
(Ben)
“Ben, kalau Bima menolakmu gimana?” tanya Mee di bangku belakang. Dia menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. Sedangkan aku diam menyetir. “Harusnya tadi aku sama Eyang makan dulu di hotel.” celetuk Mee pada Eyang.
Eyang yang duduk di sebelahku terlihat tenang. Memejamkan matanya.
“Udah disediakan makanan di sana, Mee. Tenang saja.” kataku.
“Sudahlah ikuti saja maunya anakmu.” ujar Eyang. Dia berbicara sambil memejamkan mata. Umurnya yang sudah tua dan banyaknya pengalaman hidup, membuat Eyang terlalu santai menghadapi masalah kecil hingga besar. Kecuali masalahku. Dia terlalu khawatir dengan masalahku ketimbang masalah di perusahaannya. Kata Mee, dia tidak mau mengulangi kesalahannya di masa lalu. Membiarkan anaknya, Papaku, yang aku panggil Pho berbuat seenaknya dan hingga meninggalkan Mee. Waktu Pho meninggalkan Mee 20 tahun yang lalu, itu adalah pukulan berat bagiku, Mee, dan Eyang. Mee adalah menantu kesayangan Eyang, karena sebetulnya Eyang menjodohkan Pho dengan Mee. Waktu itu Pho menolak untuk dijodohkan, tapi karena Pho masih menghormati Eyang akhirnya Pho menikahi Mee dan lahirlah aku.
Sekian tahun mungkin Pho menahan dan akhirnya pergi meninggalkan Mee begitu saja. Meninggalkanku juga. Yang hanya tahu bagaimana kehidupan Pho sekarang adalah Eyang. Bahkan, Eyang pun juga sudah tidak menganggap Pho anak kandungnya. Tidak ada yang bisa mewarisi perusahaannya. Eyang mengharapkan aku. Tapi aku memilih membuat perusahaanku sendiri sesuai bidangku. Sekarang Mee berusaha berbaikan kembali dengan Eyang, setelah awalnya Mee marah padanya karena dia yang menjodohkan dengan anaknya. Selama bertahun-tahun Mee pun tidak peduli dengan Eyang dan sekarang entah apa yang membuat Mee untuk berbaikan kembali dengan Eyang. Mungkin juga karena aku.
Eyang berusaha sebisa mungkin tidak menjodohkanku dengan siapa-siapa. Dia hanya memaksa kapan aku mengenalkan dengan calon istriku, minimal pacarku. Hanya aku tidak pernah mengenalkannya dengan siapa-siapa. Begitu juga dengan Mee. Oh hanya satu orang, yang aku pikir dia adalah wanita yang bisa mengusir kegalauanku dengan hilangnya cinta pertamaku. Tapi, itu tidak sesuai ekspektasi. Aku terlalu egois, over protektif, dan cemburu. Aku tidak bisa dengan wanita yang terlalu ingin bebas. Salahku sih.
Aku memarkirkan mobil tepat di belakang mobil-mobil yang menginap di penginapan ini. Waktu tepat menunjukkan pukul delapan malam. Pas sekali untuk makan malam, karena Mee sudah gelisah sekali. Dia tidak pernah melewatkan acara makannya dengan telat. Mee dan Eyang turun dari mobil dan aku berjalan di depan mereka. Melewati lobi dan kemudian berhenti di ruang makan yang besar dan memiliki 3 buah gazebo besar bagi yang ingin makan lesehan. Kebetulan, gazebo tersebut berada di ruangan terbuka.
Aku menangkap sosok Yayai yang sedang memerintahkan kedua orang pegawainya untuk menyusun makanan di sebuah piring-piring.
“Tante, Eyang.” Yayai langsung menghambur. Dia memeluk Mee erat dan mencium tangan Eyang. Tidak ada akting di dalam wajahnya. Selalu seperti itu. Dia begitu berbeda ketika menghadapi orang yang lebih tua darinya. “Bagaimana kabarnya?”
“Baik sekali.” jawab Mee.
“Selalu sehat bugar.” jawab Eyang.
“Ayo duduk.” Yayai mempersilahkan kami untuk duduk di kursi meja makan yang bukan lesehan. Hanya Yayai tidak melihatku sama sekali.
“Kemana Om?” tanyaku padanya.
“Ada. Tunggu aku panggilkan.” Yayai menjawab pertanyaanku tetapi tidak melihatku. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan kami. Tidak lama setelahnya, Papa Yayai muncul bersamanya.
Sapaan dan obrolan ringan berlangsung cair malam itu sampai makan malam pun juga berjalan dengan lancar.
“Nggg… jadi saya mulai ya pembicaraan intinya?” ucap Eyang memulai. Mee langsung mengambil sikap tegap dan serius. Sebelumnya dia mengobrol dengan Yayai. Aku diabaikan.
“Jadi bagaimana, Pak Akhsit?” tanya Papa Yayai penasaran. Walaupun sudah tahu maksud dan tujuanku mereka datang ke sini. Memang sebelumnya aku utarakan ketika aku pertama kali datang ke sini.
“Begini, Pak. Cucu saya ini sepertinya ada hubungan khusus dengan anak Bapak. Bukan begitu, Ben?” Eyang melihatku kemudian melihat Yayai.
Aku tahu Yayai pasti tegang. Wajahnya benar-benar panik tapi dia sembunyikan dengan banyak tersenyum.
“Bukan sepertinya, Eyang. Tapi memang iya. Bukan begitu Yayai?” Aku malah balik bertanya pada Yayai. Dia melihatku dengan tatapan penuh dendam. Dia begitu terkejut ketika aku bertanya padanya.
“Eh, I…iya… memang iya.” jawabnya kaku.
“Nah, sesuai permintaan, saya sebagai Eyangnya dan Mamanya Ben meminta kepada Papanya Bima untuk mempererat hubungan mereka berdua.” lanjut Eyang.
“Hmm… pada dasarnya saya nggak ada masalah. Semua tergantung sama Bima. Bagi saya, anak saya ada yang mau pun saya terima nggak lihat latar belakangnya karena kan yang menjalani Bima sama Ben.”
Papa Yayai menarik napas. Lalu melihat ke anaknya.
“Jadi Bima, bagaimana?”
Yayai melihat ke Papanya, kemudian ke Eyang, lalu ke Mee. Tidak sama sekali melihatku.
“Aku…” Yayai mulai bicara. Oh dia melihatku. Yayai sungguh tertekan.
“Sebelum dijawab, saya mau menjelaskan dulu. Dari dulu saya mencintai Yayai. Nggak berubah sedikit pun. Cinta saya mungkin lebih besar daripada Yayai ya. Nggak tahu kalau Yayai.”
Aku melihat Yayai. Dia benar-benar terkejut karena aku mengucapkan pernyataan tersebut.
“Jadi gimana? Kamu terima nggak?” Aku menuntut jawaban. Benar-benar tidak sabaran.
Yayai memiringkan kepalanya. Seperti ingin mengajak aku berkelahi.
“Apa yang harus aku terima?” Yayai menantangku. Mengangkat bahunya.
Wah anak ini.
Mee sudah terlihat gelisah di sebelah Yayai. Sedangkan Eyang dan Papa Yayai masih menunggu.
“Loh aku ke sini kan melamarmu.” jawabku.
“Jadi apa untungnya kalau aku jadi istrimu nanti?” Yayai masih menantangku.
“Bimaaa…” Papa Yayai memperingatkan. Nampaknya dia malu. Tahu arah tujuan selanjutnya yang akan diucapkan anaknya.
“Papa, dia itu banyak menindasku!” Yayai menunjuk ke arahku.
Mee dan Eyang terkejut.
“Eh? Ben! Benar begitu?” Sekarang Mee yang bertanya. Matanya seperti ingin keluar.
“Ha? Nggak benar itu.”
“Ih, dari aku jadi asistenmu selama satu bulan di kampus. Lalu aku masakin kamu, dari pagi, siang, malam. Aku banyak urusan dan pekerjaan…”
“Stop… stop… I payed you!”
Aku yakin, baik Papa Yayai, Eyang, dan Mee terheran-heran akan kejadian ini.
(Bima)
Aku duduk menyandarkan kepalaku dengan tenang. Mama Prof Ben menginginkanku mengantarnya ke hotel jadi setelah pembicaraan sengit tadi aku memutuskan untuk mengantarnya. Walaupun sekarang ketika aku pulang dengan Prof Ben hanya berdua saja di mobil. Tanpa bicara sepatah kata pun. Aku rasa juga Prof Ben masih kesal padaku.
__ADS_1
Dua jam sebelumnya,
“Aku merawat Chloe!” Padahal itu bohong. Prof Ben tidak pernah menyuruhku untuk merawat Chloe. Dia begitu syok. Tapi sepertinya dia ingin membalasku. Aku sebetulnya memutuskan untuk tidak mengerahkan kekuatan cintaku untuk mendapatkan Prof Ben. Karena pada dasarnya aku cuek. Atau mungkin karena aku tidak tahu hal-hal romantis. Jadi, kalau pun aku memutuskan untuk akhirnya menikah dengannya, aku dan dia akan menjadi musuh bebuyutan.
“Kamu Yayai…”
“Tuhkan! Coba lihat, dia kayak mau nerkam aku.” Aku memeluk Mama Prof Ben. Berlindung dibaliknya.
Prof Ben sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Yaudah, jadi kapan mau lamaran? Kapan aku nikah sama dia?”
Aku sudah tidak peduli dengan bentuk kelanjutan novelku dan ketidak-formalanku memanggilnya.
Semoga cintaku berkurang dengan cara ini.
“Bima! Kamu apa-apaan!? Yang sopan sedikit.” celetuk Papa. Aku diam. Papa sepertinya malu tapi dia juga tidak tahu mau berkata apa lagi. Untung jantungnya kuat, dia begitu takjub melihat sifat-sifatku yang seperti ini yang biasanya pendiam dan banyak menyendiri.
“Aku nggak mau ada acara tukar cincin.” ujarku.
“Baguslah. Aku cuma sediakan satu cincin saja.” celetuk Prof Ben.
“Beeeeeeeeeen!!!!!” Mama Prof Ben dan Eyang memanggil nama Prof Ben bersamaan.
“Kamu sengaja?” Suara Prof Ben membuyarkan ingatanku di beberapa jam sebelumnya tadi. Aku membuka mataku.
“Iya.” Aku menjawab singkat. Malas berdebat.
“Kenapa kamu berubah?”
Prof Ben masih fokus melihat ke depan. Memegang setir.
“Berubah apa?”
“Sikapmu? Seperti ngajak berantem.”
“Aku memutuskan untuk menghilangkan rasa cintaku pada Prof Ben.” Aku melengos.
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Wajah Prof Ben terlihat memerah. Rahangnya mengeras.
“Kamu mau menghilangkan rasa cintamu padaku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku terdiam. Aku juga tidak tahu. Aku kesal. Aku bertekad mau menghilangkan perasaan cintaku pada Prof Ben.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Aku tidak suka dengan pemaksaan.”
“Pernikahan ini.”
“Lalu kenapa kamu menyetujuinya?”
“Aku tidak mau membuatmu malu di depan Mamanya Prof Ben dan Eyang.”
“Berarti kamu masih memikirkanku.”
Sialan. Iya. Aku masih memikirkannya.
Apa dia memikirkanku? Tidak.
Prof Ben menang berdebat. Tapi aku sudah malas berkorban untuknya. Aku seperti pesuruhnya saja. Lalu apa aku harus merayu-rayunya agar dia berbalik padaku. Oh tidak!
Prof Ben menjalankan kembali mobilnya. Aku melihatnya dan aku tahu dia tersenyum. Tersenyum penuh kemenangan.
(Ben)
Aku terbangun dengan gangguan nada dering di ponselku. Pagi itu sebetulnya sudah terang benderang, hanya aku saja yang malas bangun dan masih mengantuk. Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta karena sesuatu hal. Sore nanti. Menurut jadwal, aku akan memantau jalannya syuting salah satu program. Ketika aku mengangkat teleponnya, seseorang dengan nada berat dan sopan menyapaku. Mengatakan bahwa siang ini aku harus datang di seminar sebagai narasumber yang sudah aku deal-kan dua hari lalu.
DAMN! Aku lupa membuat materi presentasi.
Dengan segera aku keluar kamar, berjalan dengan cepat, dan melesat masuk ke rumah Yayai.
“Om, Yayai sudah bangun?”
Papa Yayai mengerutkan dahinya.
“Bima? Kayaknya udah bangun tapi masuk kamar lagi.”
Papa Yayai berbicara santai padaku dan tidak mempermasalahkan perdebatanku dengan Yayai semalam waktu acara makan malam. Yaiya, semalam sewaktu aku pulang Papa Yayai mengajakku untuk mengobrol sebentar perihal Yayai. Dia meminta maaf karena sikap Yayai yang kurang sopan.
“Nggak apa-apa, Om. Yayai sudah biasa sama saya seperti itu.”
“Seharusnya dia agak sungkan padamu. Dari segi umur pun kamu lebih tua dari dia.”
“Eh nggak apa-apa. Sebetulnya setelahnya kami berbaikan lagi. Kami nggak pernah bertengkar hebat.”
“Om baru ini lihat Bima seperti itu. Mungkin karena semenjak SMP juga om nggak pernah sama Bima.”
Papa Yayai menghela napas.
“Mamanya meninggal waktu Bima umur tujuh tahun. Sakit.” Tatapan Papa Yayai nanar. Melihat lantai. “Jadi, om yang ngasuh Bima tanpa Ibu. Kesalahan om waktu itu adalah terlalu menganggap Bima dewasa sebelum waktunya.”
__ADS_1
Papa Yayai sekarang menatapku.
“Om pernah kehilangan Bima dulu.”
“Kehilangan?”
“Bima sempat hilang, kayaknya kalau nggak salah ingat sekitar tiga empat harian.”
“Kenapa? Maksudnya Bima akhirnya ketemu dimana?”
“Sumur.” Papa Yayai sempat tertawa kemudian serius kembali. “Dulu kami tinggal di Depok. Nggak jauh dari tempat Bima ngekos sekarang. Dulu itu Depok masih ada hutannya dan masih banyak anjing. Ada sumur tua dan Bima jatuh ke situ waktu ditemukan.”
Itulah penyebab kenapa Yayai takut gelap dan ruangan yang sempit. Dugaanku benar.
“Bima itu adalah anak Om yang paling dimanja. Kakaknya ada dulu. Tapi meninggal karena sakit, beberapa hari setelah Bima menghilang.” Lanjut Papa Yayai. “Setelahnya, Bima berusaha menjadi anak yang tegar sampai sekarang.”
Aku membuka kamar Yayai pelan.
“Yayai.” Aku melongok ke dalam. Aku melihat Yayai sedang melihat ponselnya sambil tiduran dan laptopnya menyala di sebelahnya. Di tempat tidur.
“Hmmm…” jawabnya malas.
“Tolong aku.”
“Ada imbalannya.”
“Kamu masih hutang banyak denganku.” ujarku serius. Masih dari balik pintu.
“Bima hutang apa?” celetuk Papa Yayai. Wajahnya juga serius. “Bim kamu ngutang apaan sama Ben?”
“PROOOF!!!” teriak Yayai. Dia tiba-tiba bangun dan terduduk. Merasa kesal.
“Bima kamu hutang apa?” Pertanyaan yang sama dari Papa Yayai.
“Nggak ada, Pah. Nggak ada. Aku nggak pernah ngutang.”
Dengan penuh keterpaksaan Yayai bangun dan menarikku ke dalam kamarnya. Aku memintainya untuk membuat materi presentasi. Dia menyanggupinya dengan wajah setengah kesal. Sementara aku yang membuat presentasinya agar cepat karena sepertinya Yayai kurang cekatan untuk membuat power point. Jadi, aku hanya memberinya bahan bacaan untuk dibacanya dan mendiktekannya padaku untuk dirangkum setiap halaman presentasi. Yang membuatku nyaman berada di dekatnya adalah wajahnya yang serius dan selalu mengerutkan dahinya. Dia duduk di sebelahku dan terasa dekat. Beberapa kali dia menyentuh lengan dan pahaku dengan anggota tubuhnya. Tapi dia tidak mempedulikannya.
Hanya aku yang merasakan ini. Apa ini karena dia memutuskan untuk tidak mencintaiku lagi?
“Kamu ikut aku seminar.” kataku saat aku mengetik bagian terakhir di materi presentasi.
“Prof… Aku malas.”
“Yayai…” Aku menatapnya penuh dengan permohonan. “Secara teknis kamu masih asistenku.”
“Prof, asisten apaan! Kan aku mau nikah sama Prof.”
Yayai memanyunkan bibirnya.
Bagusnya ketika kami berdua datang ke lokasi, seminar langsung diadakan. Yayai duduk paling depan. Dia tidak ada pilihan lain. Sebetulnya, aku sulit berkonsentrasi karena dia duduk paling depan, menatapku tanpa absen. Beberapa pertanyaan dari peserta seminar pun sempat beberapa kali aku memohon untuk mengulang pertanyaannya. Daya tarik anak ini, benar-benar menghipnotisku.
“Prof Ben, monggo loh ada makan siang sudah disediakan.” ujar salah satu panitia yang ternyata meneleponku tadi pagi.
“Oh iya, terima kasih.”
Panitia laki-laki itu memandu kami ke ruangan yang sudah disediakan. Disitu terdapat beberapa piring prasmanan untuk pejabat kampus dan para narasumber yang hadir. Hanya… karena aku sibuk mengobrol dengan para pejabat kampus, aku sampai tidak memperhatikan Yayai. Ketika aku sadar mencari-cari sosoknya di ruangan ternyata tidak ada, aku mulai menghubunginya di ponsel dan tidak dijawabnya. Terpaksa aku minta izin untuk ke toilet dengan dalih untuk mencarinya.
“Kamu makin cantik loh, Bim.” ujar seorang pria. Berkulit sawo matang tapi berpenampilan rapi. Dia memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
“Masak sih?” Yayai tersenyum pada pria itu.
“Jadi sampai kapan kamu disini?”
“Belum tahu.”
“Loh? Bukannya mau nikah?”
“Ha? Nikah? Kata siapa?”
“Sudah tersebar di kampung Papamu loh.”
“Papaku yang bilang?”
“Kayaknya sih. Loh? Beneran rencana atau cuma…”
Yayai terlihat tertawa dan aku tidak bisa membiarkan ini.
“Sayang.” Aku langsung merangkul Yayai. Dia terkejut ketika aku merangkul pinggangnya. Begitu juga pria di depannya.
“Prof Ben? Jadi?” Pria ini menunjuk kami berdua. Sudah menerka jawabannya.
“Temannya Bima ya?” tanyaku ramah.
“Iya Prof.”
Pria ini memberikan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Memperkenalkan diri.
“Saya Rendi.” lanjutnya.
“Ben. Calonnya Bima.”
“Lah iki lho calonmu, Bim. Mantab. Ternyata salah satu Profesor.”
Aku tahu Yayai pasti setelahnya akan menerkamku.
__ADS_1
***