
"Kamu dimana?" Tanya Dimas.
"Kepo" Kata Tiara.
"Ra, aku serius" Kata Dimas.
"Iya-iya, kenapa?" Tanya Tiara
"Mama mengundangmu makan di rumah" Kata Dimas.
"Hmmm, kapan?" Tanya Tiara.
"Nanti malam" Kata Dimas.
"Baiklah, apa boleh aku mengajak teman?" Tanya Tiara.
"Siapa?" Tanya Dimas.
"Tasya" Kata Tiara.
"Baiklah, ajak saja dia, yang penting bukan Aldi" Kata Dimas.
"Ya sudah, aku ada pasien ini" Kata Tiara kemudian mematikan sambungan telpon.
"Bagaimana ini, Tasya kemungkinan tidak akan mau, bagaimana caraku membujuknya" Kata Tiara sambil memijat kepalanya. Dia benar-benar enggan untuk menghadiri acara makan malam itu. Dia sudah membayangkan bagaimana canggungnya nanti. Untuk itulah dia berinisiatif untuk mengajak Tasya agar dia tidak terlalu canggung.
"Ca, hari ini kamu cantik banget, aku sampai pangling" Kata Tiara yang saat ini sudah di ruangan Tasya.
"Kamu mau apa Ca? pasti ada maumu ini" Kata Tasya.
"Hehe, kamu tahu saja" Kata Tiara.
"Cepat katakan" Kata Tasya.
"Hmmm, temani aku ke rumah Dimas" Kata Tiara.
__ADS_1
"Mau ngapain kamu kesana?" Tasya.
"Makan malam, aku malas banget sebenarnya, tapi karena Mama Nadin yang mengundang, mau tidak mau" Kata Tiara.
"Hmmm, baiklah" Kata Tasya.
"Terima kasih Ca, kamu memang sahabat terbaikku" Kata Tiara kemudian memeluk Tasya.
Setelah bekerja seharian, Tiara dan Tasya langsung turun. Di depan rumah sakit, terlihat Dimas yang sudah menunggu mereka berdua untuk makan malam.
"Ra" Panggil Dimas yang langsung membuat keduanya menghampiri Dimas.
"Ini pasti Tasya" Kata Dimas kemudian mengulurkan tangannya.
"Iya, perkenalkan aku Tasya sahabat Tiara" Kata Tasya kemudian menjabat tangan Dimas.
"Aku Dimas, tunangan Tiara" Kata Dimas sambil melihat Tiara.
"Hmmm, calon, bahkan kemungkinan besar batal" Kata Tiara kemudian mengajak Tasya masuk ke mobil Dimas.
"Oya, kalau begitu kita pakai mobilmu saja" Kata Tiara.
""Lah, lalu Dimas bagaimana?" Kata Tasya.
"Biarkan saja, dia kan bisa menyetir sendiri Ca" Kata Tiara.
"Dim, aku ke rumahmu bareng Tasya saja ya" Kata Tiara.
"Hmmm, pakai mobilku saja, untuk menghemat emisi bahan bakar. Ingat laporan ozon sudah menipis. Nanti Tasya biar aku antar saja" Kata Dimas.
"Hmmm, iya juga sih. Bagaimana Ca?" Tanya Tiara.
"Baiklah. Ayo" Kata Tasya. Mereka pun berangkat ke rumah Dimas. Di setiap perjalanan, tidak ada satupun yang berbicara. Mereka sibuk dengan Hp mereka masing-masing. Kecuali Dimas yang sedang menyetir.
Isi pesan Tiara
__ADS_1
"Ra" Dari Tasya. Tiara pun tersenyum. Karena dia sangt yakin, Tasya canggung untuk berbicara langsung.
"Apa?" Balas Tiara.
"Ini Dimas yang dijodohkan denganmu itu kan?" Tanya Tasya.
"Iya Ra, kenapa?" Tanya Tiara.
"Aku merasa tidak asing dengan wajahnya" Kata Tasya
"Hmmm, aku juga pertama kali bertemu dengannya, merasa tidak asing Ca" Kata Tiara.
"Nah itu, tapi aku lupa pernah bertemu dengannya dimana" Kata Tasya.
"Wkwk, Aku juga lupa. BTW kenapa kita ngeghibah di dekat orangnya ya" Kata Tiara.
"Nah itu, tapi tenang saja. Sepertinya dia begitu fokus menyetir sampai matanya melotot begitu" Balas Tasya.
"Hahaha" Tawa Tiara tiba-tiba memenuhi mobil yang sedang mereka kendarai.
"Ra, kamu kenapa?" Tanya Dimas.
"Tidak ada Dim" Kata Tiara sambil menutup bibirnya, menahan tawa.
"Aku tersinggung loh Ra" Kata Dimas.
"Maafkan aku Dim, tapi benar tidak apa-apa, hanya pesan konyol dari temanku" Kata Tiara. Dimas hanya mengangguk tanda menerima jawaban Tiara. Tiara pun bernafas lega.
Sesampainya dirumah Dimas, Tiara dan Tasya langsung disambut orang Mama Nadin.
"Ra" Kata Mama Nadin kemudian mencium pipi Tiara bergantian. Saat Mama Nadin melihat Tasya, dia langsung kaget.
"Tasya" Panggil Mama Nadin.
"Darimana Tante tahu namaku?"Tanya Tasya yang membuat semua orang melihat Mama Nadin.
__ADS_1
-Bersambung-