
"Ka-kamu" Kata Tiara saat melihat sosok laki-laki di depannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Tiara. Yang langsung mendapatkan tatapan dari semua orang disana.
"Ra, jangan bicara seperti itu. Dia Dimas anak pak Anton Ra" kata Papa Reza. Tiara mengangguk, namun langsung menatap Dimas kesal.
"Om Tante" Kata Tiara kemudian mencium tangan Papa Anton dan istrinya bergantian. Dimas menyodorkan tangannya namun langsung di tepis oleh Tiara.
"Putri mana Om?" Tanya Tiara.
"Dia sedang istirahat di rumah Ra, Oya terima kasih banyak ya sudah merawat putri selama di rumah sakit" Kata papa Anton.
"Sama-sama Om, itu sudah kewajiban Tiara" Kata Tiara tersenyum. Namun senyumnya langsung memudar ketika melihat Dimas yang juga tersenyum padanya.
Mama Tania langsung mempersilahkan mereka masuk dan mengarahkan mereka menuju ruang makan. Mereka pun makan malam seperti biasanya. Bedanya malam ini Tiara terlihat sangat kesal. Karena Dimas memilih duduk di sampingnya. Dia berusaha menolak. Tapi Papa nya menatapnya. Sehingga mau tidak mau dia harus menerimanya.
"Ton, sepertinya anak kita terlihat sangat cocok ya" Kata Papa Reza.
"Iya Za" Kata Papa Anton sambil memerhatika kedua anaknya. Tiara dan Dimas terlihat bertengkar kecil. Mereka terlihat adu mulut namun dengan cara berbisik.
"Ra" Kata Dimas berbisik.
"Apa sih?" Tanya Tiara berbisik juga.
"Kamu memberikan nomor siapa waktu itu?" Tanya Dimas.
"Nomor aku lah" Kata Tiara.
"Jangan berbohong Ra, jelas-jelas itu suara laki-laki" Kata Dimas. Ingin sekali Tiara tertawa saat itu. Namun, Tiara mencoba menahan tawanya.
"Mungkin kamu salah tulis nomer" elak Tiara.
"Tidak mungkin Ra, kamu ingin mengerjai ku?" Kata Dimas.
"Tidak" Kata Tiara.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu memberikan nomor penguras WC padaku? aku bahkan bilang dia cantik sebelum aku menelponnya" Kata Dimas.
"Wahahaha" Tawa Tiara seketika memenuhi seluruh ruangan. Semua mata langsung tertuju padanya. Dia langsung menutup mulutnya. Dia melihat papanya. Sebuah tatapan mengintimidasi dia temukan disana.
"Ra, makan yang sopan" Kata Papa Reza.
"Iya Pa, maaf. Sepertinya Tiara sudah selesai. Apa boleh Tiara ke teras depan bersama Dimas Pa" Kata Tiara.
"Boleh, silahkan" Kata Papa Reza. Dia tersenyum pada Anton. Perjodohan anaknya akan berhasil. Pikir keduanya.
-Di teras-
"Ra, kenapa kamu mengajakku kesini?" Tanya Dimas.
"Aku ingin berbicara 4 mata denganmu" Kata Tiara. Namun sebelum mulai berbicara. Hpnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dia kenal muncul disana.
*Ra, apakah itu lelaki yang akan di jodohkan denganmu?
Aldo*
"Ra" panggil Dimas, yang langsung membuat Tiara menoleh ke Dimas.
"Iya?" Tanya Tiara.
"Tadi kamu ingin membicarakan apa?" Tanya Dimas. Tiara tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah rumah Aldi. Namun tidak ada mereka disana.
"Apa dia marah?" batin Tiara. Namun dia mencoba melupakan asumsinya itu. Dia ingin fokus menyelesaikan masalah perjodohan ini dulu.
"Hmmm, baiklah, langsung saja ke intinya. Aku tidak menginginkan perjodohan ini. Aku sudah mempunyai calonku sendiri. Tapi aku sungguh tidak bisa menolak keinginan Papa. Tapi jika kamu yang menolaknya juga. Aku yakin ini akan berhasil. Apa kamu ingin membantuku?" Tanya Tiara. Dimas langsung tersenyum dan menggeleng.
"Maafkan aku Ra. Aku juga tidak bisa menolak permintaan papa. Aku tidak ingin jadi anak pembangkang. Aku tidak ahli untuk itu" Kata Dimas. Tiara langsung tertunduk. Ada pancaran kesedihan disana. Dimas bisa melihatnya. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Sungguh dia menginginkan perjodohan ini. Dia mencintai Tiara sejak lama. Bahkan saat mereka masih di bangku SMP. Tapi dia sungguh tidak suka melihat Tiara bersedih seperti ini.
"Ra" panggil Dimas yang langsung membuat Tiara mengangkat wajahnya.
"Apa kamu masih mencintai Aldi?" Tanya Dimas. Tiara pun mengangguk.
__ADS_1
"Darimana dia tahu Aldi? tapi masa bodoh untuk itu dulu" batinnya.
"Bolehkan aku meminta kesempatan padamu? jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Kamu harus menerima perjodohan ini. Tapi jika sebaliknya, aku akan membantumu berbicara pada kedua orang kita untuk membatalkan perjodohan ini" Kata Dimas. Tiara langsung tersenyum.
"Sepertinya bukan ide yang buruk. Oke deal. 1 bulan. aku memberikanmu waktu 1 bulan bagaimana?" Tanya Tiara.
"4 bulan Ra. Karena membuat orang jatuh cinta tidak akan semudah itu" Kata Dimas.
"Baiklah, 2 bulan" Kata Tiara.
"4 bulan Ra" Kata Dimas lagi.
"Kenapa rumahku tiba-tiba menjadi tempat bernegosiasi seperti ini" Kata Tiara, yang membuat Dimas terkekeh gemas.
"Baiklah 3 bulan. Tidak ada tambahan lagi" Kata Tiara. Mau tidak mau Dimas mengiyakan. Setidaknya ini lebih baik, dari pada 2 bulan. Dia sangat yakin bisa mendapatkan cinta Tiara dalam waktu 3 bulan.
"Baiklah, deal" kata Dimas.
"Ya sudah, ayo kita masuk" Ajak Tiara. Dimas pun langsung mengiyakan. Karena dia bisa melihat Tiara mulai kedinginan disana. Dia ingin sekali memberikan jaketnya pada Tiara. Namun dia tidak ingin tergesa-gesa. Untuk mendekati perempuan dia harus main tarik ulur seperti yang diajarkan Aldo padanya dulu.
Saat sudah masuk di dalam. Tiara dan Dimas langsung disambut kedua orang mereka dan disuruh duduk. Mereka mengatakan ingin membicarakan hal penting. Tiara yang tahu apa pembicarakan penting yang dimaksud langsung duduk dengan malas.
"Baiklah, sekarang kami ingin berbicara serius dengan kalian berdua" Kata Papa Reza.
"Umur kami sudah tidak muda lagi. Di usia kalian yang sudah menginjak 25 tahun ini pun. Kalian sudah bukan anak remaja lagi. Jadi kalian pasti tahu maksud kami mempertemukan kalian. Jadi bagaimana? apakah kalian menerima perjodohan ini?" Tanya Papa Reza langsung. Dimas dan Tiara saling pandang. Tiara mengangguk, yang artinya dia memberikan kesempatan Dimas untuk berbicara.
"Om, Pa, Tante, Mama, maaf jika Dimas lancang. Tapi tadi kami sudah membicarakan ini berdua. Kami belum bisa memutuskan sekarang untuk menerima perjodohan ini atau tidak. Kami perlu saling mengenal lebih lama dulu. Jadi izinkan kami untuk saling mengenal dulu. Kami ingin ketika kami menikah nanti, itu didasarkan pada rasa cinta, seperti Papa dan Mama. Apakah boleh?" Tanya Dimas. Anton dan istrinya hanya mengangguk, tanda paham.
"Baiklah, jika itu keinginan kalian. Kami tidak akan memaksa. Tapi besar harapan kami, kalian bisa bersama dan menerima perjodohan ini, bagaiman Za?" Kata Papa Anton.
"Aku setuju, aku juga tidak bisa memaksakan kalian. Karena kalian yang menjalaninya. Walaupun besar harapan Papa jika kalian menerima perjodahan ini nantinya. Tapi jodoh tidak ada yang tahu. Papa hanya mengharapkan kebahagiaan kalian" Kata Papa Reza, yang membuat Tiara terharu hingga meneteskan air mata. Namun langsung di hapusnya.
Tiara dan Dimas saling tatap. Mereka pun saling tersenyum.
-Bersambung-
__ADS_1
Bagaimana? apakah kalian menyukainya?