
(Bima)
BRAAAK!!
Riko membanting kumpulan dokumenya setebal daun pintu di atas meja rapat. Aku tahu semua editor sibuk menyeleksi novel-novel yang sudah terbit kemudian dibacanya lagi. Hari ini Riko sedang tidak memakai lensa kontaknya. Jadi kacamatanya yang tebal bertengger di batang hidungnya. Aku menundukkan kepalaku sambil melirik ke wajah Riko yang sedang dalam kondisi tidak bagus.
“Jelaskan ke gue dengan singkat.” perintah Riko.
Jarang sebetulnya Riko marah padaku. Hanya kali ini aku amat sangat kesulitan menghadapi kondisi pribadi dan pekerjaan.
Dia menutup tirai penutup kacanya, hingga semua orang di luar tidak bisa melihat apa yang sedang kami lakukan di dalam.
“Ko, bukan maksudnya gue mau memberhentikan First Love. Gue cuma minta waktu bagaimana caranya agar gue tidak menulis sesuai kenyataan.”
“Ya tulislah dengan fiksi.”
“Masalahnya, First Love pasti mandek karena ini berhubungan erat sama gue. Apalagi, kalau diubah dengan perasaan gue yang memang tidak suka sama Prof Ben lagi.”
Aku membela diriku sendiri dengan suara pelan namun cemas.
“Lagipula gue juga harus mengumumkan kalau gue emang nikah sama Prof Ben. Penggemar gue pasti semakin menggila dan menunggu kelanjutannya kan? Nah, makanya gue bikin novel baru.”
Aku berhenti menjelaskan. Melihat ke arah Riko. Dia melepas kacamatanya dan mengucek matanya dengan kedua tangannya.
“Gue yakin, penggemar gue akan fokus sementara dengan novel yang gue buat.”
“Novel lo bahkan di bab pertama pun nggak ada romantis-romantisnya!”
“Memangnya gue harus menulis di setiap bab adegan romantis?”
“Itu yang disukai pembaca!”
Aku membanting tubuhku ke punggung kursi sambil menghela napas.
“Tenang aja, gue akan membuat Heroine Flower menjadi novel romantis gue yang kedua.” Aku menegakkan tubuhku. “Case closed.”
Aku keluar dari ruangan. Lalu duduk di tempatku sendiri.
“Bim, selamat ya Bim.” ucap Imah. Dia duduk di belakangku. Memutarkan kursinya.
“Selamat apaan?”
“Ya elo nikah sama Prof Kai.”
Semua orang menoleh ke arahku.
“Gue baca cerita lo dan ada announce di situ bahwa elo akan menikah.”
“Tapi bener kan lo nikah sama Prof Kai?”
“Prof Ben nama aslinya.”
“Oh iya, Prof Ben.”
Aku mendengarkan perkataan orang-orang hingga mereka berhenti tiba-tiba karena Mr. Levi memasuki ruangan. Bersama wanita cantik, bertubuh kurus tirus, wajah yang arogan, dan berpenampilan menarik. Semua yang menempel di tubuhnya adalah merek terkenal.
(Levi)
Aku melihat Ben berjalan tegak dari arah pintu masuk. Aku bisa melihatnya jelas. Wajahnya dari kejauhan menunjukkan ekspresi tidak suka padaku. Aku tahu maksudnya.
“Hi, Laras.” sapanya Ben pada seorang wanita cantik di depanku.
Laras kaget dan berdiri. Dia menoleh ke arah Ben dan menghambur ke pelukan Ben. Erat sekali.
“Ben sayang! You never call me!” katanya penuh dengan kemanjaan.
Ya, dan Ben lagi-lagi melihatku. Tatapannya menyalahkanku.
“Kamu di Beijing selama ini kan?”
“Ya iya! Tapi kamu sama sekali nggak kontek aku atau pun sekedar mendatangiku di Beijing?”
Laras melepas pelukannya. Dia sadar betul, Ben tidak membalas pelukannya. Sebelumnya, aku dihubungi wanita ini pagi-pagi sekali dan memaksa untuk dipertemukan dengan Ben. Pasalnya, Laras tidak ingin bertemu dengan Ben sendirian. Laras pulang ke Indonesia karena dia mendengar kabar – entah kabar dari mana – bahwa Ben akan menikah dalam hitungan hari. Aku bisa menebak kabar itu berasal dari Eyang Akhsit yang disambungkan dengan kolega-koleganya, dimana salah satu kolega tersebut adalah orang tua Laras.
Aku dan Ben membicarakan kantor dan bisnis. Laras seperti biasa adalah wanita yang memang berada di kalangan atas, jadi seperti biasa dia selalu mencampuri urusan orang lain yang sebetulnya bukan urusannya walaupun dia mengenal orang yang kita bicarakan.
“Apa kamu nggak mau hired aku menjadi artis di perusahaanmu, Ben sayang?” tanya Laras dengan wajahnya yang manja.
Ben sebetulnya muak melihatnya, hanya Ben masih berbaik hati untuk meladeninya.
“Bagaimana dengan karirmu di Beijing?”
__ADS_1
“Aku bisa meninggalkannya sementara. Gimana-gimana kan aku harus pulang ke sini.”
Ben tersenyum getir. Di sela-sela makannya, ponsel Ben berbunyi.
“Ya Riko? Darah? Darah siapa?”
Aku menatap Ben dengan penuh kekhawatiran. Tatapanku seolah-olah penuh arti bertanya padanya melalui telepati, ada apa?
“Pingsan? Di toilet?” tambah Ben.
“Ben, ada apa?? Siapa itu?” Akhirnya aku bertanya.
“Oke, oke gue segera ke sana.”
Ben menutup ponselnya. Meneguk air putih ke sekali habis dan mengambil jasnya yang dia buka dan sampirkan di belakang kursi.
“BEN!” bentakku.
“Yayai pingsan. Di toilet kantor.”
“Kenapa?” tuntutku.
“Yayai siapa?” Laras juga ikut bertanya. Dia merasa tidak suka Ben hendak pergi.
“Gue mau ke kantor. Oke tolong bayarkan, Lev.”
“Oh oke. Nanti gue nyusul segera.” Iya, karena aku masih membawa Laras dan tidak mungkin aku meninggalkannya. Tapi sepeninggal Ben, aku makan makananku dengan cepat dan berkata pada Laras aku harus kembali ke kantor.
(Ben)
Aku berlari menaiki tangga hingga lantai 3. Semua orang melihatku berlarian dan membuka ruangan Levi dengan kasar. Aku melihat Yayai memegang gelas, sedang berbicara dengan Riko dengan suara yang lemas.
“Yayai? Kamu kenapa? Nggak apa-apa kan?” Aku memegang wajahnya, memeriksa tangannya, dan kakinya.
“Rikoooo!” Mata Yayai melotot ke arah Riko.
“Eh gue harus bilang. Ini kan ulah yang disengaja gara-gara calon suami lo.” Riko mengangkat bahunya. Tidak ingin disalahkan.
Calon suami? Aku mengerutkan dahiku. Berpikir keras.
“Bima ke toilet…”
“Aku ke toilet, aku nggak tahu pas aku mau keluar, pintunya nggak bisa dibuka. Trus dari bawah pintu ada darah di atasnya tikus.”
Yayai mengatur napasnya. Dia memotong penjelasan Riko.
“Pas aku dorong keluar kotak yang isinya tikus berdarah, aku nggak bisa buka pintu toiletnya.”
Yayai melirik ke Riko. Dia seolah membenci Riko kenapa harus melapor ke aku.
“Trus kenapa kamu nggak teriak?”
“Aku udah teriak. Kayaknya nggak ada yang denger. Kan jam makan siang.” Yayai menjelaskan kembali.
Sudah cukup. Aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Aku tahu Yayai pingsan karena apa.
“Oke. Asal kamu nggak apa-apa.”
Aku menyematkan rambut ke belakang telinganya.
“Kamu mau pulang?” tawarku.
“Aku lagi banyak kerjaan.” jawabnya.
“Pulang sajalah. Bahkan di tempat ini pun nggak aman.”
Aku melirik ke arah Riko. Yayai melihat Riko dan …
“Itu kan karena fans gilamu, Prof.” sautnya.
Aku terpaku. Melihat ke arahnya lekat. Sesuai perkataanku tadi pagi, aku akan menghukumnya jika dia masih memanggilku dengan panggilan Prof. Lalu aku mencium bibirnya di depan Riko. Yayai kaget dan mendorongku.
“Eh maaf, maksudnya Mas.”
Tindakanku membuat Riko jijik dan akhirnya memaksanya untuk keluar ruangan.
“Apa-apaan tadi itu!!!” Yayai memelototkan matanya padaku.
“Kamu yang apa-apaan. Kan udah aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu.”
“Aku lupa.”
__ADS_1
“Aku akan menciummu di mana pun kita berada, agar kamu ingat.”
“Menjijikan!”
“Aku nggak anggap itu menjijikan.” Aku mengangkat bahuku.
Tidak lama Levi datang. Dia menanyakan sesuatu kenapa Yayai bisa pingsan.
“Iya ada kertas tulisannya jangan nikahi Prof Ben.” ujar Yayai ketika Levi menanyakan kenapa Yayai bisa tahu kalau itu adalah ulah mahasiswaku.
Levi mengangguk setuju.
“Berarti harus dicek cctv-nya.” kataku memberitahu.
Levi mengangguk lagi.
Hanya Yayai sepertinya sudah tidak nyaman terlalu lama berada di ruangan Levi semenjak pingsan. Jadi dia memutuskan untuk keluar dan duduk di mejanya.
(Riko)
Aku menyandarkan tubuhku di sofa kecil. Memijat-mijat kepalaku yang beberapa hari ini membuatku kurang tidur gara-gara membaca ulang novel-novel yang sudah terbit di perusahaan untuk di film-kan.
Seorang wanita berambut panjang ikal dan memakai celana pendek datang dan duduk di pahaku. Dia merangkul leherku. Terasa nyaman.
“Udah beberapa hari ini kan kamu kurang tidur?” tanyanya. Dia tidak memakai make up kali ini. Aku suka dengan wajahnya yang natural.
“Hmmm… Bima tadi pingsan.” Aku memberitahu.
“Ha? Pingsan?? Kenapa anak itu akhir-akhir ini suka pingsan??” kagetnya. Dia berusaha mengingat berapa kali dalam beberapa bulan ini Bima pingsan.
“Ada mahasiswanya si Prof Ben itu datang ke kantor dan ngunciin Bima di dalam toilet. Bima juga diancam pake darah tikus.”
“ASTAGA!”
Wanita ini begitu syok.
“Apa di kampusmu fans garis kerasnya si Ben ini bener-bener ada, Tas?”
“ADA! Tapi aku nggak yakin kenapa kok bisa sampai kejar Bima ke kantornya.”
Tasya menghela napasnya. Dia berdiri. Dia sudah beberapa hari ini ada di kosanku mengerjakan thesisnya. Terkadang dia datang ke kantorku hanya untuk membantuku mengerjakan sesuatu. Kami banyak berspekulasi mengenai kejadian yang baru saja dialami Bima. Sampai pada pembicaraan mengenai Bima membuat hiatus novel First Love-nya.
“Kok bisa?” tanya Tasya. Dia seolah-olah menjadi sahabat yang tidak tahu segalanya. Dia agak kesal. Iya, semenjak Bima tinggal bersama Ben, Bima jarang sekali menelepon kami atau sekedar menanyakan sesuatu untuk memutuskan apa pun di dalam hidupnya.
“Dia bilang, dia mau menikah sama Ben.”
“Loh? Katanya dia menolak menikah dan akan cari cara kabur dari Prof Ben!?”
“Ada sesuatu yang tidak bisa Bima ceritakan ke kita. Mungkin.”
Tasya benar-benar kesal. Dia merasa ini tidak adil baginya karena Bima memutuskan segala sesuatunya sendiri.
“Aku akan ke rumah Bima besok.”
“Nggak perlu. Aku rasa Bima sudah memutuskan untuk menikah berarti dia tahu apa yang dia perbuat.”
“Bima kan udah nggak cinta lagi sama Prof Ben!?”
“Sepertinya iya.”
Aku sedikit tersenyum.
“Ada apa?” Tasya penasaran.
“Kayanya keadaan berbalik.”
“Apanya yang berbalik!? Aduh di sini apakah aku aja yang nggak tahu apa-apa!?” Tasya menghentakkan kakinya.
“Ben yang sepertinya menyukai Bima.”
Tasya terdiam.
“Ini serius?”
Aku mengangguk.
***
__ADS_1