Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
27 - Menahan Nafsu


__ADS_3

(Bima)


Beberapa jam kemudian, aku duduk di dapur melihat ponselku dan merasakan hawa dingin. Aku tahu badanku sudah tidak begitu sehat waktu aku kembali ke Jakarta. Aku pun sempat meminum vitamin sebelumnya. Hanya satu kali sih. Tapi sekarang badanku terasa berbeda. Mungkin karena pintu halaman belakang yang agak terbuka. Aku beranjak dan menutup pintu kacanya. Saat itu juga aku bersin. Berkali-kali.


“Yayai, are you ok?” Prof Ben tidak tidur. Dia hanya membaringkan tubuhnya di sofa. Dan aku mulai berjalan untuk melewatinya menuju kamarku.


BRAK!


Aku terjatuh di lantai. Aku meringis kesakitan. Pergelangan kakiku terkilir. Dengan sigap Prof Ben sudah ada di dekatku. Dia melihatku agak panik.


“Kenapa bisa begini?” tanyanya. Ekspresi wajahnya terlihat kasihan dan suaranya parau karena batuknya. Dia memegang pergelangan kakiku dan aku sedikit berteriak. “Sakit?”


“Ya sakitlah.” Aku masih meringis.


“Kamu mau kemana tadi?”


“Ke kamar.”


Prof Ben dengan cepat mengangkat tubuhku. Menggendongku ke kamar. Aku kaget setengah mati. Mau turun pun tidak mungkin. Selanjutnya dia mendudukkanku di ujung tempat tidur.


“Kamu mau tidur atau mau melakukan sesuatu?” Dia melihat ke arah meja kerjaku. Laptopku sempat aku nyalakan sebelum aku ke dapur tadi.


“Enggak.” Aku mati kutu. Tidak bisa berkutik. Di dalam hati, aku berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak menyukai Prof Ben. Jangan terlena dengan ketampanannya dan pesonanya. Kalau iya aku harus mengutuk dalam hati.


Prof Ben keluar kamar dan mengambil minyak gosok dan mengoleskannya ke pergelangan kakiku dengan pelan. Di saat itu, Prof Ben batuk-batuk sedangkan aku bersin-bersin. Tidak tahu kenapa suasana kali itu lucu sekali. Aku tidak bisa menahan tawaku.


“Sepertinya kita semua sakit. Termasuk Chloe.” Senyumnya dengan lebar.


“Iya. Sepertinya begitu.” Aku setuju dengannya. Senyumanku juga melebar.


“Bukan karena aku mencium mu?”


DEG!


Kayaknya sih gitu. Tapi aku memang sudah tidak enak badan ketika perjalananku ke Jakarta.


“Bukan!” Aku menyanggah dengan cepat. “Dari awal aku sudah nggak enak badan.” Suaraku agak sengau karena hidungku mulai mampet. Kepalaku juga mulai berat. Mataku berair.


“Maaf kalau aku menularimu.”


“Prof batuk, aku kan bersin-bersin.”


Aku memundurkan badanku dan berusaha ke tengah tempat tidur. Prof Ben ikut naik. Laki-laki ini selalu menggodaku. Dia menempelkan dahinya ke dahiku. Sepertinya memang wajahku memerah.


“Kamu demam.” ujarnya menganalisa.


Ha? Aku memegang dahiku sendiri. Prof Ben mengangkat tanganku dan menempelkan telapak tanganku ke lehernya. Aku segera menariknya.


“Apa kita harus tidur bersama? Agar suhu kita normal?” tanyanya dengan wajah datar. Aku tidak tahu maksud pertanyaannya karena tidak ada ekspresi di wajahnya.


“Turun dari tempat tidurku! Keluar.” Aku setengah berteriak. Kurang ajar sekali dia.


Langsung saja Prof Ben menerkamku. Dia naik di atas tubuhku. Dia juga mengunci kedua tanganku ke atas.


“Sopan sedikit denganku. Aku tidak suka dengan wanita yang kasar.” ujarnya. Suaranya masih sengau. Dia menahan batuknya.


“Kamu yang tidak sopan. Kita bahkan belum menikah dan kamu berani berbuat seperti itu.” Aku benar-benar memang tidak bisa menggunakan bahasa yang sopan padanya saat ini.


“Kamu mencintaiku. Kamu menyukainya kan?”


SINTING! Teriakku dalam hati.


“Aku melakukan ini untuk memastikan bahwa kamu benar-benar mencintaiku.”


Aku sungguh tidak mengerti dirinya.


“Hal yang tepat aku memutuskan untuk tidak mencintaimu lagi.”


“Kamu main-main dengan perasaan itu? Sebegitu mudahnya kamu menghilangkan perasaanmu itu?” Prof Ben terdengar marah. Dia menekan pergelangan tanganku.


“Apa untungnya juga aku mencintaimu dan kamu pun tidak mencintaiku? Bahkan dengan sifat-sifatmu yang sekarang? Aku baru tahu. Sialnya aku harus menikah denganmu.”


Biarkan saja. Kata-kataku jahat sekali.


Ternyata kata-kata itu membuat Prof Ben marah. Dia ******* bibirku dengan paksa dan aku dengan sekuat tenaga berontak. Tidak bisa. Tenaga Prof Ben terlalu kuat lagipula aku sudah kehabisan napas karena dia menindihku. Ditambah hidungku mulai buntu karena flu.


Dia berusaha menyingkapkan bajuku dan tangannya mulai menggerayangi payudaraku. Aku benar-benar tidak suka cara ini. Entahlah saat itu yang aku inginkan hanya menangis. Aku tidak ingin memiliki suami seperti ini.


“Prof… ah… hentikan… ah….”


Benar. Aku menangis. Tidak biasanya aku menangis. Aku terakhir menangis sewaktu Mama dan kakakku meninggal. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Bukan karena sedih, tapi karena marah dan kecewa.


Prof Ben yang sibuk menciumi perutku dan kedua tangannya meremas payudaraku langsung berhenti. Aku seperti hendak diperkosa. Apa dia selalu melakukan wanita seperti ini?


“Yayai? Kamu…” Prof Ben mengangkat kepalanya. Dia duduk disampingku. Dia membetulkan bajuku yang tersingkap karenanya.


“Pergi.” usirku sambil menangis.


“Nggak.” Tapi dia malah meraih tisu di meja kerjaku dan memberikannya padaku. Apa maksudnya.


“Pergi!” Aku berteriak.


Dia malah memelukku.


“Tidak akan.”


Dia mendekapku agak kencang ke dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya berdetak cepat. Hanya aku marah. Aku berontak dan dia tetap mendekapku.


“Yayai, maaf. Maaf.”


Mendengar itu aku berhenti berontak padanya. Aku malah tambah kencang menangis. Dia kelabakan. Dia malah mengambil tisu, mengelap air mataku, ingusku yang keluar.


“Yayai sudah. Aku tidak akan mengulangi perbuatan yang seperti tadi sebelum kita menikah.”


Aku meraih bantal dan menutup wajahku lalu semakin kencang menangis. Seenaknya dia ingin melakukan hal seperti itu pun setelah kami menikah. Tidak akan aku biarkan dia menyentuh tubuhku.


“Yayai? Apa ada yang salah?” tanyanya. Suaranya sekarang benar-benar parau.


Menurutmu, Prof!!??? Teriakku dalam hati.


“Kalau begitu, aku mau ke apotik dulu.”


Dia loncat dari tempat tidur dan menghilang langsung.

__ADS_1


(Ben)


Sial! Aku mengutuk diriku sendiri. Aku memukul setir mobil berkali-kali. Kenapa aku kelewatan begitu sama Yayai? Aku benar-benar tidak bisa menahan nafsuku. Aku mendatangi apotik yang buka 24 jam tidak jauh dari komplek. Aku membeli beberapa obat-obatan untuk Yayai dan untukku juga.


“Gue hampir melakukan hal yang tidak pantas sama Yayai.” Aku menghela napas. Hanya Levi yang bisa mendengar keluh kesahku.


“Apa itu?”


“Nyaris memperkosanya.”


“Astaga, Ben. Gue yakin dia akan kabur lagi besoknya.”


“Dia lagi sakit jadi gak mungkin kabur.”


“Siapa tahu…”


Aku menelepon Levi di perjalanan pulang. Waktu aku memasuki komplek pertama suasana gelap gulita.


“Halo?”


“Ya? Komplek gelap.” ujarku memberikan informasi yang tidak penting pada Levi.


“Mati lampu mungkin.”


Mati lampu? Gawat. Aku menginjak pedal gasku dan akhirnya aku melewati pos satpam kedua dan bertanya,


“Pak, mati lampu?”


“Iya, Pak.” jawab si satpam yang membawa senter.


“Udah berapa lama?”


“Kayaknya udah tiga puluh menitan sih dan bisa agak lama. Ada kabar kalau unit pembangkit listriknya konslet, jadi lagi diperbaiki.”


Aku mengangguk.


“Makasih Pak. Mari.”


Aku langsung melesat belok ke arah rumah dan… langsung saja keluar dari mobil. Aku membuka pintu tapi tidak terbuka. Panik. Pintu ini memang menggunakan kunci otomatis, hanya ada beberapa kunci otomatis yang jika listrik tidak ada, pintunya akan tetap terkunci. Hanya ada satu cara membukanya.


Aku melempar ponsel ke jok mobil, mematikan begitu saja teleponku dengan Levi. Iya dengan kartu. Kartu khusus. Hanya ada 3. Mee pernah memberikannya padaku. Aku mengingat dimana aku menyimpan kartu tersebut. Sialan. Aku menendang ban mobil. Dalam keadaan panik begini, apa saja bisa lupa. Aku memutuskan untuk menghamburkan isi dashboard mobil. Nihil. Aku tidak menemukan apa-apa. Aku pun juga menghamburkan dompet yang baru saja diberikan oleh Yayai dan menghamburkan semua kartunya. Astaga. Ketemu.


Dengan cepat aku berlari menuju pintu dan menempelkan kartu tersebut ke kunci pintu otomatis. Terbuka. Mataku dalam gelap mencari-cari sesuatu.


“Yayai?!!”


Aku berlari ke kamar. Sialan! Aku meninggalkan ponselku di mobil. Dengan segera aku balik kembali ke mobil dan mengambil ponselku lalu menyalakan lampu dari ponsel untuk penerangan. Aku kembali lagi ke kamar dan tidak menemukan sosok Yayai di situ.


“Chloe??!!” Aku akhirnya memanggil Chloe. Dia mengeluarkan suaranya dan mendatangiku. “Dimana Yayai?” tanyaku padanya. Chloe berjalan berlainan arah, menuju halaman belakang. Pintunya memang agak terbuka dan benar, aku menemukan Yayai disitu.


BRAKK! Aku membuka paksa pintu belakang.


“Yayai? Kenapa kamu bisa sampai disini? Kakimu kan sakit…”


Tubuh Yayai gemetaran. Dia memegang erat ponselnya yang mengeluarkan cahaya. Sampai pun dia menarik napasnya berulang-ulang dari mulutnya. Dia memegang erat tanganku.


“Aku sesak.” katanya. Aku mengangkatnya ke sofa depan TV, karena di sofa ini yang paling besar dan bisa dibuka untuk tiduran. Dia masih saja mengambil napas.


Dia menangis. Seolah memberitahuku bahwa dia tidak bisa tenang.


“Hidungku buntu. Aku nggak bisa napas.”


Aku membuka kaosku dan memberikan padanya. Kaosnya sih agak kuyup karena keringatku.


“Pakai ini untung buang ingusmu.”


Dia mengambil kaosku dan benar membuang ingusnya.


“Ini sudah agak terang.” Aku meletakkan ponselnya dan ponselku di atas meja yang sama-sama mengeluarkan cahaya. Menurutku ruangan sudah cukup terang. Bahkan sampai dapur.


Yayai masih memegang tanganku erat. Dia masih mencoba tenang dan berusaha bernapas dengan normal.


“Prof kaosnya.” Dia melihatku kemudian melihat kaosku.


“Terlalu gelap kalau aku ambil tisu di kamarmu, pakai kaosku saja.”


Aku hendak berdiri. Dia mencegahku.


“Aku mau ke dapur ambil minum.” beritahuku.


Dia melepaskan tanganku. Sekembalinya, aku memberikan segelas air hangat padanya. Dia meneguknya hingga habis. Dia sudah agak tenang.


“Bagaimana?”


“Better.”


“Aku mau masukin mobil dulu. Pagarnya masih terbuka dan mobilku masih nyala.”


Dia melihatku. Berharap.


“Tiga menit.”


Dia melepaskan tanganku dan aku pergi dengan berlari. Aku tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk memasukkan mobil dan mengunci pagar. Aku kembali dengan membawa obat-obatan.


“Minum ini.” Aku memberikan beberapa obat padanya. “Obat flu dan vitamin.”


Kemudian aku mengambil kakinya dan menempelkan sebuah koyo. Dia meringis kesakitan. Aku bisa merasakan sepertinya pergelangan kakinya agak membengkak.


“Ada perbaikan. Kemungkinan agak lama listriknya baru nyala.”


“Serius? Hapeku pasti udah mati sebelum listriknya nyala.”


Aku mengecek ponselnya dan membukanya. Aku tahu ponselnya tidak pernah menggunakan kunci pola maupun PIN. Jadi, aku memindahkan ponselnya dengan mode pesawat. Mematikan semua jaringan. Cukup untuk 4 jam ke depan. Sedangkan ponselku yang baterainya tidak begitu banyak pun cukup juga untuk 4 jam ke depan.


“Sudah. Tidur aja. Aku duduk di sini. Taruh kakimu di sini.” Aku menunjukkan pahaku. “Aku pijat.”


Entah kenapa, malah Yayai menaruh kepalanya di pahaku. Aku bisa mencium aroma shamponya dari rambutnya yang tergerai. Aku masih batuk-batuk dan agak mual. Yayai hanya melihat ke langit-langit yang sedikit terang karena pencahayaan lampu ponsel. Kadang dia melihat beberapa sudut ruangan. Membuatku berpikir yang tidak-tidak.


“Ngg… ada apa? Ada sesuatu yang kamu lihat?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.


“Nggak ada.”


“Lalu apa yang kamu lihat?” Aku menundukkan kepalaku ke arahnya.

__ADS_1


“Aku… membiasakan diri dengan suasana yang gelap.”


“Sudah nggak kenapa-napa. Aku juga takut gelap.” celetukku. Padahal bohong. Yayai bangkit.


“Oh ya?” Dia sangat antusias.


“Aku juga. Apalagi sudah gelap dan ruangan itu sempit. Tapi walaupun ruangan itu besar, di dalam kegelapan seolah-olah ruangan itu sempit sekali.”


“Aku membiasakan diri. Kuncinya jangan panik.” Aku terdengar seperti orang benar. Padahal aku hanya mengimbanginya.


Yayai tertunduk lesu.


“Sepertinya nggak bisa. Aku mulai sesak napas dan sampai pingsan.”


Aku terdiam.


“Nggak apa-apa, kalau kamu sering latihan menguasai rasa panik dan ketakutanmu, semua akan hilang pelan-pelan.”


Yayai sekarang yang terdiam.


“Apa kamu nggak sedia senter di kamarmu?”


“Aku sediakan, tapi… di laci. Waktu aku cari nggak tahu, aku nggak nemu sama sekali.”


“Besok-besok taruh selalu di bawah bantalmu.”


Yayai mengangguk.


“Satu lagi, kunci pintunya juga.”


“Aku nggak tahu kunci kartunya dimana.” Yayai menggeleng.


Astaga anak ini!


Kami terdiam setelahnya. Tidak berbicara apa-apa. Yayai masih menyandarkan tubuhnya ke sofa. Lumayan lama.


“Yayai… aku minta maaf kejadian tadi.” ujarku. Masih tidak enak dan ragu untuk mengutarakan. Yayai masih diam. “Kalau memang kamu bermasalah denganku, aku janji untuk menahan diriku sendiri dari perbuatan yang seperti tadi.” lanjutku.


Aku mulai mendekati Yayai. Nampaknya…


Aku tersenyum. Anak ini tertidur dalam posisi terduduk dan menengadahkan kepalanya ke atas. Aku memiringkan tubuhnya ke sofa. Karena sofanya sudah difungsikan sebagai tempat tidur, mungkin aku juga bisa tidur di sampingnya. Sofa di depan ruang TV ini adalah sofa tempat tidur. Aku sempat menarik selimut tipis di punggung sofa dan membukanya. Membungkus tubuhku sendiri yang telanjang dan sebagian tubuh Yayai. Dia sebetulnya memakai piyama celana panjang sih.


Dalam keadaan tidur seperti ini aku lebih menyukai Yayai. Dia benar-benar tidak terbangun sama sekali walaupun aku memainkan-mainkan wajahnya dan rambutnya.


(Bima)


Seharusnya sih sudah pagi. Aku bisa melihat ruangan sekarang terang benderang. Aku membuka mataku pelan dan ….


Disampingku adalah Prof Ben. Ngapain coba dia tidur di sini? Dia benar-benar mesum! Hanya, aku terpana dengan wajahnya. Wajahnya terlihat lelah sekali dan dia sempat terbatuk dan membetulkan posisi tidurnya.


“Hmmm, kamu sudah bangun?” Dia ternyata terbangun waktu aku menggoyangkan kepalaku.


Prof Ben terduduk. Dia menundukkan wajahnya padaku sambil menyipitkan matanya yang masih mengantuk.


“Maaf aku masih batuk-batuk. Kamu mau kemana? Aku angkat? Aku gendong?” tawarnya.


Aku lupa kalau kakiku sakit. Aku berusaha untuk bangkit dan menapakkan kakiku.


“Eh mau kemana?”


“Ke dapur. Ambil minum.” ujarku.


“Biar aku saja.” Dia turun dari sofa dengan cepat kilat. Mengambil segelas air dan diberikannya padaku.


Aku masih terperangah. Menaruh gelas ketika selesai kuhabiskan.


“Kamu butuh apa? Biar aku saja.” tawarnya. Dia masih saja bertelanjang dada, karena kaos yang dipakainya semalam diberikannya padaku untuk membuang ingusku yang penuh.


Sebetulnya aku menapakkan kakiku yang terkilir ke lantai, hanya ketika bertumpu, pergelangan kakinya terasa ngilu. Tapi sudah tidak begitu sesakit semalam sih.


“Aku mau bikin sarapan.”


“Biar aku saja. Bilang ke aku apa yang harus aku keluarkan dan masak.” ujarnya benar-benar menawarkan diri.


“Bikin scramble telur aja sih.” kataku heran.


“Oh itu gampang.”


Sebetulnya aku cuma duduk di sofa sambil menonton tv. Memantau Prof Ben yang sibuk memasak scramble yang sudah lewat dari 30 menit. Lama sekali.


“Sudah siap.” katanya. Dia dengan sigap menggendongku dan meletakkanku ke kursi makan.


Waktu aku mencobanya, scramble telur ini asin sekali. Aku terbatuk-batuk dan menyambar jus jeruk di depanku lalu meminumnya sampai habis.


“Prof apa ini???!!!” celetukku.


“Ada apa?” tanyanya penasaran.


“Asin banget!”


“Aku nambahin penyedap kok.”


“Prof! Gak usah pakai penyedap! Pakai lada aja sedikit!” komplainku. “Kalau begini apa yang enak dimakan? Nanti Prof kumat lagi maag-nya.”


Aku mulai berdiri dengan pelan.


“Jangan larang aku!” marahku. Aku benar-benar ingin berdiri. Tapi Prof Ben sudah berada di sampingku dan memegangi tubuhku.


“Yayai. Kita beli sarapan online saja.” Dia mengarahkan idenya.


“Nggak perlu. Ini mau habiskan stok pagi ini lalu aku mau belanja nanti siang.”


Aku bisa berdiri hanya tumpuanku di kaki sebelahnya. Tidak ada 10 menit aku selesai memasak scramble lagi dicampur dengan roti.


Prof Ben tersenyum.


“Sepertinya aku nggak salah memilih calon istri…” ujarnya dengan mulut penuh.


Aku mendengar perkataannya. Suaranya kecil. Seketika mood-ku berubah jelek pagi itu.


***


VOTE DAN FOLLOW YAAA

__ADS_1


__ADS_2