk melakukan fans meeting di situ. Mataku tiba-tiba sakit, semua berwarna pink.


“Tas, ini apa? Kenapa pink semua?” Aku menoleh tidak percaya ke Tasya.


“Karena first love, jadi harus ada unsur romantisnya.”


Aku melengos.


Akhirnya, jam satu siang tiba. Aku memakai baju biasa yang menurutku bagus untuk dipakai bertemu dengan orang banyak. Tasya membuatku lebih cantik. Aku bersolek, tapi tidak terlalu berlebihan dengan apa yang dilakukan Tasya. Aku tahu, kakiku lemas ketika aku duduk dan menghadap ke orang banyak yang sudah duduk rapi di depanku. Aku sampai meremas tanganku sendiri. Kedua telapak tanganku dingin sekali. Kalau aku dihadapkan dengan orang sebanyak ini, tahu begitu aku tidak ingin mengadakan fans meeting. Seharusnya aku senang dan bersyukur, banyak sekali pembaca yang menyukai ceritaku.


Prof Ben 13.10 WIB


Kamu nggak bisa ya senyum sedikit?


Aku membaca pesan singkat yang muncul di layar ponselku. Kemudian karena penasaran aku membacanya dan melihat ke sana ke mari. Kenapa Prof Ben sampai tahu aku berada di sini dan sedang mengadakan fans meeting.


Tadi pagi saja, aku harus mengunci kamarku dan pergi begitu saja tanpa membuat sarapan untuknya. Karena aku tidak menemukan sosok Prof Ben, jadi aku mengabaikan pesan singkatnya.


“Novel ini saya buat karena saya sulit jatuh cinta.” bukaku mengawali cerita di depan semua orang. “Ada banyak sekali draft yang saya susun untuk sebuah novel romantis. Hmm… akhirnya, saya bertemu pria ini dan saya jatuh cinta. Itu saja. Selebihnya adalah fiksi.” Aku melirik Tasya yang berada di depanku, berdiri di sisi kananku.


“Bagian mana yang fiksi, Mbak Lalietha?” Seorang wanita berhijab modis bertanya padaku. Aku seperti pernah melihatnya.


“Hmmm, bagian adegan-adegan romantisnya.” jawabku.


“Jadi yang real itu yang mana?” tanya wanita yang rambutnya diikat kuda.


Aku diam sejenak. Melirik Tasya. Dia memberiku aba-aba. Seandainya aku memiliki kemampuan untuk bertelepati dan membaca pikiran orang.


“Kalian sangat penasaran sekali ya? Prof Kai itu ada di kehidupan nyata. Oh ya, mungkin di bab selanjutnya mungkin saya akan bicarakan dengan tim saya untuk membuat visual kartun untuk Prof Kai.”


Aku tersenyum mengalihkan pembicaraan. Tasya terlihat mengangguk-angguk. Setuju pada jawabanku.


“Mbak, saya tahu kok. Dia Prof Ben ya? Prof yang dari Bangkok itu…”


Jantungku seperti ada yang menghujam dari belakang. Mendadak berhenti. Wanita berhijab itu berceletuk.


Seharusnya aku tidak perlu mengatakan bahwa ini adalah kisah nyata. Dan seharusnya aku harus sadar bahwa yang membaca novelku adalah orang banyak, dimana salah satu pembacaku adalah mahasiswa yang pernah diajar oleh Prof Ben. Aku yakin, wanita berhijab inilah yang berada di dalam komunitas fans-ku dan menyebarkan berita tentangku. Lalu kemudian semua pembacaku berspekulasi sendiri dan mencari nama Prof Ben di mesin pencari.


Habis riwayatku.


Memangnya kenapa kalau dia Prof Ben. Aku terdiam di depan. Kakiku mulai bergetar.


“Bim, bilang dong kalau itu bukan Prof Ben.” bisiknya. “Kan kita udah latihan.”


“Tapi kan ini kisah cinta gue, dan ini kehidupan nyata gue. Ini kan…” jawabku sambil berbisik juga. Panik.


Semua orang yang datang jadi gaduh. Seisi ruangan tidak kondusif.


“Betul itu Prof Ben yang mbak maksud. Tapi selebihnya kejadian yang di dalam novel adalah fiksi.” Aku tersenyum. Mencoba menenangkan diri.


Semua wanita yang hadir di ruangan ini berceloteh senang dan bahagia. Aku tidak tahu maksudnya apa. Mungkin bayangannya Prof Ben adalah sosok pria yang sempurna. Memang. Kemudian selanjutnya aku masih menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan dan melakukan penandatanganan di sebuah postcard.


Selesai acara, semua timku terdiam. Tidak tahu mau berbicara apa padaku. Tasya pun ikutan diam. Apa aku menyalahi aturan perusahaan? Sepertinya iya. Aku berdiam diri di toilet. Riko menelpon bertubi-tubi. Lalu Tasya. Lalu… nomor tidak dikenal. Lalu… Prof Ben. Hanya satu kali.


Benar-benar habis riwayatku.



(POV Riko)


Aku memasuki ruangan Direktur yang baru, Mr. Levi. Sebelumnya aku tidak pernah berbicara bahkan bertatap muka dengannya. Jadi aku tidak begitu tahu seperti apa karakternya. Apakah akan sesantai Mr. Andri atau bagaimana.

__ADS_1


“Ya, Mr.?” Aku sudah berada di depan Mr. Levi yang sedang menelpon seseorang. Mr. Levi menaruh ponselnya. Dia menatapku. Aku betul tidak bisa menebak ekspresi wajahnya.


“Ceritakan bagaimana pengakuan Bima.”


Aku menceritakan dengan hati-hati kejadian saat fans meeting. Hingga akhir.


“Sebetulnya ini di luar kendali saya, Mr. Saya sudah mengatur pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan keluar dan jawaban untuk Bima, tapi…”


“Kamu tahu seberapa banyak hubungan Bima dengan pemilik perusahaan ini?” Suara Mr. Levi meninggi. Aku betul-betul ragu menjawabnya. Sangat tahu. “Apa kamu tahu awalnya, novel yang dibuat Bima adalah cerita nyata?”


“Tahu, Mr.”


“Tahu kalau tokoh utamanya ada pemilik perusahaan ini?”


Aku menggeleng dengan cepat.


“Bima tahu?”


“Enggak, Mr.” Aku masih menggeleng.


“Kamu yakin?”


Aku mengangguk. Aku sungguh yakin. Bima tidak pernah menceritakan apa pekerjaan Prof Ben, selain dosen dan Direktur di sebuah stasiun TV di Bangkok.


“Kamu tahu kan orang Indonesia bagaimana? Tingkat penasarannya tinggi sekali. Hal seperti ini saja sudah viral kemana-mana.”


Iya. Ponselku pun dari tadi tidak berhenti berdering. Sampai aku lakukan mode senyap. Mungkin tumpukan pesan singkatku banyak sekali.


“Panggil Bima. Suruh menghadap ke saya.” perintah Mr. Levi sekaligus mengusirku.


Aduh, Bima ini kemana sih!!!!


Aku membuka ponselku dan mendapatkan pesan singkat dari Bima.


Bima Penulis Handal 16.45 WIB


Ko, apa gue kena masalah?


Masalah lo besar banget!!! Cepet ke sini lo dipanggil Mr. Levi!


Beberapa menit kemudian, aku melihat Bima berjalan gontai menuju ruangan Mr. Levi. Semua orang yang ada di lantai 3 melihat ke arahnya. Aku tidak tahu apa yang orang-orang pikirkan mengenai Bima.


Wanita murahan?


Wanita gampangan?


Wanita nggak tahu malu karena tinggal berdua dengan Prof Ben?


Wanita bayaran?


Dan beberapa sebutan lainnya juga yang muncul di sosial media.


(Bima)


Di ruangan,


“Bim, kamu tahu apa yang kamu lakukan?”


Aku mengangguk. Kepalaku tertunduk.


“Tahu konsekuensinya?”


Aku mengangguk lagi.


“Bima? Aku tanya sebagai teman. Bukan sebagai atasan.”


“Tapi Levi, ada yang ngeh sama ceritaku. Ada yang nebak kalau itu Prof Ben. Kalau aku bohong, akan kacau lagi sama reputasi novelku.”


“Tapi kamu nggak pikirkan reputasimu dan juga Ben.”


Iya benar. Nama Prof Ben sudah tercoreng gara-gara aku.


“Kamu baca apa komen-komen netizen di sosial media?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


“Itu konsekuensinya. Ben sih di posisi yang aman. Walaupun akhirnya dia jadi terkenal gara-gara ulahmu.”


Aku menggigit bibirku. Keras.


“Sekarang pilihanmu. Kamu mau meneruskan ceritamu secara nyata atau dengan fiktif.”


Aku diam. Menatap Levi. Kalau aku meneruskan tanpa kehidupan nyataku, aku pun tidak ada imajinasi romantis.


“Pulanglah. Aku harap jangan lihat-lihat sosial media beberapa hari ke depan.”


“Makasih, Levi.” Aku membalikkan badanku dan keluar dari ruangan.


Hari ini hariku berat sekali.


Aku duduk di MRT merenungi nasibku. Ponselku memunculkan pesan singkat dari Tasya. Aku hanya melihatnya dari layar depan saja tanpa membukanya.


Tasya 17.34 WIB


Novel lo urutan pertama


Aku menghela napas. Tidak tahu mau senang atau sedih. Waktu sampai di stasiun tujuanku. Aku sempat duduk lama sekali disana. Kemudian aku menaiki tangga dengan pelan. Aku sampai rumah pun hampir setengah delapan malam. Mobil Prof Ben dan mobil lainnya terparkir di depan rumah. Sepertinya Prof Ben kedatangan tamu. Aku sempat terpaku di tengah halaman dan ingin berlari saja.


(Ben)



Eyang dan Mee duduk di sofa dengan santai. Sebetulnya aku ingin pergi lagi. Hanya tiba-tiba mereka datang. Berdua. Terlihat akur. Padahal Mee agak malas berkomunikasi dengan Eyang, karena anaknya sudah mencampakkannya. Hari ini adalah pemandangan yang sangat langka. Mereka datang berdua. Biasanya Mee selalu datang sendiri.


“Kemana Bima?” tanya Eyang. “Jam segini kok belum pulang?”


“Aku lihat di sosial media kenapa heboh sekali. Ada apa dengan kalian?”


Mee memberikan ponselnya pada Eyang dan Eyang membacanya dengan serius sambil memicingkan matanya di balik kacamatanya.


Kenapa Mee akrab sekali dengan Eyang? Memberikan ponselnya padanya Eyang? Ada apa ini?


“Apaan sih ini?” tanya Eyang belum paham. “Bima ini kenapa? Kamu kenapa?”


Mee terlihat melengos. Seolah-olah, sia-sia usahanya menunjukkan sesuatu pada orang tua renta ini.


Mee akhirnya menjelaskan. Aku menambahkan tentang kejadian hari ini.


“Levi sudah atur itu.”


Mee tercekat. Eyang terdiam.


“Ben, kamu serius? Kamu jahat sekali.” ujar Mee.


“Kamu tidak memikirkan perasaannya? Bagaimana kalau dia down? Bunuh diri? Atau melakukan hal-hal negatif?” Kali ini Eyang terlihat tidak setuju.


“Biar dia lebih dekat denganku.” kataku santai.


“Eyang nggak setuju.” Nadanya keras sekali. Mee juga mengangguk.


“Ben, Bima itu nggak melakukan apa-apa sama kamu.” Mee terdengar menasehati.


“Yaaah sudah terlanjur…” kataku dengan santai. Mengangkat bahuku.


Kemudian ada suara yang mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat lesu. Sebetulnya begitu juga dengan suaranya.


“Wah, ada Eyang dan Tante?” Yayai menghambur masuk dan menyalami Eyang dan Mee.


“Apa kabarmu?” tanya Eyang.


“Kabar baik.” Senyum Yayai merekah. “Udah dari jam berapa di sini? Apa mau makan malam di sini?”


Yayai menoleh ke arahku. Memberiku kode.


“Pesan saja makanan. Bilang jangan pakai penyedap.” suruhku pada Yayai.


Eyang dan Mee melihat satu sama lain. Seperti tidak percaya melihat Yayai yang masih ceria. Yayai berlari ke arah kulkas. Disitu banyak sekali brosur makanan yang tertempel di pintu kulkas dan dia menelepon salah satu dari restoran yang dipilihnya.

__ADS_1


***


__ADS_2