Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
16 - Memastikan Perasaan


__ADS_3

(Bima)


 


Hari ini langkahku gontai. Aku sempat membeli permen kopi di mini market. Ini entah permen yang ke berapa aku makan. Semalam aku hanya disuruh untuk bangun lebih pagi dan pergi sekitar jam 7 pagi. Bahkan aku pun tidak sempat menyiapkan sarapan. Jadi kami hanya minum jus jeruk yang tinggal setengah di kulkas. Aku melihat Prof Ben sedang membicarakan perihal yang sebetulnya aku paham dan banyak menerka. Mengenai perusahaan baru dan stasiun TV menurut konsepnya. Tugasku? Hanya duduk, memperhatikan, dan dipaksa untuk mengingat semuanya. Terpaksa aku mencatat beberapa poin penting – yang menurutku penting -  di buku kecilku.


Sebetulnya, pagi ini aku tidak fokus. Selain aku masih mengantuk dan aku tidak begitu fokus mencerna pembicaraan mereka. Ditambah, Prof Ben berkali-kali melirikku. Aku tidak tahu arti lirikannya. Memantauku untuk bekerja atau memang ada hal lain. Nampaknya, khayalanku harus benar-benar ditepis. Tidak mungkin juga Prof Ben menyukaiku secepat itu.


“Bagaimana pendapatmu?” tanya Prof Ben tiba-tiba waktu kami sudah berpisah dengan beberapa orang yang ditemuinya. Dia menoleh ke arahku singkat dan pandangannya lurus ke depan lagi. Aku menyamakan langkahku dengannya. Awalnya aku memakai sepatu yang agak sporty, tapi dia menyuruhku menggantinya dengan sepatu heels. Untungnya aku memiliki beberapa heels yang haknya tidak terlalu tinggi.


“Aku malah mau balik bertanya, apa Prof serius mau membuat stasiun TV yang isinya sinetron dan film-film?”


“Aku serius. Tidak ada stasiun TV yang menayangkan film Indonesia yang berkualitas.”


Betul juga sih. Aku termasuk orang yang jarang menonton TV lokal. Di kamarku ada TV, tapi paling aku menyalakannya ketika waktuku lowong dan menonton film Korea atau film Mandarin. Tidak pernah mengunjungi TV lokal bahkan mengikuti salah satu acara atau programnya. Kalau mau mengikuti beritanya, mungkin aku bisa memantaunya di ponselku sendiri.


“Aku rasa nggak ada masalah, Prof. Tapi Prof harus banyak merekrut penulis scenario yang berkualitas agar cerita yang diangkat dalam sinetron atau film bisa digemari.”


“Nggak salah aku membawamu.”


Prof Ben merogoh kantongnya dan membuka kunci mobil lalu masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak mengerti maksud pernyataannya.


“Prof mau makan siang?” tanyaku.


“Aku ada urusan yang harus aku selesaikan sampai sore.”


Aku menarik napas dalam.


“Tapi kamu pulang saja. Apa mau aku antarkan ke kantormu?”


Wah, tugasku sebagai asisten pribadi sudah selesai. Mungkin aku bisa pulang saja.


“Aku pulang saja.”


“Kalau begitu, aku turunkan di halte MRT?” tawarnya.


Baiklah.


“Nggak apa-apa.”


Di dalam perjalanan menuju halte MRT yang dituju,


“Apa Prof akan pulang makan malam?”


Aku bertanya karena inisiatif.


“Boleh.”


Aku menampilkan senyumanku padanya. Apa yang harus kumasak untuk malam ini ya? Aku memikirkan ini hingga aku duduk di MRT sampai Riko menelponku dengan sangat antusias.


“Ke kantor sekarang.” perintahnya.


“Apa ada masalah?”


“Masalah besar.” jawabnya.


Aku berdiri tiba-tiba. Beberapa penumpang yang satu gerbong denganku melihat ke arahku. Keringat dingin mulai muncul di telapak tanganku. Ada apa ya? Apa ada masalah? Apa ini berhubungan dengan alur cerita novel perdanaku yang sudah terbit? Apa ada cerita lain yang mirip dengan ceritaku? Aku terus menerus memikirkan ini dan tanpa sadar menu makan malamku dengan Prof Ben benar-benar terlupakan.


Aku sampai di gedung kantorku. Gedung kecil berlantai 4. Aku tidak sempat untuk menunggu lift datang. Aku membuka pintu darurat dan menaiki tangga hingga lantai tiga. Perusahaan ini sebetulnya sudah banyak pengurangan pegawai. Hanya beberapa orang, ghost writer, penulis tetap yang tidak memberatkan perusahaan dan pastinya membantu penulis utama. Aku juga mendengar, rumor bahwa perusahaan ini sudah beberapa kali ada yang ingin mengambil alih. Tapi Mr. Andri tidak memberikan perusahaan yang dia rintis dari nol diserahkan begitu saja pada orang yang tidak bertanggung jawab. Karena Mr.Andri nampaknya ingin mempertahankan bidang perusahaannya.


Aku membuka ruangan rapat, karena aku melihat Riko dan teman-teman lainnya berada di sebuah ruangan kaca dan menatap ke TV LED nya. Aku mengetuk pintu kacanya. Orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut melihat keanehan dalam dandananku yang terlihat feminim.


“Hari ini elo lagi waras ya?” celetuk Imah Head of Marketing. Dia menunjuk ke arah sepatu heels-ku. Aku langsung duduk di kursi yang kosong dan menjatuhkan badanku.

__ADS_1


“Kayaknya laki-laki itu udah ngubah penulis kita ini jatuh cinta?” ucap Karen. Seorang wanita berambut sebahu. Dia tim digital dan analis di perusahaan.


“Oh jadi ceritanya betulan?” tanya Imah.


“Kayaknya sih gitu. Tapi banyak fiktifnya kan, Bim?” Karen melihat ke arahku. Menunggu jawaban dariku.


“Banyak yang fiktif. Bagian jatuh cintanya betulan. Mungkin lo bisa konfirmasi ke Bima.” Riko menjawab Karen. Karena aku tidak bisa menjawab rentetan pertanyaan mereka yang biang gosip. Aku hanya tersenyum sambil bertopang dagu.


“Udah dijawab sama Riko ya teman-teman sekalian.” ujarku.


Imah dan Karen nampaknya kurang puas atas jawabanku dan masih penasaran.


“Jadi ada apa ya?” Giliranku yang penasaran.


Imah menatap laptop dan menyambungkan layar laptop ke proyektor di depanku. Sebuah tampilan website online yang menampilkan banyak komik dan novel-novel. Semua orang di dalam ruangan termasuk aku berhenti di salah satu judul. Judul yang tidak asing bagiku. First Love. Cover depan novelnya adalah seorang wanita, berambut agak panjang sebahu, mirip diriku. Sedang memandang seorang pria dari kejauhan.


“Elo nggak cek di aplikasinya?” tanya Riko kemudian.


Aku menggeleng.


“Kayaknya gue juga belum download deh.”


Aku mengambil ponselku dari dalam tas dan membuka sebuah aplikasi lalu mengunduhnya. Tapi aku mengabaikan ponselku kemudian.


“Elo nggak lihat tuh berapa viewer-nya?” Lalu Imah bertanya. Antusias.


Aku memicingkan mataku. Mataku agak pedih karena menggunakan lensa kontak.


“Seratus ribu?” Aku bingung. Memastikan mataku pada Imah, Riko, dan Karen. Mereka bertiga mengangguk.


“Dalam semalam, Bim!!!”


“Gue baru posting ini jam setengah tiga pagi pas rampung cover-nya. Bahkan gue pake cover yang kasar.”


“Apa itu bagus?” tanyaku lagi.


Sebuah tepuk tangan dari Mr. Andri. Dia tersenyum padaku dan memukul pundakku kencang.


“Penulis pertama kita melakukan debut di aplikasi novel online.” katanya. Senyumannya lebar. Terlihat bangga padaku. Wajahnya adalah wajah yang paling ramah yang pernah kutemui. Dalam setiap rapat, beliau tidak pernah marah atau bahkan memotong pembicaraan orang lain. Makanya, karyawan di sini adalah karyawan lama semua. Hingga pada saatnya perusahaan ini nantinya akan diambil alih karena banyak karyawan yang dikurangi.


“Mister, gimana ini suruh Bima traktir kita?” ucap Karen.


“Nah, Bima ada waktu nggak? Kan dia sebaiknya harus melanjutkan bab selanjutnya.” Mr. Andri melihat ke arahku. Aku terpaksa tersenyum padanya.


“Gue traktir kopi seberang aja ya?” tawarku pada semua oang di dalam ruangan.


Imah dan Karen mengeluh.


Beberapa jam setelahnya,


Aku hanya ingat, aku berhenti mengetik pukul 11 malam dan satpam penjaga gedung memberitahuku bahwa ada seorang pria menjemputku. Prof Ben. Ini kedua kalinya aku melakukan kesalahan. Aku terbangun dan melihat sekitar. Aku berada di kamarku. Sepertinya aku berjalan sendiri hingga tidak sadar. Ketika aku menapakkan kakiku ke lantai, aku melihat Chloe tertidur melingkar di bawahnya. Seketika aku ingat janjiku pada Prof Ben untuk makan malam bersama. Aku langsung melesat keluar kamar dan berhenti di ruang tengah.


Prof Ben duduk di sofa. Dia membuka pintu kaca menuju halaman belakang. Dia sedang berbicara dengan bahasa Inggris dengan sangat cepat dan agak tegas. Prof Ben melihatku yang datang berlarian dengan tergesa-gesa. Dia membolak-balikkan beberapa lembar kertas dan memegang laptopnya dengan cepat, kemudian menyudahi pembicaraannya. Aku masih berdiri di tengah-tengah dan memperhatikannya hingga aku terkejut ketika dia berhenti menelpon dan membanting ponselnya ke sofa. Kemudian dia melakukan pijatannya sendiri diantara hidung dan pelipisnya. Melepaskan kacamatanya.


Keren.


“Ngg… Prof… maaf, apa kita sudah makan malam?” tanyaku ragu. Karena otakku tidak bisa bekerja bagaimana semestinya. Prof Ben menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menghela napasnya dalam-dalam.


Dia menatapku tajam. Dadaku tiba-tiba saja ngilu mungkin karena tatapannya.


“Kamu nggak ingat apa yang terjadi?” Dia memiringkan kepalanya.


Eh? Ada apa? Apa yang aku lakukan?

__ADS_1


Aku mengerutkan dahiku.


“Kenapa Prof? Aku nggak ingat apa-apa.”


“Kamu punya penyakit short memory lost ya?” sindirnya.


Aku terdiam. Sindirannya membuatku sebal. Akhirnya aku berjalan ke dapur, mengambil gelas, dan menuang air. Selesai meneguk habis semua airnya di dalam gelas, jalanku dihambat oleh Prof Ben. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya yang ternyata sudah berada di belakangku.


“Kamu serius suka sama aku?” tanyanya. Wajahnya dekat sekali denganku. Dia mengambil gelas yang kupegang dan meletakkannya di meja.


“Aku? Aku mungkin bukan suka sama Prof, tapi cinta sama Prof.” jawabku gamblang. Wajahku memanas. Aku bisa merasakan napas Prof Ben yang memburu di wajahku.


“Seharusnya kamu lebih perhatian denganku.”


Aku mengerutkan dahi. Aku perhatian dengannya.


“Kalau sudah di kantor kamu selalu tidak pernah angkat teleponku. Tidak pernah menghubungiku. Kamu lupa janjimu.”


AHHH! Iya! Aku kalau sudah bekerja, memang terlihat fokus sekali. Makanya temanku hanya Riko dan Tasya. Juga beberapa orang di lingkungan kerjaku saja. Aku tidak bisa bergaul dan menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan orang-orang. Hidupku juga penuh dengan imajinasi. Makanya, aku baru bisa merasakan jatuh cinta.


“Maafkan aku, Prof.” Aku menunduk. Tiba-tiba aku mulai teringat. Ketika aku selesai mengetik pekerjaanku, seorang satpam memberitahuku bahwa ada yang menjemputku. Padahal aku berencana untuk menginap di kantor untuk melanjutkan bab sisanya. Waktu aku menghampirinya, ternyata Prof Ben. Wajahnya terlihat datar sekali dan mengajakku pulang. Di jalan pun dia diam seribu bahasa, sedangkan aku malah tidur.


“Ya ampun, Prof! Aku lupa!” Aku berteriak di depan wajahnya.


Prof Ben mundur selangkah.


“Kita belum makan malam dan aku janji untuk masak di rumah.” Kemudian suaraku agak mengecil. Rasa bersalah meliputiku. Aku bodoh sekali.


“Memorimu sudah kembali?” tanyanya menyindir.


Aku mengangguk. Aku menghindar dari Prof Ben dan berjalan ke kulkas. Melihat stok makanan. Padahal tadi siang aku berencana untuk belanja karena aku tahu tidak ada stok makanan di kulkas.


“Kamu mau masak apa di jam dua pagi dini hari begini?”


Aku yang sedari tadi menatap kulkas yang agak kosong, bahkan jus jeruk pun sudah menghilang dari kulkas, kami habiskan pagi tadi.


“Jam dua? Sekarang jam dua?”


“Kamu sudah tertidur beberapa jam, aku belum tidur. Aku mengangkutmu dari mobil sampai kamarmu.”


Aku tidak nyaman berada di situasi seperti ini, perasaan bersalahku.


“Jangan membuat perasaan dan pikiranmu terombang ambing karena aku. Jadi kalau kamu nggak serius, abaikan saja aku.” ujarnya. Seolah-olah tahu isi hatiku.


“Bukan Prof. Aku serius.” kataku mantab.


Prof Ben menutup pintu kulkas, menyudutkanku hingga bersandar di kulkas. Kemudian dia menekan tubuhku dan menyambar bibirku. Ciumannya pelan. Aku mendengar dia menggumam sebentar karena aku tidak membuka bibirku sama sekali. Aku terlalu kaget dan lalu aku mendorong Prof Ben.


“Tunggu.” Aku mendorongnya. Dia berhenti. Menatapku.


“Kamu bilang, kamu mencintaiku?”


“Bukan ini maksudnya! Aku mencintai Prof Ben bukan karena aku ingin menciummu atau melakukan hal-hal yang bernafsu.”


“Oh begitu?”


Dia hanya tersenyum kecil. Lalu kembali berjalan ke ruang tengah. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berdiri terdiam di dapur dan akhirnya melakukan kegiatan memasak. Aku membuka lemari dapur paling atas dan banyak sekali stok mie goreng di sana. Makanan instan yang tidak pernah aku sentuh.


 


 


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2