
Tiara berlari menuju kamarnya. Tanpa mengindahkan panggilan Mamanya. Dia ingin sekali berteriak saat itu. Namun dia tahan karena takut dimarah oleh Mamanya. Saat sudah sampai di kamar dia berlari kekamar mandi. Mencelupkan wajahnya di bathtub dan berteriak sekencang-kencangnya. Namun suaranya masih saja terdengar oleh mamanya.
"Tiara, kamu tidak apa-apa sayang?" kata Mama Tania dari balik pintu.
"Iya Ma, Tiara baik-baik saja" Teriak Tiara dari kamar mandi.
"Baiklah, cepatlah turun, ada yang Papa dan Mama ingin bicarakan" Kata Mama Tania.
"Iya Ma" Teriak Tiara lagi. selang beberapa lama, dia keluar dari kamar mandi dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya. Dia pun terlihat sedang menyanyikan sebuah lagu.
" Oh Tuhan ku Cinta dia,
ku Ingin bersamanya,
ku Ingin habiskan nafas ini,
berdua dengannya," Suara Tiara memenuhi ruangan dengan lagu yang dia nyanyikan.
Dia pun turun ke bawah sesuai permintaan Mamanya. Mama dan Papanya terlihat sedang mengobrol serius. Tiara yang tidak curiga sama sekali langsung mendekati keduanya dan duduk di samping Mamanya.
"Ra" panggil Papa Reza.
"Iya Pa" dengan wajah yang mulai terlihat khawatir. Karena dia bisa menebak apa yang ingin diucapkan Papanya.
"Kamu masih ingatkan ucapan Papa sebelumnya" kata Papa Reza yang dibalas anggukan oleh Tiara.
__ADS_1
"Oke, besok malam kita akan makan malam bersama dengan anaknya sahabat Papa. Jadi Papa harap kamu mengambil libur untuk besok, kamu bantu Mama mu mempersiapkan semuanya untuk acara makan malam kita besok" Kata Papa Reza. Tiara hanya bisa menghela nafas berat karena dia tidak bisa membantah ucapan Papanya. Tiara tipe wanita yang penurut. Dia akan selalu mengikuti perkataan orang tuanya. Bahkan dia menjadi dokter saat ini karena ingin mewujudkan mimpi Mamanya.
"Ya sudah, jika tidak ada yang dibicarakan lagi. Tiara mau naik Pa Ma. Tiara mengantuk. Selamat malam" Kata Tiara kemudian meninggalkan kedua orang tuanya. Mama Tania bisa melihat dan merasakan apa yang dirasakan Tiara. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena suaminya sangat keras kepala.
Saat sudah sampai di kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Baru beberapa jam yang lalu dia sangat bahagia. Namun sekarang, kebahagiaannya tergantikan dengan rasa sedih dan cemas tentang semua perspectif di kepalanya. Dia sangat yakin jika nanti Papanya pasti akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya itu. Tapi dia bahkan tidak bisa menolak atau berbuat apapun. Dia sangat mencintai Aldi, tapi dia tidak tahu perasaan Aldi untuknya seperti apa. Jika saja Aldi juga mencintainya. Mungkin dia akan memperjuangkan perasaanya pada Aldi. Namun sayangnya, dia belum tahu perasaan Aldi terhadapnya. Bahkan hari ini pertemuan pertamanya setelah sekian lama.
Drttt Drrt
Hp nya tiba-tiba berbunyi yang langsung menghentikan lamunannya dan menghapus air matanya yang sudah tidak bisa dia tahan sejak tadi.
"Hallo" Kata Tiara.
"Ra, ini aku alu Aldo" Kata Aldo.
"Ohh kamu Do, ada apa?" Tanya Tiara dengan malas.
"Hmm, maaf aku tidak bisa Do. Besok malam keluarga dari sahabat Papa akan kesini untuk. makan malam bersama" Kata Tiara.
"Yahh, padahal bang Aldi loh yang punya inisiatif Ra" Kata Aldo. Aldo sengaja berbohong agar Tiara bisa berubah pikiran. Feeling-nya sudah tidak enak, apalagi sejak Tasya memberitahunya bahwa Tiara akan dijodohkan. Dia sangat tidak rela untuk itu. Dia lebih baik melihat Tiara bersama Aldi daripada dengan orang lain. Karena dia yakin Tiara akan sangat bahagia dengan orang yang dicintainya.
"Maaf Do" Kata Tiara. Aldo pun hanya menghela nafasnya. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Tiara.
"Ya sudah Ra, kapan-kapan saja. Kamu tidurlah Ra. Ini sudah larut malam. Bye Ra. Semoga mimpi indah ya." Kata Aldo dan panggilan telpon pun terputus.
Tiara menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia sungguh tidak ingin menolak undangan Aldo. Apalagi itu undangan langsung dari Aldi. Tapi dia juga tidak ingin menjadi anak pembangkang. Dia pun membenamkan wajahnya di bantal. berharap dia segera tidur dan ini semua hanya mimpi. Di saat bangun nanti dia sudah hidup bahagia bersama Aldi.
__ADS_1
Disisi lain, Aldo terlihat tengah gusar. Dia bolak balik di kamarnya. Memikirkan bagaimana cara untuk menggagalkan perjodohan Tiara. Tapi sampai kakinya pegal pun seperti saat ini, dia belum mendapatkan ide. Dia pun merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kamarnya. Bayangan dengan kenangan bersama Tiara seperti bermunculan di langit-langit kamarnya. Tiara kecil yang sedang menangis karenanya, Tiara yang tersenyum saat bertemu Aldi. Semuanya bermunculan begitu saja.
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Sebuah ide terlintas dibenaknya. Dia pun berlari menuju kamar Aldi.
"Bang Al" Teriak Aldo dari luar kamar. Aldi yang saat itu baru saja memejamkan matanya langsung mengumpat, kemudian menutup telinganya dengan bantal. Namun Aldo tidak tinggal diam. Dia terus memanggil Aldi, sehingga mau tidak mau, Aldi pun bangun dan berjalan malas membuka pintu untuk Aldo.
"Ada apa? mengganggu saja" Kata Aldi dengan raut wajah kesal.
"Hehe, maafkan aku. Aku punya berita yang mengejutkan untuk mu. Kau pasti akan terkejut" Kata Aldo bersemangat.
"Cepat cerita" Kata Aldi.
"Tiara dijodohkan bang" Kata Aldo dengan wajah sedih. Ada sedikit keterkejutan di wajah Aldi. Namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Lalu?" Tanya Aldi.
"Aku tahu kamu juga mencintainya Al, aku pernah melihat Hp mu. Dan diam-diam kamu menyimpan foto Tiara kan?" Kata Aldo. Aldi sedikit terkejut dengan ucapan Aldo. Namun dia berusaha tenang.
"Hmmm, itu temanku yang mengirim di WA ku, jadi langsung tersimpan otomatis" Kata Aldi.
"Dih, alasan. Apapun alasannya, aku tidak peduli. Aku minta tolong padamu untuk membatalkan perjodohan itu bang. Karena jika kamu yang meminta Tiara, pasti dia akan mau menolak perjodohan itu. Aku tidak ikhlas jika dia menikah dengaan orang yang tidak dia cintai bang" Kata Aldo dengan tangan memohon.
"Maafkan aku Do, aku tidak bisa mengurusi kehidupan orang lain. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Aku mengantuk. Aku tidur dulu. Kamu juga tidur. Besok kita harus ke kantor" Kata Aldi kemudian menutup pintu.
Aldi pun langsung membaringkan tubuhnya di kasurnya. Ucapan Aldo terus terngiang di kepalanya. Dia memejamkan matanya. Namun bayangan Tiara hadir disana.
__ADS_1
"Sial, aku tidak bisa tidur gara-gara dia" Kata Aldi. Dia pun bangkit kemudian mengambil HP nya. Dia membuka galerinya dan menulis kata sandi untuk membuka kuncinya. Tangannya terhenti pada satu foto. Dia menatap lekat-lekat wajah gadis yang sedah tersenyum dari kejauhan di foto tersebut. Ingatan tentang masa lalunya bersama gadis itu kembali membuat gelisah. Dia menghela nafas pelan kemudian berganti mendengarkan musik.
-Bersambung-