Married With Baba

Married With Baba
Balek kampung.


__ADS_3

Syuuuuutttt.


Pesawat mendarat dengan selamat, jam menunjukan pukul 8 lebih empat puluh lima menit. Lintang berjalan keluar dari bandara menunggu jemputan datang. Tak lama mobil Alparth berhenti di depan nya.


''Neng Lintang.'' Panggil supir yang menjemputnya.


''Eh, mang Duloh.''


''Ayo neng masuk.'' Mang Duloh, mempersilahkan Lintang masuk kedalam mobil.


''Makasih, Mang. Ngerepotin.''


Mang Duloh tetangga Lintang, membuka pintu dan menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan.


Omar menyuruh Lintang pulang terlebih dahulu, setelah itu ia akan menyusulnya. Sementara Affan tak bisa ia bawa, karna sedang berada di kota Al'ain bersama mama Zulaikha.


Affan tidak akan menangis jika di tinggal Lintang, namun jika di tinggal nenenk nya Affan akan menangis seharian dan meraung seperti singa yang mencari induknya. Maklum ... hampir dua puluh empat jam, Affan di urus oleh Mama Zulaikha.


Ketika Lintang mengatakan jika sang ibu sedang sakit parah, Omar langsung menyuruh Lintang pulang merawat sang ibu terlebih dahulu. Ia pun meminta maaf karna tak bisa menemani Lintang pulang, karna sudah ada janji yang tidak bisa di batalkan begitu saja.


¤¤¤¤¤


Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya Lintang sudah masuk ke kota S dan berhenti untuk membeli moci kesukaan ibunya. Setelah cukup, ia pun masuk kedalam mobil dengan bahagia.


''Selamat datang di kampung Hare'eng di kota S''


Lintang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang ibu, ia terus saja memangku kotak berisi Moci dengan senyum tak luntur dari bibirnya. Ia sangat tau betul bahwa sang ibu menyukai Moci rasa durian.


''Mang Duloh, bisa cepat sedikit?'' pinta Lintang, yang sudah tidak sabar.


''Muhun, Neng.'' jawab mang Duloh melirik kaca spion.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Lintang, namun Lintang bingung dengan orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya.


Mang Duloh membukakan pintu untuk Lintang, sedangkan para tetangga yang melihat kedatangan Lintang begitu terkejut..


Kaki Lintang turun dengan perlahan, namun mata Lintang tidak sengaja melihat bendera warna kuning menempel di pagar rumahnya.


Deg..


Kaki Lintang langsung gemetar dan begitu berat untuk melangkah, namun hatinya yakin bahwa tidak ada yang terjadi apa apa.


''Lin.'' Panggil seseorang.


Lintang menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan jika dia harus diam. Telinga Lintang mendengar banyak suara yang sedang mengaji, dadanya langsung bergemuruh tak karuan

__ADS_1


Kaki Lintang membeku di tempat, ketika ia melihat seseorang terbujur kaku tertutup kain kafan...


Pluuukk.


Moci yang dia pegang jatuh kelantai.


''Nak, kau sudah pulang?'' sapa sang ayah dari samping menepuk bahu anaknya.


Lintang menoleh dan melihat wajah sang ayah seperti habis menangis, lalu Lintang melihat tubuh tak berdaya di lantai yang sudah kaku tertutup kain kafan..


''Ib-ibuu ... Hiks, Ibu ...''


''Sayang Ibu m---''


Perkataan sang Ayah terhenti, ketika melihat sang anak yang jatuh di atas tubuh jasad yang tertutup kain dan menangis histeris.


Semua orang berteriak secara bersamaan, ketika melihat badan Lintang jatuh menimpa mayat...


''Ibuuu ... jangan tinggalin Lintang Buu. Ibu jangan seperti ini Bu ... bangunnnn Bu, Bangun. ''


''Ayah, jangan seperti ini ayahhhh ... bangunkan ibu ayah.''


Lintang berdiri menyeret tangan sang ayah. ''Ayah, aku mohon bangunkan Ibu ayah! Kenapa ayah diam saja.''


Lintang kembali menangis memeluk jasad itu,


Lintang yang mendengar bahwa sang Ibu akan di kebumikan, menggeleng dan menagis memeluk sang IBu dengan erat.


''Jangan! Aku mohon, mang udin jangan bawa ibuku mang, jangan kubur £buku aku mohon.''


''Nak, jangan seperti ini. Ini buk--''


''Ayah itu kenapa? apa Ayah tidak sayang ibu lagi!'' bentak Lintang berderai airmata.


''Bukan ayah tak sayang, namun ini bu--''


''Ayah jahatttt! Mang Ismet mau dibawa kemana Ibu saya mang.''


Ayah Lintang memijit pangkal hidungnya karna sang anak tak mau mendengarkan nya.


''Maaf Lintang, ini bukan ibumu. Ini ibu Tuti yang mau di kuburkan.'' Ucap mang Ismet, yang mana membuat Lintang melihat Ismet lalu melonggarkan pelukan nya dan membuka kain kafan.


Alangkah terkejut sekaligus malu yang di rasakan Lintang, ia menangisi ibu Tuti yang bekerja di rumah membantu ibunya..


Lintang melihat sekelilingnya yang sedang menahan tawa mereka, ada juga yang tertawa tanpa suara menutup wajahnya dengan kerudung mereka.

__ADS_1


Lintang beralih menatap sang Ayah, yang sedang menatap dirinya lalu berdiri menghampiri sang Ayah.


''Ayah, dimana ibu?''


¤


¤


¤


¤


Lintang berlari di koridor rumah sakit, mencari kamar yang di tempati sang ibu sambil membawa moci yang ia beli. Tadi ketika Lintang menyangka jika tubuh yang terbujur kaku itu adalah sang ibu, hatinya sudah hancur berkeping keping.


Namun kini ia bisa menghela nafas ketika mendengar penjelasan sang Ayah.


Sang ayah menjelaskan jika ibunya berada di rumah sakit, sementara yang ia tangisi adalah Ibu Tuti yang menjaga warung sang Ayah dan membantu sang Ibu di rumah.


Ibu Tuti memang tidak punya siapapun lagi, dan tinggal bersama orang tuanya. Bahkan umur ibu Tuti jauh lebih tua di bandingkan sang Ibu.


''Ibu.''


Lintang masuk ke kamar pasien, dan melihat sang ibu tersenyum kepadanya..


''Alhamdulilah ... kamu pulang, Nak.'' Sapa sang Ibu dengan suara khas orang sakit..


Lintang menitikan airmatanya dan berhamburan memeluk sang ibu. ''Apa Ibu baik baik saja? aku takut Bu.''


Sang ibu mengelus rambut Lintang dan sesekali mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya. ''Kenapa kau menagis sayang?''


Lintang mendongkakan kepalanya dan melihat sang ibu yang terlihat pucat, Lintang pun menceritakan kejadian waktu ia sampai di depan rumah..


Ibu Lintang yang mendengar penjelasan sang anak, tiba tiba tertawa. ''Dasar ceroboh, bukannya mendengar penjelasan terlebih dahulu malah menangis duluan.''


''Isshh Ibu, siapa yang tidak menangis melihat tubuh yang sudah tertutup kain kafan. Aku menyangka jika itu Ibu, karna kata ayah ibu sakit parah.''


''Ibu tidak apa apa sayang, mana suamimu?''


''Omar tak ikut Bu, dia bilang mau menyusulku nanti. Sedangkan cucu mu sedang bersama besanmu pergi menjenguk sodaranya yang sakit di Al'ain.'


Sang Ibu menganguk, Lintang membuka kotak moci yang ia beli tadi di perjalanan. Lalu menyuapi sang Ibu dan mengurusnya dengan telaten.



...🌷🌷🌷...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE....


__ADS_2