
1 bulan waktu berlalu, Aldi sudah jarang terlihat lagi. Tiara terlihat beberapa kali mengecheck notifikasi di HP nya. Berharap ada chat atau telpon dari Aldi. Namun sia-sia, sudah 1 bulan ini. Aldi tidak pernah terlihat lagi. Bahkan rumahnya terlihat sepi. Setiap hari Tiara mencoba memencet bel rumah Aldi setiap akan berangkat kerja. Namun tidak pernah ada tanda-tanda jawaban.
"Al, kamu dimana? kenapa kamu menghilang lagi, aku salah apa" Kata Tiara kemudian menenggelamkan wajahnya di tangannya.
"Permisi" Kata seseorang dari balik pintu.
"Masuklah" kata Tiara kemudian menghapus air matanya.
"Maaf Dok, ada seseorang yang ingin bertemu anda" Kata nya.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Tiara.
"Hey" Kata Dimas dari balik pintu.
"Ya ampun Dim, aku pikir siapa, masuklah" Kata Tiara.
"Siap buk dokter" Kata Dimas kemudian duduk di sofa.
"Bukannya sekarang jam istirahat, kamu ngapain disini?" Tanya Tiara.
"Ya karena jam istirahat, untuk itulah aku disini, aku kasian melihatmu seperti ini, kesepian pasti" Kata Dimas.
"Sok tahu" Kata Tiara tanpa berpindah dari posisinya.
"Ra, itu ada makanan dari mama" kata Dimas.
"Sampaikan ucapan terima kasihku pada mama" Kata Tiara.
"Hmmm, bagaimana perkembangan Aldi, apakah dia menghubungimu?" Tanya Dimas. Tiara hanya menggeleng.
"Sudah lah Ra, masih ada aku disini" Kata Dimas.
"Apaan sih" Kata Tiara dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Haha, aku hanya bercanda. Ya sudah, makanlah itu, aku tidak ingin ada cerita kamu sakit ya" Kata Dimas.
"Aku masih kenyang, nanti saja" Kata Tiara.
"Nanti kapan? tunggu perutmu sakit dulu? Ha?" Kata Dimas.
"Cerewet sekali. Kamu saja yang makan" Kata Tiara. Dimas menghela nafasnya berat. Dia sangat malas berdebat dengan Tiara. Tapi mau tidak mau dia harus bisa membuat Tiara mau makan siang. Karena sejak kemarin dia belum makan seperti informasi yang di berikan mama Tania.
"Ra, dengarkan aku. Jika kamu sakit dan terjadi apa-apa. Lalu siapa yang akan ditemui Aldi nanti jika dia kembali?" Kata Dimas.
"Biarkan saja Dim, dia sudah tidak memperdulikan aku lagi. Dia bahkan tidak menghubungiku. Aku terlalu bodoh karena mengharapkannya." Kata Tiara. Dimas t
"Hmmm, tapi aku peduli Ra. Aku tidak ingin kamu sakit. Jadi cepat makan, kalau tidak aku akan adukan pada mama bahwa kau tidak mau memakan makanan buatannya" Kata Dimas.
"Dasar tukang adu" Kata Tiara kemudian mengambil bungkusan makanan yang dibawa Dimas.
Dimas tersenyum kemudian mengambil HP nya. Mencari nomor seseorang disana. Mengetik sebuah pesan kemudian lanjut mengamati Tiara yang makan.
"Aku sudah kenyang" Kata Dimas.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus membantuku menghabiskan ini" Kata Tiara kemudian menyodorkan makanan di tangannya pada Dimas.
"Ya sudah, suapin" Kata Dimas.
"Ishhh, manja sekali. Kamu punya tangankan?" Tanya Tiara. Dimas tak berkutik, dia malah membuka mulutnya dan menyodorkan kepalanya di depan Tiara.
"Dasar manja" Kata Tiara kemudian menyendokkan makanan di tangannya dan menyuapi Dimas.
Dimas tersenyum kemudian menikmati makanan dimulutnya.
Disisi lain, Aldi terlihat tersenyum setelah membaca sebuah pesan di HPnya.
"Sampai kapan kamu seperti ini Al?" Tanya Mama Clarisa yang saat ini bersandar di pangkuan Jackson.
__ADS_1
"Mama sampai kapan duduk seperti itu" Balas Aldi.
"Haha, memangnya kenapa?" Tanya Mama Clarisa kemudian mencium bibir Jackson
"Inget usia Ma, astaga" Kata Aldi.
"Memangnya kenapa? Papamu saja tidak keberatan, iya kan sayang?" Kata Clarisa sambil menatap Jackson.
Jackson hanya mengangguk sambil menggelapkan kepalanya di dada Clarisa.
"Benar-benar" Kata Aldi.
"Jadi bagaimana? kapan kami bisa bertemu dengan calon menantu kami?" Tanya Jackson.
"Iya, aku sungguh tidak sabar" Tambah Clarisa.
"Sebentar lagi Pa, setelah aku bisa membuktikan bahwa aku bisa memiliki perusahaan sendiri tanpa bantuan papa" Kata Aldi.
"Bukannya kamu sudah mempunyai perusahaan sendiri, kamu menunggu apa lagi?" Tanya Jackson.
"Belum Pa, aku belum bisa menyaingi perusahaan Dimas. Tapi aku yakin setelah aku mendapatkan proyek ini. Aku pasti bisa mengalahkan perusahaan Dimas" Kata Aldi.
"Apa kamu tidak membutuhkan bantuan Papa?" Tanya Jackson
"Tidak Pa, sebagai pria sejati, aku akan menepati janjiku" Kata Aldi.
"Baiklah, terserah kamu. Asalkan Papa ingin kamu cepat-cepat membawa menantu kami" Kata Jackson.
"Pasti" Kata Aldi kemudian tersenyum.
"Tunggu aku Ra, semoga kamu bisa memaafkan aku dan menerima aku nanti. Aku terpaksa meninggalkanmu. Karena ini permintaan Papamu. Tapi setelah ini, aku pastikan tidak ada yang bisa memisahkan kita" Batin Aldi
-Bersambung-
__ADS_1