Marriage Proposal : Ben & Bima

Marriage Proposal : Ben & Bima
20 - Ketahuan I


__ADS_3

(Bima)


 


Aku menaruh tasku di kursi dan langsung menyalakan komputer yang berada di depanku. Sambil menunggu komputer menyala sepenuhnya, aku kembali melihat-lihat laman novel online-ku yang meningkat drastis. Semenjak novelku diterbitkan, aku tidak pernah membaca komen-komen yang ada di dalamnya. Entah mengapa, siang ini aku tergoda untuk membacanya. Dimulai dari bab pertama.


“Jadi perusahaan sudah diambil alih?” Suara Imah menggelegar di sudut ruangan dekat meja panjang.


Aku yang sedang bertopang dagu langsung memasang telinga.


“Iya, kemarin pengalihannya. Anaknya Mr. Andri denger-denger yang gantiin. Tapi perusahaan kita ini nanti gabung sama perusahaan media TV.” jawab seseorang. Suara pria yang tidak begitu berat. Aku bisa mendengar bahwa suara itu adalah suara Bakry. Pria metropolitan yang kerjaannya ngejar penulis-penulis ternama.


“Perusahaan buku cetak kita yang hampir bangkrut ini gabung sama perusahaan media TV? Media TV yang mana?”


“Mungkin sebagai anak perusahaan atau grup dari perusahaan itu.” jawab Bakry lagi.


Aku masih sibuk membaca komen pembaca dan sibuk menguping juga. Karena di kantor ini tidak ada orang, mungkin karena aku datang bertepatan dengan makan siang.


“Bim, mau makan?” tanya Imah. Bakry mengikuti dari belakang.


Aku menggeleng.


“Nggak. Masih kenyang.” tolakku.


Imah sibuk membereskan tasnya dan beranjak pergi.


“Bim, jangan lupa besok lusa ada fans meeting.” Imah mengingatkan. “Apa aja yang mau lo persiapkan? Hindari jawaban-jawaban yang bersifat personal.” Pesannya karena Imah tahu, sekembalinya dia makan siang, aku sudah tidak ada di kantor lagi.


“Iya… iya…”


Kemudian aku kembali ke layar komputer. Sampai beberapa menit ke depan, aku terlalu khidmat membaca komentar pembaca hingga ada orang yang berbicara di belakangku pun aku tidak sadar.


“Sampai kapan aku berdiri menatapmu dari belakang sambil bertopang dagu?” Suara berat mengejutkanku. Aku membalikkan badan, tapi dia mencegahku. Alhasil aku tertahan di tempat duduk.


“Prof.” Jantungku mulai berdegup kencang. Kenapa dia tiba-tiba ke sini? Aku melihat kesana kemari. Tidak ada orang. Dia menarik kursi dari meja di sebelahku.


“Aku memanggilmu berkali-kali.” Wajahnya datar.


“Oh ya?”


Aku tidak melihatnya semenjak dia berada di kamarku dan menghilang, lusa lalu.


“Ayo kita makan.” ajaknya. “Hari ini kamu tidak menghubungiku untuk menanyakan, apakah aku sarapan atau tidak? Dan aku menunggumu menanyakan apakah aku makan siang bersamamu atau tidak?”


Iya, karena aku bertanya beberapa kali dan selalu jawabannya dia masih sibuk. Lagipula dia semalam tidak pulang, jadi aku pikir hari ini aku memutuskan untuk tidak menghubunginya.


“Apa Prof masih sibuk?”


Prof Ben memutarkan bola matanya. Seolah-olah sedang berpikir.


“Sibuk sih. Nanti jam tiga aku harus kembali lagi.” Dia melihat jam tangannya. “Apa kamu sibuk sekarang?”


Aku menggeleng mantab.


“Enggak. Hanya membaca sesuatu saja.”


Kemudian aku menutup laman novel online-ku secepat mungkin. Prof Ben berdiri duluan dan sudah berjalan setengah ruangan untuk menuju lift. Lantai dua di bawah adalah ruangan karyawan dan perpustakaan. Sedangkan di lantai tiga adalah, ruangan rapat, beberapa meja penulis tetap perusahaan seperti aku, beberapa meja editor, dan ruangan direktur. Dan di lantai 1 adalah lobi dan ruangan fans meeting yang diadakan oleh para penulis yang di-hired oleh perusaahan ini. Makanya, kenapa di lantai 3 lebih sepi daripada di lantai 2.


“Apa yang kamu lakukan kemarin?”


“Di rumah aja.”


Prof Ben menatap lurus ke depan.


“Kamu masak?”


“Ya.”


“Seharusnya kamu bilang sama aku kalau kamu masak. Aku akan sempatkan pulang.”


Jantungku berasa ditusuk bambu runcing. Aku tersentuh hanya dengan pernyataan Prof Ben yang seperti itu. Bima inilah akibatnya kamu tidak pernah mendengar kata-kata romantis dari seorang pria.


“Yayai?”


“Ya? Eh, aku pikir Prof sibuk sekali jadi aku…”


“Yayai, telingaku terganggu sekali dengan panggilanmu.”

__ADS_1


Aku menoleh ke arahnya.


“Panggilanku?” Aku mengerutkan dahi. Berpikir. Panggilan yang mana?


Aku melihat Prof Ben menatap spion tengah dan memasang lampu sign kemudian kami sampai di sebuah restoran yang ternyata tidak begitu jauh dari kantorku. Baguslah. Kami duduk dekat jendela, menatap kolam ikan dan suara airnya di balik dinding. Ternyata Prof Ben sudah memesan makanan untuk kami sebelumnya. Ya, mungkin agar tidak terlalu lama menunggu.


“Ada yang ingin kamu bicarakan?” Prof Ben memandangku curiga. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Namun, aku tidak berani menanyakannya. Pertanyaan utama yang ingin aku tanyakan adalah apa sebetulnya hubunganku dengannya. Status apa? Semenjak malam itu, bukan, semenjak dua hari ini aku selalu memikirkan apa yang ada di benak Prof. Apakah dia benar menyukaiku atau hanya bermain-main saja dengan wanita sepertiku. Tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah mendengar kata-kata yang romantis, tidak pernah diperlakukan secara romantis, tidak pernah ciuman, bahkan…


“Yayai?”


Aku sepertinya terlalu banyak melamun. Prof Ben berbicara padaku dan lagi-lagi aku tidak memperhatikan.


“Ya?”


“Apa yang kamu pikirkan?”


“Tidak ada.” Aku menggeleng dan berbohong.


Wajah Prof Ben seperti tidak suka. Dia menoleh ke arah lain sambil mengunyah. Sepertinya dia kesal. Aku tahu wajahnya ketika kesal.


“Prof, apa malam ini pulang?” tanyaku takut-takut.


“Belum tahu.” jawabnya cepat dan ketus.


Di dalam perjalanan pun, kami tidak berbicara sedikit pun. Ketika mobil sampai di parkiran kantor, Prof Ben hanya diam. Menungguku keluar dari mobil, hanya saja aku tidak kunjung turun dari mobil. Tenggorokanku tercekat. Aku menoleh ke arahnya. Kemudian aku mencondongkan tubuhku padanya. Kedua tanganku merangkul lehernya. Aku hanya melakukan adegan pelukan terhadapnya. Dia tidak membalas pelukanku.


“Terima kasih makan siangnya.” ujarku masih memeluknya. Prof Ben lalu melepaskan pelukanku.


“Sama-sama. Aku harus segera pergi.” katanya.


Baiklah. Aku turun dari mobil dengan cepat. Sempat tersenyum padanya dan dia benar-benar tidak membalas senyumanku.


Alarmku berbunyi di jam setengah tujuh pagi. Aku sempat malas beranjak dari tempat tidur. Ah, paling Prof tidak pulang semalam. Jadi buat apa aku bangun dan membuat sarapan? Aku mengecek ponselku sebentar. Sama sekali tidak ada pesan singkat atau pun telepon masuk darinya. Akhirnya aku keluar kamar sambil mengucek-kucek mataku yang masih pedih karena mengantuk. Aku semalam terjaga tidak tidur hingga larut, kalau tiba-tiba Prof akan pulang.


Aku berhenti di tengah ruang TV, aku mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kemudian, aku ke arah pintu dan menyingkapkan gorden sedikit. Mobil Prof Ben terparkir di luar halaman. Bukan di dalam halaman. Aku bergegas mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dan berpikir sejenak apa yang akan aku masak.


Ketika pintu kamar mandi terbuka, Prof Ben sempat berhenti di dapur dan melihatku.


“Kapan pulang, Prof?” tanyaku. Senyumku merekah.


“Baru saja. Sebelum alarm mu berbunyi.” ujarnya.


“Aku mau tidur.” potongnya. Dia mengabaikanku. Kembali ke sikap dinginnya, cuek, tidak peduli.


“Kalau gitu aku bikinkan teh hangat. Mau?”


“Nggak usah.”


Prof Ben berjalan menjauhi dapur. Aku bisa mendengar pintu kamarnya tertutup pelan. Seketika air mataku keluar dan menetes di pipi.


Aku duduk di ruang rapat sendirian dan terlalu cepat. Mengetuk-ketuk pulpen ke meja sambil melamun. Semenjak adegan di dapur, aku terus memikirkan beberapa pertanyaan di benakku dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Hingga pada suatu kesimpulan, seperti inikah rasanya patah hati? Seperti inikah rasanya ditolak?


Pintu ruang rapat terbuka. Imah dan Karen masuk bersamaan, Riko mengikuti mereka dari belakang sambil membawa beberapa kertas dan ipad-nya.


“Elo udah siap fans meeting besok?” tanya Riko sambil duduk. Dia membuka ipad-nya dan menyambungkannya ke proyektor.


“Tim Bima sepakat untuk mencetak post card sampul cover novel lo besok untuk ditandatangani.” beritahu Imah. Dia serius menatap layar laptopnya.


“Tim Bima?” Aku mengerutkan dahinya.


“Iyalah, memangnya elo nggak tahu prosedur dari fans meeting? Siapa coba yang mau mempersiapkan semuanya?” celetuk Karen. Dia bersandar di kursi. Terlihat malas. Dia tampak melihat ke layar proyektor.


“Ini ada beberapa pertanyaan yang kemungkinan akan muncul.” kata Riko.


Rapat tidak lebih dari menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan nanti. Ada beberapa pertanyaan yang mengarah ke pertanyaan personal yang memang harus aku hindari demi profesionalitasku sebagai penulis dengan menggunakan nama pena. Hanya Riko dan Tasya yang mengetahui bahwa cerita novelku adalah cerita asli. Imah dan Karen hanya mengetahui desas desusnya dan tidak menanyakan lagi keaslian di dalam cerita novelku. Yang terpenting bagi mereka adalah, novelku laris dan menguntungkan.


Sebetulnya beban untukku. Aku rasanya ingin berhenti menuliskan ceritanya dan beralih ke judul lain atau ide novel yang lain. Ketika rapat selesai, aku berjalan menuju dapur. Duduk dan menuang segelas air kemudian meneguknya cepat. Waktu aku keluar dari dapur, aku mendengar orang-orang di dalam gedung ini keluar dari lift, ada yang datang dari tangga darurat, ada yang melewatiku begitu saja.


“Ada apa?” tanyaku mencegat OB yang melewatiku.


“Oh ada Direktur baru datang.”


Oh, penggabungan perusahaan baru yang sempat dibicarakan Imah dan Bakry kemarin. Aku sebetulnya tidak berminat. Memangnya kalau direktur baru datang, mereka mengumumkannya di ruangan?


Ponselku berdering ketika aku hendak berjalan menelusuri lorong.


“Ya Tas?”

__ADS_1


“Elo di mana sih?” paniknya.


“Di kantor.”


“Cepet ke sini.”


“Ke sini mana?” bingungku.


“Ya ke ruanganlah. Kantor lo.”


“Loh elo ada di kantor gue?”


“Gue disuruh datang sama Riko untuk magang di sini tanpa bayaran.”


“Wah… tunggu gue mau ke toilet dulu deh.”


“Cepetan ada yang urgent di sini. Jangan pake lama.”


“Iya!”


Tasya memutuskan sambungan teleponnya.


 


 


(Ben)


 


Aku berdiri di belakang Levi sambil memperhatikan setiap orang yang berdiri di depanku. Om Andri, papanya Levi memberikan pengumuman singkat kenapa dia harus mundur dari perusahaan.


“Selanjutnya, saya akan menyerahkan perusahaan ini ke anak saya. Tidak hanya itu, perubahan demi perubahan saya berusaha lakukan agar perusahaan ini tetap berinovasi dan bertahan di revolusi industri.”


Om Andri menatap anaknya, Levi yang sepertinya enggan untuk dikenalkan di depan banyak orang.


“Ini kenalkan, Levi Watucaksana, anak ketiga saya dan dia belum menikah.” Om Andri menjelaskan dan menyenggol Levi. Suara dari kaum wanita mulai berisik.


Levi memberikan penghormatan kepada seluruh karyawan yang hadir.


“Selamat sore semua. Mohon kerjasamanya dan kerja kerasnya.” Senyumnya. Aku tahu penuh penekanan dan pengharapan. “Sebetulnya saya tidak memiliki passion untuk menjalankan perusahaan Bapak saya. Karena saya pikir ada kakak-kakak saya yang bisa mengambil alih. Hanya karena saya terlena dengan zona nyaman saya, nampaknya saya harus berubah haluan.”


Preambule yang diberikan Levi cukup memotivasi.


“Nah, karena Bapak saya menginginkan inovasi, maka saya sudah melakukan tanda tangan kerjasama dan penggabungan perusahaan ini dengan perusahaan baru dan lebih besar.” jelas Levi. Semua orang di depannya menyimak dengan serius.


Aku melihat sosok Yayai yang muncul dari belakang. Berusana melihat ke arahku dan Levi. Ketika mataku dan mata Yayai bertemu, Yayai langsung terkejut dan bersembunyi di balik orang di depannya yang berbadan besar.


“Di samping saya, merupakan teman, sahabat, dan keluarga saya Mr. Ben. Kami awalnya bekerja bersama di Bangkok dalam waktu yang cukup lama. Bidang kami sama di bidang pertelevisian. Bahkan saya pun terpaksa diseret oleh Mr. Ben untuk pulang dan memimpin perusahaan ini. Silahkan Mr. Chai Prasert … Hmmm Ratangarak.” Levi mempersilahkan aku untuk berbicara dan aku meliriknya kesal karena dia selalu lupa dengan namaku dan pengucapannya pun berbeda.


“Saya Chai Prasert Nopadon Ratanarak, Bapak Levi. Beliau selalu lupa dengan nama panjang saya. Boleh saya dipanggil dengan sebutan Ben saja. Saya selaku CEO dan Executive Director di PT. Adytama Media mengajak perusahaan Bapak Levi untuk bergabung. Fokus saya adalah di bidang pertelevisian, di mana saya mencari cerita-cerita yang berkualitas untuk ditayangkan dibuatkan film dari beberapa novel yang sudah terbit dari perusahaan ini.”


Aku menjelaskan dengan panjang lebar. Yayai melihatku sesekali di tengah-tengah aku berbicara. Aku bisa melihat Riko dan Tasya yang masih melongo tidak percaya.


“Terima kasih penjelasannya, Mr. Ben. Mungkin sekarang yang lagi viral penulis online kita, si Bima bisa dibuatkan mini seriesnya yah?” tanya Om Andri padaku.


“Bisa sekali, Pak.” jawabku mantab.


“Nah, tuh Bima silahkan dekati Mr. Ben ya.” celetuk Om Andri pada Yayai. Semua orang tertawa, melihat ke belakang dan mencari sosok Yayai.


Riko dan Tasya juga menoleh ke belakang mencari sosok Yayai. Aku bisa melihat Yayai tersenyum getir pada semua orang.


 


 


***


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2