
(Bima)
Aku merebahkan tubuhku di kamar dari flat yang aku sewa. Kasur di flat ini lebih empuk daripada di dorm. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur nyenyak karena tumpukan pekerjaan yang dibebankan kepadaku. Aku menyalakan hotspot yang diberikan oleh pengelola flat. Aku langsung menelpon Tasya.
“Ha??? Keluar?!!” kaget Tasya. Dia berada di rumahnya dan merasa tidak enak hati padaku karena aku menjelaskan mengenai pekerjaanku, apa yang dilakukan Prof Ben padaku, hingga aku pingsan di Soi Sayud. “Aji gile!! Ini beneran? Prof Ben separah itu?” tanyanya lagi penasaran.
Aku hanya mengangguk.
“Apa nggak ada masalah kalau elo keluar dari programnya Prof Ben? Nama lo akan jelek sebagai alumni.”
“Lha memangnya dia siapa? Kan gue emang nggak pernah ketemu dia.” ujarku tanpa rasa bersalah. “Gue bukan lari dari tanggung jawab, tapi pekerjaan maksudnya program yang dia buat itu membahayakan nyawa gue.”
“Seharusnya elo bilang sama dia kalau elo itu phobia gelap dan bisa mengakibatkan banyak efek samping.” jelas Tasya.
“Ya masak gue harus jelaskan ke orang-orang kalau gue ada phobia seperti itu? Hal kayak ini akan dianggap biasa aja sama orang-orang.”
“Bener juga sih.”
Setelah mengobrol dengan Tasya, perutku terasa lapar. Hanya rasa kantukku lebih besar daripada rasa laparku. Jadi aku tertidur saat itu di kasur yang empuk. Ketika aku bangun, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku tertidur lama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mencari makanan. Untungnya aku menyewa flat di daerah di mana semua makanan lengkap dijajakan di pinggir jalan dan restoran yang tinggal ku pilih untuk kudatangi. Aku makan sampai perutku kenyang. Bahkan aku sempat mampir ke sebuah mini market yang buka 24 jam disitu untuk membeli beberapa cemilan dan air mineral.
Selama dua hari ke depan, aku banyak sekali mengunjungi beberapa tempat wisata di Bangkok. Aku banyak duduk berdiam diri menatap bangunan vihara yang megah, memperhatikan orang-orang yang lewat, dan beberapa kali juga aku duduk di sebuah café yang cukup unik yang aku cari di internet dan membuka laptopku untuk membuat beberapa tulisan, yah bisa dikatakan sebagai konsepku dalam cerita novelku. Dan malam ini adalah malam terakhirku di Bangkok. Aku harus berangkat agak pagi ke bandara, jadi aku berencana untuk menikmati suasana malam di sekitar tempatku menginap. Jalanan sebetulnya terang sekali, karena lampu-lampu jalan yang terang benderang. Hanya… waktu itu ketika aku keluar dari mini market membeli beberapa roti dan minuman, aku berjalan ke arah agak memutar. Aku sudah siap untuk membuka senter di ponselku, jika aku berjalan ke depan dan lampu jalan tidak ada.
Sebetulnya aku tidak seharusnya berjalan ke arah itu, apalagi baru saja aku keluar dari mini market seperti ada orang yang mengikutiku. Aku mulai ketakutan, senter ponsel ku arahkan ke depan jalanku sambil berjalan dengan cepat, kemudian… seseorang menyambar ponselku dengan cepat. Dia berlari ke arah berlawanan dan aku juga mengejarnya. Aku tidak bisa berteriak karena tidak mungkin ada orang di jalanan yang aku lewati tadi, kecuali beberapa orang yang berada di mini market.
__ADS_1
(Ben)
Aku tidak tahu kesal karena apa dan yang pasti kekesalanku sudah dua hari ini. Mungkin semenjak Yayai mengundurkan diri dari programku. Jadi, ketika aku sampai di apartemen, dengan cepat aku mengganti kostumku dan keluar untuk berlari. Waktu aku berlari, aku hanya tahu Yayai belum pulang ke Jakarta. Pasti dia masih berada di Bangkok. Anehnya aku tidak bisa menemukannya di Bangkok ini, hotel atau pun flat yang dipesan atas namanya. Levi pun tidak tahu.
Malam hari ini aku berlari lumayan jauh dari apartemenku. Aku akan pulang mungkin dengan naik taksi. Tiba-tiba rasa hausku menyerang dan aku mampir ke sebuah mini market yang memang buka 24 jam di area itu. Tepat aku membayar ke kasir, aku membuka tutup botol air mineral dingin dan meneguknya sekali teguk. Aku bahkan sempat beristirahat di depan pintu mini market dan duduk di depannya. Hingga aku melihat sesuatu dan reflek aku memberikan kakiku yang panjang hingga pria kumuh ini terjatuh beserta sebuah ponsel yang dipegangnya. Seorang wanita dibelakangnya berhenti berlari dengan napas tersengal-sengal.
“Dia pencuri!” teriaknya padaku.
Aku langsung melempar botol air mineralku dan menarik baju pria yang jatuh tersungkur ini. Wanita itu langsung menyambar ponselnya yang terjatuh. Untungnya ponselnya tidak apa-apa karena terlindungi oleh casing. Aku berteriak dengan meninju satu kali padanya kemudian melepaskan pria pencuri ini berlari terbirit-birit. Aku bisa mendengarnya berteriak padaku. Menyumpahi serapah kepadaku.
“Makasih banyak, Prof.”
Dia menangkupkan kedua telapak tangannya padaku.
“Makasih banyak sekali lagi, Prof. Saya tidak akan melupakan ini.” ujarnya sekali lagi.
Aku tidak membalas ucapan terima kasihnya. Mungkin wajahku berubah menjadi amarah. Aku tidak tahu kenapa aku sangat marah ketika melihatnya.
“Kamu jelaskan pada saya, apa yang terjadi.”
Yayai tercekat.
“Saya mau pulang dan tiba-tiba tadi menyambar hape saya.” jelasnya.
__ADS_1
Bukan. Bukan masalah pencurian yang nyaris tadi.
“Pengunduran dirimu.” ujarku dingin.
“Maaf Prof. Ada sesuatu hal yang tidak bisa saya katakan.”
“Pengunduran dirimu tidak wajar dan secara sepihak. Saya harap kamu bisa ganti rugi dan…” Perkataanku terpotong. Ponsel Yayai berbunyi dan dia melenggang pergi agak menjauh dariku untuk menerima telepon. Aku menunggunya masih di depan mini market. Yang bodohnya adalah, aku tidak bisa mendapati Yayai di mana pun. Dia menghilang. Aku benar-benar dibodohi oleh anak kecil.
(Bima)
Aku menutup pintu kamar flat-ku dengan tergesa-gesa. Prof Ben itu berasa malapetaka bagiku. Pastinya aku harus menghubungi panitia untuk cari tahu, sudah berapa rupiah, mereka menggelontorkan biaya untukku seorang. Sesampainya di Jakarta aku akan mengganti rugi. Aku tidak mau berhubungan dengan pria itu. Menyebalkan, tidak perhatian, dingin, dan semena-mena.
Aku berada di bandara lebih cepat beberapa jam. Beberapa solusi aku pikirkan untuk menghindari bersinggungan dengan Prof Ben jika suatu waktu aku bertemu dengannya di Jakarta. Bertemu dengannya di Jakarta? Mudah-mudahan tidak. Bahkan aku sempat ingin memberikannya hadiah sebagai ucapan terima kasihku telah menyelamatkan ponselku dari pencuri. Itu saja. Waktu aku memejamkan mataku di pesawat menuju Jakarta, setelah menemui Prof Ben pertama kali di Thailand ternyata kehidupanku yang termasuk biasa-biasa saja dan tidak ada menariknya, seketika berubah drastis.
***
__ADS_1