Married With Baba

Married With Baba
Perpisahan.


__ADS_3

17thn kemudian•


Hari berganti hari ... bulan pun berganti. Tahun pun berlalu sangat cepat, hingga tidak terasa biduk rumah tangga yang Lintang jalani begitu penuh dengan tawa dan keceriaan.


Terlebih di kehidupan mereka adanya KALEEA ARRASHID. yang selalu membuat rusuh mau pun ulah, yang mana membuat Lintang pusing dibuatnya.


Seperti pagi ini, Lintang sudah berteriak memanggil sang anak yang membuat darahnya mendidih di pagi hari.


''Kaleea Arrashid ...'' Teriak Lintang menggema di Qars miliknya, yang mana membuat semua para Khadimah menutup telinga mereka masing-masing.


''Mana tas, Ummah?'' tanya Lintang yang sudah menaik'kan satu volume suaranya.


Sementara gadis yang baru berumur lima belas tahun itu tengah berlari, dan bersembunyi di kamar sang Kakak.


''Akhun, anqadhani min nawbat ghadab al'umah. (Kakak, tolong aku dari amukan Ibu.)''


Remaja tujuh belas tahun itu menoleh, melihat sang adik yang sedang bersender di pintu lalu tersenyum. Ia memakai jam di pergelangan tangannya, lalu menghampiri sang adik.


''Apa kau membuat ulah lagi, Kaleea?'' tanya Affan mengelus kepala sang adik dengan penuh sayang.


''He he he ...'' Kaleea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ''Aku meminjam tas Ummah kemarin, dan tas itu hilaaaaangg entah kemana.'' jelas Kaleea tertunduk takut.


Affan, laki-laki jangkung dan dewasa itu tengah kuliah semester ahkir. walau usianya masih tujuh belas tahun, namun ia memiliki kecerdasan dari sang Ayah yang memiliki iq di atas rata-rata orang kebanyakan.


Terlebih yang mengasuhnya adalah mama Zulaikha, akan lain ceritanya jika yang mengasuh adalah Lintang. Seperti sekarang, Kaleea di asuh oleh Lintang dan kelakuan nya sama persis seperti Lintang.


AJAIB DAN NGEYEL.

__ADS_1


Affan tersenyum mengelus pipi sang adik. ''Taeal waqawl asf li'umiy. (Ayo minta maaf kepada Ummah)'' Ucap Affan, menggandeng tangan sang adik untuk turun kebawah.


Kaleea yang ragu awalnya menolak, namun sang Kakak meyakin'kan jika Ummah tidak akan menyakitinya.


Mau tak mau, Kaleea pun mengangguk lalu mengikuti sang Kakak dari arah belakang. Ia berharap jika kali ini tidak akan di telan hidup hidup oleh sang Ibu.


...¤¤¤¤¤...


Sedangkan di bawah sana, ada Lintang yang sudah mengeluarkan tanduknya. Bagaimana tidak, sang anak membawa tas pemberian dari Omar tanpa sepengetahuan dirinya, terlebih tas itu hilang entah dimana.


Yang Lintang sayangkan, bukan kali pertama saja Kaleea menghilangkan tasnya. Ini sudah kesekian kali Kaleea menghilangkan tasnya.


Mama Zulaikha hanya tersenyum, melihat kelakuan sang menantu dan cucu perempuan nya yang aneh bin ajaib. Hatinya sangat bahagia dan senang karna di usianya yang sudah tua, dia tidak sendirian.


Kedua anak perempuan nya, Zenah dan Norah sudah berkeluarga dan tinggal di kota yang berbeda. Namun Mama Zulaikha lebih memilih tinggal dengan anak laki-laki nya, karna tinggal bersama Omar dan Lintang hidupnya terasa berwarna.


''Sabah alkhayr ya 'umatan kayf haluk alyawm." (Selamat pagi Ummah, apa kabar hari ini.'' sapa Affan mencium kening sang Ibu.


''Haisshh, La mazid min alhadith alqusayra. taerif al'umat 'iidha kunt tastaghfir li'ukhtik alhabiba.'' (Haisshh, sudah jangan berbasa basi. Ummah tau jika kau meminta pengampunan untuk adik kesayangan mu itu.)


Tunjuk Lintang kepada anak perempuan nya, yang berada di balik punggung Affan.


''La tahtamuu bial'umat, 'iinaha mujarad haqibat limadha kulu hadha aleana" (Sudahlah Ummah, hanya tas saja kenapa di ributkan)'' ucap Affan menghampiri neneknya dan mencium kening lalu duduk..


Sementara Lintang memelototi Kaleea, yang mana Kaleea langsung duduk bersama sang Kakak..


''Ma'hadha?'' (Ada apa ini?) tanya seorang laki laki yang baru menuruni anak tangga dengan gagahnya, walau umurnya sudah berkepala empat..

__ADS_1


''Hubbyy, Anzur 'iilaa abnatik wahi tuajih nawbat ghadab. (Hubbyy, lihat anak perempuan mu yang membuat ulah) ucap Lintang mengadu.


Cup.


Omar memcium kening Lintang, lalu duduk di kursi. ''Hsnan، 'ajlis lahqan sa'ashtari wahidatan jadidatan." (Sudah, duduklah nanti aku belikan yang baru.)


Lintang menghela nafasnya dan duduk bergabung untuk sarapan bersama, walau hatinya masih dongkol perihal tas yang hilang.


Begitulah keseharian Lintang dan keluarganya, begitu penuh warna di kehidupan mereka ... Omar melihat sang istri yang sudah meredakan amarahnya tersenyum bahagia.


''Aku mencintaimu sayang.'' Bisik Omar.


''Aku juga mencintaimu.'' Jawab Lintang.


Kehangatan dalam keluarga tidak di ukur dari ukuran luas rumah dan hartanya, tapi luasnya kebahagiaan yang di tempati. Cobaan silih bergati di dalam rumah tangganya, membuat Omar sadar bahwa ia harus berpikiran dewasa dan terbuka.


Jika ia boleh meminta kepada Tuhan, Omar ingin meminta kebahagiaan ini sampai ia menghenbuskan nafas terakhirnya. Berada disisi orang yang ia cintai dan ia sayangi untuk selamanya.


...TAMAT...


...🍃🍃🍃...


¤


¤


¤

__ADS_1


Sebuah pertemuan pasti ada perpisahan, Extra part sudah othor berikan kepada kalian. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah menemani Author selama ini ... jangan lupa untuk mampir di karya Othor yang lainnya..


__ADS_2