
(Bima)
Pagi hari,
Aku meregangkan tubuhku lama sekali. Hingga aku jatuh terjungkal dari kursi. Aku meringis kesakitan setelahnya. Memegang punggung dan pinggangku yang pegal. Setelah aku meng-klik tulisan send di layar laptopku rasanya lumayan bebas bebanku. Malam tadi aku begadang untuk menyelesaikan bagian pertama novelku. Aku memutuskan untuk mengirimkan sekitar dua puluh halaman lebih cerita novel yang aku putuskan untuk jadi novel perdanaku.
Aku membuka jendela kamarku dan udara segar pagi pun masuk. Belum beberapa menit aku ingin memejamkan mataku, ponselku bergetar.
“Elo ngirim draft?” tanyanya malas. Riko mungkin terbangun ketika pemberitahuan e-mail-nya masuk. Soalnya, aku tahu persis, notifikasi e-mail-nya sengaja dibuat dengan nada dering yang panjang seperti ringtone ponsel karena 90% pekerjaannya berada dalam notifikasi e-mail.
“Iya. Baca aja dulu. Semoga tertarik dengan cerita gue.” jawabku sambil memejamkan mata. Aku menarik selimut tipis untuk membungkus kakiku yang telanjang. Udara pagi saat ini begitu dingin. Angin semilirnya masuk ke kamarku. Padahal aku hanya membuka jendelanya sedikit.
“Yaudah. Hari ini elo ke kantor?”
“Iya. Tapi mungkin agak siang ya. Gue mau tidur dulu.”
“Oke.”
Sambungan telepon pun terputus. Tanpa memikirkan apa-apa aku pun tertidur pulas. Hanya… aku baru ingat, aku harus menyiapkan sarapan untuk Prof Ben. Aku bangun dan terduduk dengan cepat. Sepertinya aku menyukai orang yang salah. Oh, tidak…tidak… ini betulan. Aku betulan suka dengan Prof Ben.
Akhirnya aku keluar kamar dan melihat isi kulkas. Lama sekali. Bingung ingin membuat sarapan apa. Kepalaku agak pusing karena begadang semalaman. Chloe menghampiriku dan menempelkan tubuhnya di kakiku.
“Chloe, mau sarapan apa?” tanyaku pada Chloe. Tidak ada jawaban. Chloe tetap mengitari kakiku.
“Pagi ini aku nggak mau makan yang terlalu berat.” Suara yang agak berat membuatku kaget. Prof Ben muncul di belakangku. Untungnya kali ini di seberang meja makan. Jantungku bisa copot kalau dia terlalu dekat lagi denganku. Adegan dia menciumku masih terbayang olehku hingga detik ini.
“Baik, Prof.” jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku memutuskan saja untuk membuat roti bakar dan jus. Selesai membuat sarapan dalam hitungan menit, aku berjalan menuju kamar. Aku tidak sanggup menatap wajahnya.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Tidur, Prof. Aku begadang semalam.”
“Apa yang kamu lakukan?” Dia mengerutkan dahinya.
“Kerja.”
“Ayo kita sarapan. Kemudian aku akan membicarakan pekerjaan selanjutnya untukmu.”
Aku membalikkan badan, berjalan ke arah meja makan, dan duduk. Dia juga ikutan duduk. Aku patuh sekali. Ya Tuhan, sebetulnya aku ngantuk sekali. Dia tidak peduli ya denganku? Aku begadang mengerjakan pekerjaanku dan dia mau menambahkan pekerjaan lainnya untukku?
Menyerah saja?
Tidak mungkin. Aku benar-benar menyukainya.
Aku melihat Prof Ben mengelus dahinya dan menyingkapkan rambutnya yang jatuh ke dahinya. Pemandanganku pagi ini sangat berfaedah.
“Jadi?” Aku menuntut untuknya menjelaskan apa saja pekerjaanku selanjutnya.
“Kamu nggak sarapan?”
“Sedang tidak mood makan. Aku akan bikin sendiri nanti.”
Menyukai seseorang membuatku kenyang. Memikirkannya semalaman. Ditambah orang yang kusukai berada di depanku dan tinggal bersamaku pula. Aku menopang kepalaku dengan tangan. Terasa berat memang. Mataku setengah perih sekali karena mengantuk.
“Minggu ini terakhir saya mengajar, selebihnya akan di-handle oleh dosen lain.”
Aku mengangguk-angguk. Sebetulnya ketika Prof Ben berbicara padaku, aku tidak mendengarnya sama sekali.
TUUK!
“AWWW!” Aku bangun dari tidurku. Membuka mata lebar-lebar dan tanganku memegang kepala. “Prof!!” Aku meringis.
Dia memukul kepalaku dengan sendok teh.
“Haruskah aku datang ke kampus di jam makan siang?” tanyanya padaku.
“Terserah Prof saja.”
Memangnya kenapa kalau datangnya siang. Sah-sah aja kan? Toh dia ngajar juga di jam kedua.
“Kamu mau tidur?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk cepat.
__ADS_1
“Tidurlah dua jam ke depan. Kemudian bersiap-siap ke kampus. Ada pekerjaan menunggu.”
Senyumku melebar. Aku melihat kebaikan di wajahnya. Walaupun terkadang menyebalkan.
“Makasih Prof.”
Aku berdiri dan menggeser kursi makan. Aku melihat Chloe yang tertidur di depan kulkas.
“Chloe! Mau tidur sama aku??” teriakku pada Chloe. Mendengar namanya, Chloe mengangkat kepalanya. Melihatku. Kemudian tertidur kembali. Tidak berminat.
Oke. Aku meninggalkan Prof Ben sendirian di dapur dan menutup pintu kamar. Merebahkan diriku di kasurku yang empuk dan lebar ini.
(Ben)
Sudah dua jam lebih berlalu aku membiarkan Yayai untuk tidur. Sepertinya ini sudah lewat dari batas waktu yang aku berikan padanya. Aku sudah berpakaian rapih dan siap untuk berangkat. Aku mengetuk pintu kamar Yayai berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Sama sekali. Dengan terpaksa akhirnya aku membuka pintu kamarnya pelan dan melihat ke dalam. Hening. Aku mulai masuk, sedangkan Chloe menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar Yayai. Karena kamar Yayai adalah kamar utama dan kamar yang paling besar, jadi kamarnya dipartisi. Aku melihat ke kamar tidurnya dan kosong. Tempat tidurnya saja yang sedikit berantakan. Selimut tipisnya tidak dilipat dan pakaian yang tadi pagi kulihat tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Kemana dia? Aku melihat kamarnya sekelilingnya. Tertata rapih. Tidak sengaja aku menutup jendela kamarnya yang agak terbuka. Kalau memang Yayai tidak ada, lebih baik aku tutup jendelanya. Karena, tas bepergiannya tidak ada, begitu juga laptopnya. Kemungkinan besar dia berada di kantornya. Mungkin dia pergi ketika aku mandi.
Aku mengeraskan rahangku. Aku sebetulnya tidak suka seseorang yang mengabaikan perintahku. Apalagi aku sudah mempercayai orang itu. Seharusnya dia bilang padaku atau mengabariku. Ada ponsel. Aku kesal. Aku menutup pintu kamar Yayai dengan keras. Aku meraih ponselku yang ada di kamar dan menelponnya. Tidak diangkat. Aku mencoba untuk meneleponnya, entah yang keberapa kalinya. Hingga ponselnya benar-benar tidak bisa dihubungi. Tidak aktif. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja ke kampus sendirian dan mengirimi banyak pesan singkat padanya. Berharap dia membacanya ketika ponselnya aktif kembali.
(Bima)
Aku memegang kepalaku. Rasanya kepalaku ingin meledak. Sewaktu aku masuk kamar tadi pagi dan hendak tidur, baru saja aku tertidur beberapa menit, Riko meneleponku untuk segera ke kantor. Saat itu juga. Tanpa mandi aku langsung mengganti bajuku dan mencuci muka di wastafel dapur. Rasanya aku kehilangan waktu tidurku.
“Bagaimana?” tanya Riko. Menaruh segelas kopi susu gula aren untukku. Dia duduk di sebelahku. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Kali ini dia mengawasiku bukan untuk suatu pekerjaan orang lain, tetapi pekerjaanku sendiri.
“Hampir selesai.” Aku mengedit beberapa hal dalam ceritaku dan menaruh beberapa hal fiksi di dalamnya. Agar tidak terlihat itu benar-benar kisahku. Kisahku? Ya, akhirnya aku memutuskan untuk menulis sendiri kisahku. Kenapa? Karena aku pikir aku jatuh cinta. Menurut Riko, ceritaku bagus dan dia melihat peluang di dalam cerita novelku. Makanya, Riko meneleponku untuk datang ke kantor secepatnya.
“Elo bisa pertahankan?”
“Kisah lo dengan Prof Ben untuk mendukung cerita lo. Elo harus melakukan sesuatu untuk melihat responnya.”
Aku melepaskan jemariku dari atas laptop. Mengikat rambutku hingga tinggi sekali. Gunanya agar pusingku berkurang karena semua rambutku tertarik.
“Merayunya.”
“WHAT!? NO WAY!” teriakku. Membentuk tanda silang dengan kedua tanganku.
“Kalau elo nggak melakukan apa-apa ya mana bisa tahu kalau dia suka sama elo apa enggak!?” Riko menyeruput kopinya sambil mengangkat bahu.
“Gue emang nggak banyak pengalaman.” Aku melengos. Mulai mengetik lagi.
“Dan elo nggak peka sama sekali dengan semua pria yang nembak elo.” Riko berdiri, menatap keluar jendela.
“Kapan gue ditembak?” Aku menoleh ke arahnya.
“Gue inget banget. Waktu elo pertama kali pindah ke sekolah gue. Elo itu fenomenal banget.”
TOK TOK TOK.
Seorang pria berseragam satpam mengetuk pintu. Wajahnya putih bersih. Mas Eros, bersuku Jawa, dan aku sangat menyukainya. Bukan karena wajahnya, karena pria ini menghargai wanita. Dia terlalu lembut dan sopan di depan wanita. Yang pasti, kalau aku mau tidur di kantor, aku selalu mengabari Mas Eros ini. Soalnya, aku lebih nyaman kalau dia yang menjaga kantor ini ketimbang satpam yang lain.
“Malam, Mbak Bim. Ada yang nyariin di bawah.” beritahunya.
“Siapa?” tanyaku bingung. “Tasya?” Aku menoleh ke arah Riko yang sedari tadi berdiri di depan jendela. Tentunya aku berdiri, meraih tasku, dan mengambil ponselku. Aku terlalu syok. Ponselku mati. Aku teringat Prof Ben.
“Bukan, Mbak. Laki-laki, Mbak. Ganteng banget.” tambah Mas Eros.
“Mampus gue.” Aku melihat ponselku. Mencoba menyalakan dan nihil karena batereinya memang habis. “Gue nggak bawa chargeran!!” panikku. Perasaanku tidak enak.
“Turun cepetan. Tasya nelpon gue udah dari tadi siang.” kata Riko. Dia melihat keluar jendela dari lantai 3 ini.
“Kenapa dia nelpon?”
“Mbak Bim. Katanya laki-laki di bawah, katanya Mbak harus turun sekarang. Dia nungguin.” pesan Mas Eros.
__ADS_1
“Oh iya iya, Mas. Makasih Mas. Eh kenapa? Tasya kenapa nelpon?” Aku sibuk membereskan barang-barangku dan hendak mematikan laptop. Tentunya aku tidak lupa mengirimkan draft yang ku kerjakan seharian ini dengan Riko. Beberapa detik kemudian aku mendengar suara ringtone email masuk di ponselnya.
“Prof Ben nyari elo. Dia nanyanya ke Tasya. Kayaknya dia kesal banget.”
Mampus.
“Udah gue kirim ya. Kayaknya gue gak bisa dihubungi dua hari ke depan ya. Gue serahkan semua ke elo.” Gue udah berada di tengah ruangan hendak keluar.
“Besok pagi novel lo terbit online.”
“Iya iya atur aja.”
Aku melengos pergi. Memencet lift, hanya karena lift-nya lama akhirnya aku memutuskan berlari ke arah tangga darurat dan menuruni tangga dengan cepat. Aku menemui Mas Eros yang berada di luar. Benar. Prof Ben yang mencariku. Kenapa dia bisa tahu kantorku di sini? Tapi aku tidak bisa berpikir jangka panjang mengenai masalah ini. Yang aku pikirkan adalah bagaimana…
Aku tidak melihat Prof Ben. Dia berada di dalam mobil. Aku bisa melihat bayangannya. Aku berjalan gontai ke mobilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Dia membuka kaca mobilnya setengah dan memasang wajah angker.
“Masuk.” ujarnya dingin. Penuh penekanan.
Aku berjalan memutar mobilnya.
“Mas aku pulang dulu ya!” Aku pamit pada Mas Eros. Dia tersenyum lebar. Wajahnya yang tampan memang pujaan wanita satu gedung ini. Hanya sayang dia hanya seorang satpam. Kadang kasta membuat cinta terbentang lebar seperti ini.
Aku duduk dengan tidak nyaman sepanjang perjalanan. Hening. Prof Ben bahkan tidak berbicara sama sekali. Aku berkali-kali melihat wajahnya yang menyeramkan.
“Nggg… Prof. Maafkan kalau…” Aku mulai bicara. Aduh jantungku rasanya mau copot. Kenapa begitu sulit sekali meminta maaf dan kenapa juga aku takut padanya. Padahal sebelumnya aku berani sekali padanya. Perkataanku terputus karena ponselnya berdering.
“Halo. Levi. Kapan ke sini? Ya, sebaiknya segera. Aku menunggu. Pekerjaanku di sini banyak sekali kendala karena hanya satu orang tidak bertanggung jawab.” ucapnya pelan walaupun pasti.
Ya ampun. Kalau pekerjaanku digantikan oleh yang namanya Levi, pasti aku tidak akan bisa berdekatakan dengan Prof Ben lagi. Bahkan, aku tidak bisa menulis novel kisah cintaku sendiri.
Aku mendengar Prof Ben berbicara bahasa Thailand dengan cepat bersama Levi, hingga aku tertidur di mobil. Waktu aku setengah terbangun, aku merasa mobil ini tidak jalan bahkan diam. Akhirnya aku membuka mataku dan terkejut. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada Prof Ben. Aku melepas seat belt-ku dan mengaduk isi tasku, mencari ponselku, dan aku baru tersadar kalau ponselku mati. Aku melihat ke sana ke mari. Tidak ada orang. Apa Prof Ben terlibat penculikan atau pembegalan dan aku ditinggalkan sendirian? Aku meraba tasku, tapi laptopku masih ada. Barang berharga yang aku bawa selain ponsel ya laptop. Otakku bekerja. Sekelilingku gelap. Hanya lampu-lampu jalan saja yang menyinari jalanan walaupun tidak terlalu terang. Minimal mataku masih bisa melihat.
Aku melihat situasi dan berjalan di trotoar. Adakah seseorang yang lewat di jalanan ini?
“Kenapa? Mau kemana?”
Aku dikejutkan oleh sosok Prof Ben yang agak gelap. Dia hanya berpakaian kemeja. Kemejanya agak kusut. Dia muncul di depanku dari arah bawah. Aku melongok ke bawah. Aku baru sadar, ternyata di sebelah trotoar adalah dermaga yacht. Semua yacht terparkir disitu.
“Prof, aku pikir…”
“Kenapa?” Dia menyimpan kedua telapak tangannya di kantong celananya. Keren sekali.
“Prof dibegal dan aku ditinggalkan sendirian di mobil.”
“Apa otakmu terlalu banyak khayalan?”
Aku diam. Aku seorang novelis, jadi wajarkan aku berkhayal kemana-mana.
“Kamu meninggalkan mobilku dengan pintu terbuka? Yang ada mobilku yang baru aku beli itu yang diambil orang.” celetuk Prof Ben. Menunjuk mobilnya yang tidak jauh dari mobilku.
Oh, ya ampun. Ada laptop dan ponselku juga. Aku berlari ke arah mobil. Menutupnya. Setelah otakku bekerja keras, aku baru sadar bahwa aku berada di Ancol. Sepertinya, tidak tidur membuat bodoh otakku.
“Kenapa Prof nggak bangunin aku?”
“Ratusan kali aku membangunkanmu. Tapi kamu nggak gerak sedikit pun.”
Aku menunduk. Memang kebiasaanku kalau aku sedang tidur, aku memang sulit bangun. Apalagi, rasa kantuk menyerang hebat. Sekarang pun aku masih mengantuk. Biasanya kalau begini, aku bisa hibernasi di kamar selama dua hari. Baru di hari ketiga aku mulai berenergi lagi. Sekarang sudah tidak bisa, karena aku harus meladeni pria yang amat sangat sempurna di depanku.
***
__ADS_1