
(Bima)
Aku hampir saja melempar ponselku karena teriakan Tasya dan Riko yang bersamaan karena earphone yang kupasang.
“Kenapa bisa begitu, Bim??!” teriak Tasya masih tidak percaya.
“Bim, apa kata orang nanti?” tambah Riko.
“Aduh satu-satu!!!” teriakku. Earphone Bluetooth-ku nyaris aja aku lepas. Tasya dan Riko akhirnya diam. Mereka memasang wajah serius dan penasaran. Panggilan video call yang kusambung adalah panggilan yang urgent. Aku butuh saran yang masuk diakal untuk diriku sendiri apabila kedua sahabatku tidak menyetujuinya. Jadi, aku ada mereka yang mendukungku.
“Riko! Elo mau tanya apa?”
“Ada angin apa elo akhirnya menerima dia jadi suami lo?”
“Oke, karena gue cinta sama dia awalanya. Nggak ada salahnya gue jadi suaminya dia lalu gue melanjutkan novel gue?”
“Alasan lo gila.”
“Makanya, setelah gue berpikir kembali gue memutuskan untuk gak cinta lagi sama dia. Gak suka lagi sama dia.”
“Loh? Loh? Tunggu Bim, ya terus? Kalau begitu ya ngapain elo nikah sama dia?” celetuk Tasya semena-mena.
Aku terdiam. Memutar bola mataku. Mereka tidak merasakan bagaimana aku tertekan di hadapan Prof Ben.
“Dia mau laporin gue ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan.” jawabku.
“HAAAA!!!???” Riko dan Tasya terbelalak bersamaan.
“Yang mana? Bagian mana?” Tasya menggebu-gebu.
“Karena gue pake dirinya jadi tokok di novel gue. Ternyata dia baca novel gue. Terus…”
“Terus elo mengiyakan bahwa kisah novel lo adalah benar Prof Kai adalah Prof Ben waktu fans meeting kemarin.” potong Riko. Sudah tahu alur dramaku. Permasalahanku.
Aku mengangguk cepat.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Lelah.
Mungkin banyak sekali pertanyaan-pertanyaan kemungkinan yang akan terjadi dari Tasya dan Riko. Pokoknya kabarku kepada mereka adalah kabar buruk bagi mereka. Setelahnya mereka tidak berkata apa-apa lagi.
“Gue nunggu elo pulang ke sini aja. Baru kita obrolin yang lebih mendetail.” tukas Tasya yang diangguki Riko.
“Gue mau nikah bulan depan.” jawabku lesu.
Bagaikan tersambar petir. Wajah Riko dan Tasya kaku.
Setelah menelpon mereka, aku sempat tertidur sampai malam dan keluar ke dapur mencari makan.
“Mbak, iki punya e’ Mas Ganteng Ben ketinggalan di kamarnya.” Uci masuk ke dapur sambil memberikan sebuah dompet kecil agak tipis padaku.
Ketinggalan? Memangnya kemana dia?
“Ya kasih aja sama dia. Emangnya dia kemana?” tanyaku sambil menerima dompet itu. Aku melihat isinya. Ada SIM dan beberapa kartu kredit, dan debit. Dari berbagai macam bank yang sepertinya bank di Bangkok dan di Indonesia juga. Wow.
“Nggak ada. Kan udah check out tadi sore.”
“Check out?!” Aku yang sedang mengunyah nugget langsung tersedak. Dia tidak bilang padaku. Pulang? Atau pindah penginapan? Aku meneguk air di gelas di depanku kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Betul. Sudah kosong.
“Ini jatuh atau gimana?” tanyaku pada Uci yang memang mengikutiku.
“Ngg… jatuh mbak. Ada di bawah kolong tempat tidur tapi ndak terlalu jauh sampe ke tengah. Soal e pas tak sapu kolongnya ya keluar iku.” jelas Uci menunjuk dompet tipis itu.
“Makasih ya Uci.” ujarku kemudian. Aku lalu berjalan ke dapur kembali mengambil makanan dan hendak ku bawa sambil menonton di ruang TV. Waktu itu aku melihat Papa yang baru pulang.
“Bim, kamu itu loh, di telpon-telpon nggak respon. Di chat juga nggak respon. Kenapa?”
“Kenapa? Papa hubungi aku? Kapan?”
“Ben! Ben hubungi kamu.”
Oh iya! Aku sempat memblokir semua kontaknya dan belum kubuka blokirannya.
“Dia akhirnya telepon ke penginapan panik karena dompetnya nggak ada.”
“Yang ini?” Aku menunjukkan dompet tipis itu pada Papa.
“Iya itu mungkin. Dia itu di bandara. Kasihan. Setengah mati panik.”
Oh di bandara. Berarti dia pulang ke Jakarta.
“Salah sendiri. Itu akibatnya kalau pulang ke Jakarta nggak bilang-bilang aku.”
“Ben lupa dan buru-buru. Kamu tidur pas Papa lihat di kamar.”
Aku menghentakkan kakiku. Mood-ku tiba-tiba berubah.
“Papa kenapa bela dia sih?”
“Ih siapa yang ngebela dia. Emang kasihan kok dompetnya ketinggalan terus emang dia sibuk. Kamu tahu nggak?”
“Apaan?”
“Dia itu menyempatkan ke sini untuk nyusul kamu yang ngambek.”
Aku memanyunkan bibirku. Duduk di sofa dan mengambil remote TV dengan kasar.
(Ben)
Aku menatap ponselku sudah ratusan kali. Yayai sama sekali tidak menghubungiku. Dia belum juga membuka blokirannya untukku jadi aku pun tidak bisa menghubunginya.
“Sialan lo.” Levi datang dari arah belakang. Semua orang yang sedang menatap layar mini TV melihat ke arah Levi.
“Lama banget sih. Gue laper!” marahku.
“Kenapa sih sampe ketinggalan segala dompet lo?!”
“Dompet gue ada, tapi isinya cuma dua ratus ribu. Yang ketinggalan itu dompet kecil gue isinya kartu-kartu.”
Aku menyuruh Levi membelikanku makanan dan mengantarnya ke lokasi syuting. Sebetulnya bisa saja aku memesan makanan online hanya aku terlalu malas melihat dan memilih makanan di layar ponsel, karena aku sibuk memperhatikan jalannya syuting untuk pertama kali.
Aku membuka bungkusan yang diberikan Levi dan memakannya dengan lahap. Aku sudah tidak tahu rasa nasi goreng yang dibeli Levi.
“Bagaimana kasusmu?” tanya Levi sambil meneguk air mineral di botol.
“Kasus? Kasus apaan??!” jawabku dengan mulut penuh.
Aku rasa kondisiku sekarang adalah kondisi yang paling kacau. Aku butuh Yayai saat ini.
“Ya hubungan lo sama Bima.”
“Oh… dia mau nikah sama gue.” jawabku cuek.
Mungkin beberapa crew mendengarnya.
“Wah gila banget! Elo ancam apaan?”
Aku melihat Levi. Pokoknya dilihat saja wajahnya. Wajah yang sering sekali aku lihat 10 tahun terakhir ini. Wajah yang sebetulnya penuh solusi…
“Oh!!!!” Aku tiba-tiba heboh sendiri. Kali ini, suaraku masuk ke rekaman syuting. “Eh sorry sorry. Boleh ulang lagi.”
Seluruh crew kembali ke adegan awal dan ribut beberapa menit dan memulai taping kembali.
“Apaan sih, Ben!” bisik Levi.
__ADS_1
“Pinjam hape lo.”
Aku merebut ponsel Levi yang dipegangnya, kemudian melihat layar ponselku untuk memasukkan beberapa nomor di ponsel Levi. Sesaat aku menempelkan ponsel Levi ke telinganya.
“Bicara.”
“Eh siapa ini yang lo telpon??” Levi menolak.
“Yayai.”
“Ih buat apaan gue telepon dia. Apa yang harus… eh iya halo? Bima?”
Levi kaget ternyata sambungan di ponselnya diangkat oleh Yayai.
“Iya ini Levi. Eh anu Bim… kapan balik ke Jakarta?” tanya Levi asal. “Oh begitu? Kok lama banget? Iya soalnya ada beberapa hal yang mau gue bicarakan dan nggak bisa via telepon.”
Levi melirikku. Dia sudah kehabisan pembicaraan dengan Bima.
“Dompet?” Levi melihatku. “Sepertinya emang elo harus pulang, Bim.”
Aku menempelkan telingaku ke ponsel.
“Dikirim?”
Oh hentikan!
Aku merebut ponsel dari Levi.
“Yayai, pulang sekarang. Ini perintah! Buka semua blokiran di hapemu.” ujarku. Suaraku seperti orang marah tapi terlihat tenang. Semua crew yang ada di dekatku langsung menoleh.
“Prof! Maksudnya apa ke Jakarta nggak bilang-bilang?”
“Aku lupa dan terburu-buru.”
“Seperti itu? Kalau aku bilang, aku nggak mau pulang dan akan ku kirim saja dompetnya, Prof bagaimana?”
“Yayai… aku peringatkan kamu…”
Yayai mematikan sambungan teleponnya. Dengan geram aku memberikan ponsel Levi padanya.
“Ada beberapa hal yang ingin gue tanyakan sama elo, Ben.”
Aku melihat Levi. Seperti orang marah. Padahal aku tidak kesal padanya.
“Ini pertama kalinya gue lihat elo seperti ini.”
“Elo mau bahas apa?!”
Wajahku seperti orang ngajak ribut.
“Kita ketemu besok aja. Stabilkan dulu otakmu.” Levi bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkanku.
Aku melanjutkan untuk memantau dan turut campur syuting malam itu hingga dini hari. Bahkan, aku merebahkan diriku di kantor bukan pulang ke rumah. Karena jarak tempat syuting dengan kantor lumayan dekat.
“Pak…Pak…” Seseorang membangunkanku. Aku membuka mataku. Ternyata Darel. Nampaknya dia masih menggunakan baju yang terakhir kulihat. Dia tidak pulang. Tidur di kantor juga ternyata.
“Hmmm…” jawabku masih setengah sadar.
“Editor udah ngedit taping semalam sebagian.”
“Berapa menit?”
“Baru tiga menit sih.”
Sepertinya aku baru saja tertidur dua jam. Aku bangun dan terduduk. Mengambil oksigen banyak-banyak dan menyadarkan mata juga tubuhku. Langkahku terseok-seok, bajuku dan tampangku kusut. Aku mampir ke toilet untuk mencuci mukaku. Waktu aku keluar dari toilet, Darel muncul dan memberikanku kopi di gelas plastik. Aku mengambilnya dan menyeruputnya sedikit.
“Nggak bisa ya yang scene ini di-cut aja? Trus ganti sama yang ini?” tanyaku mengarahkan.
“Dibuang aja?”
“Diambil aja beberapa detik.”
Video yang berdurasi 3 menit itu aku lihat selama hampir satu jam. Aku kembali ke ruanganku dan tertidur hingga siang. Aku terbangun ketika ponselku berdering dan suaranya membuatku kaget.
“Prof, aku ditelpon sama pet shop kalau Chloe sakit.” Suara Yayai membuat mataku terbuka.
“Sakit? Kenapa?” Aku terdengar linglung.
“Muntah dan gak mau makan.”
“Terakhir dia baik-baik aja.”
“Prof!! Cepat lihat Chloe!”
Memang. Aku sudah berdiri. Menarik koper kecilku dan tas ranselku, lalu segera keluar dari gedung ini.
Di jalan, awalnya aku bingung kenapa aku yang menitipkan Chloe tapi yang dihubungi Yayai?
Oh, waktu itu aku hanya mengatakan bahwa aku yang tinggal di rumah yang aku tinggali. Ternyata pemiliki pet shop kenal dengan Yayai karena beberapa kali Yayai sempat memelihara ikan dan selalu mati. Pantas saja aku melihat sebuah kotak kaca yang agak besar dan kosong dibiarkan di halaman belakang.
Aku menginjak pedal gas agar mobilku melaju kencang.
“Chloe sudah tua. Kebetulan yang saya perhatikan dia tidak suka berinteraksi dengan kucing lain.” ujar dokter hewan yang memang kebetulan sedang ada di pet shop tersebut.
Aku hanya mengangguk-angguk. Memperhatikan Chloe yang sedang tertidur. Dia memang terlihat lemas dan lemah.
“Sudah saya kasih obat dan semoga membaik.” ujar dokter wanita sambil membelai Chloe dengan pelan. “Mungkin dia salah makan atau apa selama di sini. Atau dia memang nggak cocok dengan kelembapan udara di sini.”
Memang. Chloe selalu berpindah-pindah tempat kalau tidur tergantung suhu. Jika hujan, dia lebih suka di luar kamar dan kalau udara di luar panas, dia lebih suka tidur di dalam kamar.
Aku membawa Chloe pulang dan meletakkan di sofa. Hanya dia berjalan gontai dan berdiri di depan pintu kamar Yayai. Aku membuka pintu kamar Yayai, tidak dikunci. Pantas Chloe suka tidur di kamar Yayai, memang dari segi pencahayaan dan udaranya pun bagus. Aku membiarkan Chloe tidur di sofa di kamar Yayai sementara aku memutuskan untuk mandi. Badanku masih terasa lelah. Selesai mandi aku mengecek Chloe dan dia masih saja tertidur. Entah apa yang dipikiranku, aku menyalakan TV dan sempat menonton beberapa program TV Indonesia. Jadi, aku sempat tertidur dan Chloe berada disamping lenganku mendengkur.
(Bima)
Aku tiba di rumah sekitar jam setengah 8 malam. Mobil Prof Ben terparkir di halaman, tetapi rumah gelap sekali. Aku menggeret koperku dan masuk ke dalam rumah. Benar. Seluruh ruangan di rumah pun gelap. Ada orang atau tidak? Tapi mana mungkin mobilnya saja di rumah. Aku menyalakan semua lampu dan masuk ke kamar. Gelap. Pasti. Aku menyalakan lampu kamar.
Prof? Ngapain dia di kamarku? Aku mendengus.
Chloe membuka matanya melihatku dan TV pun masih menyala. Aku mendekati Chloe (bukan mendekati Prof Ben), membelainya, dan mengangkatnya.
“Kamu kurus banget, Chloe.” ujarku pelan.
Chloe mengeluarkan suaranya parau. Aku meletakkan Chloe di kasurku.
“Chloe?!! Yayai??!!” kaget Prof Ben dari ruang sebelah. “Yayai? Chloe?”
Mungkin dia terbangun karena mendengar suara di sebelah karena aku melakukan sesuatu di kamar. Mengeluarkan pakaianku.
Dia sudah berdiri di belakangku ketika aku duduk di lantai.
“Yayai? Kapan kamu sampai? Kenapa nggak bilang? Aku bisa jemput.”
“Ini.” Aku memberikan dompetnya yang berisi kartu-kartu berharganya tanpa menoleh ke arahnya. Dia mengambil dompetnya. Duduk di lantai bersamaku.
“Kamu blokir nomorku?”
“Iya.”
“Kamu baru buka blokirannya pas Chloe sakit?”
“Iya. Aku pulang juga karena Chloe sakit.”
“Chloe nggak kenapa-kenapa. Kata dokter dia memang sudah tua dan suasana di pet shop tidak cocok buat Chloe.” jelasnya.
“Chloe kamu sudah makan?” tanyaku pada Chloe. Menoleh ke arah Chloe.
“Belum. Setelahnya dia harus minum obat.”
__ADS_1
Aku selesai membereskan pakaianku. Ketika aku berdiri, Prof Ben juga ikut berdiri. Hanya tertunduk. Aku mengabaikannya hingga dia keluar dari kamarku tanpa mengucapkan apa-apa. Waktu aku keluar kamar, aku melihat Prof Ben membaringkan tubuhnya di sofa ruang tv.
“Yayai? Bisakah kamu masak bubur buatku?”
“Aku capek.”
“Atau pesankan saja online?”
“Nanti aku pesankan, aku mau mandi.”
Tidak ada jawaban dan aku masuk ke kamar mandi. Aku mandi memang agak lama, ketika aku keluar dari kamar mandi aku bisa melihat Prof Ben masih terbaring di sofa dan melingkarkan tubuhnya. Seperti menahan sakit.
Aku menghampirinya. Melihatnya. Karena rasa penasaranku besar, aku menempelkan telapak tanganku ke lehernya. Lalu dahinya. Aku juga menempelkan telapak tangaku yang lain ke dahiku kemudian leherku. Suhunya berbeda. Begitu terus untuk memastikan.
“Ada apa?” Prof Ben membuka matanya.
“Prof kayaknya suhumu dan suhuku berbeda.”
“Iya tenggorokanku sakit terus uhuukk… uhuuuk… maag ku kumat.”
Prof Ben semakin melingkarkan tubuhnya.
Handuk kecil yang kutaruh di kepalaku untuk menutupi rambutku yang basah ditarik olehnya.
“Kamu bisa telepon Levi suruh ke sini?”
“Untuk apa?”
“Untuk mengurusku. Biasanya dia yang …”
Ha? Terakhir aku mengurusnya. Kenapa dia menyuruhku untuk memberitahu Levi?
“Siapa yang mengurus Prof Ben terakhir waktu pingsan?”
“Aku nggak pernah pingsan.”
“Prof! Terkapar di lantai di depan kamar.” Aku geram. Menunjuk ke arah kamarnya.
“Oh, waktu itu… aku nggak tahu. Kamu?”
“Iya aku yang urus Prof semuanya!”
“Aku minta kamu tadi untuk pesankan aku bubur…”
“Aku buatkan saja!” Aku mengambil handukku dan pergi ke dapur.
Aku mengambil semua bahan makanan yang ada, untungnya masih ada dan memasak dengan kesal. Kesal? Aku pun tidak tahu kenapa aku kesal. Aku sebetulnya memikirkan bagaimana nasibku jika aku jadi istrinya. Eh? Aku akan jadi istrinya dalam hitungan beberapa minggu lagi. Dari pembicaraan Mama Prof Ben dan Eyangnya, semua persiapan pernikahan disiapkan oleh mereka. Jadi, aku sudah tidak perlu memikirkan apa-apa. Uang? Pasti Papa mau sekali mengharapkan kontribusinya pada pernikahanku. Entahlah, mungkin Papa sudah menghubungi Mama Prof Ben untuk menanyakan apa saja yang perlu dibantu dalam pernikahanku dengan Prof Ben. Sementara itu, aku harus menjelaskan hal ini pada Riko dan Tasya.
Aku tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk memasak bubur. Aku tidak tahu apa yang sudah kumasukkan sebagai lauk di dalam bubur tersebut. Aku menaruh semangkok bubur dan air hangat di meja kecil. Prof Ben masih tidur melingkar di sofa.
“Biar aku makan sendiri. Boleh minta tolong?” Prof Ben bangun dari tidurnya dengan perlahan.
“Apa?”
“Kamu cek Chloe, apa dia di kamarmu baik-baik saja?”
Aku kaget. Langsung saja aku berlari ke kamar dan mendapati Chloe masih tertidur di ujung kasurku. Aku menarik napas lega. Ada dua makhluk hidup yang sakit di rumah ini. Aku mengangkat Chloe keluar kamar.
“Dimana obatnya, Chloe?” tanyaku.
“Ada di dekat kandangnya. Di dapur.” jawabnya. Aku menaruh Chloe di dekat Prof Ben dan berjalan menuju dapur. Aku berusaha untuk memberikan obat ke Chloe, setelah selesai aku memperhatikan Prof Ben yang makan bubur dengan banyak jeda.
“Ada yang nggak enak?” Aku penasaran. Aku ingin tahu apa yang dirasakan Prof Ben.
“Tenggorokanku sakit. Perutku sakit. Mual.” ujarnya. Kemudian dia batuk-batuk. Aku berdiri, sudah tahu apa yang dirasakan Prof Ben dan berjalan ke arah lemari kecil dimana obat-obatan disimpan di rumah ini. Aku mengambil kotak obat dan membawanya ke hadapannya.
“Sakit tenggorokan… mungkin panas dalam karena mau batuk, perut sakit pasti karena maag kambuh…” Aku mengobrak-abrik semua obat yang ada di dalam kotak. Memisahkan beberapa obat yang kuanggap perlu. Aku mengecek kadaluarsa di dalam strip obat dan membukanya, memberikannya pada Prof Ben untuk diminum.
Prof Ben tanpa banyak bertanya meminum dua obat tablet sekaligus dengan sekali teguk.
“Apa Prof nggak mau ngecek obat yang aku kasih tadi kadaluarsa atau enggak?” celetukku. Menutup kotak obat.
“Yayai… uhuk uhuk…”
Aku tersenyum sinis kemudian mengambil mangkok dan duduk di sebelahnya. Mulai menyuapinya walaupun buburnya sudah agak mencair.
“Apa benar kamu pulang karena Chloe sakit?”
“Iya.”
Salah satunya, karena aku panik ditelepon oleh pemilik pet shop diujung blok perumahan ini.
Aku melihat Prof Ben ingin muntah tapi tetap ditahannya. Mungkin obatnya bereaksi atau bagaimana aku tidak tahu.
“Kayaknya ini gara-gara aku telat makan terus minum kopi paginya dan belum makan sesudahnya. Baru ini aku makan.”
“Kenapa nggak makan?”
Prof Ben tidak menjawab.
Levi meneleponku kembali malam itu. Dia menyuruhku pulang atau minimal dompet Prof Ben dikirim saja ke Jakarta. Waktu aku bertanya kenapa? Levi hanya menjawab, Prof Ben tidak punya uang. Aku malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku sampai berceletuk bahwa ada teknologi yang namanya menempelkan barcode ke mesin penarik uang dari ponselnya tanpa menggunakan kartu. Levi hanya bilang, Prof Ben tidak pernah tahu dengan teknologi semacam itu. Ini penyebabnya dia tidak makan karena tidak punya uang.
Ketika aku menyuapi Prof Ben, kami tidak berbicara banyak. Dia hanya menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menutup matanya. Aku hanya memperhatikan Chloe.
“Yayai, jangan pernah blokir nomorku lagi.” katanya.
“Aku bebas memblokir siapa saja.”
“Aku akan jadi suamimu.”
Aku melihatnya dengan malas.
“Kita bisa ketemu di rumah. Kita bisa berkomunikasi di rumah.” kataku. Aku meletakkan mangkok yang hampir kosong. Aku menyudahi untuk menyuapinya. Aku memberikan gelas berisi air hangat padanya. Dia meminumnya. Sempat aku melihat dia menyapu bibirnya dengan punggung tangannya. Ketika aku hendak berdiri…
“Maksudnya berkomunikasi seperti ini?” Dia menarikku ke sofa dan menyudutkanku. Dia mengunciku. Wajahnya dekat sekali denganku. Seketika jantungku berdetak dengan cepat. “Kamu ingin membahas, masakan apa yang akan aku makan besok untuk sarapan? Atau makan siangku? Atau kita akan bercerita bagaimana hari-hariku dan harimu?”
“Tidak perlu sedetail itu.” jawabku.
“Ada yang berubah denganmu.” Prof Ben mengerutkan kening. “Kamu sudah berani melawanku.”
Sikapmu yang membuatku seperti itu.
“Aku sebetulnya tipikal wanita yang penurut. Hanya aku terlalu sering ditindas.”
Aku bisa melihat Prof Ben tersenyum kecil di sudut bibirnya dan menelan air liurnya di tenggorokan sambil mengernyitkan dahi. Nampaknya menelan air liur membuat tenggorokannya sakit.
“Aku hanya posesif.”
“Posesif sama menindas itu beda jauuuuuuuuh sekali, Prof.” Aku mencoba untuk berdiri tapi Prof Ben benar-benar mengunci tubuhku.
Orang ini, semena-mena sekali. Kalau dia memang tidak menyukaiku coba buat apa dia seperti ini. Memang semua laki-laki itu mesum.
Prof Ben menatapku. Aku juga menatapnya sambil mengedipkan mataku. Iya, karena memang aku butuh mengedipkan mata kan??? Agar aku tidak kalah lama menatapnya. Aku bisa merasakan tangan Prof Ben merayap turun ke arah pinggangku. Dia adalah pria pertama yang berani meraba tubuhku dan mencium paksa bibirku.
“Aku tidak akan segan untuk menendang…” Suaraku terputus. Bibir Prof Ben mendarat di leherku. Dia menjilati leherku. Aku terkesiap. Tubuhku kaku. Tidak bergerak. Tangannya masih menggerayangi pinggangku. Lalu bibirnya naik ke tulang rahangku dan berhasil mendarat di bibirku. Dia mengambil bibirku pelan. Seperti biasa bibirku hanya diam.
Jantungku berdetak lebih cepat. Kembali lagi, bibirnya mendarat di telingaku.
“Yayai, I want you.” bisiknya. Hanya saat itu, bibirnya tidak mendarat lagi di bibirku. Dia menunggu reaksiku. Dia terbatuk-batuk. Saat itu aku mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
Dia benar-benar pemain drama yang hebat. Penggoda ulang. Bisa-bisanya aku terperangah dengan…
“Yayai….” Dia meringis kesakitan. Chloe kaget. Dia mengangkat kepalanya dan mengeong.
***
__ADS_1