Meluluhkan Manusia Es

Meluluhkan Manusia Es
8 tahun kemudian


__ADS_3

Seorang dokter wanita terlihat tengah memeriksa seorang pasien. Perbinçangan kecil antara mereka terlihat begitu menyenangkan. Hingga sesekali senyum menghiasi wajah Dokter cantik tersebut karena lelucon yang diberikan oleh pasien.


Iya. Itulah julukan untuk Tiara yang saat ini sudah menjadi seorang dokter di Rumah sakit X. Kecantikannya bahkan bisa disandingkan dengan beberapa artis terkenal. Karena hal inilah dia digilai oleh banyak orang di rumah sakit X. Bahkan direktur di rumah sakit X tergila-gila padanya. Tidak jarang dia menemukan surat cinta di ruangannya. Bahkan bisa dikatakan setiap hari. Namun perasaannya yang begitu besar kepada Aldi membuatnya buta dengan laki-laki yang mendekatinya. Dia bahkan sangat enggan untuk membaca surat-surat tersebut ataupun membalas perasaan semua laki-laki itu.


Tasya yang saat ini juga bekerja sebagai dokter di rumah sakit X, hanya bisa geleng-geleng dengan sikap sahabatnya. Bahkan saat ini setelah selesai memeriksa pasiennya. Tiara sedang berdiri di depannya sambil mengumpat tidak jelas, karena kakak dari pasiennya tadi meminta nomornya, bahkan tidak sungkan merayunya.


#Flashback


"Dok, dokter cantik sekali" Kata Putri.


"Terima kasih, Putri cantik" Kata Tiara mencoba tersenyum ramah. Dia sudah sering mendengar pujian itu. Jadi dia sangat malas membahasnya. Namun dia mencoba untuk menghargai pasiennya. Tiara sombong banget ya😂


"Kakak dokter sudah punya pacar? Apa kakak dokter mau jadi pacar kak Dimas" Kata Putri sambil melihat Dimas yang sedari tadi tidak melepas pandangannya dari Tiara yang sedang memeriksa adiknya. Dimaspun hanya bisa tersenyum mendengar Putri tanpa melepas pandangannya pada Tiara. Tiara yang merasa risih pun melihat Dimas dengan tatapan tidak suka. Dia mengumpat dalam hati. Namun dia berusaha se biasa mungkin, demi menghargai pasiennya.


"Iya, apa buk dokter cantik sudah punya pacar" Imbuh Dimas.

__ADS_1


"Itu rahasia Putri. Oya, Kaki Putri sudah lebih baik sekarang. Tapi jangan berhenti minum obatnya dulu ya. Kakak pergi dulu ada beberapa pasien yang harus kakak periksa, sampai nanti sayang, nanti jika butuh apa-apa tekan tombol itu saja ya" Kata Tiara kemudian berlalu pergi meninggalkan meninggalkan mereka. Dia malas sekali berlama-lama disana. Apalagi jika harus meladeni mata Dimas yang kurang ajar itu.


"Buk dokter" Teriak Dimas yang langsung menghentikan langkah Tiara.


"Iya pak" Tanya Tiara mencoba menahan rasa kesalnya.


"Apa saya boleh meminta nomor Ibu dokter untuk bertanya-tanya berkaitan dengan kondisi adik saya" Tanya Dimas.


"Oya, sebentar" Kata Tiara, kemudian menuliskan sesuatu dan memberikannya pada Dimas.


#Flashback Off


"Lalu kamu memberikan nomor siapa padanya?" Tanya Tasya.


"Nomor tukang kuras WC" Kata Tiara kemudian duduk di kursinya.

__ADS_1


"Hahahaha, Are you kidding me?" Kata Tasya dengan tawa yang menggelegar.


"No" Kata Tiara yang membuat Tasya tertawa lebih keras.


"Hahaha, it's so funny" Kata Tasya sambil terus tertawa. Dia bahkan tidak bisa berhenti tertawa karena menurutnya itu hal yang sangat konyol. Namun Tiara tidak memperdulikannya. Dia masih kesal dengan Dimas. Dia menghela nafas dengan berat, karena tiba-tiba dia merindukan Aldi. Disaat ada laki-laki yang mengganggunya seperti ini. Dia akan selalu mengingat Aldi dan merindukannya seperti ini.


"Kamu apa kabar Al, aku sangat merindukanmu" Batin Tiara. Tiba-tiba setetes air mata membasahi pipinya. Tasya yang melihat itu langsung menghentikan tawanya. Dia mendekati Tiara dan memeluknya.


"Apa kamu merindukan Aldi lagi?" Tanya Tasya. Tiara pun mengangguk dan menangis dipelukan Tasya.


"Aku sangat merindukannya, Hiks. Dia bahkan tidak mengabariku sama sekali. Aldo pun sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Aku jadi tidak tahu keadaannya Ca. Aku takut dia bersama wanita lain. Hiks" Kata Tiara disela tangisnnya. Tasya tidak mampu berkata-kata lagi. Ini yang kesekian kalinya dia melihat sahabatnya terpuruk seperti ini. Dia hanya bisa membiarkan Tiara menangis seperti ini sambil berharap kesedihannya sedikit berkurang.


Aldo yang juga ikut kuliah ke luar negeri bersama Aldi tidak pernah mengabarinya hampir satu tahun ini. Biasanya dia akan menguhubungi Tiara atau saling bertukar kabar minimal seminggu sekali. Dia sering menceritakan tentang Aldi dan keluarganya pada Tiara. Untuk itulah, walaupun berada jauh. Tiara tetap bisa tenang karena setidaknya dia bisa tahu keadaan Aldi melalui Aldo. Namun, entah mengapa lebih dari setahun ini. Aldo tidak pernah menghubunginya lagi bahkan nomor Aldi sudah tidak aktif lagi.


Tiara ingin sekali menghubungi Aldi. Namun dia tidak pernah memiliki nomornya. Dia sangat takut untuk meminta nomor Aldi sejak dulu. Menatap wajahnya terlalu lama saja dia takut. Mungkin yang paling lama saat kejadian di bangku sekolah dulu. Menurutnya mengetahui keadaannya saja sudah cukup. Lagipula dulu rumah mereka berdekatan. Jadi dia tidak memerlukan nomor Aldi. Namun sekarang, keluarga Aldi sudah pindah keluar negeri sejak Aldi dan Aldo lulus SMA. Tiara tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sekarang dia hanya bisa menangis untuk setiap harapan yang kadang tidak mungkin dan menurut beberapa orang tidak pasti. Dia selalu berharap ada keajaiban dia bisa bertemu dengan Aldi lagi. Untuk itulah dia tetap menutup diri pada laki-laki manapun sampai saat ini.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2