
(Bima)
Pukul 10.35 WIB.
Ponselku berbunyi nyaring. Bukan. Bukan alarm. Nada deringnya berbeda. Nada deringnya adalah khusus aku setel untuk Papa kalau menelponku.
Aku bangun dengan terpaksa. Belum sempat aku terbangun, Ben sudah memberikan ponselnya ke aku. Dia cukup meraba ponselku yang terletak di atas meja.
“Kayaknya aku harus membuat meja di sebelahnya agar hapemu ada di sebelahmu dan kenapa setiap pagi kayaknya ada aja yang nelpon kamu?” komplainnya dengan suara serak. Dia memelukku. Kemudian tertidur lagi sambil menghembuskan napasnya di kepalaku.
Aku tidak menjawab pernyataan Ben. Aku hanya mengangkat teleponku.
“Ya, Papa?”
“Baru bangun ya?”
“Iya. Kenapa Pa?”
“Papa ada di depan.”
“Depan mana?”
“Ya depan sini. Depan pagar.”
Aku langsung bangkit dari tidurku. Tidak mengantuk lagi.
AAWWWW.
Teriakan Ben pasti sudah terdengar oleh Papa, karena tangannya tertarik oleh tubuhku. Cepat-cepat aku menutup mulut Ben.
“Tunggu aku keluar aja.”
Aku menutup sambungan telepon Papa.
“Papa di luar.”
“Di luar mana?” tanya Ben malas. Dia malah berbalik ke arah berlawanan. Aku mendorong tubuhnya.
“Di luar pagar rumah ini. CEPETAN BANGUN!!!” teriakku. “Dan pindah ke kamarmu!!!” Aku mulai panik.
Ben menggelinding ke lantai dan langsung berlari keluar dari kamarku dan masuk ke kamarnya. Sedangkan aku, berlari keluar rumah dan membuka pintu pagar yang terkunci dari dalam.
Aku melihat Papa berdiri dengan banyak barang bawaannya, seperti orang yang habis pulang dari kampungnya. Keringatnya bermunculan di dahinya. Aku memeluk Papa saat itu juga.
“Papa udah pencet bel berkali-kali, Bim.” Dia menggeleng kepalanya. “Bantu Papa angkat ini.” Papa menunjuk ke beberapa plastik yang ada di belakangnya.
“Semua Papa bawa? Papa naik apa dari Yogya?”
“Kereta.”
“Tunggu Pa, aku bangunkan Mas Ben dulu.”
Waktu aku membalikkan badan, aku menabrak tubuh Ben. Tepat waktu sekali dia datang. Rambutnya masih berantakan sama seperti aku memaksanya bangun. Papa sudah masuk ke dalam halaman. Ben langsung menyalami Papa.
“Ke sini sama siapa, Om? Kenapa nggak bilang biar aku jemput.”
“Pagi-pagi sekali pasti kalian belum bangun kan!?”
Ben melirik ke arahku. Dia tersenyum getir. Dengan sigap tanpa aku suruh dia membawa bawaan Papa.
“Apa ini?” tanya Ben sambil mengangkat barang yang paling besar.
“Baju seragam.” jawab Papa.
BRUUUKKK
Ben meletakkan barang yang paling besar di lantai. Aku mendengar Chloe mengeong di dapur.
“Seragam nikahanmu, Ben. Buat keluargamu.” Papa memberitahu.
“Sebanyak ini?!!” Ben tidak percaya.
“Cepetan diambil yang di luar nanti diambil orang!!” teriakku dari dapur.
(Sutrisno)
Flashback,
Dua minggu yang lalu aku kedatangan seorang laki-laki. Agak familiar di ingatanku. Dia bukan mau menginap di penginapanku. Tetapi dia mau menemui Bima. Sejak kapan seseorang mencari Bima, anakku satu-satunya dengan wajah yang cemas dan serius?
“Tapi kayaknya Bima nggak ke sini.” katanya menjelaskan. Biasanya kalau Bima pulang pun dia pasti akan memberitahuku.
“Dia pasti ke sini.” Laki-laki ini meyakinkan. Dia mengaku bernama Ben.
Akhirnya, aku percaya kalau Bima akan pulang dan menunggu kedatangan Bima bersama. Ben bilang, dia datang karena Bima merasa tertekan hubungannya dengannya. Dia menjelaskan karena Ben mengajaknya menikah.
Aku sempat terdiam beberapa saat. Syok mendengarnya. Kalau memang anakku tertekan menjalin hubungan dengan laki-laki ini ya sebaiknya tidak perlu diteruskan. Sebetulnya aku masih tidak mengerti Ben terlalu memaksa Bima, hingga pada saat keluarga Ben datang untuk melamar Bima. Yang membuatku aneh, Bima senang sekali dengan kedatangan keluarga Ben. Coba tertekan darimana?
Setelah aku tahu ceritanya, keesokan paginya waktu sarapan. Ben mengaku. Dia sudah mengenal Bima 14 tahun yang lalu.
“Empat belas tahun yang lalu?” Aku mengerutkan dahi. “Waktu kapan itu?” Aku masih mengingat. Siapa tahu Ben sempat bertemu denganku atau kami pernah bertemu di suatu tempat dan aku tidak mengingatnya.
“Iya, jelas Om nggak ingat. Karena waktu kami jatuh ke sumur lima hari itu… Om nggak sapa aku atau apa, karena terlalu fokus dengan Bima.”
Ingatanku mundur ke 14 tahun yang lalu. Sepertinya 14 tahun yang lalu adalah hari tersedihku. Istri dan anak pertamaku meninggal seketika karena kecelakaan. Setelahnya, Bima menghilang. Ternyata dia terjatuhke dalam sumur tua yang jauh sekali dari pemukiman penduduk dan sumur itu terletak dekat rawa. Hutan rawa itu dulu berada di rumah yang ditempati Bima sekarang. Empat belas tahun yang lalu, belum padat sekali penduduknya.
“Kamu…” Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Aku terlalu kaget untuk cerita yang seperti ini. Mungkin karena aku sudah tua. “Jadi bagaimana kamu…”
Sebetulnya aku penasaran sekali.
“Aku sempat dirawat di rumah sakit yang sama dengan Bima, Om. Waktu aku tahu Bima dirawat, aku menemuinya. Kemudian Bima bilang dia tidak ingat aku.”
Aku ingat sekarang.
Yang aku tahu, aku menemukan Bima bersama seorang laki-laki yang sudah dewasa bersamanya jatuh ke sumur dulu. Hanya, ketika kami menanyakan padanya apakah dia bersama orang lain di dalam sumur, Bima hanya bilang tidak. Dia sendiri di dalam sumur bersama seekor kucing warna agak kecoklatan. Namanya Chloe. Setelahnya dia tidak cerita apa-apa lagi.
“Aku dan Bima berjanji akan menikah.”
__ADS_1
Aku melihat Ben serius.
“Janji empat belas tahun yang lalu?” Aku memastikan.
Ben mengangguk.
“Hanya karena Bima waktu itu masih SMP, jadi aku bilang kita pacaran saja dulu. Dia bilang mau.” jelas Ben.
Bima masih SMP waktu itu. Waktu Mama dan Kakaknya meninggal karena kecelakaan. Anehnya Bima tidak menangis meraung-raung. Berbeda dengan keluarga almarhumah istriku. Dia berusaha tegar. Bima sadar akan kesendiriannya dulu. Ketika tahu, Bima tidak pulang ke rumah hingga larut malam dan berlangsung selama 5 hari, aku panik sekali. Nasib sial apa yang menimpaku, sudah ditinggal mati istri dan anak pertama, sekarang anak satu-satunya pun harus meninggalkanku.
“Tapi Om… Bima nggak tahu kalau aku pernah mengenalnya.”
Kali ini aku lebih syok.
“Kamu belum cerita apa-apa?”
Ben menggeleng.
“Apa perlu dikasih tahu?”
“Jangan Om. Biarkan saja begini sampai selamanya. Bima sudah cukup menderita. Mungkin dia mengalami trauma dulu hingga dia pun lupa dengan orang yang bersamanya waktu di sumur dan janji-janji itu. Mungkin itu halusinasinya.”
“Halusinasi juga tidak mungkin sampai lupa sama sekali. Memang jawabannya adalah trauma. Pasca tragedy sumur itu, Bima memiliki phobia ruangan sempit dan gelap.”
“Aku tahu, Om.” Ben mengangguk. “Jadi biarkan saja seperti ini.”
Ben tersenyum padaku penuh harap.
“Kenapa kamu baru muncul, Ben?” tanyaku.
“Setelah tahu Bima lupa denganku dan kebetulan aku baru lulus sarjana. Aku ke Bangkok.”
Sekarang,
Bima meletakkan segelas teh hangat padaku. Aku bersandar di sofa dengan udara pagi yang masuk dari halaman belakang.
“Chloe!” teriak Bima dari dapur. Ada suara kucing mengeong ganas di dapur. “Makanya awas, jangan duduk disini!” omel Bima pada seekor kucing.
Ben datang ke dapur dan memindahkan Chloe yang sepertinya duduk di sebelah kaki Bima.
“Chloe itu cuma minta dielus.” celetuk Ben. “Aku mau ya tehnya.” Bima melirik Ben dengan sinis.
Mereka berdua dari awal yang aku perhatikan, suka sekali bertengkar. Hal-hal kecil selalu diributkan. Walaupun kebanyakan Bima yang sering terlihat tidak suka pada Ben.
“Om, baju seragamnya banyak banget.” Ben komplain. Dia menendang-nendang barang bawaanku yang paling besar.
“Pesanan Mamamu.”
Ben menunjukkan wajah yang datar. Seolah-olah, Mamanya terlalu berlebihan untuk pernikahannya.
Ternyata yang ditunggu datang juga. Mama Ben datang, seperti biasa wanita ini masih terlihat seperti dulu. Aku bertemu dengannya di rumah sakit. Dia menghampiriku yang sedang menjaga Bima dan meminta maaf atas apa yang menimpa Bima.
Flashback,
“Anak saya yang belum terima kalau Bima katanya tidak ingat sama Ben.” keluhnya. Suaranya rendah. Terdengar sedih. Sedih karena Ben saat itu begitu terpukul.
“Maafkan saya, Mbak. Anak saya sepertinya trauma. Akhir-akhir ini sangat berat untukknya.” Suaraku pun terdengar sedih. Saat itu yang penting kedua anak kami dalam keadaan sehat dan tidak kurang dari suatu apa pun. Kami sangat memaklumi.
“Ben itu ditinggal sama Papanya. Dia marah Papanya tidak datang ke acara kelulusan sarjananya. Yang saya tahu memang suami saya meninggalkan saya.”
Aku terdiam saat itu di ujung telepon. Sepeninggal Ben dari penginapan dua minggu yang lalu.
“Sepertinya anak kita mengalami masa yang berat di usia mereka yang masih muda.”
“Iya betul, Mas.”
Sekarang,
“Nggak bisa, Mas.” Aku mendengar suara Bima tertahan. Dia ingin marah hanya suaranya masih pelan.
“Apanya nggak bisa? Ya harus bisa dong. Ini tuh udah sisa dua minggu lagi. Eh nggak sampe dua minggu malah.” ujar Ben.
“Tapi kamu mau ubah kamarku jadi apa?”
“Itu dinding pembatasnya mau aku robohkan.”
“Trus aku nonton tv di mana?”
“Lah kan bisa di sini. Di sini tv nya besar.”
Aku mendengar perdebatan itu dengan penasaran. Aku ingin tahu apakah anakku sendiri akan bahagia dengan Ben? Atau malah Ben yang tidak bahagia dengan anakku sendiri. Sebetulnya berat memikirkannya. Memikirkan Bima yang dari SMP saja hidup di Jakarta sendirian saja aku setres. Ini menyerahkan anakku satu-satunya dengan orang lain.
“Sofa di kamarmu masih ditaro disitu kok.” ujar Ben pelan.
“Kenapa sih kamu sibuk banget urusin kamarku?” kesal Bima.
“Kamar kita.”
“Mas Ben… kamu kan harus tidur…”
“Bimaaa…” Aku menyela Bima. Aku harus menyudahi perdebatan renovasi kamar mereka. Setelah pembicaraan siang tadi, Ben memutuskan untuk tinggal disini dengan Bima dan dia menyetujuinya.
(Bima)
Aku melempar kacang ke mulutku. Masuk.
“Bima!”
“Hmmm.”
“Elo denger nggak sih?”
“Iya denger.”
“Kok elo sekarang nyantai sih mau nikah? Bukannya kemarin elo bilang mau kabur dari jeratan Prof Ben?”
__ADS_1
Komplain Tasya. Dia datang malam itu. Sendirian. Kami duduk di sofa sambil menonton TV di kamarku. Papa tidur di kamar Ben, sedangkan Ben sendiri tidur di sofa ruangan dekat dapur.
“Elo pikir gue gak panik? Waktu gue tinggal dua minggu lagi. Terus menikah loh ini? Dan ini pura-pura.”
“Jangan ngaco lo. Kalau ini pura-pura ya batalkan aja!”
Aku terdiam. Rasanya mau menangis. Aku memang tidak tahu mau berbicara dan bercerita seperti apa pada Tasya. Haruskah aku bilang karena aku diancam oleh Ben karena rekaman suara aku hampir meniduri Ben? Atau aku berbuat tidak senonoh pada Ben?
“Haruskah setelahnya gue cerai? Satu tahun? Dua tahun kemudian?”
“Itu yang gue pikirkan. Gue nggak mau hidup lo sia-sia.”
Tasya! Hentikan bertanya seperti itu. Aku berteriak di dalam hati.
“Gue cinta sama Mas Ben.” Akhirnya aku mengatakan ini. Mau tidak mau. Alasan apa yang harus aku katakan pada Tasya? “Nggak apa-apa kalau dia nggak cinta sama gue.”
“Bullshit Bim!”
Tasya terlihat kesal.
“Gue menyerah. Gue emang nggak bisa jauh sama Mas Ben. Itu aja.” bohongku.
“Dan dia memanfaatkan elo.”
“Nggak apa-apa.”
Aku tersenyum padanya. Memegang bahunya. Lalu menariknya untuk memelukku. Aku tiba-tiba menangis. Sedih. Sebegitu burukkah takdirku? Aku memang mencintai Ben. Tapi tidak dengan cara yang seperti ini. Jika seandainya tidak ada rekaman yang tidak senonoh itu, aku mungkin sudah tidak tinggal di sini. Aku kabur. Mencari kontrakan baru dan hidup dengan damai. Permasalahan novelku, aku akan menyelesaikan semampuku dan berusaha membuat novel baru yang melebihi First Love.
Tasya menepuk-tepuk punggungku pelan. Mungkin dia sudah tidak bisa berkata apa-apa terhadapku.
“Sori yah, Bim gue terlalu emosi menanyakan hubungan lo sama Prof Ben. Bukan maksud gue untuk ikut campur tapi…”
“Nggak apa-apa, Tas. Mungkin karena pikiran gue udah banyak dan gak sempat untuk telepon atau mengabari elo.”
Tasya mengelus punggung tanganku. Matanya menyiratkan dukungan yang paling dalam untukku. Dia wanita yang cantik. Selalu yang tercantik dan ternyata Riko yang mendapatkannya. Sahabatnya sendiri.
“Apa ada sesuatu yang mau gue bantu?” tawarnya.
Aku berpikir.
“Nggak ada kayaknya. Semuanya simpel. Mamanya Mas Ben sudah atur semuanya.”
Aku meyakinkannya.
“Tapi… gue kayaknya akan tinggal di apartemen sampai hari pernikahan.”
“Kenapa memangnya?” Tasya mengerutkan dahinya.
“Kamar ini mau dibongkar. Kami memutuskan untuk tinggal di sini.”
Tasya memutar kepalanya. Melihat keseluruhan kamarku.
“Ya Tuhan, elo suka banget kan sama dekorasi kamar lo. Gue nggak bisa ngebayangin kalau kamar ini dibongkar dan elo harus berbagi kamar sama Prof Ben.”
Tasya tersenyum nakal.
“Sofanya masih di kamar ini. Itu sofa mahal gue.”
“Trus Prof Ben harus tidur di sofa?”
“Iyalah. Kan banyak sofa di luar.”
Tasya tertawa kencang.
“Gue pulang dulu deh. Udah malam. Om udah tidur ya?”
“Udah tidur.” Aku mengangguk.
Kami keluar kamar dan berjalan keluar. Setengah ruangan lampunya sudah dimatikan termasuk dapur. Tapi hanya ruangan dekat dapur yang terkoneksi dengan halaman belakang masih menyala. Ben sedang menatap laptopnya. Earphone di telinganya bertengger jelas.
“Prof, aku pulang dulu ya.” Tasya melambaikan tangannya pada Ben. “Prof?”
Ben melihat ke arah Tasya dan cepat-cepat dia melepas earphone-nya.
“Eh iya, Tas. Sama siapa? Mau diantar?”
Ben melihatku.
“Nggak usah. Mau pesan mobil online aja.”
“Mau antar, Mas? Kebetulan Tasya ke rumah Maminya. Nggak gitu jauh.” ujarku.
Ben langsung berdiri. Meninggalkan laptopnya yang terbuka.
“Ayo. Kamu ikut, Sayang?”
Ha? Sayang?
Tasya melirikku dan melipat bibirnya ke dalam. Menahan tawa.
***
Jangan lupa VOTE nya :))
__ADS_1