Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
32 - Tujuh Kali


__ADS_3

(Bima)


 


Lagi, Ben menaruhku di sebuah hotel bersama Mamanya untuk mencicipi semua makanan. Kami sudah menentukan hotel untuk pernikahan nanti. Kami pun menggunakan jasa katering di dalam hotel tersebut hingga kami diharuskan mencicipi semua menu yang akan kami pilih nanti.


“Harusnya Ben ikut ke sini sebentar. Makan di sini. Jadi pas kalian pulang ke rumah nggak perlu masak lagi.” celetuk Mama Ben. Ada benarnya juga.


“Apa kita bisa bungkus beberapa menu ini, Tante?” bisikku. Aku sambil mengunyah choipan yang penuh dengan ebi.


Mama Ben tertawa terbahak-bahak.


“Nanti Tante tanya yah. Seharusnya sih bisa.”


“Kalau bayar?”


“Ya nggak apa-apa kalau bayar. Kamu pilihkan apa yang Ben suka. Tante kan udah lama nggak tinggal sama dia, siapa tahu makanan kesukaannya berubah.” Mama Ben mencomot siomay ke mulutnya. “Wah ini enak.” Dia mengagumi semua menu di hotel ini. “Kayaknya menu makanan di sini enak-enak daripada yang di hotel tadi ya?” bisiknya.


Iya ini adalah hotel kedua kami. Rasanya perutku mau meledak memakan semua makanan yang ada. Tapi mulutku tidak mau berhenti dan juga Mama Ben. Soalnya kami akui makanan di sini memang betulan enak. Selang beberapa waktu, kami sempat mengobrol dengan marketing hotel seorang pria yang sangat cantik, wangi, dan luwes sekali. Aku pun kalah luwesnya sebagai wanita.


“Ya?” Aku mengangkat telepon dari sebuah nomor yang tidak ku kenal.


“Yayai?”


“Bukan.” jawabku. Aku tahu ini suaranya.


Dia sempat terdiam.


“Yayai jangan becanda.” katanya datar.


“Iya kenapa?”


“Kamu sudah selesai atau masih lama?” tanyanya.


“Aku ada Gatot Subroto bukan di Kuningan.”


“Kenapa bisa sampai di situ?”


“Ini hotel kedua.”


“Oh… jadi bagaimana?”


“Apanya?”


“Sudah ada pilihan?”


“Belum.” jawabku singkat.


Aku benar-benar mau muntah.


“Bim, itu Ben?” Mama Ben mengalihkanku.


“Iya Tante.”


“Suruh Ben jemput sekarang.” perintahnya. Aku rasa suaranya terdengar oleh Ben.


“Aku jemput sekarang?”


“Iya.”


“Agak lama sedikit ya? Karena ini jam macet.” ujarnya tidak yakin.


“Kalau begitu biar aku pulang sendiri. Aku bisa naik kereta. Aku tunggu saja di rumah.” ujarku pelan. Aku menutup mulutku agar tidak terdengar dengan Mama Ben.


“Yayai…”


“Ya?”


“Apa nggak ada solusi lain?”


“Oke oke… aku akan ke kantor Mas Ben saja. Dari sini sudah agak dekat.”


“Begitu lebih baik. Sampai ketemu. Hati-hati.”


Aku menutup teleponnya. Mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Wangi parfum yang menyengat dari si pria marketing ini sungguh mengganggu hidungku. Aku tidak begitu suka dengan parfum yang manis. Parfumku saja parfum pria.


Mama Ben setuju untuk mengantarkanku ke kantor Ben. Ya tidak apa-apa sih, karena dia kan disetir oleh sopirnya. Jadi aku pikir, aku pun tidak merepotkannya. Aku menyukai dan menghormati Mama Ben. Dia begitu baik padaku. Sempat beberapa kali menelepon Papaku untuk melaporkan perkembangan persiapan acara pernikahanku. Sedangkan Papaku sibuk mencari baju seragam di Yogyakarta untuk dikirim ke Jakarta.


Sesampainya di kantor Ben yang agak ramai, karena ada beberapa wanita dan pria yang keluar masuk gedungnya.


“Mee?” Ben kaget melihat Mamanya muncul di kantornya. Dia sedang berdiri menyalami beberapa wanita cantik di depannya dan tersenyum ke arah mereka. Sepertinya aku tidak menyukainya dia tersenyum dengan wanita-wanita itu. Hanya aku ingat, pekerjaannya adalah bergerak di bidang media dan pertelevisian. Yaudahlah ya.


“Ben… ini Mee bawakan makanan, untuk makan malammu.” Mama Ben menunjuk ke kantong kertas yang aku pegang.


“Khob khun mak na krab, Mee.”*  Mas Ben menangkupkan kedua tangannya untuk Mamanya.


Sepeninggal Mee yang mengantarku menemui Ben, aku sempat menunggu Ben selesai bekerja. Aku ditinggal sendirian di ruang kerjanya yang tidak begitu luas, tapi memanjang. Di belakang kursi kerjanya aku bisa melihat jalanan yang ramai dan agak macet. Kalau jam segini memang sedang rush hour. Orang-orang berlomba-lomba untuk cepat pulang ke rumah masing-masing. Sebetulnya perutku terlalu kenyang. Jadi aku melakukan kegiatan yang mengusir rasa kantukku.


Aku membuka bungkusan makanan yang dibungkus. Lalu aku mengirimkan pesan singkat pada Ben untuk makan malam dulu sebelum makanan yang terbungkus ini menjadi dingin. Tidak berapa lama, Ben muncul dengan kacamatanya yang bertengger di hidungnya. Aku sudah lama sekali tidak melihatnya memakai kacamata. Aku mencari jawaban sendiri atas rasa penasaranku, kapan dia memakai kacamatanya. Mungkin ketika matanya terasa lelah. Aku pikir juga begitu. Di hari-hari biasa, dia tidak pernah memakai kacamata soalnya. Begitu pun denganku, ketika aku harus terpaksa bekerja, menatap laptop dan tulisan, aku rasa aku harus memakai kacamata untuk membantuku melihat tulisan dengan jelas. Sepertinya begitu.


“Ada apa?” tanyanya sambil mengunyah, karena aku melihat kacamatanya.


“Nggak apa-apa.”


Dia makan dengan lahap.


“Enak?” Aku mengalihkan pembicaraan.


“Enak. Ini enak. Apa karena aku lapar?”


“Enggak. Ini emang enak.”


“Beli dimana?”


“Ini makanan tester hotel.” jawabku lugu.


“Pfft… makanan tester?” Dia tertawa sambil tersenyum. “Terus? Kamu dan Mee memilih di hotel yang makanannya enak ini?”


Aku sempat diam.


“Kayaknya sih iya.”


“Gimana suasana? Bagus?”


“Aku rasa semua hotel sama saja.” Aku mengangkat bahuku. Tidak tahu bedanya hotel pertama dengan hotel kedua. Untungnya Mama Ben sudah menjatuhkan pilihannya di hotel kedua. Kalau tidak... besok kami akan mendatangi hotel ketiga.


“Aku pikir juga begitu.” Ben setuju dengan pendapatku. “Gimana kalau nggak usah di hotel? Tapi kateringnya dari hotel itu?” Dia mengeluarkan ide


“Jadi nggak di hotel?”


“Loh? Kamu mau di mana? Katanya semua hotel sama aja?”


“Kalau aku… lebih baik kita tidak menikah aja.”

__ADS_1


“Yayai…” Ben berhenti makan. Dia menaruh piring plastiknya. Menatapku.


“Walaupun kita tidak saling mencintai, apa bisa kita menikah tahun depan?” Aku menawarnya.


“Jangan menghilangkan nafsu makanku.”


Aku memegang tangannya, karena dia memakai kacamata yang membuat jantungku “agak” berdegup kencang walaupun sedikit – aku mengalah. Menerima nasib bahwa memang aku tidak bisa lepas darinya.


“Tenang aja, aku nggak akan kabur.”


Apaan! Padahal aku ingin sekali lompat dari kantor ini.


“Habiskan makanannya. Terus… jangan lupa setor nama-nama koleganya Mas yang mau diundang.” Aku tersenyum padanya. Terpaksa.


“Kamu panggil aku apa?” Perasaannya berubah menjadi riang kembali.


“Mas Ben. Kamu punya jatah seratus orang.”


“Seratus? Sedikit sekali! Memangnya ada berapa kuota tamu yang akan diundang?”


“Mas Ben bisa ambil kuotaku. Aku tidak begitu banyak kolega. Aku ada sisa lima puluh.”


Dia menarik pingganggku agar aku duduk dekat dengannya.


“Jangan jauh-jauh duduknya.”


Kemudian dia makan kembali. Aduh perutku begah sekali.


 


 


(Ben)


 


“Yooo, Chai Prasert Ratanarak Nopadon!!” sapa Levi diujung teleponnya.


“Sudah berapa lama elo hidup sama gue dan elo masih nggak bisa sebut nama gue dengan baik?” sindirku. “Ada apa?”


“Lapor, calon istri lo meng-hiatuskan novel First Love-nya.”


“Kenapa?”


“Tanya aja sama dia.”


Aku diam.


“Nah, jadi dia terbitin novel baru. Alur ceritanya bagus dan…” Levi berhenti.


“Dan apa?”


“Jangan kecewa ya?”


“Kenapa emangnya? Ada apa sama ceritanya?”


“Sama sekali bukan cerita tentang elo.” Levi terkekeh.


“Kirimkan link-nya. Gue mau baca.”


“Wooohoo, siap bos!”


Setelah berbicara agak lama dengan Levi, aku melihat Yayai dari kaca depan. Kami sudah sampai di rumah, hanya dia ketiduran. Aku tidak berani mengangkatnya karena aku ingin dia mengganti bajunya sebelum tidur. Jadi aku menunggunya bangun di halaman dengan pintu mobil terbuka.


Tangannya bergerak sendiri dan memukul lengan sebelahnya. Ternyata nyamuk menempel di lengannya. Kemudian dia membuka matanya.


“Astaga aku ketiduran?”


“Menurutmu?” Aku menggelengkan kepala.


“Kenapa aku nggak dibangunin?”


Ini kedua kalinya dia ketiduran saat perjalanan pulang. Dia keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya dengan pelan. Yayai melihat jam tangannya.


“Setengah dua belas?” kagetnya.


Dia langsung berlari masuk ke dalam rumah. Pintunya sudah terbuka. Jadi dia langsung masuk saja ke dalam rumah. Aku mengikutinya cepat sambil mengunci mobil.


“Kenapa sih Prof nggak bangunin aku!!??” sebalnya. Dia berlari mengambil handuk di halaman. Hampir menginjak Chloe. Dia melepas syal dan melemparnya ke sofa.


Aku memperhatikan tingkahnya. Satu.


“Memangnya ada apa?”


“Aku ada zoom meeting dengan fans.”


“Malam-malam begini?”


“Iya.”


Dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.


Aku sempat menyalakan TV dan mencari channel yang kumaksud dan memantau program siarannya.


“Prooooffffff... aku lupa handuk piyamaku. Bisa minta tolong ambilkan di kamar?” teriaknya. Dua.


Aku masuk ke kamarnya yang masih gelap dan mencari handuk piyamanya. Kemudian aku langsung memberikannya pada Yayai.


“Trims Prof!”


Tiga.


Tidak berapa lama dia keluar dari kamar mandi. Rambutnya digulung. Memperlihatkan lehernya lalu lari secepat kilat ke dalam kamar. Kemudian keluar dan memanaskan air di ceret sambil memainkan ponselnya.


“Prof mau teh?” tawarnya dari dapur.


“Boleh.”


Empat.


Tidak berapa lama, Yayai meletakkan segelas teh untukku.


“Kenapa online malam-malam?” Aku masih penasaran.


“Karena besok Sabtu.”


Aku mengangguk.


“Sudah sedekat itu kamu dengan fans-mu?”


Dia tersenyum senang.


“Aku akan online.”

__ADS_1


Lalu dia melenggang pergi meninggalkanku di ruang TV. Aku sempat menyeruput tehnya hingga setengah gelas dan meninggalkan TV-nya menyala untuk mandi sebentar. Aku masih mendengar suara Yayai dari dalam kamarnya.


Aku membuka pintu kamarnya dengan pelan. Penasaran apa yang sedang dibicarakannya.


“Sabtu besok? Kayaknya nggak ada deh. Mungkin aku akan tidur aja seharian sih.”


Aku muncul di belakangnya. Kameranya sedang menyala. Yayai kaget. Wajahnya berubah menjadi merah.


“Prof…ngapain ke sini?” bisiknya. Tapi suaranya masih jelas terdengar.


Lima.


“Selain tidur, dia harus memasak.” kataku pada para fans-nya. Aku bisa melihat wajah-wajah fans novel Yayai. Ada teriakan-teriakan yang membuatku risih, kemudian aku duduk di pinggir tempat tidur Yayai agar tidak terlihat lagi.


“Maaf semua. Ada gangguan.” ujar Yayai tidak enak. Dia melirikku. Sebal. Tangannya yang tidak tampak kamera, mengusirku. “Oke lanjut. Hmm… Prof memang biasa ganggu, aku lupa kunci pintu kamar aja. Biasanya kalau jam-jam segini… oh iya! Di pertemuan online selanjutnya aku mau ajak Caterine ya!”


Enam.


“Caterine?” tanyaku. “Siapa?” Aku pura-pura tidak tahu. “Oh… Chloe!” celetukku. Yayai menoleh ke arahku. Dia menendangku pelan agar aku diam.


“Gimana kalau kita sudahi sampai di sini?”


Bagus. Dalam hatiku. Aku akan buat perhitungan.


Yayai mematikan laptopnya.


“Apa-apaan sih!” marahnya. Yayai berdiri dan bertolak pinggang. Seolah menantangku.


“Wah wah! Hebat ya sudah mulai lupa.”


“Apaan yang lupa! Kamu itu tukang ganggu! Sana keluar!”


Dia menarik tanganku untuk mengusirku dari kamarnya. Sontak saja aku malah balik menariknya. Dia terlempar di tempat tidur. Aku menatap bibirnya yang memakai lipstick tipis.


“Mau ngapain?!” ancamnya.


“Mau buat perhitungan.”


“Berhentilah menggangguku, Prof.”


“Tujuh.” kataku.


“Apaan sih? Tujuh apa?!”


Tiba-tiba Yayai terdiam. Wajahnya berubah dari menantangku menjadi wajah yang penuh tatapan memelas. Kaget. Kemudian dia mendorongku sekuat tenaga dan kabur dariku. Dia lebih kaget lagi ketika hendak membuka pintu dan mendapati tidak ada kunci tersemat di lubang kunci.


“Astaga. Aku minta maaf. Aku nggak sengaja.” Yayai menangkupkan kedua telapak tangannya. Aku berjalan pelan ke arahnya. Dia berjalan mundur dan terduduk di sofa karena aku menyudutkannya.


“Lupa?”


“Iya. Beneran.” Yayai menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya padaku.


Ada ketakutan di wajahnya.


Aku sudah mendekati tubuhnya dan hendak menerkamnya.


“Tunggu…tunggu.”


“Konsekuensimu adalah tujuh kali.” ujarku hendak menciumnya. Yayai langsung melipat bibirnya ke dalam. Dia mendorong tubuhku.


“Aku bilang tunggu.”


Oke. Apa pembelaannya.


“Gimana kalau aku yang mulai menciummu, Mas?” tawarnya. Wajah Yayai agak pucat. Aku duduk berlutut dihadapannya.


“Sounds good.” Aku setuju dengannya.


Yayai memiringkan kepalanya dan mengecup pipi kiriku dua kali, pipi kananku dua kali, dahiku satu kali, dan bibirku dua kali.


“Done.” katanya. Dia hendak berdiri. Hanya aku mengunci kakinya.


“This is not what I want.” protesku.


Mata Yayai memelas dan agak berair.


“I won’t being out of control.” katanya pelan. “Just get out.”


Aku tertawa terbahak-bahak.


“Kalau kamu kehilangan kendali gara-gara menciumku bukannya itu bagus?” Aku memainkan rambutnya yang jatuh tergerai dan menyematkannya ke belakang telingnya. “Aku lebih suka kamu yang kehilangan kendali seperti malam itu.”


“Ya ampun Mas. Jangan diungkit lagi. Jadi maumu apa? Aku capek.” Suaranya bergetar. Ingin menangis.


Benar kata Levi. Aku memang berubah semenjak bersamanya. Anak ini membuatku tergila-gila. Aku tidak bisa melepasnya malam ini.


“Tidurlah.” Aku berdiri. Membebaskannya. Aku merogoh kunci kamarnya di dalam kantongku dan menempelkannya kembali.


Aku bisa mendengar Yayai menghela napas lega. Dia berjalan ke ruang sebelahnya. Aku diam sebentar kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya. Yayai kaget.


“Apa lagi?” tanyanya pelan. Intonasi suaranya sengaja dihaluskan.


“Kamu tahu nggak?”


“Apa?”


“Lampu kamarku mati. Putus tadi. Jadi kamarku gelap.”


“Jadi?”


“Aku numpang tidur di sini aja.”


Aku langsung naik ke tempat tidurnya. Menempati posisi biasa. Yayai mundur dan bergeser.


“Oh Tuhan…” komplainnya.


Aku membalikkan tubuhku ke arahnya.


“Good night.”


 


 


****


 


 


 


 

__ADS_1


* Terima kasih banyak\, Ma


__ADS_2